Cerpen Rifat Khan (Republika, 07 Desember 2014)

Alif di Pemakaman ilustrasi Rendra Purnama
Alif di Pemakaman ilustrasi Rendra Purnama

Subuh yang hening seperti biasa. Di sebuah pemakaman umum di Sekarteja, yang hanya bisa ditempuh setelah melewati jembatan yang terlihat hampir roboh. Alea terlihat sendiri di samping sebuah makam yang masih terlihat baru. Daun-daun kamboja seperti diam sebab angin masih lelap.

Alea seperti biasa akan merapikan beberapa rumput yang tumbuh liar dan memanjang di atas makam tersebut. Sebelum menuangkan air di atas makam dari sebuah teko kecil yang ia bawa dari rumah. Diakhiri dengan pembacaan ayat-ayat suci dari bibirnya yang terlihat pucat dan ditutup dengan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. 

Ini adalah hari ketiga Alea datang mengunjungi makam almarhum suaminya. Suaminya meninggal empat hari yang lalu dalam sebuah kecelakaan di tikungan Mantang, Lombok Tengah. Sepeda motornya ditemukan terperosok ke dalam jurang. Sedangkan, jenazah suaminya telungkup di pembatas jalan dengan wajah dipenuhi darah. Alea mencoba terlihat tegar dengan segala takdir yang menimpa dirinya.

Seusai mengusap muka selepas berdoa, Alea berjalan pelan hendak meninggalkan pemakaman. Kerudung hitam masih melekat menutupi rambutnya. Matanya menyimpan genangan air mata. Air mata kehilangan dan mungkin air mata yang benar-benar sebagai pelambang kesedihan yang dalam. Barangkali seperti itu.

Pada malam yang gerimis, Alea harus membiasakan dirinya sendiri tanpa seorang suami yang teramat menyayanginya. Sesekali ia menatap sebuah foto yang terpajang di atas meja. Sebuah foto berukuran lumayan besar, foto antara dia dan almarhum suaminya.

Raut wajah Alea kembali menggambar kesedihan. Sesekali mencoba menahan air matanya yang sebentar lagi akan terjatuh di pipi. Kau pasti bisa membayangkan kesedihan seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya. Menyedihkan bukan.

Begitulah yang dirasakan Alea saat ini hingga kenangan-kenangan dengan suaminya seperti nyata tergambar di depan matanya. Senyum suaminya, belaian suaminya, dan segala tentang suaminya. Alea sudah empat tahun menikah dan belum dikaruniai seorang anak. Ia teringat kembali percakapan dengan suaminya satu minggu setelah akad nikah.

“Mas, mudah-mudahan kita cepat dikaruniai anak.”

“Iya, Dik, mas juga sudah pengen punya turunan.”

“Saya berharap anak pertama kita cewek.”

“Alasannya?”

“Pengen aja punya anak cewek, kayaknya lucu.”

“Kalau mas sih pengen anak cowok yang pertama.”

Kok cowok? Alasannya?”

“Mas pengen ajarin main bola.”

Suaminya memang gemar menonton siaran bola di TV. Suaminya sangat menggemari permainan Alessandro del Piero. Dia sering bercita-cita punya anak cowok yang akan ia daftarkan di sekolah sepak bola. Itu yang sering ia ungkapkan kepada Alea. Tentu Alea sebagai seorang istri selalu mengalah dan memendam keinginannya untuk mempunyai anak cewek.

Air mata Alea telah jatuh membasahi pipinya. Ia tak mampu lagi menahan tangisannya. Hujan di luar sudah turun disertai angin yang bertiup sedikit kencang. Sesekali menggoyangkan daun mangga di luar jendela. Alea mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan anak kecil di pemakaman tadi melintas dalam benaknya.

“Siapa anak kecil itu? Kenapa ia bermain subuh-subuh di pemakaman umum?” Rentetan pertanyaan hinggap di pikiran Alea. Ia pun berusaha berpikir positif. Mungkin ada keluarga atau siapa yang menemaninya.

***

Demikian juga pada hari kelima saat Alea kembali ziarah ke makam suaminya. Anak itu muncul kembali, namun kali ini ia mendekati Alea. Ia kembali melambaikan senyum yang sama seperti kemarin. Alea pun berusaha membalas senyum itu. Anak kecil itu membawa sebuah ember kecil berisi air. Tanpa menunggu perintah atau meminta izin terlebih dahulu, anak kecil itu menyiram makam suami Alea. Kemudian, menaburkan bunga-bunga yang ia bawa dengan kantong plastik berwarna hitam. Selepas menabur bunga, ia juga berdoa dan menutupnya dengan mengusap muka dengan kedua telapak tangannya.

Alea terdiam melihat tingkah anak kecil tersebut. Sesekali ia menengok kiri dan kanan memerhatikan sekeliling untuk memastikan apakah anak kecil itu bersama orang lain atau anak kecil itu memang benar-benar sendirian. Lagi-lagi, Alea terkejut saat anak kecil itu tiba-tiba berpamitan dengan memberi salam memegang tangan Alea dan berlalu begitu saja.

Tangannya begitu terasa hangat. Alea dapat merasakan kehangatan mengalir dari tangannya hingga naik ke kapala. Namun, sayang, ia tak sempat bertanya siapa anak kecil itu, dari mana, dan kenapa anak kecil itu membantunya menabur bunga dan berdoa.

Alea semakin dirundung kebingungan. Dua kali sudah anak itu memunculkan diri di pemakaman. Alea berjanji, jika besok pagi anak kecil itu datang lagi, ia harus bertanya siapa nama anak tersebut. Paling tidak ia harus tahu, kenapa anak kecil itu selalu ada di pemakaman subuh-subuh. Di tengah kebimbangan di hati Alea, bayangan suaminya kembali mampir.

Percakapan-percakapan dengan suaminya kembali terngiang. Apalagi, saat Alea sedang mengandung empat bulan dan mengalami keguguran akibat suatu penyakit. Alhasil, untuk menyelamatkan nyawa Alea, dokter mengangkat rahimnya. Menyebabkan Alea tidak akan bisa hamil lagi. Alea saat itu sangat sedih tak terkira, demikian juga suaminya. Namun, ia tetap menyayangi Alea, tak berkurang sedikit pun.

“Mas akan tetap menyayangi Alea. Mas janji. Kita bisa mengadopsi seorang anak.”

“Maafkan Alea, Mas, Alea tidak sempurna sebagai wanita.”

“Jangan bilang begitu, sayang. Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih indah.”

***

Ini hari keenam Alea ziarah kembali ke makam suaminya. Kali ini, Alea membawa sedikit makanan. Ia akan mencoba menawarkan makanan ke anak kecil yang biasa datang menghampirinya. Meski agak misterius, Alea yakin anak kecil itu adalah anak yang sangat baik. Seperti biasa, Alea menabur bunga di atas makam suaminya.

Tiba-tiba pinggangnya ditepuk oleh sebuah tangan dari belakang. Alea sudah menduga, itu adalah anak kecil yang biasa datang. Seperti dugaan Alea, anak kecil itu berdiri persis di belakangnya. Merapikan kembali senyumnya untuk menyapa Alea. Alea pun tersenyum dan menyilakan anak kecil itu duduk di sampingnya.

Anak kecil itu menurut saja kepada Alea. Kali ini, anak kecil itu membawa sebuah bola plastik. Anak kecil itu juga memakai kostum sebuah klub sepak bola terkenal di Inggris.

“Kok bawa bola?”

“Iya, Mbak, saya memang suka bermain bola. Suatu saat nanti saya pasti jadi pemain sepak bola terkenal.”

“Amin. Amin. Ini ada sedikit makanan untuk kamu.”

Alea menyodorkan kantong plastik yang berisi makanan kecil. Anak kecil itu menerimanya dengan sangat senang. Ia tersenyum lagi. Sedangkan, angin tiba-tiba hilang. Daun- daun kamboja seperti diam tak bergerak sama sekali. Hujan deras pun turun begitu saja. Anak kecil itu langsung berlari dengan lumayan kencang dan tak terlihat lagi sebab tertutup batang-batang pohon berukuran besar.

Alea sebenarnya berusaha untuk memanggilnya untuk berteduh bersama di bawah salah satu pohon kamboja yang rindang. Hanya, hujan sangat kencang, mungkin anak kecil itu sama sekali tidak mendengar panggilan Alea. Yang pasti, Alea semakin penasaran dan belum sempat menanyakan nama anak kecil tersebut.

Sesampai di rumah, Alea menyeduh segelas teh hangat. Wajahnya sedikit letih, namun tidak mengurangi parasnya yang masih terlihat cantik. Ia memilih duduk di sebuah kursi di teras rumah. Melihat matahari yang perlahan cerah. Sembari membuka album foto perkawinannya. Alea masih dirundung kesedihan, ia selalu rindu sosok suaminya. Itu sebabnya ia selalu membuka album-album foto itu.

Kembali lagi kenangan-kenangan itu datang melingkar penuh dalam kepalanya. Tetes air matanya jatuh membasahi album foto perkawinannya. Terngiang lagi percakapan dengan suaminya saat ia diketahui positif hamil.

“Sayang, mas sangat bersyukur punya istri seperti kamu.”

“Alea juga bersyukur punya suami seperti mas.”

“Sebentar lagi aku akan jadi ayah, sebentar lagi hidup kita sempurna.”

“Iya, Mas, mudah-mudahan anak kita lahir kelak dengan selamat. Kalau anak ini cowok seperti keinginan mas, mas ingin memberi nama apa?”

Hmmm. Mas akan kasi nama Alif.”

Kok Alif? Lebih bagus dikasi nama Rahman.”

“Mas maunya Alif, itu nama paling bagus menurut mas.”

Seperti biasa, Alea mengalah dalam hal pemberian nama. Air mata Alea jatuh lagi dengan amat deras seperti hujan subuh tadi. Ia meraba foto suaminya dengan amat lembut.  Sesekali mengecupnya sambil menahan isak tangisnya.

***

Pada hari yang ketujuh, Alea kembali ziarah ke pemakaman. Biasanya, sampai sembilan hari kalau orang baru meninggal, keluarga tercinta datang ziarah seusai subuh ke makam sanak saudaranya. Begitu pula dengan Alea. Sudah tujuh hari ia rutin berziarah dan berdoa di atas makam suaminya. Sudah lumayan lama Alea duduk seusai berdoa, anak kecil itu belum muncul juga. Alea tiba-tiba rindu akan senyum anak kecil tersebut.

Tiba-tiba anak kecil itu datang dengan senyum yang selalu terlihat manis. Alea senang melihat kedatangannya. Anak kecil itu duduk di samping Alea setelah memberi salam. Alea menatapnya dengan sangat dalam. Mata anak kecil itu begitu bening. Banyak keteduhan tersimpan di tatapannya.

“Sudah lama, Mbak?”

“Lumayan. Nak, boleh mbak tau siapa namamu?”

Anak kecil itu tak menjawab langsung pertanyaan Alea. Ia sesaat menatap Alea dengan amat dalam. Begitu pun Alea, matanya tak pernah berkedip menatap anak kecil itu.

“Nama saya Alif, Mbak.”

Alea benar-benar tak percaya dengan jawaban anak kecil tersebut. Aliran darahnya mengalir begitu kencang seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Alea terkejut. (*)

 

 

Rifat Khan. Cerpenis kelahiran 24 April 1985 di Pancor, Lombok Timur, NTB, ini aktif di Komunitas Rabu Langit (KRL) Lombok Timur.  Puisi dan cerpennya banyak dimuat media lokal dan nasional.

 

Advertisements