Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 21 Desember 2014)

Kidung Natal dan Salju Merah ilustrasi Pata Areadi

SAN JUAN Hill gempar karena peristiwa tragis di malam Natal. Koran-koran pagi memampang headline berita mencengangkan, ‘Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya!’ Berita ini sebenarnya bukan hal baru bagi warga yang sudah terbiasa dengan kasus-kasus kriminal di New York. Namun, luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap 17 tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apalagi jika mengingat kepribadian Russell selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia berurusan dengan polisi, dengan kasus yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau, Russell. Kau membunuh anak tak berdosa! Neraka menunggumu!” demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut para tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang meski telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Russell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada yang tahu seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum peluru menembus tubuhnya.

***

Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di New York. Menurut laporan badan cuaca, itu badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang sudah berminggu-minggu juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu berarti kiamat bagi Russell yang hanya berstatus pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, sekadar uang lelah pun tak diberikan perusahaan. Ini Natal yang buruk bagi Russell. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang menumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya. Russell geram pada pemerintah yang tak berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkeraman kolonialisme Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada 1776 di Long Island.

Dalam perang itu Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang hendak dibangun di tanah ini. Tapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russell keluar dari lingkaran kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russell sampai di pekarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar 30 cm, menandakan begitu hebatnya badai salju yang tengah melanda. Suara televisi masih terdengar samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila ia bekerja pada shift  malam.

Russell memutar gagang pintu perlahan-lahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biarlah Carolina—perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu—tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang telah menjadi pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura—ibu kandung Bernard—lima tahun lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.

Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Cokelat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya.

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Cokelat panas di tangannya mengepulkan asap tipis dan menebarkan aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di kepalanya. Namun, televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang cuaca ekstrem yang sedang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Rintihan erotis perempuan yang sedang bercumbu. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegup cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira dia belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!” maki Russell dalam hati.

Nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russell menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercumbu dengan Carolina, ibu tirinya!

“Terkutuk!” desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dadanya seperti hendak meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk kamar. Dia meraih sepucuk revolver di lemari, di bawah tumpukan baju. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, jahanam itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

Braak!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bermesraan tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang seolah datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Tapi, Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Ia berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.

Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke pekarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih berada di kamar. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Merah darah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Jasad Bernard terkapar di tumpukan salju yang terus berguguran. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirene mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng gereja. Entah siapa yang menelepon polisi. Mungkin saja Carolina… (*)

Adam Yudhistira, penulis kelahiran Muara Enim, Sumsel, 9 Desember 1985. Buku terkininya, Kencan Pertama yang Memalukan (2014).

Advertisements