Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)

Tenung ilustrasi Amelia Budiman - Kompas
Tenung ilustrasi Amelia Budiman/Kompas

KABAR kematiannya menyebar sangat cepat, seperti angin yang berbuah badai dan merontokkan dedaunan. Barangkali kabar kematian tak secepat itu jika yang meninggal bukan si tukang tenung.

“Siapa yang meninggal?”

“Murtaep.”

“Murtaep tukang tenung itu?”

“Ya, betul.”

Di mana kabar itu singgah, dari muka segala arah, pembicaraan kerap bermuara pada perkara kesaktiannya. Tenung dan Murtaep bak gembok dan kunci. Tenung, ya, Murtaep. Murtaep, ya, tenung.

Malam masuk waktu Isya ketika tubuh Murtaep tak lagi hangat. Sebagian kerabat berdatangan sebelum mata lelaki dekil itu benar-benar terpejam. Murtaep meninggal secara wajar dan normal, tidak mendadak, apalagi misterius. Kematiannya tak seperti yang selalu ia koarkan pada penduduk.

Ramalan yang meleset itu, kematian Murtaep, semakin menjadi buah bibir.

Jauh hari Murtaep sudah mengabarkan perihal tanda kematiannya sendiri. Ia akan mati ketika pohon beringin di depan rumahnya tersambar petir. Tulangnya akan hangus bersama akar serabut beringin. Bagaimanapun Murtaep juga manusia. Bisa meramal, bukan penentu nasib.

Lebih tiga bulan lelaki itu tak bisa melakukan apa-apa kecuali tergolek kaku. Ia sudah tak lihai memainkan persendian. Makan dan minum harus disuap. Buang hajat sudah di ranjang. Buang air tak pernah membilang.

Murtaep tidak sakit, hanya terlalu tua untuk hidup. Usianya seratus tahun lebih. Melihat usia yang terlalu senja untuk ukuran manusia sekarang, sebagian orang percaya betapa ia tak bisa mati kecuali ada petir menyambar beringin itu.

“Yang jelas usianya lebih seratus tahun. Seratus berapa, tidak ada yang tahu,” cerita Dulla pada Taris, cucunya.

Istri Murtaep seorang dukun beranak. Sapinah namanya.

Baca juga: Slerok – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 15 Juli 2018)

Advertisements