Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 14 Desember 2014)

Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama
Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama

Ahad yang cerah. Pagi-pagi setelah sembahyang Subuh, Mak telah pergi ke pasar untuk berjualan sembako di kiosnya. Tentu, Mak berangkat bersama Abi dengan menaiki labi-labi milik kami. Karena ayah berprofesi sebagai sopir labi-labi—sejenis angkutan—di kota bumi Serambi Aceh ini. Sebagai sopir, Abi tak pernah mengenal hari libur.

Menurut Abi, karena setiap hari makan, maka setiap hari kita harus bekerja.

Sudah semenjak Subuh, aku bangun bersama Mak. Membantu mengerjakan tugas rutin. Sekarang usiaku genap 14 tahun dan duduk di kelas XII MTs, dan aku tak canggung lagi harus mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, atau yang lainnya.

Pagi ini setelah selesai menjerang pakaian, aku kembali ke dapur. Sebenarnya Mak telah menanak nasi dan memasak lauk untuk kami bertiga, aku dan kedua adik kembarku. Namun, kali ini mereka ogah makan nasi. Fadlan minta dibikinkan nasi goreng telor mata sapi setengah matang. Fadlan merengek ingin sarapan nasi goreng bertabur sosis.

Aku sedang menyiapkan pesanan, ketika mendengar suara si kembar sedang berantem. Buru-buru aku melerainya. “Mengapa sih kalian suka ribut, suka bertengkar?”

“Nih… Kak Zahra si Fadlan. Masa sih pedang Fadli diambil!”

“Kamu yang salah dik. Ini kan punya kak Fadlan. Bukan pedang kamu. Lihat, ada nama aku di gagang pedang ini!”

“Ya, Fadli, benar, pedang ini milik Kak Fadlan. Milik kamu kemarin kak simpan di kamar kak Zahra. Di atas meja belajar. Sana ambillah sendiri!”

Fadli menurut. Dua lelaki kecil itu kembali asik bermain. Tapi tak lama mereka kembali ribut. Bahkan, kini beradu kencang tangisan.

“Ada apa lagi sih? Masa pada sudah kelas 2 SD masih suka nangis? Enggak malu tuh.” Aku kembali menjadi penengah.

“Habisnya Fadlan nakal sih Kak. Dia nusuk Fadli pakai pedangnya dan kena sungguhan. Fadli kan sakit. Bagaimana kalau Fadli mati. Hu-hu-hu….” Fadli menangis sesenggukan.

“Yeah.. Fadlan juga mati dong. Kita kan kembar…” celetuk si sulung kembar asal.

Hush ..kalian ngomong apa sih. Sudah, main pedangnya berhenti dulu. Nangisnya juga berhenti. Sekarang saatnya kita makan…nasi goreng spesial buatan kak Zahra!”

***

Bertiga, kami baru selesai sarapan pagi, ketika lantai ruang rumah tiba-tiba bergoyang. Rumah terguncang-guncang hebat. Perabot- perabot berjatuhan. Bahkan, dinding dapur runtuh. Ya Allah…ternyata ada gempa. Betapa kami ketakutan. Si kembar menjerit-jerit minta tolong. Menambah kepanikan. Untung saja gempa tak lama.

Tapi ketakutan tiada sirna. Sambil memeluk si kembar, kami berlari menyelamatkan diri ke luar rumah. Sesaat kami bingung, tidak tahu apa yang terjadi. Apa yang harus dilakukan?! Seandainya Abi dan Mak ada di rumah, mungkin kami bisa tenang. Aku berinisiatif menelepon Mak. Mak menasihati kami agar tenang. Jangan ke luar rumah. Menunggu Mak atau Abi datang….

Kami menuruti pesannya. Sudah setengah jam menunggu, namun tidak ada yang datang.

Bertiga duduk meringkuk di halaman rumah, kami saling berpelukan. Aku mencoba menghibur adik-adikku. Mendekap erat mereka, menghela ketakutan di benak polos mereka. Lalu lalang orang-orang tak kami hiraukan. Sebagian tetangga kami memilih mengungsi. Apalagi mereka yang rumahnya rusak.

Tapi kami tetap akan menunggu Abi dan Mak datang, sesaat hati kami berdegup kencang…. Ketika nun dari kejauhan terdengar suara-suara yang sangat keras. Terasa menerpa gendang telinga. Bertalu-talu. Suara menderu-deru itu terdengar keras sekali! Seperti suara pesawat terbang!

Ya Allah, dari arah kejauhan terlihat benda laksana dinding berwarna hitam atau biru…. Bergulung-gulung datang, mendekat! Tapi bukan dinding, bukan! Yang datang ternyata hempasan gelombang pasang air laut yang sangat tinggi. Dan tengah berlarian menuju kami. Gelombang berarus deras itu bagaikan mulut raksasa yang siap memangsa kami!

Aku memeluk kedua adik kembarku erat-erat. Dan berniat menghindar, berlari. Namun, apakah daya kaki-kaki mungil ini? Belum sempat kami berbuat, ombak dahsyat setinggi pohon kelapa telah menyapu kami. Menenggelamkan kami. Menggulung kami, mencerai-beraikan kami, menghempaskan kami jauh… Entah ke mana. Aku merasakan tubuhku sakit, mataku perih… Lalu gelap!

Saat tersadar aku berada di rumah sakit. Perutku kembung karena banyak kemasukan air laut. Tubuhku lebam-lebam. Di beberapa bagian terdapat goresan luka. Menurut orang, aku selamat karena tersangkut pada atap sebuah masjid bertingkat, setelah gelombang tsunami menyeretku sejauh 23 km. Ya….Allah ya Rabbi bencana apakah ini?!!

***

Sepekan lebih aku dirawat di rumah sakit ini. Hari-hariku selama di tempat ini adalah saat-saat yang paling menyedihkan dan memilukan. Jeritan tangis, rintihan karena kesakitan, atau kehilangan sanak saudara berbaur dengan aroma obat, tangan dingin dokter dan perawat atau hati emas para relawan.

Seiring hari-hari kemudian yang berlalu….  Luka di tubuhku mulai sembuh. Tapi luka di hatiku, tak tahu kapan akan terobati. Seperti aku tak tahu apa yang terjadi pada orang-orang tercinta di dalam kehidupanku? Di mana ayah dan labi-labinya? Apa yang terjadi pada Mak, setelah tsunami memporak-porandakan Pasar Meulaboh?! Bagaimana pula nasib si Kembar? Aku terbayang canda mereka. Kenakalan Fadli. Ocehan Fadlan. Rengekan mereka. Si kembar di mana kalian?! Di mana sayang…?

Betapa hidupku kini terasa hampa. Mengapa aku selalu menangis, menjerit-jerit atau melamun? Kadang tersenyum sendiri bila mengingat orang-orang tercinta? Menurut dokter aku mengalami trauma psikis pasca bencana tsunami ini. Benarkah?

Tapi mengapa dokter dan orang-orang itu tak bisa mengerti perasaanku? Tak bisa memahami dan merasakan betapa menderitanya jiwaku karena kehilangan orang-orang tercinta?! Mengapa kini mereka malah mengurungku di tempat seperti ini? Gara-gara aku marah dan menggigit tangan dokter sampai berdarah-darah. Karena lelaki itu ingin menyuntikku dengan obat penenang. Padahal aku merasa tidak sakit karena sudah terlalu sakit ditusuki seribu jarum suntik.

Padahal aku sudah merasa senang, kalau pada senja hilang berganti malam itu aku telah melihat orang-orang tercintaku datang di sudut kamar. Namun menurut dokter, aku mengada-ada. Katanya tak ada siapa-siapa. Katanya aku pembohong, pendusta.

Aku marah, meronta-ronta, mengamuk. Mengapa mereka tak mengizinkanku bersua keluargaku? Padahal jelas kulihat Mak tersenyum. Abi melambaikan tangan. Dan si kembar memanggil-manggil namaku!

Mengapa dokter dan orang-orang itu menahanku? Menghalangiku. Betapa kejamnya mereka! Tak berperasaan! Tak berperikemanusiaan! Kejam!

Tapi sudahlah. Kini aku baru tahu maksud mereka menempatkanku di kamar sepi di rumah sakit jiwa ini. Karena di sini aku merasa lebih baik dan bahagia. Apalagi bila tengah malam panjang tiba….

Hore! Abi, Mak, dan kedua adik kembarku datang! Mereka datang menghibur, mengajakku bercanda, berbagi cerita. Di sini aku bisa kembali cerah ceria. Tanpa dokter kejam, suster galak, atau orang-orang-orang itu. Karena orang-orang tercintaku itu datang hanya untukku!

Hanya aku saja yang didatanginya, karena aku saja yang bisa melihatnya! (*)

 

 

Kota Ukir, 1 Desember 2014

Kartika Catur Pelita, lahir di Jepara, 11 Januari 1970, penulis novel “Perjaka” (AKOER, 2011). Cerpennya “Bukan Robot” termasuk dalam 15 Cerpen Inspiratif Annida (Annida Online, 2012). Puisi dan cerita fiksinya termuat pada media cetak dan online lokal-nasional.

 

Advertisements