Archive for October, 2014

Sunyi Karinding di Kawali
October 26, 2014


Cerpen Toni Lesmana (Media Indonesia, 26 Oktober 2014)

Sunyi Karinding di Kawali ilustrasi Pata AreadiWASTU berjalan paling belakang. Teman-temannya sudah jauh di depan. Ia sengaja berjalan lambat di jalan setapak yang diapit pohon-pohon mahoni. Ia enggan pulang dari hutan mungil di Kawali ini. Seolah ada yang menahannya. Hampir seharian ia mengitari situs Astana Gede. Masih saja belum puas. (more…)

Bersujud di Bromo
October 26, 2014


Cerpen Doni Indra (Republika, 26 Oktober 2014)

Bersujud di Bromo ilustrasi Rendra Purnama

Bersujud di Bromo ilustrasi Rendra Purnama

Ibu punya obsesi yang tidak biasa. Sebelum menutup mata, beliau ingin shalat atau bersujud di tempat yang tinggi. Bukan sembarang tempat, melainkan di puncak gunung.

Penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) ditambah asam urat membuat gerak ibu sangat terbatas. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di tempat duduk sambil menonton TV atau membaca buku. Ibu hanya beranjak dari duduknya untuk makan, ke kamar tidur, dan ke kamar mandi. Meskipun sakit, ibu tetap cerewet pada anak-anak dan cucunya. (more…)

Mata Monyet
October 19, 2014


Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 19 Oktober 2014)

Mata Monyet ilustrasi Pata Areadi

JANGAN-JANGAN benar monyet itu jelmaan Maryam! Pikiran ini begitu menggelisahkan Liman. Ia merasa heran sendiri bagaimana gagasan aneh itu bersarang di kepalanya. Padahal, selama ini ia tak percaya takhayul, hal-hal gaib, dan cerita mistis yang bertebaran di kota kecilnya. Liman selalu berpegang pada logika. Itulah yang selalu ia tanamkan pada Punang. Ketika anak semata wayangnya itu bilang bahwa monyet-monyet di taman wisata Pelangon ialah jelmaan manusia yang suka berkhianat, Liman dengan berbagai cara menjelaskan itu dongeng belaka. Tak boleh dipercaya. (more…)

Ongkos Naik Haji Emak
October 19, 2014


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 19 Oktober 2014)

Ongkos Naik Haji Emak ilustrasi Daan Yahya

Ongkos Naik Haji Emak ilustrasi Daan Yahya

Mendung hitam di langit seperti turut berkabung atas petaka yang membuatku kalap di pagi buta itu. Uang Rp 36 juta, ongkos emak naik haji yang kutaruh di laci lemari, raib. Aku yakin si pencuri itu adalah Mas Jarwo. Siapa lagi kalau bukan dia?

Semua bermula ketika aku mengutarakan niat menghajikan emak. Entah mengapa, rona wajah emak terlihat datar saja. Aku menjadi juru bicara dua saudaraku yang lain. Tapi, tak setitik pun kulihat binar semringah di wajahnya yang kian terpahat keriput. (more…)

Pulang Haji
October 12, 2014


Cerpen Ahmad Muchlish Amrin (Media Indonesia, 12 Oktober 2014)

Pulang Haji ilustrasi Pata Areadi

MATA kami terpagut ke arah jalan. Orang-orang membuat gerbang dari bambu berpelitur, dihiasi aneka kembang. Di atas gerbang itu ditempelkan kertas kerlap-kerlip dan berkilau, berbentuk menara. Dari arah depan, terpampang sebuah tulisan ‘Selamat Datang Haji Zubaidi, Semoga Menjadi Haji yang Mabrur’. Rahnayu, satu-satunya orang yang mampu naik haji di kampung kami, telah berubah nama. Nama pemberian ayah-ibunya telah berganti menjadi Haji Zubaidi. (more…)

Sarha Panjang
October 12, 2014


Cerpen Sinta Yudisia (Republika, 12 Oktober 2014)

Sarha Panjang ilustrasi Rendra Purnama

Sarha Panjang ilustrasi Rendra Purnama

Ada tradisi yang tak akan pernah hilang meski usia membalur mukamu dengan debu perjalanan. Tiga hal tidak akan hilang dari jejak orang Palestina.

Pertama, secawan syai dengan celupan daun mint yang manis kental membuat tamu yang bukan penduduk asli merasakan leher tercekat. Kedua, kebun zaitun dan tiin yang bersamanya tumbuh nasab-nasab leluhur. Satu pohon yang menjulur dan dapat dinikmati setelah tujuh tahun merupakan sumber penghasilan dan tentu saja kehormatan keluarga. (more…)