Archive for February, 2015

Daun Pintu
February 22, 2015


Cerpen Fina Lanahdiana (Republika, 22 Februari 2015)

Daun Pintu ilustrasi Rendra Purnama

Daun Pintu ilustrasi Rendra Purnama

Pintu itu adalah sebuah batas yang hanya segaris kabut tipis tak berdinding. Siapa pun yang menyentuhnya bisa melampaui, meskipun ia sebatas melangkahkan satu kaki ataupun sentuhan sebuah jari telunjuk.

Cahaya mengerucut biru, memanjang, dan terhampar memantulkan bayang-bayang sebuah pintu berukuran raksasa yang berdiri tegak, teramat pongah bagai seorang raja yang gemar menepuk dan membusungkan dada di hadapan rakyat-rakyatnya yang jelata. (more…)

Getar Rel Kereta Api
February 15, 2015


Cerpen S Prasetyo Utomo (Republika, 15 Februari 2015)

Getar Rel Kereta Api ilustrasi Rendra Purnama

Getar Rel Kereta Api ilustrasi Rendra Purnama

Gemuruh rel kereta api di kejauhan itu seperti mengguncang Abah untuk meninggalkan rumah. Abah kelihatan gelisah. Memandang Abah termenung di ruang tamu, ia kehilangan setengah ruhnya. Wajahnya memucat.

Umi tak tega memandanginya. Secangkir kopi di meja bundar itu telah lama dingin, cuma dipandangi Abah. Rokok yang disulutnya tak pernah diisap, merapuh sebagai abu. Abah seperti kayu lapuk, yang dalam sekali sentak akan luruh—terhambur sebagai debu. “Sudahlah,” kata Umi, “tak perlu disesali. Kau tak terpilih dan kukira ini memang takdir kita.” (more…)

Azan Malam
February 8, 2015


Cerpen Fadilah Raharyo (Republika, 08 Februari 2015)

Azan Malam ilustrasi Daan Yahya

Azan Malam ilustrasi Daan Yahya

Lengkingan suara memecah keheningan malam. Menembus rintik hujan. Suara itu berasal dari sebuah bangunan di sebelah lapangan, dekat balai desa.

“Hayya ‘alash shalah.”

“Masya Allah. Apa pula ini. Azan tengah malam begini.” Pak Daud, Kepala Desa Ujung Karya, yang masih belum tidur melirik ke arah dinding. Benda bulat yang dilihatnya memperlihatkan kedua jarumnya berada di posisi yang sama. Tengah malam. (more…)

Gembok
February 1, 2015


Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 1 Februari 2015)

Gembok ilustrasi Pata Areadi

“FRAU Wiechert?”

“Ja.”

Wiechert terjaga karena suara berisik. Suara langkah kaki tergesa menaiki tangga. Pintu dibuka, pertanyaan-pertanyaan, tetangga sebelah banyak bicara dengan setengah menangis. Perkataannya tidak jelas sehingga polisi mengulang jawaban untuk memastikan kebenaran. Wiechert menggeram, bangkit dari tidur, tersaruk meraih sisa kopi semalam. Ia memperhatikan pekerjaan yang belum rampung. Mesin ketik dengan sehelai kertas berisi separuh tulisan teronggok diam. Semalam otaknya mampat dan punggungnya yang terlalu letih butuh istirahat. (more…)

Kabut
February 1, 2015


Cerpen Yayan Suryana, Lc. (Republika, 01 Februari 2015)

Kabut ilustrasi Rendra Purnama

Kabut ilustrasi Rendra Purnama

Pemuda ini, pada saat hari libur atau pun bukan, selalu begitu sepanjang tahun, tidak pernah lepas dari buku. Kisah-kisah kepahlawanan dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah menjadi bacaan kegemarannya. Napoleon Bonaparte. William Shakespeare. Ernest Hemingway. Albert Einstein. Sehingga ia melupakan kewajibannya di kampus. Dosen, mata kuliah, teman sekelas, menjadi asing baginya. Apakah itu semua membantuku? Sementara aku susah payah keluar dari kabut seorang diri.

Dia benar-benar tenggelam dalam membaca buku-bukunya itu. Hanya sedikit tidur, lalu terus membaca sampai malam tiba. Istirahat? Tidak. Ia berlanjut membaca sampai waktu Subuh menggema. (more…)

Penguburan Kembali Sitaresmi
February 1, 2015


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 1 Februari 2015)

Penguburan Kembali Sitaresmi ilustrasi Jitet

SELAMA 50 tahun aku dipaksa menjadi orang bisu. Selama 50 tahun warga kampung mungkin sudah menganggap aku sebagai batu berlumut. Namun karena kau bersama puluhan anak muda tiba-tiba berniat membongkar gundukan menyerupai kuburan dan ingin memakamkan kembali siapa pun yang dibunuh dan dikubur di gundukan batu menyerupai makam di Bukit Mangkang, aku harus menceritakan kisah pembantaian konyol kepada 24 perempuan tangguh itu kepadamu. (more…)