Archive for November, 2014

Tante Nilanang
November 30, 2014


Cerpen Chavchay Syaifullah (Media Indonesia, 30 November 2014)

Tante Nilanang ilustrasi Pata Areadi

MULANYA Nilanang hanya belajar merenda mukena untuk dijual di kota Payakumbuh atau sebagian akan dikirim oleh majikannya ke kota Padang, namun sepertinya ia harus meninggalkan pekerjaan barunya di kota Bukittinggi ini. Ia merasa tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidupnya di kota yang sejak tahun 2000-an terasa sesak oleh meningkatnya jumlah manusia dan biaya hidup sehari-hari. Pertumbuhan kota yang seiring dengan mahalnya harga tanah, membuat Nilanang harus menyingkir dari kota dingin yang hampir dua puluh lima tahun menjadi ladang tempat ia mengais rezeki. (more…)

Advertisements

Solilokui Kemboja
November 30, 2014


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 30 November 2014)

Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama

Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama

Putik kemboja mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup udara sedalam perasaannya. Taman kemboja di belakang rumah cukup nyaman menemani masa lapuk hidup di usia senja yang melelahkan.

Kerut di bibirnya bergerak samar. Tangannya lembut menyentuh dan mengusap daun-daun. Arini sudah berjanji pada dirinya, betapa ia tak akan bermimpi, karena bermimpi di usia senja hanya membuang percuma waktu yang tersisa. Bernonstalgia dengan kenangan lebih baik, desisnya. (more…)

Sihir Tumis Ibu
November 23, 2014


Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 23 November 2014)

Sihir Tumis Ibu ilustrasi Pata Areadi

IBU memasak tumis dengan sebuah sihir. Ia bagai membubuhkan sebuah mantra rahasia pada masakan, yang dapat membuat siapa saja merasa bahagia saat menyantapnya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan tumis buatan ibu. Tumis yang sama seperti makanan lain—ada sayur-mayur, potongan tahu-tempe, dan sedikit daging. Tapi ada sebuah bumbu rahasia yang membuat tumis ibu menjadi berbeda. (more…)

Anak Babi yang Masih Menyusu kepada Ibunya
November 23, 2014


Cerpen Clara Ng (Koran Tempo, 23 November 2014)

Anak Babi yang masih Menyusu kepada Ibunya ilustrasi Munzir Fadli

RATUSAN tahun lalu di daratan Cina, anak babi kecil yang masih menyusu kepada ibunya dianggap sebagai lambang kesucian. Lambang kesucian bagi seorang pengantin perempuan yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun. Pada malam pernikahan, ia, yang masih polos dan murni, akan menjadi milik sang suami.

Ting An tahu kisah ini dari kakak Papa nomor satu yang selalu bercerita tanpa diminta di setiap pesta pernikahan keluarga. (more…)

Nurani
November 23, 2014


Cerpen Rian Gusman Widagdo (Republika, 23 November 2014)

Nurani Ilustrasi Rendra Purnama

Nurani Ilustrasi Rendra Purnama

Hussy… husy… husy….”

Kudekap koper hitam di tanganku dengan dada naik turun. Suara teriakan massa di belakangku semakin mendekat. Aku pun semakin merapatkan diri di balik puing-puing bangkai kapal bekas tsunami empat tahun lalu, berharap tak satu pun dari mereka mencium jejakku.

Panas sang raja siang memanggang ubun-ubunku, tapi tak akan kuhiraukan. Takut mereka mengetahui posisiku. Pistol tergenggam erat di tangan kiriku, sama eratnya dengan genggaman koper di tangan sebelahku. Seseorang datang mendekat diikuti dengan langkah sang malaikat maut. (more…)

Kapal Terakhir
November 23, 2014


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 23 November 2014)

Kapal Terakhir ilustrasi Bagus

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

Roderick menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.” (more…)