Archive for January, 2015

Pelajaran Berladang Kol
January 25, 2015


Cerpen Alizar Tanjung (Media Indonesia, 25 Januari 2015)

Pelajaran Berladang Kol  ilustrasi Rio B

PAGI Selasa yang berkabut, antara gonggongan anjing di dalam kandang dan kokok ayam kinantan di halaman, Bapak memanggil Sulaiman. Memberikan pelajaran bertanam kol, setelah pelajaran-pelajaran lain diberikan pada hari yang lain, di kampung yang bersuhu kisaran 16-18 derajat itu. (more…)

Advertisements

Meisa dan Ular di Lehernya
January 25, 2015


Cerpen Maltuf A Gungsuma (Suara Merdeka, 25 Januari 2015)

Meisa dan Ular di Lehernya ilustrasi Suara Merdeka

LIHAT perempuan itu, bukan emas atau berlian di lehernya, tapi ular. Ia memang cantik, semua pemuda di sini tahu itu dan berdecak kagum setiap melihatnya melintas di jalanan desa. Tapi kau mesti tahu kalau ular di lehernya itu berbisa. Dan yang sangat mengerikan lagi, ular itu hanya patuh pada majikannya.

“Meisa, ada banyak lelaki ingin mengalungkan berlian di lehermu, tapi selalu terhalang sama ular itu.” (more…)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh
January 25, 2015


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh ilustrasi Rendra Purnama

Sebelum Pesawat Itu Jatuh ilustrasi Rendra Purnama

DI luar sana, langit telah rata berselimut mendung. Hujan mulai merintik sejak beberapa menit lalu. Perempuan muda berparas ayu khas Jawa itu masih berdiri, bergeming di tepi jendela kamarnya.

Tuhan, mengapa orang yang kucintai pergi dengan begitu cepat, bahkan sebelum aku sempat bersanding dengannya. (more…)

Tenung
January 25, 2015


Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)

Tenung ilustrasi Amelia Budiman

KABAR kematiannya menyebar sangat cepat, seperti angin yang berbuah badai dan merontokkan dedaunan. Barangkali kabar kematian tak secepat itu jika yang meninggal bukan si tukang tenung.

“Siapa yang meninggal?”

“Murtaep.”

“Murtaep tukang tenung itu?” (more…)

Kahia dalam Ajal yang Bergeming
January 18, 2015


Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 18 Januari 2015)

Kahia dalam Ajal yang Bergeming ilustrasi Pata Areadi

PEREMPUAN Tua menjelaskan, “Kalian menuduhku hanya karena aku mampu bicara dengan kahia? Mengapa kalian tak tuduh diri sendiri? Kalian yang lebih mampu lihat kahia.Siapa beri tahu kalian buat menuduh?

Ya, ya. Tak perlu dilanjut. Aku tahu namanya. Orang itu lagi. Aku dengar suaranya di toa saat lufu kie. Aku tahu, dia punya sakit jantung dan tulang punggung. Hatinya juga. Mengapa dia tak ikut dan hanya utus kalian? Kalian lihat sekarang? Aku hanya perempuan tua pembuat boso dari sekian banyak perempuan Marekofo. Aku tak punya bahan peledak. Tak seperti pencari ikan yang sering membuatku bangun buru-buru di tengah malam. Mau kucerita? (more…)

Helah
January 18, 2015


Cerpen Raedu Basha (Suara Merdeka, 18 Januari 2015)

Helah ilustrasi Suara Merdeka

Juni 1999

Janadin. Lelaki berkumis tebal itu merasa degup jantungnya tak berdetak. Matanya bersemburat merah seketika, duduk bersila di antara hadirin yang melingkar di mihrab masjid. Sebuah upacara pernikahan tak biasa akan dilaksanakan.

Dia menatap runcing seorang anak muda yang mengenakan setelah jas-sarung rapi tak ubahnya mempelai pria. Santab. Ia penolong Janadin dari sial. Tetapi sial itu kini seolah pekat langit kembali burat, dan menjadi. Kecemburuan bergejolak. (more…)