Pagar Batu


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 9 November 2014)

Pagar Batu ilustrasi Pata Areadi

DAPAT dikatakan ia buta sejak lahir. Tapi sebenarnya, ketika lahir ke dunia, matanya masih normal. Namun di malam pertama ia tidur, sesuatu yang entah apa, mencuri matanya. Hingga pagi-pagi saat orangtuanya bangun, mendapati bayinya sedang menangis dengan lubang mata yang kosong!

Orang-orang selalu merasa kasihan padanya. Tapi sebenarnya ia tak perlu dikasihani. Lepas dari dirinya yang tak bisa melihat, ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kedua tangannya mampu menaklukkan batu-batu. Apa pun jenis batu yang dipegangnya, akan kehilangan massa, seakan-akan menyerah padanya. Ia mudah mengangkat batu-batu itu. Maka, setelah dewasa, ia memilih menjadi tukang batu.

Hidupnya nyaris tak bergejolak. Ia menikah dengan perempuan yang baik hati. Tak lama kemudian, ia memiliki dua anak. Satu laki-laki dan satu perempuan. Sampai umurnya mencapai 40 tahun, tak ada kejadian apa pun yang menimpanya.

Sampai suatu hari ia merasakan sesuatu berdenyut di kedua tangannya. Ia bertanya-tanya, ada apa dengan tangannya? Saat itu ia sedang berada di rumah salah satu kawannya, dan kawannya itu memperkenalkan salah satu saudara jauhnya. Saat itulah ia merasakan hawa panas. Saat saudara jauh kawannya itu menjabatnya, tangannya serasa terbakar. Sampai di rumah ia terus berpikir.

Ia tahu, saat itu bumi memang masih terbagi dua. Manusia yang baik dan manusia yang buruk dipisahkan oleh samudra yang mahaluas. Sang Pencipta meletakkan hati dengan jenis yang berbeda pada manusia di utara dan di selatan. Ia meletakkan hati yang baik di manusia-manusia yang ada di sebelah utara dan untuk manusia-manusia di sebelah selatan, Ia meletakkan hati yang buruk.

Sampai ratusan tahun kehidupan ini bergerak bagai putaran bumi ke matahari. Tak ada sesuatu yang terjadi. Tapi, tanpa ada yang menyadarinya, di dasar bumi paling dalam, semuanya tak henti bergerak. Kerak bumi membuat gerakan yang nyaris tak terasa. Tapi itulah yang membuat daratan di sebelah utara dan selatan lama-lama bertemu.

Laki-laki buta itu menebak-nebak. Selama ini, ia selalu merasakan hawa sejuk di setiap manusia yang ditemuinya. Istrinya, anak-anaknya, juga para tetangganya. Tangannya sama sekali tak bereaksi apa-apa. Namun sejak pertemuan dengan saudara jauh dari kawannya itu, semuanya sepertinya berubah. Tak lagi hawa sejuk yang dirasakannya, kedua telapak tangannya kerap terasa panas saat bertemu dengan orang-orang asing.

Satu kali ia mencoba menanyakan dari mana orang-orang asing itu berasal. Dan, jawaban orang-orang asing itu membuatnya tercekat.

Seluruhnya berasal dari selatan!

***

Ia mengeluh dalam hati. Apakah daratan yang mulai menyatu ini membuat orang-orang baik dan buruk tak lagi terpisah?

Bagaimanapun juga ia suka kehidupannya di utara. Di sini kehidupan berlangsung lebih baik. Hanya ada kedamaian. Semua orang saling menebar kasih sayang. Tak ada pengemis yang terlunta-lunta. Setiap orang akan berlomba-lomba untuk membantunya, seakan-akan ia orang yang istimewa.

Sepanjang hidupnya di sini, tak pernah ada kejahatan. Bahkan di kamus milik anak laki-lakinya, ia tak menemukan sebuah kata pun yang berhubungan dengan kata: jahat, atau hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Tapi ia tahu, situasi damai seperti ini tak berlangsung di selatan. Di sana, segala keburukan terjadi setiap saat. Perang, penyiksaan, pembunuhan. Orang-orang di utara selalu menyebutnya, di sana adalah neraka. Dan kini, tanpa disadarinya, orang-orang di selatan mulai berdatangan satu demi satu ke utara. Kebaikan seakan mulai berkelindan dengan keburukan.

Awalnya laki-laki buta itu mencoba tak berpikir terlalu dalam soal ini. Toh, ada orang-orang yang seharusnya lebih pantas memikirkannya. Tapi saat sebuah pencurian terjadi di sekitarnya, disusul perampokan yang kejam, hatinya mulai tergugah. Terlebih saat anak laki-lakinya menjadi korban pembunuhan. Ia benar-benar tak lagi bisa berdiam diri. Ia tahu, anaknya adalah anak yang baik hati. Hatinya seperti terbuat dari kain sutra. Halus dan indah. Ia rela menengadahkan tangannya sampai berjam-jam untuk sekadar memberi makan burung-burung merpati liar.

“Aku harus melakukan sesuatu,” gumannya.

Istrinya, yang juga amat bersedih, hanya mengangguk setuju dengan apa yang akan dilakukannya, termasuk anak perempuannya yang tersisa.

Laki-laki buta itu kemudian berpikir untuk membuat batas antara bagian utara dan bagian selatan. Ia bisa membuat pagar batu yang tinggi hingga membuat orang-orang dari selatan tak datang ke utara.

Tentu bagi orang lain, pekerjaan ini tak mungkin. Benteng untuk memisahkan bagian utara dan selatan begitu panjang. Orang-orang bahkan tak bisa memperkirakan panjangnya. Tapi tidak bagi laki-laki itu. Ia sadar dengan kelebihannya.

Maka di hari yang sudah ditentukan, bersama istri dan anak perempuannya, ia pergi ke tempat ia akan memulai pekerjaan ini. Satu demi satu batu diangkatnya, lalu ditatanya dalam tumpukan-tumpukan yang rapi. Istri dan anaknya membantu membuatkan makanan dan mengusap keringatnya yang bercucuran.

Berhari-hari telah berlalu. Walau batu-batu itu memang takluk di tangannya, tetap saja kelelahan muncul di seluruh tubuhnya. Tangannya luka-luka. Istrinya bahkan beberapa kali harus membalutnya dengan perban.

Lama-kelamaan upaya laki-laki buta itu terdengar juga di kotanya. Beberapa orang kawannya menengok dan mendukungnya. Namun karena kesibukan sendiri-sendiri, mereka tak bisa turun tangan membantunya. Mereka hanya bisa memberi uang atau makanan untuknya.

Laki-laki buta itu tentu bisa mengerti.

***

Tak terasa pekerjaan membuat pagar batu itu berlangsung sampai bertahun-tahun. Anak perempuannya semakin dewasa. Walau ia menjadi gadis yang bisa diandalkan, jiwa remajanya tetap tak bisa dikekang. Sesekali ia ingin sedikit bersenang-senang. Dan, laki-laki buta itu cukup mengerti sehingga ia pun tak mengekangnya.

Sementara beberapa tahun ditinggal olehnya, kehidupan di kota semakin tak keruan. Setiap laki-laki buta itu membeli stok makanan, tangannya menjadi panas, seakan-akan merasakan kehadiran orang-orang dari selatan di sekitarnya. Bahkan saat ia hendak membayar belanjaannya pada seorang pelayan di toko langganannya, sentuhan tangannya terasa membakarnya.

Ia hanya bisa mengeluh dalam-dalam pada istrinya, “Apakah pekerjaan yang kita lakukan ini sia-sia?”

Istrinya menggeleng pelan. “Entahlah,” ujarnya, “selama ini, aku hanya membantumu. Tugasku mendampingimu saat kau senang dan berduka.”

Laki-laki itu merasa terdukung. Ia mengucapkan terima kasih sambil mengecup kening istrinya. “Tapi hari ini aku tetap merasa pekerjaan kita sia-sia,” ujarnya setelah beberapa saat diam. “Orang-orang dari selatan semakin banyak yang kutemui di sini.”

Istrinya terdiam sejenak. “Kupikir tak ada yang sia-sia di dunia ini. Setidaknya orang-orang jadi tahu apa yang tengah berlangsung sekarang ini. Mereka akan lebih waspada.”

Laki-laki buta itu hanya bisa menghela napas.

Tapi kota tempat tinggalnya memang semakin semrawut. Beberapa kawannya datang menceritakan semuanya. Kini para pengemis tak lagi diperhatikan. Pencurian menjadi peristiwa yang rutin. Penipuan berlangsung setiap hari. Pembunuhan menjadi puncak kejadian di setiap akhir pekan.

Laki-laki itu begitu sedih. Namun ia tentu tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukannya, meneruskan membuat pagar batunya.

Bertahun-tahun telah berlalu. Istrinya tanpa disadarinya meninggal dalam tidurnya. Wajahnya tampak begitu lelah. Ia menangis sepanjang pagi yang rekah.

Ia sadar waktunya pun segera datang. Tubuhnya sudah semakin renta. Kekuatannya tak juga seperti dulu. Ia harus menyentuh batu-batu itu lebih lama dari sebelumnya, sebelum ia mengangkatnya. Namun pada akhirnya, pekerjaan itu selesai juga.

Ini setidaknya membuat matanya berkaca-kaca. Ia ingin sekali merayakannya, sekaligus menikahkan anak perempuan satu-satunya, yang selama ini sudah banyak membantunya.

***

Setahun kemudian kesehatannya semakin menurun. Usianya sebenarnya belumlah terlalu tua, tapi keletihan membuat semua vitalitas tubuhnya hancur. Tapi setidaknya, di saat kematian yang sudah mendekat, ia tetap bisa bersenang hati.

Ia baru mendapat kabar anak perempuannya sudah melahirkan. Itu artinya sebentar lagi ia bisa menggendong seorang cucu.

Sore itu, anak perempuannya benar-benar dating dengan senyum merekah. Disodorkan bayi kecil yang masih merah dalam selimut tebal padanya. Laki-laki buta itu berusaha memeluk cucunya. Namun ia tertegun.

Detik itu juga ia merasakan hawa panas. Terlebih saat bayi itu berada dalam gendongannya. Kedua tangannya serasa akan terbakar. (*)

 

 

Yudhi Herwibowo

Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel terkininya Miracle Journey dan Enigma.

 

4 Responses

  1. Reblogged this on fahriizzuddin.

    Like

  2. amanat darii cerpen diatas apa yaa???

    Like

  3. Ini setidaknya membuat matanya
    berkaca-kaca. ????

    tak punya mata tp matanya berkaca kaca…

    Like

  4. mengharukan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: