Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 23 November 2014)

Sihir Tumis Ibu ilustrasi Pata Areadi

IBU memasak tumis dengan sebuah sihir. Ia bagai membubuhkan sebuah mantra rahasia pada masakan, yang dapat membuat siapa saja merasa bahagia saat menyantapnya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan tumis buatan ibu. Tumis yang sama seperti makanan lain—ada sayur-mayur, potongan tahu-tempe, dan sedikit daging. Tapi ada sebuah bumbu rahasia yang membuat tumis ibu menjadi berbeda.

Tumis ibu seakan telah menjadi candu bagi keluarga kami. Aku selalu ingin menyantapnya. Apalagi bila kemalangan sedang melanda, karena setelah memakan tumis ibu, segala resah seolah sirna. Ah, betapa berartinya tumis bikinan ibu. Tumis yang bagai obat bagi kemurungan. Santapan yang dapat membuat setiap orang jatuh cinta dan ingin terus menikmatinya.

***

Saat kepiluan tiba, aku selalu mengingat ibu, dan sebuah kudapan yang dibuatnya. Aku dan ayah menyebutnya sebagai tumis kebahagiaan. Makanan yang sudah banyak menyelamatkan hidup kami dari kemurungan yang menyayat hati. Tumis yang membebaskan keluarga kami dari kesedihan yang mengendap.

Setiap hari aku hanya ingin menandaskan tumis buatan ibu, seraya menikmati lembutnya kasih sayang, dan kenangan akan kebahagiaan yang bersemayam di setiap kunyahannya. Makanan itu seakan hadir sebagai penyejuk di atas meja. Aku ingat ketika usaha ayah gulung tikar, tumis buatan ibulah yang menyelamatkan kesedihan ayah.

Ayah yang semula murung dan putus asa karena tak memiliki pekerjaan tiba-tiba kembali bergairah membangun usahanya, setelah memakan tumis bikinan ibu. Sihir tumis ibu sungguh-sungguh telah bekerja.

“Mengapa saat mengunyah tumis buatanmu, aku merasa seperti kembali mendapatkan gairah hidup, Sayang?” kata ayah memuji ibu.

Begitu juga denganku, tumis ibu seakan datang sebagai teman di dalam hidupku. Aku, bocah pemurung, dan teman-teman sering menggangguku. Tapi ketika memakan tumis ibu, aku merasa tidak sendiri. Aku merasa ibu selalu bersamaku, dan menyelamatkanku dari kenakalan bocah-bocah bengal itu.

Tak hanya itu, masih ada keajaiban lain dari tumis ibu. Para tetangga pun mengakui kalau tumis ibu begitu mujarab, karena tumis itu pernah menyelamatkan sebuah keluarga dari perceraian.

“Terima kasih banyak, mungkin, karena tumis buatanmu, aku tidak jadi bercerai dengan suamiku,” kata tante Linda, memberitahukan perihal perceraian yang batal. “Tiba-tiba, suamiku menangis ketika mencicipi masakanmu. Ia begitu sedih saat mengunyahnya. Bahkan ia merasa sangat berdosa kepada setiap wanita yang pernah ia permainkan. Ia minta maaf kepadaku, dan mencabut kembali permohonan gugatan cerainya, karena aku tidak bisa melahirkan anak untuknya.”

Ibu hanya tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ibu memang pendiam. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Jarang keluar rumah kecuali untuk berbelanja bahan-bahan masakan untuk kami.

Entah kebetulan atau tidak, tumis ibu hampir tak pernah absen terhidang di meja makan. Semua masakan mewah boleh saja ada di atas meja makan, tapi tanpa tumis buatan ibu, kami tidak akan menikmatinya dengan khidmat.

“Mengapa tumis buatanmu begitu enak?” tanya ayah pada ibu untuk kesekian kalinya. “Apakah kau menaruh sihir di dalamnya?”

Seperti biasa, ibu hanya tersenyum.

“Aku tak pernah bosan memakan tumis buatanmu, Sayang…” lanjut ayah lagi, seraya memeluk ibu. “Pasti kau memasaknya dengan sebuah sihir.”

Aku sering berpikir, kalau tumis buatan ibu memang terbuat dari sebuah sihir. Ibu memasak makanan itu dengan sebuah mantra rahasia, yang membuatnya menjadi tak pernah menjemukan untuk dikunyah. Semakin banyak kami memakannya, kami semakin ketagihan. Aku percaya, kalau kebahagiaan tak selalu datang dari hal-hal mewah. Tumis ibu yang sederhana itu sudah cukup menjadi candu dan pemersatu di dalam keluarga kecil kami.

***

Sudah puluhan kali tumis ibu menyelamatkan penghuni rumah kami dari kemalangan. Di suatu senja yang murung, ketika aku dan ibu sedang menonton TV, seseorang datang membawa kabar duka. Orang itu mengatakan bahwa ayah telah meninggal dunia akibat serangan jantung di kantornya. Seketika air mata ibu berjatuhan, membasahi pelupuk matanya.

Sejak kejadian itu rumah kami seperti dirundung sebuah kutukan. Kesedihan tak pernah usai mendesis dari setiap sudut ruangan. Aku berpikir, barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan.

Sepanjang hari setelah kematian ayah, aku selalu mengutuk kenyataan. Tapi, tiba-tiba ibu dating seperti malaikat yang turun ke bumi. Ibu kembali menyihirku dengan tumis buatannya. Ia memasak tumis tempe dan kami menyantapnya berdua.

“Makanlah, ibu sudah membuatkan masakan kesukaanmu,” kata ibu lirih.

Aku sama sekali tidak menjawab. Ibu mendekat, membawakan sepiring nasi dengan lauk tumis tempe, dan beberapa potong daging. Ia mendekatkan sendok ke mulutku. Tapi aku terus mengunci mulutku hingga rasa tumis yang manis meresap perlahan melalui sela bibir.

Tiba-tiba di dalam tumis itu aku merasakan ketenangan, ketegaran hati seorang ibu, dan cintanya yang begitu tulus. Aku memakannya satu suap, dua suap, hingga piring itu aku renggut. Aku memakannya dengan perasaan haru. Aku menandaskan tumis ibu dengan tangis sukacita, yang tak dapat kujelaskan dengan kata-kata. Aku memakannya, sembari mengingat ayah, dan segala macam kenangan yang berlalu begitu saja. Aku seperti telah tersihir…

***

Belasan tahun setelah kematian ayah, tumis ibu tetap menjadi menu wajib di meja makan. Setiap tamu yang datang pun, atau pada acara-acara keluarga, tumis buatan ibu tidak boleh absen. Setiap tamu diwajibkan untuk mencicipi tumis ibu. Aku pernah mengajak istriku untuk menyantap makanan itu. Ia langsung jatuh cinta pada masakan itu.

“Makanan ini begitu enak, Sayang,” katanya padaku. “Setiap kunyahanku terasa menenangkan. Terbuat dari apa makanan ini?”

“Sebuah sihir rahasia,” jawabku cekikikan.

“Sihir rahasia?”

Wanita itu menoleh pada ibu. Ia menatapnya penuh harap, seakan meminta jawaban. Tapi ibu, sebagaimana biasanya, hanya menjawab dengan sebersit senyum yang begitu menawan.

“Mengapa ibu tak membuka restoran dan menjualnya?” kata istriku lagi, sambil menyantap tumis tahu buatan ibu dengan lahap. “Pasti sangat laris kalau dijual.”

Ibu menatapku. Kami hanya saling pandang.

Sebenarnya aku pernah berpikir untuk menjual tumis ibu secara massal, agar setiap orang dapat merasakan kebahagiaan. Sudah banyak pula orang yang menginginkan tumis buatan ibu dijual di warung-warung atau bahkan di restoran. Tapi ibu seakan tak rela, kalau cinta dan kasih sayangnya dijual pada orang lain yang tidak ia kenal.

“Biarkan tumis itu menjadi makanan untuk orang-orang yang kucintai,” kata ibu singkat, lalu tersenyum. “Kalau kau mau, aku akan mengajarkan cara membuatnya.”

Sejak itu, aku dan istriku tidak lagi mengusik tumis buatan ibu akan dijual atau tidak. Aku hanya berharap, tumis ibu dapat terus menyelamatkan keluarga kami dari kemurungan dan kesedihan.

***

Keluarga bahagia memang selalu bermula dari dapur dan meja makan yang bahagia pula. Begitulah, sudah lima tahun berlalu, setelah ibu pergi menyusul ayah. Aku tidak dapat melupakan tumis buatannya. Tidak ada yang dapat menyaingi kenikmatan dan kebahagiaan yang terdapat dalam masakan ibu yang sederhana itu. Sebab, dalam masakan yang biasa itu, aku selalu ingat pada kenangan masa kecilku, dalam sebuah keluarga yang tenang dan rukun.

Seandainya ibu masih hidup, aku ingin meminta satu piring penuh tumis buatannya. Aku ingin menyantapnya, agar setidaknya, aku dapat terlepas dari belenggu kesedihan. Apalagi setelah hakim mengetuk palu pada sidang perceraianku. Aku ingin merasakan keajaiban dari sihir masakan ibu. (*)

 

 

Risda Nur Widia, cerpenis yang masih tercatat sebagai mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta. Ia meraih juara dua Festival Sastra Yogyakarta 2013 (UGM) dan nomine Sastra Profetik Kuntowijoyo 2013 (UHAMK). Karya-karyanya tersebar di sejumlah media.

 

Advertisements