Cerpen Makanudin (Republika, 21 Desember 2014)

Gadis Terbaik ilustrasi Rendera Purnama
Gadis Terbaik ilustrasi Rendera Purnama

Setiap hari menjelang sore, sepulang dari toko miliknya, laki-laki berumur enam puluhan itu duduk di teras depan rumahnya. Menghitung-hitung beberapa gadis muda yang lewat. Dari yang ia kenal sampai yang tidak. Tapi, lama-lama ia mengenali mereka satu-per satu. Bahkan menandainya. Tinggi badan dan raut wajahnya.

“Jelalatan terus matamu itu, Pak,” kata Yanti, istrinya yang baru keluar rumah melihat ke arah pandangan suaminya. “Pa… malu dengan usia.”

“Mengapa harus malu!” jawabnya segera.

“Pandangan bapak itu.”

“Mengapa pandanganku.”

“Matamu ke gadis-gadis muda itu.”

Ia tidak menghiraukan. Ia tidak ingin Yanti mengetahui keinginannya mengenalkan Bahrul, anak laki-lakinya, kepada gadis-gadis itu. Siapa gadis ideal untuk anaknya itu. Anaknya memang ganteng serupa dirinya. Selain rajin ibadah, ia juga cerdas. Tapi, keunggulan itu yang akan ia tawarkan untuk gadis pilihannya nanti.

Dengan perasaan kesal, kembali ia berkata, “Usia kamu itu, Pa.”

“Ya, tapi wajar kan?”

Ia menggeleng-geleng kepala menyesalkan perkataannya. “Tidak! Tidak wajar!” lalu, ia segera melangkah masuk rumah.

Ketika ia baru saja bangkit dari duduk ingin segera menyapa istrinya, tiba-tiba dalam gegas, seorang gadis berseragam sekolah muncul dari kejauhan akan pulang. Langkahnya terhenti. Berdiri memerhatikannya. Lama. Berusaha mengenalinya. Beberapa hari lalu ia jalan-jalan. Dan, ketika sampai di ujung kampungnya, ia melihat gadis itu di pelataran rumah bersama bapaknya yang sudah ia kenal, meski tidak dekat.

“Enai, ini bapak Ugas, kau mengenalnya?”

Ia yang memang mengenal meski hanya sekadar melihatnya ketika sedang berangkat sekolah, melempar senyum dari balik jilbab merah mudanya. Dan, ia pun terkagum. Duh
senyum yang akan membuat nyaman di rumah bila ia menjadi bagian keluargaku, batinnya.

Enai, gumamnya pasti. Ia tersenyum senang mengingat gadis dari ujung kampungnya itu. Jalannya! Ia mengenal sekali jalan miliknya itu. Menduga ia gadis yang menguntungkan jalan hidup suaminya. Apalagi, setelah ia mendengar pembicaraan bapaknya saat itu di halaman rumahnya, semenjak lulus SMP, meski perasaan tak nyaman dengan teman-temannya, Enai mulai memakai kerudung dan baju tangan panjang. Ketika teman-temannya mengetahui, mereka mengatakan ‘yang penting hati, untuk apa memakai busana serapi itu.’

Tapi, Enai menjawabnya ringan, ‘bisa jadi hatiku lebih baik bila berpakaian rapi menutup aurat’ dan ia segera menjauhinya. Tak lagi menghiraukan.

Di rumah, ia utarakan perkataan teman-temannya itu kepada keluarga. Ibunya berkata, ‘dengan pakaian penutup aurat, keburukan kamu sedikit akan terkendali, Nai’. Dan, ia merasa senang. Ia terus berpakaian semakin tertutup, semakin cantik, semakin serupa ibunya. Bahkan malah lebih cantik lagi.

Ia semakin senang, dan, ia menetapkan gadis itulah pilihannya. Senyumnya semakin lebar, ia ingin selalu memerhatikannya.

Kini, tentu Enai sudah lebih baik lagi. Pengalaman keagamaannya lebih jauh setelah belajar mengaji Alquran selama tiga tahun di SMA. Ia memastikan Enai-lah gadis yang tepat untuk Bahrul. Tapi, belum mengerti maksudnya berlama di depan rumah, Yanti meninggalkannya. Dan tanpa menjauhkan pandangannya dari Enai, dengan tetap berdiri ia segera berkata, “Anak kita. Bahrul. Bahrul, Yan.”

Langkahnya terhenti, sejenak tak berkata, “Mengapa dia!”

Tanpa berkata, ia menunjuk ke Enai sedang berjalan di belakang serombongan bapak-bapak yang akan ke sawah pada musim tanam. Jalan yang masih berkerikil itu membuat jalannya tidak cepat. Hingga wajahnya begitu jelas.

Ia bingung, tak mengerti, “Mengapa dengan gadis itu?”

“Ya, Bahrul.”

“Maksudmu, kau akan mengenalkannya pada anak kita?” ia menduga, mendekatkan wajahnya dengan suara direndahkan.

Ia diam, tersenyum. Lalu, dalam duduk santai, pelan suaminya menganggukkan kepala.

“Ya, segera.”

“Yang benar, Pak! Yang benar.”

“Mengapa tidak! Bukan sekadar mengenalkannya, bahkan aku akan segera menikahkannya.”

Ia terkejut. Khawatir kebenaran perkataan suaminya. Ia menggeleng kepala, tak mengerti keinginan suaminya itu. “Tak masuk akal bila ia memiliki istri sebentar kemudian anak, lalu dari mana memberi makan keluarganya nanti. Padahal dia sendiri masih dari kita.”

“Aku yang akan menjamin mereka, Bu.”

“Itu yang membuat bapak rajin mengembangkan usaha?”

Selain toko milik sendiri, ia juga bergabung bersama teman-temannya membangun pabrik pembuatan batako. Dari keuntungan itu, ia sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk membangun air isi ulang dan pelayannya akan ia serahkan ke salah seorang dari keluarga temannya. Dan dari ruang-ruang usahanya itu, ia sudah memiliki rencana usaha lain yang akan Bahrul jalankan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia bahagia. keinginannya akan terlaksana.

“Keinginan bapak tidak wajar!”

“Mengapa tidak? menikahkan anak kita yang sudah dewasa. Itu wajar tahu!”

“Ya, tapi masih muda, belum mandiri. Tidak mungkin kita yang selalu memenuhi kebutuhan hidupnya.”

Ia tetap melempar raut bahagia.

“Aneh bapak ini! Anak baru lulus SMA harus menikah! Mencari pekerjaan saja belum pernah dapat.”

Hanya anaknya tak ingin sepertinya, terlambat menikah. Ia tetap tidak menghiraukan.
Meski belum pernah menemui jodoh yang tepat dan cocok, selama perantauannya di daerah orang membuatnya belum tepat memutuskan menikah. Selain biaya yang tidak ia miliki, ia juga baru mulai ikut usaha meski berkali gagal, dan hal itu yang membuatnya telat menikah di usia tiga puluhan.

Dan ketika ia pulang setelah kalah persaingan mencari usaha di perantauan, ia mengenal Sri. Sri Rumaini, anak bandar gabah. Sering kali ia ke rumahnya. Setelah lama mengenalnya, dan begitu serius, ia izin ke keluarganya untuk berbicara dengan Sri. Mendengar hasil pembicaraan mereka, bapaknya meminta Sri menuruti permintaannya menerima lamaran Beben, putra teman sesama pengusaha. Tentu, ia menerima keputusan keluarganya.

Dan bertahun kemudian ia baru bisa menentukan gadis yang tepat yang akan ia nikahi. Iim Masyuroh. Namun, ketika ia sudah begitu dekat, dan mengetahui ia sering kali ke rumah Iim, bapaknya menegur, “Tadinya Bapak akan menjual sebidang tanah di belakang rumah untuk biaya menikahkan kamu, tapi, Abangmu yang akan membangun rumah tidak memiliki tempat. Sementara anaknya banyak dan tidak mungkin satu rumah dengan kita.”

Ia hanya bisa diam. Tak mengingat lagi usianya.

“Kamu tahu bapak tidak memiliki pekerjaan. Kuli mengolah sawah saja saat musim tanam tiba.”

Ia semakin diam. Meninggalkannya meski tanpa penyesalan.

Hingga menginjak usia empat puluhan, ia baru menikah. Itu pun hasil usaha sendiri untuk biaya menikah. Ia bahagia. Bahagia sekali meski terlambat. Hingga kini usahanya semakin berkembang. Semakin beruntung.

Menghasilkan uang lebih dari cukup. Jangankan untuk berdua, untuk keluarga Bahrul bersama istri dan anaknya nanti, ia pun mampu membiayai.

***

Tidak sebagaimana lalu-lalu, hari itu ia ke toko agak siang. Dan, tentu, sejak pagi ia sudah duduk di muka rumah. Jalan depan rumahnya tidak seramai biasanya. Anak-anak sudah libur sekolah setelah ujian akhir semester beberapa minggu lalu. Ia terus memasang pandangan. Menunggu sampai si Enai lewat depan rumahnya akan ke warung. Ia tahu Enai akan segera lulus. Ia senang. Tak henti pandangannya ke jalan. Tak juga lengah, atau mengalihkan ke tempat lain. Sudah berapa gadis yang lewat. Ia tidak menghiraukan. Hanya satu keinginannya. Melihat Enai.

Bahrul keluar dari rumah. Mendekatinya yang sedang santai pagi itu. Lalu, duduk di kursi sebelahnya.

“Kamu mengenalnya, Rul? Gadis itu?” tanyanya, menunjuk Enai yang lewat di jalan bersama bapaknya.

“Dia Enai, adik kelas saya, itu bapaknya.”

“Kamu mengenal mereka?” terlihat bahagia sekali.

“Mengapa tidak. Bahkan ia akan segera menikah pun setelah lulus nanti, Bahrul sudah tahu pak.”

Tiba-tiba wajahnya berubah, tak sebahagia sebelumnya. Ia menutup mulutnya, diam. Tak ingin Bahrul mengerti maksudnya. Tapi, tanpa menghiraukan ketidaksetujuan Yanti, dalam hati ia masih berkata, “Segera akan kucarikan gadis terbaik lainnya, Rul. Untukmu!” (*)

 

 

Sukawangi, 2014

Makanudin, Lahir dan menetap di Bekasi. Selain menulis, sehari-hari ia aktif mengajar.

 

Advertisements