Kisah Sedih Kontemporer


Cerpen Dea Anugrah (Media Indonesia, 7 Desember 2014)

Kisah Sedih Kontemporer ilustrasi Pata Areadi

SEPERSEKIAN detik setelah terjaga, Rik berusaha menggerakkan lengan kirinya, menekuk siku, dan menghadapkan telapak tangannya ke wajah. Tentu saja ia mengerti, dalam keadaan bangun tidur, koordinasi antara kelenjar pengatur kesadaran pada otak dan pos-pos tubuh yang lain tidaklah sebagaimana diterangkan guru biologi di sekolah menengahnya dulu. Otot-ototnya bergerak jauh lebih lamban dari yang semestinya. Perintah-perintah dari otak bergerak perlahan dalam jaringan saraf, seperti tikus utuh dalam tubuh seekor ular, seperti gumpalan lemak kekuning-kuningan dalam pembuluh darah.

Bertahun-tahun yang lalu Rik pernah menonton prosesi makan ular sanca di acara Jelajah Alam yang hak siarnya dibeli secara kodian oleh saluran televisi lokal dari perusahaan media entah apa di suatu tempat di Australia Barat. Gambarnya kurang jernih, pengisian suaranya dikerjakan secara asal, dan sosok si penjelajah mengingatkannya pada Tuco alias The Ugly dari film The Good, The Bad, and The Ugly karya Sergio Leone. Walau dinamakan begitu, sebetulnya tampang Tuco juga si pemandu acara petualangan tidaklah buruk-buruk amat, setidaknya lebih tampan daripada ikan laut dalam. Hanya, keduanya memang punya jenis wajah yang merangsang rasa tidak enak di lambung.

Lantaran khawatir perutnya bertingkah, Rik mengalihkan pikiran ke topik lain: tikus gemuk yang diremas-remas pencernaan ular sanca. Rik ingat bagaimana kulit ular itu berkilat-kilat terkena sinar matahari. Tidak elok, tapi cukup layak dikenang. Ia juga ingat kamera berulang kali menyoroti mata kuning ular sanca dan pupil cokelat si penjelajah dengan teknik extreme close-up secara bergantian, seolah keduanya sedang saling ukur daya tempur dan menunggu kelengahan lawan.

Ular menelan tikus; dan tikus, di luar kehendaknya sendiri, maju perlahan sepanjang jalur pencernaan ular yang gelap, panas, dan lembap. Tidakkah takdir manusia juga demikian? Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di benak Rik, bersamaan dengan gambar si pemandu acara Jelajah Alam yang sedang menyeringai. Giginya kuning dan tumpang tindih. Dengan tampang macam begitu, pikir Rik, tentu jarang sekali ada perempuan di bawah usia empat puluh yang mau bercinta dengannya atas dasar suka sama suka dan tanpa pengaruh minuman keras.

Rik mendengus dan menggaruk samping kiri lehernya. Sadar bahwa tubuhnya sudah bisa digerakkan secara wajar, ia menghadapkan telapak tangan kirinya ke wajah. Yang kecil di samping itu garis asmara, Rik terkenang ucapan Lani. Jumlah garis menandakan jumlah perempuan yang bisa kamu cintai dengan serius dalam hidupmu. Boleh aku lihat? Rik menatap lekat-lekat garis asmara di telapak tangannya. Ada sepasang. Dan hingga saat Lani menerangkan arti garis-garis tangan kepadanya, Rik memang telah mencintai dua orang perempuan secara serius. Dua dari lima orang mantan pacarnya. Dua buah lubang hitam berdiameter 8 mm di dalam hidupnya. Setiap kali melongok ke dalam diri sendiri, Rik bisa melihat kedua lubang tersebut dengan jelas. Seperti luka tembak yang sudah kering, tapi kulit dan dagingnya enggan kembali tumbuh.

Rik berpikir keras. Keningnya memang tidak berkerut, tapi Tuhan tahu ia sedang memeras isi tempurung kepalanya seakan-akan setelah itu tidak ada lagi yang layak dipikirkan. Rik tidak kuasa menerima gagasan bahwa dirinya hanya bisa benar-benar dilukai dua kali sepanjang hidup; belum lagi perkara meyakinkan Lani yang telanjur mengetahui fakta keras: garis asmara Rik hanya dua dan Rik sudah dua kali mencintai orang secara serius bahwa cintanya kepada Lani pun serius? Tidak kalah dari cinta Husrev kepada Shirin, Tristan kepada Isolde, atau jerapah jantan kepada jerapah betina.

Seolah-olah ide bisa dicopet di udara, sejam kemudian Rik sudah tahu apa yang mesti dilakukannya untuk memenangkan hati Lani. Bagaimana mungkin Lani menolak laki-laki yang mengukir satu garis baru di masing-masing telapak tangannya dengan cutter yang disterilisasi dengan api lilin hanya untuk meyakinkan bahwa masih ada harapan, bahwa masa depan bukanlah gang buntu atau selokan mampat? Setidaknya begitulah yang dibayangkan Rik, dan ia benar. Yang tidak ia bayangkan: kelak setelah delapan minggu berpacaran, Lani akan meninggalkan lubang 8 mm baru, menghilang selama tiga hari, dan muncul kembali dengan berita bahwa ia segera kawin dengan bule Australia yang wajahnya mengingatkan tokoh kita kepada pemandu acara jelajah alam episode ular sanca.

Kebun binatang

Suatu hari, Loko datang ke tempat tinggalku dan berkata bahwa tempat terbaik di dunia ini adalah kebun binatang. Kebun binatang saat hujan dan sepi pengunjung. Di bawah maupun di atas langit, ujarnya, mustahil ada yang lebih indah.

Saat itu aku manggut-manggut belaka. Sebagaimana aku manggut-manggut tiga bulan setelahnya, hari ini, ketika Loko mengirimiku pesan Facebook dan menyatakan kebun binatang adalah manifestasi penyakit psikologis terbesar umat manusia. “Hewan-hewan mesti dikembalikan ke ekosistem atau sekalian saja dibikin mampus,” kata dia kemudian. “Dan orang-orang, khususnya perempuan, yang punya ide untuk berkencan di kebun binatang, selayaknya di-tapol-kan ke kebun manusia di planet Tralfamadore.”

Kami sudah berteman selama sembilan tahun dan aku tahu Loko bukanlah air di daun talas. Perubahan-perubahan ekstrem dalam sikapnya hanya mungkin dipicu oleh keadaan gawat, dan setahuku, yang demikian itu nyaris tak pernah ada. Cairan dalam tabung kaca berlabel ‘hidup Loko’ kebal reaksi. Tambahkan unsur apa pun, dijamin ia tetap kalem seperti janggut kura-kura penyangga dunia. Waktu SMP, Loko pernah ditempeleng bolak-balik oleh kepala sekolah gara-gara ketahuan berjongkok dan menirukan ekspresi orang buang air besar di atas meja guru. Saat SMA ayahnya dipenjara dan ibunya minggat dari kontrakan yang belum dibayar dan ia terpaksa menumpang di rumah kenalan ayahnya. Lepas SMA ia diongkosi neneknya, dari pihak ibu, kuliah dan drop-out pada tahun ketiga karena ongkos tersebut tiba-tiba berhenti Loko tak menanyakan alasannya dan neneknya pun tidak menjelaskan. Dan sewaktu kecil, ini yang kuketahui paling akhir, ia dipanggil ‘Beruk’ oleh ayahnya alih-alih ‘Kakak’ atau ‘Mas’ seperti kebanyakan anak pertama dan diperlakukan seperti timun bongkok masuk karung tapi tak dihitung. Semua itu terjadi dan semua baik-baik saja. Atau dalam kosakatanya sendiri: “Tanpa bekas dan efek samping.” Bagaikan lubang hitam, keacuhan Loko sanggup menelan apa saja. Kecuali, maaf, perempuan.

Loko menyukai dan membenci olahraga tinju karena perempuan, menyukai dan membenci kucing karena perempuan, film-film Jepang karena perempuan, novel-novel Rusia karena perempuan, gaya hidup Generasi Beat, lukisan Jackson Pollock, musik space rock, kembang anggrek, sepatu bot, sulap, karena perempuan belaka.

Tapi jika kau berpikir bahwa kehidupan asmara Loko kering mutlak-mutlakan macam Soe Hok Gie atau Dave Siahaan sehingga harus melulu dibikin basah dengan air mata, kau keliru. Ia bukan Don Juan zaman kita, tapi membandingkannya dengan kedua pemegang prinsip ‘Di mana bumi dipijak, di situ air mata ditumpahkan’ tersebut tak ubahnya membandingkan bendungan dengan tanah becek.

Loko sudah berpacaran dengan tiga belas orang gadis dan tidur dengan hampir semuanya.

“Daftar sepanjang itu, Bung,” katanya sambil membuka sebotol bir dingin (itu hari pernikahan Lani dan sejak pagi hingga pagi lagi Loko menemaniku nonton film-film Jet Li), “cuma punya satu arti: aku payah dalam mempertahankan hubungan.”

“Aku sama payahnya dan rekorku jauh sekali di bawahmu.”

“Setidaknya kau enggak takut berkomitmen,” katanya lagi, “Itu ciri laki-laki sejati.” Ia mengoper botol yang sudah dibuka padaku dan membuka satu lagi untuk dirinya sendiri.

Aku minum dalam beberapa tegukan besar, melepaskan bunyi ‘ah’, lalu mengumpat: “’Matamu!” Ia tertawa. Kau bisa menjajarkan “komitmen” dan “seks”, dan bahkan rumput-rumput bakal menunjuk yang terakhir sebagai indikator kesejatian laki-laki. “Seseorang ditinggalkan dalam keadaan perjaka seperti jam dinding dan seekor iblis menaburkan garam sarkasme pada lukanya,” seruku sambil meletakkan botol. Itu kutipan dari kitab Tao Te Ching karangan Lao Tzu dengan sedikit improvisasi. Loko tidak membaca literatur Tiongkok Klasik, jadi ia menganggapku mabuk saja.

Tetapi mengenai keberanian berkomitmen, Loko mungkin ada benarnya. Selang dua minggu setelah ditinggalkan Ratih, aku jatuh cinta kepada gadis lain dan sejak itu menjadikan ia sebagai satu-satunya muara bagi kasih sayangku yang berarus deras dan tak habis-habis mengalir.

Hubungan kami sudah berlangsung selama tiga bulan, sesekali kami jumpa dan mengobrol dan aku memberikan hadiah atau surat. Foto gadis itu, harta terpenting kedua bagiku, kupajang dalam bingkai-duduk di atas meja kerja. Ia tampak cantik sekali dalam gaun hijau kekuning-kuningan dengan aksen bunga-bunga di bagian dada, kedua tangannya berkacak pinggang.

Tapi mulai kini mungkin akan ada yang berubah. Sebabnya adalah pesan Facebook dari Loko. Selain marah-marah sebagaimana kukatakan di awal, Loko juga memacak dua buah tautan dalam pesannya. Yang pertama mengarahkanku ke video delapan orang gadis mengenakan pelbagai kostum hewan dan menari dan menyanyikan lagu riang berjudul Kebun Binatang saat Hujan. Setengah jalan, aku memencet tombol pause dan membalas pesan Loko. Kubilang padanya aku sudah menonton video itu sebanyak 7.302 kali hanya dalam tiga bulan.

“Mungkin untuk terakhir kali,” ujar Loko. “Sekarang buka tautan yang satu lagi.” (*)

Dea Anugrah, menulis puisi dan cerita pendek. Bekerja di sebuah penerbitan di Jakarta.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: