Cerpen Daruz Armedian (Republika, 18 Januari 2015)

Taubat ilustrasi Rendra Purnama
Taubat ilustrasi Rendra Purnama

DINI hari tepat waktu Tahajud, dua orang itu menyusuri jalanan. Kanan kiri tampak sepi. Lampu-lampu temaram seperti kunang-kunang. Menjadi saksi bisu langkah mereka menuju stasiun kereta.

“Dek, kenapa anak ini harus lahir dari rahimmu?”

“Kang, ini salahmu. Waktu aku mengandung, Kang pasti berbuat jahat pada orang lain.”

“Itu salahmu, Dek. Waktu mengandung malah terus-terusan nonton sinetron tak bermutu.”

“Aku malu kalau seperti ini.”

“Makanya nurut sama Aku. Tinggal di sini saja.” Kemudian ada diam sejenak.

“Apa ini salah Tuhan?” Tanya perempuan itu ragu-ragu.

“Iya. Makanya biar Tuhan yang ngurus.” Suara lelaki itu parau. Matanya melirik kanan-kiri.

“Tapi, Kang?”

“Tidak usah tapi-tapian. Cepetan.”

Sebab waktu sudah sangat malam. Bahkan dini hari. Mereka pun beranjak pergi jalan kaki. Meninggalkan sesuatu di stasiun.

***

Mardi bersiap-siap mengenakan topeng hitam dan jaket yang juga hitam. Dari sekujur tubuhnya, yang terlihat hanya sepasang mata tajam. Setiap jam dini hari, ia memang selalu begini. Dan sesuatu yang menjadi target, sudah ditetapkan kemarin hari. Sekarang adalah waktunya beraksi.

Kali ini ia memilih rumah kepala desa yang diduga korupsi dana pembangunan tanggul kali. Ia ingat betul wajah Pak lurah itu. Matanya yang kejam, mulutnya yang tak bisa diam jika soal uang, dan satu yang paling tak bisa ia lupakan: wajah Pak lurah itu gemar menyeringai seperti serigala.

Mardi mulai mengendap-endap lewat taman di samping rumah Pak lurah. Matanya memandang jendela kaca yang tertutup seprai tipis. Dan itu kamar pemuda yang baru saja menikah. Ia tahu pemuda itu tidak ada di rumah. Ia tahu pemuda itu berpergian bersama istrinya. Tapi, dari awal memang itu yang diharapkan. Jadi, ia bisa melewati jendela itu dengan leluasa tanpa ada yang melihatnya.

Dengan alat seadanya, ternyata Mardi mampu membuka jendela yang terkunci itu. Di sana kosong. Seperti dugaannya, tak ada siapa-siapa. Lalu, dengan sangat hati-hati ia berjalan di sekitar kamar. Mencari sesuatu yang berharga. Membuka lemari, yang ditemui cuma baju-baju laki-laki dan perempuan yang sangat harum.

Mardi kembali lagi mencari sesuatu yang patut dibawa pulang. Pulang? Bukankah ia tak punya kediaman. Bukankah hidupnya selalu seperti orang gila, terus-terusan berjalan. Terus-terusan seperti itu tanpa punya satu pun tujuan. Ah, ia membatin lagi. Andai ia punya tempat persinggahan, barangkali tidak akan melakukan hal yang semacam ini.

Di balik kasur, ia buka, dan tak menemukan apa-apa kecuali bau harum seperti tadi. Di bawah meja, ia juga tak menemukan apa-apa kecuali piring kecil tempat makan kucing.

Di tengah-tengah pencariannya, Mardi tertegun lama mendapati kalung kecil yang digantung di paku yang menempel di dinding. Ia pernah sekali melihat kalung itu. Ingatannya kembali ke sebuah masa di mana ia memberikan sesuatu kepada sahabat. Apakah ia punya sahabat?

Bukankah ia hanya berjalan terus sendirian. Bukankah yang selama ini menemaninya hanya kesunyian dan kesuraman. Bukan. Bukan. Bukan sahabat yang ia beri sesuatu itu. Melainkan orang setengah baya dengannya yang kala itu membantunya kabur dari penangkapan polisi.

Perihal bagaimana kalung itu bisa sampai di dinding rumah yang menjadi target pencurian itu, ia tak peduli. Yang penting adalah barang apakah yang patut untuk dicuri. Tapi, setelah lama mencari, ia tetap tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dengan keputusan yang sangat disesali, ia cuma mengambil kalung. Lalu pergi begitu saja. Ditelan kegelapan malam.

***

Sebagai maling yang tak punya tempat tinggal, hidup Mardi memang nomaden. Tidak tetap. Maka, pada suatu hari yang biasa, ia pindah tempat. Dengan uang seadanya, ia naik bis. Tujuannya tak pasti. Yang penting pindah sebelum ada yang mencurigainya sebagai maling.

Baru saja sampai di sebuah kompleks perumahan yang tidak begitu berdesak-desakan, ia sudah menetapkan target untuk tempat pencurian nanti malam. Sebuah rumah megah dengan taman di depannya, bunga-bunga, pancuran air, dan tempat duduk santai. Ia memeriksa belakang rumah yang ternyata tepat untuk jalan menuju ke rumah itu. Artinya jalan untuk maling.

Mardi kembali mengeluarkan seragamnya dari dalam tas. Meski statusnya maling, ia juga punya seragam. Bahkan tas sekalipun. Kemudian memakainya. Malam-malam seperti ini, orang-orang sudah pada tidur, pikirnya. Sekitar pukul dua dini hari, ia beraksi.

Seperti yang direncanakan sebelumnya, ia menyelusup ke belakang rumah yang kebetulan berpagar cuma setinggi dada. Ia melihat sekeliling rumah itu yang meski malam- malam masih kelihatan asri. Tidak angker dan menakutkan. Bunga-bunga yang terpoles sinar lampu. Rumput-rumput hujau seperti lapangan sepak bola. Begitu serasi.

Mardi tak peduli. Ia harus berhasil kali ini. Kakinya melangkah kembali. Ketika mulai merangsek jendela, pada saat itulah ia tertegun. Mendengarkan sayup-sayup suara seseorang membaca ayat Alquran. Tepat di bawah jendela, ia duduk dengan hati-hati. Suara bacaan itu merdu sekali. Sehingga perlahan-lahan buatnya tersimpuh.

Lama-lama pipinya basah.

***

Entah hal apa lagi yang membuat Mardi bersikeras untuk menuju rumah itu kembali. Padahal jelas-jelas di sana ia gagal mencuri. Tepatnya menggagalkan diri. Ia melewati jalan yang sama. Melompat pagar yang cuma setinggi dada.

Kali ini, barangkali niatnya berubah. Sayup-sayup ia dengarkan kembali suara lantunan Alquran itu. Dengan sangat hati-hati ia berjalan. Seperti kucing hendak memangsa tikus. Bahkan suara dari telapak kakinya tidak kedengaran.

Kembali lagi ia bersimpuh di bawah jendela. Mendengarkan ayat-ayat suci yang dilantunkan seorang wanita dari dalam kamarnya. Bayangannya melayang. Seperti terbang menuju ke suatu tempat di mana ia hidup bahagia bersama orang-orang tercinta. Menggandeng bapak dan ibu tercinta. Istri dan anak-anak. Berlibur di taman-taman.

Di taman itu ia sedang bicara mesra dengan istrinya. Dengan bapak dan ibunya sambil memperhatikan anaknya bermain air. Atau bermain di tengah-tengah bola warna-warni. Ah, betapa bahagianya hidup kalau seperti itu. Menjadi orang yang punya pekerjaan tetap dan halal. Tak perlu ia mencuri. Tak perlu ia hidup dalam kegelapan seperti ini.

Dan bayangan itu baru berhenti ketika ia beranjak ke alam mimpi.

***

Pagi sekali suara ketukan pintu tak berhenti-berhenti. Terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh dari dapur. Pada saat membuka pintu dengan pelan, perempuan itu terkejut melihat seorang yang kumuh dan pakaiannya rombengan. Wajahnya kusut. Matanya agak sipit. Seperti sehabis menangis.

“Ada apa, Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu yang masih dalam keadaan heran. Tak ada jawaban. Hanya longokan kepala dan matanya melihat-lihat seisi rumah.

“Ajari aku membaca Alquran,” katanya singkat. Singkat sekali.

Kemudian sepi. Tak ada kata-kata lain yang terucap dari bibir mereka. Perempuan itu hatinya campur aduk. Heran. Terkejut. Terakhir, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

Tiba-tiba laki-laki itu menangis. Tubuhnya terguncang.

Perempuan itu matanya berkaca-kaca. Tubuhnya juga terguncang.

“Silakan masuk,” katanya dengan bibir bergetar.

Tanpa sepengetahuan suaminya yang masih tidur di dalam kamar dan kedua orang tuanya yang berpergian, perempuan itu mengajari perlahan-lahan. Mengajari membaca Alquran kepada orang yang sama sekali tak dikenalnya. Tapi, ia tak peduli walau awalnya grogi. Entah baru berapa ayat, dua orang masuk tanpa salam.

“Ibu, Bapak, kok baru pulang?” tanya anaknya tidak digubris. Mereka mematung memandangi laki-laki dengan kalung yang sama sekali tak asing. Lalu, wajah-wajah cacatnya juga tidak asing. Lali-laki yang bertahun-tahun mereka cari setelah menyesali perbuatan hina: membuang anak.

Mereka tahu betul, orang yang berada di depan mereka itu anaknya. Ada yang kembali bermunculan di dalam pikiran. Kenangan-kenangan. Bayi tanpa telinga, terdapat toh hitam besar di dada dan bibirnya sumbing yang pernah mereka buang di stasiun itu, kini tanpa disangka muncul begitu saja. Dengan sorot mata yang berkaca-kaca, kini laki-laki yang sudah besar itu memandang mereka.

“Maafkan kami anakku, maafkan kami. Semenjak kami meninggalkanmu, kami selalu dihantui mimpi-mimpi buruk. Maafkan kami. Rumah kami selalu terasa panas.” Kedua orang itu memeluk erat Mardi yang tak mengerti apa- apa. Apalagi seorang perempuan yang mengajarinya membaca Alquran. Sungguh tak mengerti. Tapi, tiba-tiba saja rumah yang selalu terasa panas hawanya itu kini berubah jadi sejuk seketika. (*)

Bantul, 13 Januari 2015

Daruz Armedian, santri Pondok Pesantren Hasyim Asyari ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub, Yogyakarta. Cerpen-cerpennya ada yang masuk dalam antologi bersama. Langit Februari (2013), Layang-Layang (2013), Cerita Tentang Hujan (2014), Empati Surgawi (2014), dan lain-lain. Pernah memenangi lomba cerpen sekabupaten Tuban (2013). Email: armediandaruz@gmail.com

Advertisements