Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 18 Januari 2015)

Kahia dalam Ajal yang Bergeming ilustrasi Pata Areadi

PEREMPUAN Tua menjelaskan, “Kalian menuduhku hanya karena aku mampu bicara dengan kahia? Mengapa kalian tak tuduh diri sendiri? Kalian yang lebih mampu lihat kahia.Siapa beri tahu kalian buat menuduh?

Ya, ya. Tak perlu dilanjut. Aku tahu namanya. Orang itu lagi. Aku dengar suaranya di toa saat lufu kie. Aku tahu, dia punya sakit jantung dan tulang punggung. Hatinya juga. Mengapa dia tak ikut dan hanya utus kalian? Kalian lihat sekarang? Aku hanya perempuan tua pembuat boso dari sekian banyak perempuan Marekofo. Aku tak punya bahan peledak. Tak seperti pencari ikan yang sering membuatku bangun buru-buru di tengah malam. Mau kucerita?

Malam itu aku cium bau solar dari mesin perahu cepat. Rasa-rasanya, ini tak kulebih-lebihkan—semoga Allah mengampuni—aku dengar jerit kahia! Jadi, mengapa kalian tak tuduh mereka? Mengapa malah aku? Aku cuma punya koin uang dari kemenyan. Aku seperti perempuan di pulau ini, hanya lebih tua—seperti kalian lihat—bekerja membuat boso. Anak dan cucu kami menjualnya ke pulau-pulau lain, sampai Raja Ampat, orang-orang butuh forno buat bakar sagu. Kami tak mengeluh soal sulitnya hidup. Kami hanya tak suka mereka merusak tanah kami. Kalian tahu kan, maksud mereka?

Jauh-jauh hari, Sultan Nuku mewarisi kami bukit tanah liat abadi.Tak pernah habis meski kami tambang buat boso. Kalau kami bersyukur, kami akan cukup. Kalau kamu kufur, kami akan kurang. Itu kata Sultan. Jadi, buat apa membunuh kahia-kahia? Untuk isu? Untuk tipu? Kalian pikir kami ini apa? Harusnya kalian ingatlah petuah kimelaha, “Oli se nyemo-nyemo budi se bahasa.” Bertutur kata yang baik. Jangan asal tuduh. Tahu?

Putra keduaku pergi dari rumah juga karena tuduh-menuduh tak jelas. Dia ketahuan bantu buat boso. Di sini, yang boleh buat boso hanya perempuan. Ini sesuai asal nama Pulau Mare, dari Mire: nama perempuan raksasa penghuni pulau ini di masa lalu. Dia menangis. Tak tega. Kakaknya sudah pergi bertani, mencari tanah liat, dan melaut. Dia bilang tak tega melihatku meraba-raba tanah liat, membuatnya menjadi beragam perkakas. ‘Jangan!’ cegahku, ‘Ibu tidak ingin kamu dikutuk!’ Dia tak percaya. Dan, entah, aku tak tahu lagi. Aku tak dengar suaranya jadi banci. Yang kudengar, ada orang yang melihatnya.

Ya, mereka teriak-teriak soal kutukan, mereka mengabarkan ke semua orang soal azab jadi banci. Putraku yang baik kudengar ambil dayung, bersampan pada malam yang cuma hanya bisa kudengar. Kupanggil, ia tetap pergi, kupanggil, ia tetap hilang. Sejak itu, aku mulai punya hubungan dengan kahia. Aku bicara dengan mereka. Aku sering menemui mereka sebagai obat kehilangan anak, diantar cucu berdayung-dayung di antara mereka, sampai tiba suatu hari, orang cerita, kalau putra kedua yang kutunggu, yang melanggar adat Mare dan kata orang jadi banci, terlihat datang dari Pulau Jailolo. Aku bergegas. Tapi, tak kudengar suara remajanya memanggil namaku. Hanya kerumunan suara orang yang biasa. Ada yang bisik, ‘Tak mungkinlah kau dengar suaranya yang remaja, dia harusnya sekarang sudah punya anak.’ Tapi, aku tak percaya. Dia pasti belum kembali. Kalau sudah, pasti menemuiku.

Ya, dia anak yang baik. Aku menunggu sampai suatu malam, aku rasa perlu ke laut, ada firasat. Kuajak cucu. Kurasa perlu lebih jauh, kubilang. Benar, perahu kami membentur kahia-kahia yang terluka! Yang mengambang dan menjerit sakit.

Ya, kahia yang telah mengganti anakku yang pergi. Kami bawa satu per satu, kuobati di tepian, meski gagal, dan orang-orang mengira akulah yang membunuhnya. Kalian juga.”

Pejabat Setempat berkata,

“Keterangan apa yang harus saya berikan? Kami mendengar itu dari pihak kepolisian. Seberapa penting isu kematian beberapa kahia ini? Kalau dibilang penting sekali, ya tidak juga. Kalau dibilang tidak, ya penting juga.

Pasalnya begini, kami sedang bangkit dari ketertutupan sejarah. Anda tentu lihat, di tempat kami ada 4 benteng Spanyol dan satu benteng Portugis. Ferdinand Magellan pada abad 16 tidak mungkin datang ke pulau kami tanpa maksud. Mereka mencari barang mahal. Mereka mencari rempah-rempah. Eropa jadi maju karena rempah. Tapi kami? Masih seperti ini juga. Jadi perlu strategi.Perlu dibangun hotel dan kelengkapan wisata.

Tapi, orang-orang Pulau Mare menentang. Ada banyak batu. Ada banyak pohon. Ada banyak tempat. Bahkan ada banyak ikan yang dilarang. Kalau semua dilarang, bagaimana mungkin kami bisa bergerak?

Turis-turis pasti akan senang. Mereka melihat sejarah masa silam. Ada juga ratib taji besi, jumbia, kora-kora, lufu kie, dan lain lain. Makanan; gohu, nasi jaha, sambal dabu-dabu, ikan fufu, sayur lilin, dan seterusnya. Kami ingin mengubah paradigma masyarakat, untuk menyadari posisinya dalam kedudukan perekonomian global saat ini, yang tidak lagi bertumpu pada rempah-rempah. Kami punya wisata. Kami ingin mengubah keadaan Pulau Mare.

Tapi, ditentang lagi, katanya ada daerah yang dilarang, inilah, itulah. Selama ini, kahia jarang sekali muncul, sehingga nyaris misterius, namun kemarin ada yang mati. Kahia itu dibaringkan pada sehelai kafan putih. Tubuh mereka pucat. Kalau tidak salah, ada lima kahia. Iya, benar?

Ya, memang lima berarti. Beberapa sirip mereka patah. Tubuh mereka tercabik. Dan, di sana ada seorang yang diamankan; perempuan tua. Berdasarkan informasi yang saya terima, dia bersama cucunya yang pertama kali kedapatan menggeret-geret bangkai kahia-kahia itu. Cucunya kemudian melarikan diri berperahu ke laut. Kabarnya sudah ditangkap. Kecurigaan lebih jauh muncul, sebab diketahui oleh masyarakat sekitar, perempuan tua itu sebelumnya memang dikenal mampu berbicara dengan kahia dan menjadikannya sebagai pengganti anaknya yang juga, kabarnya, terkutuk.

Tapi, sekarang kahia-kahia itu sudah mati. Jadi, mungkin kita akan sulit membuktikan, atau sulit memercayai hal seperti itu. Positifnya, akan ada perubahan.”

Anak Keriting membela,

“Iya, dia nenekku. Dia tidak membunuh kahia! Tidak. Kalau percaya, mengapa tetap menuduh kami? Buat apa kuceritakan? Aku sudah cerita di tepi laut. Orang-orang tidak percaya.

Kalau ayahku sudah pulang melaut, dia pasti percaya. Atau pamanku yang pertama.  Atau pamanku yang kedua. Paman kedua? Aku tidak tahu. Kata nenek, dia pergi. Belum pernah kembali. Paman pertama? Dia tentara.Tiap tahun dia pulang. Aku diajak ke Ternate dan Halmahera. Aku ingin ke Jawa, ke Jakarta. Aku menemani nenek. Berperahu. Duduk di belakang. Dia sering menangis di laut. Ingin paman kedua pulang. Ia bicara dengan kahia. Bakar koin uang kemenyan, lalu dilempar ke laut, lalu ketuk perahu tiga kali. Mereka terdengar datang.

Mereka berenang-renang di sisi kami. Nenek senang. Dia tersenyum, meski ke arah salah. Tinggal tepuk-tepuk air lagi, lalu mereka akan pergi.

Ceritanya? Ya, sempat pulang, kata orang, tapi dia lihat ada boso pecah di beranda. Dia kira, ibunya sudah tak mau kembali dengan tanda itu. Padahal, itu adalah cara nenek.

Ya, buat beri tahu kalau keluarga lebih berharga dari sebuah boso yang bisa dipecah dan diganti. Nenek yang menjelaskan. Mungkin kapan-kapan lagi. Sekolah di Tidore. Naik perahu ke Gamtufkange. Suka. Ada acara orang-orang menusuk dadanya. Berdarah. Tapi tidak mati! Kata nenek, ratib taji besi.

Kahia? Nenek tidak membunuh kahia! Ya, mengajakku ke luar. Dia bilang aku tidak kuat lagi. Tidak tahu tidak kuat apa.

Tapi, bukan nenek yang membunuh kahia! Banyak orang pakai bom buat cari ikan dan karang. Itu orang asing. Itu mereka mau buat hotel, tempat turis. Nenek tidak suka. Malam itu, nenek ingin panggil kahia.

Katanya, ia mimpi tentang paman, anak keduanya. Nenek bilang, ia belum pernah melihat wajah anaknya sejak anak itu lahir. Nenek mencium bau solar. Dia meminta aku mendayung ke arah yang dia tunjuk dengan penciumannya. Dan nenek berteriak. Banyak kahia mengambang, menjerit-jerit. Kami membawanya satu per satu ke tepi.

Orang-orang lihat. Orang-orang menuduh kami. Menuduh nenek. Kasihan nenek.

Padahal, meski hidup lama di sini, dia tidak tahu seperti apa warna laut kami, benteng Tidore, Maitara, Ternate. Nenek juga sering tanya, hijau itu seperti apa? Apa bendera-bendera di juanga kagunga itu indah? Seperti apa warna-warni mereka. Apa janur-janur di hongi itu berkibaran? Seperti apa? Ceritakan pada nenek soal karang indah di bawah perahu kita ini. Ikan-ikannya? Kahia itu? Seperti apa mulutnya, siripnya, warnanya? Ceritakan, kata nenek.

Kasihan nenek. Kalian bahkan sudah tahu, dia buta, dan tetap saja menuduhnya.” (*)

Catatan:

Kahia : lumba-lumba (bahasa Tidore)

Lufu kie : upacara adat tahunan di Tidore, keliling pulau

Boso : kerajinan tanah liat, belanga

Forno : alat pembakar sagu

Kimelaha : pemuka masyarakat

Oli se nyemo-nyemo budi se bahasa : menjaga tata krama bicara

Juanga kagunga : kapal kebesaran Kesultanan Tidore

Hongi : perahu

Eko Triono, menulis fiksi dan meneliti dunia pendidikan, peserta pascasarjana PBI UNS Surakarta.

Advertisements