Cerpen Diani Savitri (Media Indonesia, 11 Januari 2015)

Gadis yang Menerbangkan Kupu ilustrasi Pata Areadi

SUDAH lama kota kecil kami tidak terberkahi oleh gadis yang menerbangkan kupu-kupu dari untaian rambutnya. Maka saat Guru Somba menyatakan bahwa putri semata wayangnya menunjukkan tanda-tanda akan menjadi gadis yang ditunggu-tunggu itu, awalnya kami kurang percaya.

Bagaimana tidak? Kami paham betul bagaimana Socha di masa kecilnya. Pemberontak. Saat putra-putri kami pergi mengaji, Socha lebih suka bersepeda sendiri jauh-jauh ke pinggiran kota. Katanya ia ingin melihat binatang buas, atau ular yang sudah menyingkir masuk hutan, yang pernah ditebangi untuk pelebaran kota kilang minyak ini. Anak laki-laki yang paling berani di kota kami pun gentar. Pikir kami, Socha mungkin mewarisi bakat ayahnya. Mereka memang keturunan para guru ilmu bela diri, juga kaum alim-ulama yang bolak-balik ke Tanah Suci.

Tapi Socha tumbuh cantik. Sempat ia diundang ke kota tetangga, mengikuti lomba model dan peragawati atau sejenis itu. Socha memenanginya. Menilik penampilan Socha sekarang, keraguan kami memang berkurang. Orang awam seperti kami cenderung percaya pada orang dengan penampilan yang menarik.

Selain berparas cantik dan badung sewaktu kecil, selebihnya Socha tidak istimewa. Teman sepantarannya menceritakan hobi Socha ialah berlama-lama dengan telepon pintar yang terus-menerus digenggamnya. Beda dengan gadis yang mengeluarkan kupu-kupu dari untaian rambutnya. Gadis terakhir dihikayatkan jago mengaji, lembut dalam bertutur, dan pandai menari. Kabarnya, kalau ia melangkah, bunyinya seperti kepak sayap kupu-kupu: tanpa suara. Namun, layaknya orang yang sedang banyak berharap, kami rasionalisasikan bahwa hobi Socha ini wajar adanya. Toh, saat mengandung Socha, ibunya lebih suka SMS-an daripada membaca kitab suci.

Maka, dengan penuh harap kami cermat mengamati Socha. Setiap hari. Sampai suatu ketika, kami para pria sedang duduk-duduk di poskamling, main kartu di akhir pekan. Socha melintas, berjalan sendirian. Hambe yang duduk menghadap ke jalan ialah orang yang pertama melihat. Ia menepuk pahaku begitu keras, sampai hampir saja kubalas, karena terkejut dan panas perih di paha.Untung aku cukup awas untuk mengikuti arah tatap matanya yang membelalak seperti melihat setan di sore yang belum lagi remang. Di sebelahku, Hambe yang bersila jadi duduk tegak kaku.

Lalu, aku pun melihatnya. Belum pernah aku merasakan kemeriahan rasa seperti saat itu. Di dalam dada mendadak seperti ada obor serupa pucuk menara tungku flare pembakar gas sisa buangan dari kilang kota tetangga yang meletupkan api ke udara. Wush. Seolah ada sesuatu yang menyala dalam diriku.

Setidaknya ada tiga ekor kupu-kupu yang terbang, seakan lolos dari untaian ikal rambut Socha. Yang pertama berwarna keperakan, kilaunya bertolakan ditempa sinar matahari saat mengepak pergi. Yang kedua biru jelas, dan yang ketiga merah sumba bertotol-totol putih.

Setelah itu adalah bulan madu kota kami! Kami tergerak untuk tidak lagi bisa pasrah hanya menjadi pekerja kontrakan di kilang minyak dengan upah rendah. Sampai beberapa saat lalu memang kami berangkat kerja dengan sungut dalam hati, tapi takut kehilangan pekerjaan yang terasa lebih beradab daripada bertani atau berkebun macam kakek-nenek kami.

Para pria bekerja dengan hasrat dan penuh ekstasi. Kami bertani lagi, berladang, berdagang, kembali jadi nelayan, membuka biro yang mengundang wisatawan, berkesenian macam sastrawan. Apa pun agar tanah di kaki kami tidak lagi terasa mati, laut di dekat kami tidak biru sia-sia, dan kami tidak hanya menumpang tidur di atas tanah moyang. Gadis pembawa pertanda sudah menjelma.

Kaum perempuan tidak cuma menanak nasi di magic jar. Mereka jadi gemar berkreasi. Ketupat, lontong, pulut, mulai hadir di meja makan kami. Guru-guru giat mengajar, aktif mencari bahan terkini, selektif copy-paste dari dunia maya. Anak-anak muda belajar keterampilan dan kesenian, tubuh mereka bergerak sehingga angan tidak terserak, tidak melulu membual di media sosial. Seronok lagi hidup kami! Kupu-kupu yang beterbangan dari untaian rambut Socha betul-betul membubungkan harapan kami.

Sampai suatu hari, Socha kabur dari rumah! Mak Inas yang pertama mengabarkan kepada istri-istri kami, saat menjajakan ikan hasil lelang di pelabuhan ke kompleks-kompleks perumahan. Istri-istri kami memberitakan pada kami. Hari itu alat komunikasi kami bekerja keras mengantarkan pesan. Berita menjalar cepat, macam api disulut di tangki minyak. Kepanikan menyebar, setiap detik menjadi ketakutan yang kian membesar. Tanpa Socha dan kupu-kupu yang terbang dari jalinan rambutnya, bagaimana dengan hidup kami semua?

Keluarga Guru Somba terlihat tanpa daya ketika kami berbondong-bondong menyambangi rumahnya untuk mencari kejelasan. Ia terkulai dengan pandangan kosong. Ibu Socha menangis dan pingsan berkali-kali.

Dengar punya dengar, Socha kabur dari rumah untuk menikah dengan seorang warga negara asing pekerja di perusahaan minyak kota tetangga. Anak laki-laki paling berani yang suka menggoda Socha, yang telah menjadi pemuda paling kekar di kota kecil ini, tampak paling sakit hati. Socha selalu mencari apa yang tidak mungkin dimiliki, geramnya.

Sepeninggal Socha, di taman, pekarangan, dan kebun kami bersemayam jutaan gumpalan kepompong-kepompong kosong yang menempel pada cabang pohon dan tanaman. Anak-cucu dari kupu-kupu yang beterbangan dari rambut Socha tidak mampu mandiri di tanah kami. Segera mati setelah berjuang keluar dari kepompongnya. Bergelimpangan tubuh rapuh kupu-kupu seluas mata memandang di kota kami. Sayap aneka warna patah dan meremah.

Lalu, semuanya kembali seperti dulu. Saat sebelum kami menggantang harap dengan setiap kepak kupu-kupu dari untaian rambut Socha. Kegairahan surut begitu saja. Kota kami ditinggalkan kaum laki-lakinya, yang kembali bekerja di perusahaan minyak kota tetangga. Tak bersemangat kami mengatur perniagaan. Para istri memasak seadanya. Harum kukusan lontong dan ketupat tidak lagi tercium. Bumi di kaki kami, hati perempuan kami, jiwa di dada kami, mengerontang kembali.

Beberapa tahun setelah kepergian Socha, Hambe mengaku pernah melihat Socha di ibukota provinsi. Socha berbadan lebih gemuk, bersama bocah balita yang tampaknya berayah dari ras Kaukasia. Tidak ada si ayah itu di sana. Mereka duduk di food court sebuah mal, keduanya memelototi perangkat telepon pintar di tangan masing-masing.

Tidak ada kupu-kupu terbang! Payah-payah aku mengintai sekian lama dari kejauhan, lapor Hambe yang jelas-jelas sangat terpukul. Lagi pula, kini Socha mengenakan kerudung, tambahnya.

Kota tetangga dan pengilangan minyaknya tetap berderap tanpa pernah menggantungkan diri pada legenda. Konstan dan pasti, macam menara tungku kilang minyak yang puluhan tahun terus-menerus menyemburkan api ke langit kami. Kota kecil kami redup sendiri.

Dan, obor di hati kami, apinya sudah mati… (*)

Diani Savitri, menekuni dunia kepengarangan, di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti. Karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Ia tinggal di Jakarta.

Advertisements