Cerpen Ach Dhofir Zuhry (Republika, 16 November 2014)

Ca Cervix ilustrasi Rendra Purnama
Ca Cervix ilustrasi Rendra Purnama

“Sekarang apa?”

“Saatnya aku ucapkan selamat tinggal,” bisik Nayla sambil mengatupkan kelopak matanya yang sedari tadi berkaca-kaca.

“Tidak, Nay! Bagaimana dengan aku, anak- anak kita?”

“Tuhan yang akan mengasuh kalian.”

“Aku belum siap, aku bahkan takkan pernah siap!”

Nayla meraih tanganku, meraih seluruh tangisku. Dalam isak yang panjang aku seakan melihat mata Nayla berujar inilah saatnya bagiku untuk tidak hanya bersyukur, tapi juga sabar, qanaah, tawakal, sampai pada pun caknya; ikhlas.

“Jika Tuhan memintaku pulang, artinya tugas kemanusiaanku selesai. Kematian lebih baik daripada hidup tak berarti. Aku harus siap.” Nayla kembali bergumam setelah berkali- kali aku tersedu-sedu menangis. “Siapa pun yang telah menjalani hidup yang berkualitas, pasti baginya kematian sangat dirindukan.”

“Cukup, Nay! Sudah!”

“Jangan sesali segala yang kau perbuat, penyesalan kita justru karena tidak berbuat sesuatu. Kamu telah berbuat banyak untuk hidupku, untuk cinta kita, dan Tuhan bermurah hati dengan memuliakan kita.”

Nayla tersenyum, lalu….

“Nayla, Naaay…!” aku berteriak sambil mengguncang tangannya, kedua anak kami menangis, dan suasana sekeliling menjadi hening. Innalillahi wa innailaihirajiun.

***

Setiap orang memiliki masa-masa bersejarah, saat-saat mendebar dan menghanyut, berkubang air mata dan berkalang derita. Keselarasan macam ini adalah pemungkin atas terjadinya sebab-akibat dalam garis hidup semua anak Adam, tak terkecuali aku. Teramat banyak dimensi-dimensi nikmat yang lupa atau tak sempat aku syukuri, bahkan dengan sekadar alhamdulillah.

Setelah aku tegak berdiri pada puncak karier sebagai pengusaha properti tersukses di Asia, bahkan belum lama ini di sebuah majalah terkenal namaku bersanding dengan Yang Huiyan, perempuan terkaya di Cina yang masih berusia 27 tahun. Tapi, siapa sangka kekayaan rohani dan kebahagian bersama keluarga tak lagi aku miliki.

Setidaknya, dua tahun belakangan setelah ca cervix menimpa Nayla. Aku semakin tersudut di telapak nasib lantaran kekayaan tak sanggup menolong istriku. Maka, jika ada seseorang yang terus berpolemik dengan hatinya yang merasa terusir dari dirinya sendiri adalah aku.

***

Ca cervix (kanker rahim), selain karena pengaruh karsiogenik (konsumsi bahan kimia), radiasi ultraviolet, juga dipicu terlalu seringnya mengenakan pembalut. Hal ini sebanding dengan kesibukan Nayla sebagai wanita karier.

Peristiwa itu bermula ketika pada 17 November 2005 kami berlayar dari pelabuhan Said (Bur Sa’’id) menuju Laut Merah untuk menghadiri pertemuan entrepreneur sedunia pada peringatan 135 tahun dibukanya terusan Suez di sekitar Danau Great Bitter.

Dari sana Nayla mendadak sakit tak lama selepas kami transit di Singapura, ia sempat dirujuk ke Alexandra Hospital sebelum akhirnya pulang ke Yogyakarta, bahkan ia pernah dirawat di hampir seluruh Rumah Sakit terbaik di negeri ini.

Waktu mengalir, kanker pun kian mengganas, tak lama berselang Nayla mengalami luka dekubitus pada punggungnya. Hanya dalam beberapa pekan situasi ini semakin memburuk dan membuatnya tak dapat bergerak. Sebuah situasi yang sangat kontradiktif dengan Nayla yang wonder woman; serbabisa, enerjik, inspiratif, dan lincah. Citra dari perempuan modern yang salehah.

Selain perjalanan ibadah ke Tanah Suci, dulu setiap summer holiday kami selalu berlibur menikmati luasnya dunia di sungai Rhein sampai Rotterdam, dari Times Square, pantai selatan Miami sampai menikmati suasana malam Las Vegas, belum lagi ke Basrah, Hadramaut, Isfahan, Athena, dan kota-kota besar di Eropa.

Sering kali kami sekeluarga ke Le Mosquita (masjid) Cordoba, kota simbol kejayaan Islam yang dibangun Abdurrahman Ad-Dakhil pada 878 M. Kedua anak kami adalah anak-anak paling beruntung, hidup dengan keserbamewahan, bahkan mereka yang masih kecil tahu bahwa jumlah mal di Kelapa Gading saja lebih banyak dari pada seluruh Kuala Lumpur. Kini, dunia Nayla yang luas tak ada lagi.

“Aku tak cemas, rumah Nabi Muhammad hanya 4,8 x 4,6 m,” bisik Nayla.

“Tapi, kamu bukan nabi, Nay!”

“Mas, banyak orang yang mengeluhkan nasib tanpa pernah membangun ketangguhan diri untuk mengatasinya.”

“Tuhan pasti akan berpihak pada kebaikan, kau harus yakin akan sembuh, Nay.”

***

“Tuhan, amal saleh apa yang hamba perbuat sampai Kau perkenankan aku mengalami ini semua. Nayla bukan hanya cintaku, ia juga semangat dan energi hidupku. Aku sadar, teramat sering membatasi cinta-Mu dengan membatasi diri berbuat baik. Ya Rabb, izinkan aku menjadi sahabat bagi seluruh cinta, suara bagi semua rindu, teman untuk segala kebaikan. Ya Allah, akulah tangis untuk seluruh air mata Nayla, bukankah air mataku air mata-Mu juga? Tuhan, Ayyub-kan aku, Muhammad-kan aku.

Langit bergema oleh doa-doaku sepanjang malam, tapi getarnya tak pernah menembus relung jiwa, kecuali tangisku atas dosa-dosa. Sepanjang malam, terus kuulangi memekikkan asma Tuhan sampai benar-benar tersentuh hatiku, sampai benar-benar kecil, sampai sungguh-sungguh rendah dan hina aku di hadapan-Nya.

“Tuhan, tolong, sekali ini saja Kau ralat takdir-Mu! sembuhkanlah istriku!”

***

Suasana serbaputih, lalu-lalang paramedis, pengunjung rumah sakit, serta aroma obat seakan terus berdenyut mengakrabi hari-hari Nayla yang entah sampai kapan. Dari ruang serbaputih, tiap pagi Nayla hanya sempat mendengar percakapan embun dengan kuncup- kuncup daun, tapi itulah yang membuatnya tersenyum.

Aku suami tak berguna, tak tahu harus berbuat apa. Hari-hariku adalah perjalanan pulang-pergi mengitari keinsyafan. Aku bahkan tak lagi ke kantor dan jarang antar-jemput anak-anak ke sekolah, apalagi setelah Nayla mengalami hemiplegi (lumpuh sebelah), aku semakin meringkuk di sudut nasib. Dua pekan kemudian, Nayla mengalami oedem pada ekstremitas bawahnya, kami sekeluarga hanya menanti keajaiban.

Aku yakin, Tuhan Mahaadil Mahatahu, Nayla mengalami ini semua karena dia yang paling sanggup; bertahun-tahun terbaring di RS, bengkak kedua kaki, ketika punggungnya luka, ia pun tidur miring sampai akhirnya lumpuh total, belum lagi, tekanan jiwa karena terpisah dengan keluarga dan karier. Situasi ini menyayat-nyayat jiwaku dan membunuhku pelan-pelan.

***

Aku meratap, merapat ke sudut ruang rawat inap, membatin, tak kuasa lagi menahan tangis, air mata mendidih sejadi-jadinya, aku memekik dalam isak, meremas-remas kepala dan membentur-benturkannya ke tembok.

Tak tahan lagi menahan amarah, begitu tim dokter keluar ruangan, langsung kutarik paksa kerah bajunya. Kumaki dia sambil mengacungkan jari telunjuk, “Dokter, copot saja baju dinas ini, istri saya sudah dua tahun dirawat, tapi tak kunjung sembuh. Untuk apa saya bayar mahal-mahal, saya curiga ini malapraktik. Kalau sampai terbukti, Anda dan rumah sakit ini saya bakar!”

“Tenang, Pak, tenang! Kami sudah menjalankan semua sesuai prosedur”, ujar sang dokter sambil merintih-rintih karena aku masih mencengkeram lehernya.

Aaakh, kalian dokter sama saja dengan dukun, dibayar masih juga tak becus. Sudah, saya minta surat pindah sekarang juga, saya mau bawa istri saya ke Inggris.”

***

Beberapa saat setelah Nayla dimakamkan dan para pengantar berangsur-angsur pulang dari pemakaman, aku masih tak berajak dari simpuh sambil sebelah tanganku memegang batu nisan. Tiba-tiba, Afiq Zahara, anak pertamaku, menepuk pundakku dan memberikan selembar kertas yang terlipat rapi, “Ini dari Mama.”

Aku buka perlahan, membacanya dengan penghayatan yang khusyuk:

“Tersenyumlah! karena hidup-mati adalah milik-Nya. Namun, satu yang masih terpancar dari jiwamu adalah overly holding on, terlalu menggenggam pada dunia. Kamu harus letting go, biarkan semua bergulir bersama sang takdir, rawatlah anak-anak, didiklah dengan kesederhanaan, menikahlah dengan perempuan sederhana, tapi salehah.

“Aku banyak belajar darimu, Mas. Kemandirianmu dan cara pandang yang progresif, cinta yang tulus, semua itu mamantik kelenjar semangatku, merangsang reseptor rendah hatiku untuk selalu bersabar dan bersyukur. Sekalipun lumpuh, aku terus belajar dalam qiyamul-lail melalui ‘shalat taubat’ atas kecerobohan, ‘tahajud’ refleksi diri, ‘shalat hajat’ pendewasaan diri, ‘istikharah’ suksesi hidup, dan ‘witir’ kemuliaan hidup. Sebelum dinistakan Tuhan, aku harus merendah (tawaduk, low profile), sebab pada ujian inilah iblis gagal, ia tinggi hati dan merendahkan Adam AS.

Tugasku sebagai istri dan ibu rumah tangga tentu belum selesai, tapi rupanya Tuhan lebih memercayakan anak-anak kepadamu. Aku bangga pernah menjadi istrimu. Wassalam.” (*)

 

Kosakata:

Dekubitus: Luka yang timbul karena lamanya bed rest (terbaring di tempat tidur)

Ekstremitas: bengkak pada kedua kaki

 

Ach Dhofir Zuhry bin Mahmud lahir di Malang, 4 Juli 1984. Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi Kepanjen-Malang dan Pesantren Luhur Baitul Hikmah. Alumnus Pesantren Babussalam Malang dan Nurul Jadid Probolinggo. Produktif menulis. Di antara karyanya, Tersesat di Jalan yang Benar (Kalam Mulia Jakarta, 2007), Terjemah Shalawat Haji: Tahni’ah Li Qudumi Hujjaj Bayt al-Haram dan Tafsir az-Zuhry vol. I (Nurudh-Dholam Institute, 2006), dan lain-lain.

 

 

Advertisements