Archive for December, 2014

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita
December 28, 2014


Oleh Damhuri Muhammad (Media Indonesia, 28 Desember 2014)

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita ilustrasi Media Indonesia

BILA tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era Facebook dan Twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada—sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat saji, di sela jadwal rapat yang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta—tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah ruah dan beralih rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya. (more…)

Advertisements

Lelaki Empat Jari
December 28, 2014


Cerpen Nurul Lathiffah (Republika, 28 Desember 2014)

Lelaki Empat Jari ilustrasi Rendra Purnama

Lelaki Empat Jari ilustrasi Rendra Purnama

Lantunan ayat-ayat suci secara ajaib mampu menyejukkan siang yang terik. Para pelayat datang dan pulang seperti arus yang selalu berganti aliran. Ini bukan sebuah kepergian sosok yang biasa. Bagaimana mungkin kewafatan dihormati dengan begitu marak, tanpa sebuah jejak sejarah yang gemilang?

Aku mengenal sosok beliau sebagai kiai yang sangat karismatik. Kesimpulan tersebut kudapatkan melalui mozaik percakapan para santri yang sering mampir di warung angkringan. Sebagai sesama langganan, aku jadi kenal beberapa nama. Kebetulan, kami sering bertemu dan berbincang pada pukul setengah satu siang. Aku memang lebih suka makan di angkringan. Di samping lebih hemat, angkringan juga mengingatkanku kepada simbah putri yang berjualan nasi teri. Sewaktu kecil, aku sering menghabiskan waktu siang hari untuk ikut menunggunya berjualan di bawah pohon asem. (more…)

Kidung Natal dan Salju Merah
December 21, 2014


Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 21 Desember 2014)

Kidung Natal dan Salju Merah ilustrasi Pata Areadi

SAN JUAN Hill gempar karena peristiwa tragis di malam Natal. Koran-koran pagi memampang headline berita mencengangkan, ‘Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya!’ Berita ini sebenarnya bukan hal baru bagi warga yang sudah terbiasa dengan kasus-kasus kriminal di New York. Namun, luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan. (more…)

Gadis Terbaik
December 21, 2014


Cerpen Makanudin (Republika, 21 Desember 2014)

Gadis Terbaik ilustrasi Rendera Purnama

Gadis Terbaik ilustrasi Rendera Purnama

Setiap hari menjelang sore, sepulang dari toko miliknya, laki-laki berumur enam puluhan itu duduk di teras depan rumahnya. Menghitung-hitung beberapa gadis muda yang lewat. Dari yang ia kenal sampai yang tidak. Tapi, lama-lama ia mengenali mereka satu-per satu. Bahkan menandainya. Tinggi badan dan raut wajahnya.

“Jelalatan terus matamu itu, Pak,” kata Yanti, istrinya yang baru keluar rumah melihat ke arah pandangan suaminya. “Pa… malu dengan usia.”

“Mengapa harus malu!” jawabnya segera. (more…)

Langit Kalimaya
December 14, 2014


Cerpen FX Rudy Gunawan (Media Indonesia, 14 Desember 2014)

Langit Kalimaya ilustrasi Pata Areadi

BANDARA dipenuhi oleh ratusan penumpang. Penerbangan mereka tertahan karena asap tebal dari hutan-hutan bakau yang dibakar, hingga memperpendek jarak pandang menjadi sekitar 4-5 meter. Hanya pilot teler yang berani lepas landas di tengah kabut asap seperti itu. Dalam campur aduk kekesalan, kegelisahan, dan kekecewaan ratusan penumpang itu, Husni justru teringat sebuah siang di Ternate. Ia sudah terlalu sering mengalami suasana seperti itu. Pekerjaan sebagai konsultan penanganan limbah industri membuat Husni harus terbang setidaknya seminggu sekali ke berbagai wilayah. (more…)

Balada Orang-orang Tercinta
December 14, 2014


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 14 Desember 2014)

Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama

Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama

Ahad yang cerah. Pagi-pagi setelah sembahyang Subuh, Mak telah pergi ke pasar untuk berjualan sembako di kiosnya. Tentu, Mak berangkat bersama Abi dengan menaiki labi-labi milik kami. Karena ayah berprofesi sebagai sopir labi-labi—sejenis angkutan—di kota bumi Serambi Aceh ini. Sebagai sopir, Abi tak pernah mengenal hari libur.

Menurut Abi, karena setiap hari makan, maka setiap hari kita harus bekerja. (more…)