Cerpen Dwitra Zaky (Republika, 02 November 2014)

Belajar dari Ambika Shangmu ilustrasi Rendra Purnama
Belajar dari Ambika Shangmu ilustrasi Rendra Purnama

“Dewi, tolong tanda tangani daftar hadir ini ya. Semua daftar harus masuk hari ini,” katanya sambil tersenyum.

“Dewi, kapan kamu membutuhkan fotokopian ini? Akan saya kerjakan sekarang juga,” sambil menunjukkan sebuah buku Percakapan dalam Bahasa Indonesia yang cukup tebal.

“Ah, Dewi, kamu lupa lagi mengembalikan laptop itu ya. Lain kali jangan lagi ya,” sapanya lembut.

Itulah Ambika, perempuan berasal dari Tibet yang lemah lembut dan penyabar.

Dia adalah satu-satunya perempuan Tibet yang saya kenal sampai sekarang. Saya sudah lama tinggal di Washington DC selama hampir delapan tahun lebih dan sudah berbagai bangsa saya temui, hanya Ambika satu-satunya perempuan Tibet yang saya kenal dekat.

Dia bekerja sebagai salah satu sekretaris di Sekolah Bahasa tempat saya mengajar.
Tugasnya membantu semua guru yang ada, dalam administrasi dan kelancaran proses belajar-mengajar. Itu tugas resminya.

Tugas tidak resminya banyak, malahan lebih banyak daripada tugas resminya.

Dari melayani dengan sabar para guru yang mengeluh, mengisi tempat kopi, sampai membuatkan fotokopian buku-buku tebal.

***

Ambika atau yang nama panjangnya adalah Ambika Shangmu, artinya dalam bahasa Tibet adalah the kind-heart one atau perempuan yang paling baik.

Nama yang sesuai sifat-sifatnya, lembut, baik, ramah. Tidak pernah marah, selalu siap membantu orang-orang di sekitarnya. Bahkan, saat dikejar-kejar banyak tugas, dia selalu dengan santai menyelesaikan semuanya dengan baik.

Perawakannya tidak terlalu tinggi, agak gemuk sedikit, dengan kulit kemerahan ciri khas kulit penduduk pegunungan Tibet. Wajahnya tirus, dengan bibir yang agak lebar, dan hidung yang bertulang tinggi dan agak besar. Menurut saya, ukuran hidungnya agak terlalu besar untuk struktur wajahnya yang tirus.

Keseluruhannya menghasilkan wajah yang tidak terlalu istimewa, tidak begitu cantik, tapi cukup manis dipandang.

***

Tapi, yang mengagumkan saya adalah rambutnya. Saya sudah terpesona dengan rambutnya ketika pertama kali saya berkenalan dengannya beberapa tahun lalu.

Bayangkan, berapa banyak perempuan pada zaman ini yang punya rambut panjang hitam berkilau sepanjang lutut. Betul-betul sepanjang lutut!!

Rambutnya begitu panjang, hitam, tebal, dan mengilat. Helai-helainya begitu padat, begitu kuat, tapi juga sangat halus. Jari-jari kita bisa tergelincir bila membelainya.

Ketebalannya membuat banyak perempuan iri. Butuh lebih dari dua telapak tangan untuk bisa menggenggam keseluruhan rambutnya karena tebalnya.

Warnanya hitam berkilat, kadang sepertinya malah agak kebiruan yang gelap pekat.
Kadang-kadang pikiran jahil saya sering menyelinap tanpa permisi, jangan-jangan Ambika mewarnai rambutnya karena begitu hitam nya. Tapi, kalau iya, hmm …berapa botol dihabiskannya. Dan, butuh berapa lama mengerjakannya.

Rambut itu kadang diurainya begitu saja, hanya diikat sedikit di bawah leher dengan pita kecil yang cantik. Mungkin seperti pepatah zaman dulu, “bagai mayang terurai”.

***

Ambika sangat memerhatikan perawatan rambutnya. Saya sering memergoki dirinya membubuhkan sesuatu, semacam cairan putih keruh di puncak kepalanya, lalu menyisirinya dan meratakannya ke seluruh rambutnya.

Saya pernah iseng-iseng bertanya kepadanya, berapa lama dia sudah memanjangkan rambutnya.

Dia bilang sudah sejak menjelang remaja, artinya mungkin sekitar 15 tahun lebih. Dan, rambut panjangnya itu menjadi kebanggaan keluarganya dan orang-orang di kampungnya. Karena, rupanya, di daerah asalnya di Tibet, makin panjang rambut si perempuan, makin tinggi kebanggaan keluarganya pada si perempuan itu.

Rambut panjang, katanya lagi, adalah lambang kecantikan dan kelembutan seorang perempuan di daerah Tibet. Apalagi, katanya, suaminya juga sangat menyenangi rambut panjangnya. Tidak heran Ambika sangat menyayangi dan merawat rambut panjangnya dengan sangat hati-hati dan teratur sekali.

Saya senang sekali memandangi rambutnya dari belakang saat dia berjalan. Terayun ke kanan dan kiri, saya membayangkan bagai ombak samudra dalam yang begitu pekat dingin menggelap.

***

Sampai suatu hari ….

Angin November yang mulai dingin merayapi jalanan yang masih berkabut. Walau sudah tak bisa dikatakan pagi lagi, toh kabut menjelang musim dingin masih menguasai hari.

Sinar matahari masih malu-malu menampakkan diri walau ujung-ujungnya sudah perlahan menyentuh permukaan bumi. Langit agak gelap, awan-awan putih menghilang bersembunyi entah ke mana.

Suasana hari yang muram membuat saya melangkah makin tergesa-gesa. Seharusnya saya mengajar pukul 09.30, tapi kemacetan lalu lintas membuat saya terlambat datang mengajar. Baru menjelang pukul 10.00 saya baru bisa sampai di depan kantor Sekolah Bahasa itu.

Dengan tergesa-gesa, saya segera mengisi daftar absensi, lalu pergi ke papan tulis melihat jadwal kelas saya hari itu. Banyak sekali kelas baru. Dan, kadang tempatnya masih berpindah- pindah.

Setelah itu, saya segera mencari Ambika untuk menagih fotokopian buku. Saya membutuhkannya sesegera mungkin karena itu bahan untuk ujian kelas lama. Waktu saya minta bantuan Ambika dua hari lalu, dia mengiyakannya dan tersenyum kecil saja.
Setelah saya cari-cari, tiba-tiba dia muncul dari belakang, lalu berkata bahwa buku itu belum selesai, sedikit lagi.

Karena terburu-buru, saya berkata padanya akan mengajar di tingkat dua dan kalau dia bisa mengantarkannya ke sana. Sebelum saya pergi, saya sempat melirik pada Ambika, rasanya ada sesuatu yang aneh, berbeda dari biasanya, tapi saya belum tahu apa itu. Terburu-buru, saya tidak sempat lagi memerhatikannya lebih lanjut.

Pagi itu, saya mengajar kelas baru sampai kira-kira pukul 13.00. Lalu, saya mengajar lagi, kelas “advanced” yang baru dimulai sekitar pukul 14.00 hingga sore hari. Karena betul- betul membutuhkan fotokopian buku tersebut, saya menunggui Ambika membawakan buku tersebut. Tapi, sampai pukul 15.00, dia belum muncul juga.

Baru saja saya mau melangkahkan kaki ke luar kelas, tiba-tiba saya melihat Ambika mendatangi saya dari jauh. Puncak sanggul hitamnya tampak membukit di atas kepalanya.

Setelah dekat, dia berkata, “Maaf, Dewi, saya baru menyelesaikannya. Tapi, sekarang sudah selesai dan ini bukunya,” katanya lagi sambil tersenyum manis.

Tentu saja saya tidak bisa marah padanya, apalagi dia sudah meminta maaf dan lagi- lagi sambil tersenyum manis. Saya hanya mengiyakan saja sambil mengucapkan terima kasih padanya.

Lalu, Ambika berbalik, memunggungi saya, dan berjalan menjauh. Baru saat itu saya sadar, hal yang saya rasakan aneh, tapi saya tidak tahu apa.

***

Rambut itu, rambut panjang itu …. Tidak ada lagi!!

Tidak ada lagi rambut yang menjurai hitam legam mengilap, bergoyang di belakang punggungnya. Tidak ada lagi larik-larik sinar biru gelap keemasan memantul dari ujung- ujung rambut itu saat tertimpa sinar matahari dari sela-sela jendela.

Rambut itu hanya tertinggal seperempatnya, hanya kira-kira sedikit di bawah pundak. Masih bergoyang-goyang, tapi yang ada goyangan-goyangan pendek saja, tidak lagi seperti ayunan ombak lautan kelam.

Dengan kaget bercampur cemas, tanpa sadar saya berteriak, “Ambika, apa yang terjadi? Kenapa rambut kamu? Ada apa? Kenapa sekarang tinggal sebahu?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu beruntun.

Ambika kaget mendengar teriakan saya, lalu dia segera menarik saya ke arah dinding.

Pelan-pelan sambil berbisik dia berkata, “Saya sudah mendonasikannya kepada yayasan anak-anak perempuan yang terkena kanker dari negara saya. Mereka butuh banyak rambut asli yang akan diubah menjadi wig-wig kecil untuk menutupi kepala mereka yang botak karena pengobatan kimia. Hihi… pasti lucu ya, rambut saya jadi wig-wig di kepala anak-anak mungil itu,” katanya lagi sambil terkikik-kikik geli.

Lanjutnya lagi, “Nanti kalau wig-wig itu sudah jadi, mereka akan mengirimkan fotonya kepada saya waktu sudah dipakai anak-anak itu.”

Saya kaget dan hampir tersedak karena terharu, lalu dengan terbata-bata saya bertanya lagi, “Tapi, kenapa rambut kamu? Kenapa tidak menyumbang uang saja?”

Ambika menjawab, “Mengumpulkan uang lebih mudah, tapi kata pengurus yayasan tersebut, mencari rambut bagus yang bisa dipakai anak-anak itu lebih sulit. Dan, anak- anak itu akan sangat tertekan batinnya kalau mereka bertemu banyak orang dengan kepala gundul. Jadi, ya saya sumbangkan saja rambut saya itu. Toh, hanya rambut. Nanti juga tumbuh lagi, 15 tahun lagi juga rambut saya akan kembali sepanjang itu,” katanya ringan saja dan sambil tersenyum manis.

Katanya lagi, “Jangan sedih ya, ini hanya rambut kok. Tuhan saya akan memberikan hadiah lainnya sebagai pengganti. Hanya tunggu waktu yang tepat.”

Ambika Shangmu, perempuan yang pernah berambut panjang itu, yang kehitamannya dan keindahannya pernah saya kagumi, berjalan meninggalkan saya.

Di belakangnya, rambut hitam sebahunya masih bergoyang perlahan, pendek-pendek.

Di belakangnya, juga tersisa sebuah jalan panjang penuh matahari yang bersinar cerah, dari sekumpulan gadis kecil yang akan sangat berbahagia dengan rambut-rambut baru mereka yang hitam gemerlapan. Dan, kalau suatu saat mereka berkesempatan mengenal Ambika, pasti mata-mata mereka akan bersinar selembut mata hitam Ambika, penuh cinta, penuh kasih.

Di belakangnya juga ada saya, yang menunduk perlahan, dan perlahan tetesan air mata jatuh satu per satu membasahi pipi. Ada pelajaran yang sangat berharga, yang kedalamannya begitu menusuk jantung. Pedih, perih, terharu, tapi juga bangga karena saya bisa berkesempatan berkenalan dengan perempuan sederhana berhati malaikat, Ambika Shangmu. (*)

 

 

Dwitra Zaky, ibu rumah tangga yang berwirausaha di Amerika Serikat. Direktur Brama International LLC (2012-sekarang), instruktur bahasa dan budaya Indonesia di banyak sekolah swasta di Washington DC dan Virginia (2000-2009), dan di Institusi Pemerintah Amerika (2009-2012). Cerpen “Belajar dari Ambika Shangmu” berhasil meraih Bilik Sastra VOI Award 2014.

 

Advertisements