Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 30 November 2014)

Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama
Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama

Putik kemboja mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup udara sedalam perasaannya. Taman kemboja di belakang rumah cukup nyaman menemani masa lapuk hidup di usia senja yang melelahkan.

Kerut di bibirnya bergerak samar. Tangannya lembut menyentuh dan mengusap daun-daun. Arini sudah berjanji pada dirinya, betapa ia tak akan bermimpi, karena bermimpi di usia senja hanya membuang percuma waktu yang tersisa. Bernonstalgia dengan kenangan lebih baik, desisnya.

Hidup di usia senja adalah masa yang sulit: kulit mengeriput dan tenaga menyesak di dada. Apabila dipaksa, bukan otot-otot yang bergerak dinamis, melainkan dada yang kembang kempis. Itulah kenapa ia tidak mau bermimpi.

Putik kemboja itu menjadi semacam cermin hidup untuknya: dunia yang terlewati dan dunia yang masih akan dilewati. Ia banyak diam. Kalau harus bercakap-cakap, tentu lawan cakap yang dipilih adalah bunga dengan kelopak merah kesumba serupa warna gincu perempuan.

Ibu tiga anak itu betah berlama-lama di pekarangan seluas 45 meter itu. Di sudut bagian timur daya laut ada kursi panjang dengan garis-garis kecil pada bentangannya. Ukiran kepala naga di ujung sisi tempat punggung bersandar. Motif bunga berpita terbingkai pada lekuk pegangan tangan.

Memandangi kursi itu, Arini ingat tiga anaknya: Akbar, Nuril, dan Taris. Akbar dan Nuril tak lebih perhatian dibanding kepada keluarganya. Sebulan sekali, kadang lebih, Akbar menjenguk. Hanya pada akhir tahun istri dan anaknya dibawa. Nuril lebih parah.
Perempuan yang disunting seorang tentara itu jarang pulang menjenguk Arini. Perempuan dengan alis tebal itu sering berpindah kota mengikuti laras panjang suaminya dipindah tugaskan. Nuril lebih sering bertanya kabar melalui telepon seluler ketimbang datang, memeluk, dan mencium tangan Arini.

Arini tinggal bersama Taris. Namun, Taris tampak lebih mencintai profesinya sebagai wartawan di majalah wanita mingguan. Perempuan dengan banyak koleksi tahi lalat di wajahnya itu sering keluar hunting berita. Pada akhir pekan, ia memilih cangkruan bersama teman-temannya atau mengurung diri di kamar. Arini cukup memaklumi, tidak mungkin usia muda Taris hanya diisi kegiatan rumah. Arini tidak mau membebani gadis semuda dan secantik Taris dengan segala kerumitannya.

Arini merindukan ketiga anaknya duduk dalam satu meja panjang, menyantap hidangan bersama-sama. Tetapi mereka sudah memiliki keluarga sendiri. Arini pun tidak meminta yang macam-macam. Ia cuma membayangkan satu hal, seandainya salah satu dari mereka ada yang memerhatikan layaknya perhatian ibu kepada anaknya, tentu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia tak menggantung harap setinggi perasaannya. Bukankah kasih ibu sepanjang masa dan kasih anak sepanjang galah?

Kadang Arini teringat masa mudanya menjadi seorang ibu yang merawat dan menjaga anaknya penuh kasih sayang. Ketika rewel dan menangis, ia bersigegas ke dokter, memeriksa apakah anaknya sakit. Ketika ngompol, ia bergegas membersihkan dan mengganti popoknya. Ketika anaknya bisa menunjuk-nunjuk tanpa harus berbicara, bukan main kebahagiaannya.

Namun, ketika semuanya sudah dewasa, Arini berpikir betapa diam kadang lebih berharga ketimbang bercakap-cakap.

“Kenapa harus kemboja?” tanya Taris, suatu kali ketika pertama ia menitipkan bunga kemboja.

Arini menjangkau noktah di masa lalu. Saat dirinya masih sepantaran dengan gadis bermata agak sipit itu. Usia boleh menggerogoti tulang-belulang, tetapi ingatan tentang kemboja yang menjadi bingkai di atas bingkisan kue cokelat tak bisa lupa begitu saja. Sekuntum kemboja yang memperkenalkannya pada cinta pertama sekaligus cintanya yang terakhir.

Cerita romantis mengalir dari gerak bibir yang tak beraturan itu.

***

Sesaat Arini melihat sekeliling. Ia tidak tahu berapa lama tak sadarkan diri dan terbujur di atas ranjang. Hidungnya dicucuk selang infus. Interior yang didominasi warna putih mengingatkannya pada sekuntum kemboja di teras rumah.

“Kemboja. Di mana kemboja?”

Nuril, yang mendapat giliran menjaga mencoba menangkapnya.

“Kemboja? Kemboja apa?”

“Kemboja. Di mana kemboja?”

Nuril terhenyak dan panik. Ia membaca kemboja sebagai suatu pertanda yang tidak mengenakkan. Bukankah bunga itu identik dengan kembang kuburan?

Nuril merasakan adrenalin berpacu lebih cepat. Ia segera memencet tombol merah.
Jantungnya berdetak tersaup udara dingin. Perasaannya sangat rapuh bila berhadapan dengan kematian. Nuril keluar. Mengambil ponsel. Menghubungi Akbar dan Taris untuk segera datang.

“Aku melihat tanda-tanda,” kata Nuril.

Selesai diperiksa, dokter mengatakan paru-paru Arini belum bekerja dengan baik. Jantungnya masih lemah. Pikirannya tampak kacau. Ia menyarankan Nuril membeli karangan kemboja.

“Untuk apa?”

“Kemboja bisa menjadi obat terapi untuknya. Ia sangat suka dengan bunga itu.”

“Kenapa harus kemboja?”

“Ketenangan adalah obat paling mujarab bagi pikiran yang kacau. Ketenangan hadir dari kenyamanan. Ibu Anda tampaknya merasa nyaman dengan kemboja. Yah, barang kali Ibu Anda memiliki banyak kenangan dengan bunga itu.”

Nuril baru tahu jika ibunya sangat menyukai kemboja. Ia lekas menghubungi Akbar untuk menyempatkan diri membeli bunga sesuai saran dokter.

Seluruh anak, menantu, dan cucunya datang menjenguk. Dalam kondisi yang sulit bergerak, Arini menatap semringah. Ia tidak ingat kapan terakhir kali anak dan cucunya berkumpul bersama. Aroma kemboja menyesaki ruangan yang serba putih itu.

Seikat kemboja sudah tergenggam di tangan Arini. Ketika ujung hidungnya menyentuh kelopak berwarna merah kesumba itu, Arini merasakan satu kecupan hangat di keningnya. Kecupan seorang suami yang sudah meninggal tujuh tahun lalu.

Kecupan hangat itu membawanya pada saat kain kebaya tergerai dengan kemboja yang melingkar di leher serta tuntunan tangan hangat seorang lelaki yang membawanya duduk di atas pelaminan. Ia memeluk karangan kemboja dan menciumnya kembali. Berulang. Selalu berulang. Tampaknya Arini menemukan jawaban yang pas seperti apa kematian yang indah untuk dirinya.

Akbar memarahi Taris. Ia menilai Taris lalai menjaga kesehatan Arini. Taris mengelak. Justru ia menanyakan seberapa sering kakaknya datang menjenguk. Sebuah pertanyaan yang membuat muka Akbar merasa tertampar dan Taris merasa menang.

“Aku tidak apa-apa. Tak perlu cemas,” kata Arini menengahi. Ada air di ceruk mata Nuril. Akbar mematung. Taris memijit-mijit kaki ibunya.

“Lihat bunga ini. Bunga yang selalu menemani manusia dalam kondisi apapun. Pahit-manis, suka-duka. Bunga ini memperkenalkan Ibu pada cinta pertama sekaligus cinta terakhir. Ketika usia Ibu memasuki tujuh belas tahun, Ayahmu menghadiahkan kue cokelat dengan bingkai kemboja di atasnya.”

Arini mengatur nafas. Mengatur kerja paru-parunya.

“Empat tahun berikutnya, kemboja ini kembali menemani Ibu. Ia tidak lagi terbingkai di atas bingkisan kue cokelat dengan satu warna dan satu kelopak. Kemboja ini menjadi hiasan pengantin Ibu. Kemboja yang menuntun Ibu menuju hidup baru.”

Ada yang mengalir di mata Nuril dan Taris. Akbar tampak menyelami makna kemboja di mata Arini.

“Saat perasaan Ibu jatuh karena kehilangan Ayah kalian, kemboja ini tetap menemani Ibu. Bersama mengantar Ayah kalian, menuju pembaringan panjang. Sebuah kehidupan yang tak mungkin lagi bisa Ibu kejar, kecuali menunggu giliran panggilan Sang Pemberi Cinta. Bunga ini menjadi penyampai rindu. Setiap hari, Ibu menyempatkan diri menabur kemboja di atas tanah perkuburannya sebagai abdi seorang istri.” Arini menyeka air mata ketika ada ceruk yang menggenang.

Akbar keluar. Sebagai lelaki, ia tidak ingin tampak cengeng di depan kedua adiknya. Soal perasaan, tiada lelaki dan perempuan, semua sama. Hanya saja menangis di depan perempuan seakan tak layak bagi seorang lelaki.

Senja turun perlahan.

***

Turun dari mobil, Arini tidak diperbolehkan oleh anak-cucunya membuka mata sebelum mereka mengizinkan membukanya. Sesampai di depan rumah, Arini diperbolehkan membuka matanya. Tampaklah kemboja berjejal di sepanjang teras rumah.

“Hadiah dari Akbar,” kata Akbar.

Taris mendorong kursi roda Arini menuju kamar. Di tempat biasa Arini merapikan rambut, seikat kemboja terpantul di depan cermin. Satu lagi, Arini menemukannya lagi di atas laci. Gorden jendela kamar juga bermotif kemboja.

“Hadiah dari Nuril. Aku harap Ibu menyukainya,” kata Nuril.

Hari pertama di rumah, Arini tak ingin melewatinya hanya dengan istirahat. Ia rindu aura rumah yang lama ditinggalkannya. Arini memutar kursi roda ke jendela. Ia sibak gorden. Angin menyentuh pipinya. Lembut.

“Hadiah dari Taris,” kata Taris di belakangnya.

Di bingkai jendela, Arini melihat sebuah taman mini yang dipenuhi aneka jenis kemboja. Sebetulnya ia ingin mengatakan, betapa yang diberikan kepadanya sungguh berlebihan. Ia tak membutuhkan apa-apa selain kebersamaan, seperti saat ini.

***

Pagi belum bermata. Bening embun di ujung daun masih berjibun. Kesunyian menudungi mata Arini. Suara-suara itu kembali menjauh dari pendengarannya. Nuril kembali ke NTB. Akbar kembali ke Bandung. Sebagai anak yang tampak peduli, mereka menitip pesan: jaga kesehatan Ibu. Sementara Taris tambah sulit mencari jalan pulang dengan kamera barunya.

Arini mempunyai hak mengatur mereka. Tetapi ia tahu, memaksakan kehendak hanya memasungkan perasaan dan menimbulkan nyeri di ulu hati. Ia menyorongkan wajah pada sekuntum kemboja. Matanya menatap dalam. Bibirnya terkatup rapat. Sampai di situ Arini menjelma menjadi perempuan bisu. Bercakap-cakap hanya dengan isyarat pandang yang dalam. Sungguh, Arini ingin menjadi sekuntum kemboja. Pilihan yang indah untuk dirinya. (*)

 

 

Jember, 03 Oktober 2014

Fandrik Ahmad, cerpenis sekaligus jurnalis yang banyak menulis cerita di sejumlah media seperti Jurnal Nasional, Nova, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Femina, Jawa Pos, dll. Kini bermukim di Jember, Jawa Timur.

 

Advertisements