Cerpen Arswendo Atmowiloto (Media Indonesia, 16 November 2014)

Kucing yang Berubah Jadi Manusia ilustrasi MI

KUCING itu sepertinya dikirim oleh induknya, seekor betina yang buta. Atau minimal pandangannya terbatas karena jalannya tidak lurus dan beberapa kali menabrak benda-benda yang ada di depannya. Bahkan kehadirannya agak aneh. Betina hamil itu muncul begitu saja di lantai 9, tempat tinggal saya.

Entah lewat mana, atau bagaimana. Saat berjalan melenggok, ia menabrak kaki saya. Biasanya kucing memang suka bermanja-manja. Tapi yang ini tidak seperti itu. Sepertinya ia kaget karena eongannya terdengar meliuk. Pada kesempatan itu, saya memberikan potongan daging ayam goreng.

Ini terjadi dengan sendirinya karena saya sedang mengurangi makan daging, menjaga tubuh dari timbunan kolesterol. Saat itulah saya yakin betina hamil itu tak memiliki penglihatan yang baik. Caranya mengendus pun kurang sempurna.

Saya nyaris lupa, kalau saja kemudian saya tidak menemukan bayi kucing di depan pintu. Pasti sengaja diletakkan di atas alas kaki. Masih kecil, merintih-rintih. Kalau saya keluar pastilah ia terinjak. Tapi ini diletakkan sore. Berarti orang yang meletakkannya tahu kalau saya sedang berada di luar, sehingga tak menginjaknya. Dugaan saya, pastilah induknya yang hamil itu yang meninggalkannya di situ. Mungkin ia hendak menitipkan ke saya, yang ia dipercaya ketika pertama bertemu dulu. Kucing punya insting begitu.

Dan tak salah, karena saya tak tega membuang bayi kucing kecil yang tampak begitu ringkih. Tak tega membuang melalui lubang sampah yang terjun langsung ke lantai bawah. Ya sudah, saya bawa ke dalam, saya carikan susu atau apa, dan saya tempatkan di pojok dengan selimut hangat. Sesekali saya tengok apakah masih hidup atau meredup. Kadang saya pegang dan melihatnya dari dekat. Sebenarnya saya tak mau melibatkan perasaan atau emosi.

Menurut cerita ini, ada satu kesalahan. Binatang kalau diperlakukan seperti itu akan kehilangan sifat binatangnya dan berubah menjadi manusia. Kucing kecil itu juga begitu. Tiba-tiba perutnya seperti kembung dan saya membawanya ke dokter. Seperti dulu, saya pernah juga membawa kucing itu ke dokter yang buka di lantai bawah, lalu dikatakan cacingan. Diberi obat. Dan sembuh.

Saya ditanyai soal namanya. Saya jawab; Miuk. Sebenarnya saya tak percaya kucing itu mengenali namanya. Berbeda dengan anjing. Toh di kamar hanya ada Miuk dan saya. Jadi, dipanggil apa pun dia mau.

Dan, karena sifatnya seperti manusia, Miuk manjanya juga seperti manusia. Sudah jelas diberi tempat untuk pipis, Miuk suka pipis di sembarang tempat. Di sembarang sudut. Saya membenarkan bahwa itu bagian dari kekuasaannya, tanda dari teritorinya. Masalah utamanya, Miuk melakukan itu di luar kamar juga. Kalau saya buka pintu, wuuut, ia ikut menyelinap keluar. Langsung lari ke sana kemari di lantai itu.

Lalu kemudian ada tetangga—kalau bisa saya sebut tetangga—yang kemudian protes. Miuk pipis di tempatnya, atau bahkan buang air besar. Saya membantah dan bilang, tak mungkin karena sudah saya sediakan di kamar. Tapi tetangga itu bersikeras bahwa itu kotoran Miuk. Saya menyerah dan berjanji; biarlah saya yang membersihkannya.

Melihat niat baik saya, tetangga itu tidak marah. Malah mengajak saya mengobrol. Saya hanya mau kalau membicarakan Miuk. Saya tak mau membicarakan tetangga lain, penghuni lain itu istri simpanan siapa, atau bagaimana kelakuannya, atau ditanya di mana saya bekerja atau apa.

Tapi, tetangga yang satu ini tak suka kucing. Ia tak percaya bahwa ibu kucing saya adalah kucing yang buta, tak percaya kalau anaknya diletakkan begitu saja di depan pintu.

Saya bersikeras kalau induknya yang bunting masih hidup dan hamil lagi. Sangat besar kemungkinan, ia akan memperlakukan anaknya seperti itu lagi. Akan dating bawa anaknya lagi. Tetangga itu lebih tidak percaya dan mengira saya kurang sehat—seperti semua penghuni apartemen ini.

Tapi ia butuh teman. Ia memberikan sisa makanan untuk Miuk. Itu yang tidak saya sukai. Karena Miuk sudah ada persediaan makanan. Tak memerlukan bantuan apa-apa.

Saya kurang suka menceritakan siapa tetangga itu karena saya anggap tidak perlu. Tak penting juga dia laki-laki atau perempuan, umurnya kira-kira berapa, atau kenapa ia tinggal di apartemen ini.

Dia memang mengisyaratkan punya keponakan, cewek, cantik, dan saya dipaksa melihat potretnya di ponsel. Saya bilang, saya tak tertarik cewek. Lalu, ia menunjukkan foto lelaki muda. Katanya ponakannya juga. Saya bilang tak suka cowok.

Sejak itu tetangga itu seperti ketakutan bercengkerama dengan saya. Meskipun masih penasaran kenapa kelakuan saya seperti ini. Makin besar rasa ingin tahunya, makin tidak saya ladeni.

Itu baik dan benar adanya. Karena saya mulai disibukkan oleh Miuk, yang dengan kedewasaannya, ia menjadi agresif. Mencakari apa saja, mengobrak-abrik barang di ruangan, dan sengaja mempermainkan binatang lain. Paling sering saya menemukan cicak mati di mana-mana. Tapi tak dimakan. Pernah juga tokek. Pernah berantem keras dengan kucing lain, katanya dari lantai di atasnya. Sampai berdarah-darah. Dua-duanya.

Pemilik kucing di lantai atas itu menyarankan sebaiknya Miuk dikebiri. Saya tadinya berkeberatan, tapi tetangga di lantai atas mengatakan kalau berdua bisa lebih murah biayanya. Tapi ternyata tak bisa seketika karena harus menunggu antrian. Dokternya menganjurkan saya berdoa, meskipun ia sudah terbiasa melakukan operasi.

Saya sempat sedih. Saya tunggu Miuk sampai siuman. Lalu, memang benar kata tetangga di lantai atas itu, Miuk menjadi lembut, tidak bertengkar, meskipun saya melarang klosetnya dipakai kucing lantai atas. Dua kucing itu rasanya bisa berteman. Tapi saya lebih suka Miuk sendirian. Bermain bersama, berdua saja. Walaupun kukunya masih melukai. Ini baru terasa ketika mandi dan terasa perih, tapi saya tak mau memotong kukunya.

Saya pernah ngomel bahwa dengan adanya Miuk saya tak bisa bebas. Saya tak bisa pergi agak lama. Saya harus titipkan Miuk ke penampungan hewan. Saya kurang percaya ke tetangga satu lantai, juga tetangga di lantai atas—meskipun yang ini lebih menjanjikan.

Sungguh saya menyesal mengatakan ini. Sampai sekarang saya menyesal dan sedih. Karena sejak itu, Miuk tak kelihatan. Padahal Miuk sudah hafal lantai Sembilan ini, atau lantai di atasnya. Sudah dikenali oleh penghuni lain. Juga oleh dokter di bawah, satpam, dan yang lainnya. Saya sudah tempelkan foto Miuk dan bakal memberikan hadiah. Kadang-kadang saya curiga siapa saja yang tak suka Miuk. Kadang merasa ngeri, jangan-jangan Miuk dibuang lewat cerobong sampah.

Sampai sekarang Miuk belum terlihat lagi. Saya tak mau merasakan ini. Yang begini sudah saya perkirakan ketika menemukan kucing kecil di depan pintu. Karena hal semacam ini terjadi, dan itu menyakitkan.

Miuk telah menjadi manusia, dan itu berarti kehilangan. Kalau saya menyendiri saja seperti selama ini, saya tak perlu merasa kehilangan.

Miuk. Ah. (*)

 

 

Oktober 2014

Arswendo Atmowiloto, budayawan. Menulis novel, cerpen, dan skenario.

 

Advertisements