Cerpen Didit (Republika, 21 September 2014)

15 Tahun yang Lalu ilustrasi Rendra Purnama
15 Tahun yang Lalu ilustrasi Rendra Purnama

Lima belas tahun yang lalu, jika kau lewat perempatan Jalan Cemara Kembar, yang jika ke utara akan membawamu ke Laut Jawa, jika ke barat akan kau jumpai Masjid Agung Tuban, ke timur akan membawamu ke gedung kantor Pos, dan ke selatan akan membawamu ke pusat pertokoan.

Lima belas tahun yang lalu di perempatan itu pasti akan kau jumpai seorang gadis muda penjual bunga. Ia biasa menjajakan bunga-bunga indahnya di depan Toko Sepatu Angkasa, entah sekarang toko itu masih ada atau tidak. Lima belas tahun yang lalu, jika kau masih ingat.

Gadis penjual bunga itu tunanetra. Ia tak bisa melihat, tapi bisa merasakan kaki-kaki pejalan kaki yang melintas. Jika tak sengaja kau lewat di depan kios kecilnya, ia akan menyapamu dengan sangat lembut.

“Assalamualaikum, Pak, Bu… silakan bunganya … untuk orang-orang terkasih ….”

Itu 15 tahun yang lalu. Sekarang, gadis itu tak lagi menjajakan bunga di perempatan jalan cemara kembar. Aku tak tahu ke mana ia pergi, kami sudah tak berjumpa 15 tahun lamanya. Jika suatu saat aku bertemu dengannya, aku pasti bisa mengenalinya. Dia punya senyum sangat indah. Percayalah, ia gadis paling cantik di alam semesta.

Kepalanya selalu tertutup kerudung. Kerudung itu menambah pesona kecantikannya. Itu 15 tahun yang lalu saat aku berusia 15 tahun. Setiap kali kami bertemu yang kutanyakan selalu hal yang sama.

“Sudah berapa tangkai kau jual bunga-bunga itu?”

“Baru tiga tangkai, San …. Kau sendiri, berapa buah koran yang sudah kau jual?”

Ia memanggilku Sandi. Begitulah aku memperkenalkan diriku padanya. Sandi bukan nama asliku, itu nama yang kubikin sendiri. Nama asliku sudah lama kulupakan, tak ingin kumengingat nama pemberian ayahku yang zalim kepada keluargaku, pergi entah ke mana.

Sementara, nama gadis itu Mutia. Apakah itu nama asli atau bukan, aku tak tahu. Tapi, melihat perangai yang ditunjukannya tiap hari. Gadis manis itu kelihatannya tak suka berbohong.

Setiap siang aku selalu berjualan di sini, awalnya karena di sini kutemukan kesejukan di bawah rindang pohon-pohon cemara yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan, namun kemudian aku menemukan kesejukan lain di tempat ini. Kesejukan itu berasal dari gadis manis berkerudung penjual bunga yang selalu tersenyum dan menjaga perkataannya.

Kami selalu makan bersama. Aku dengan nasi bungkus murahan yang kubeli dari ibu-ibu tua di pusat pertokoan, sementara Mutia membawa bekal sederhana.

Selepas makan, ia akan melakukan hal yang sama setiap hari. Pergi ke dalam toko sepatu Angkasa, lalu meminta izin pada pemiliknya untuk berdoa. Sementara, aku akan menggantikannya menjaga kios bunga.

“Masih sempat-sempatnya kau berdoa, Mut, apa tidak sayang meninggalkan kiosmu, siapa tahu ada pembeli yang lewat?” pernah aku bertanya.

Mutia tersenyum. Ia tahu aku sama sekali tak mengerti tentang agama.

“Semua orang Islam tak boleh meninggal kan shalat, San, apalagi hanya untuk jualan, bahkan ketika berperang pun orang Islam tak boleh meninggalkan kewajiban shalatnya.” Mutia tahu aku masih tak mengerti tentang kewajiban yang satu itu, tapi ia tetap menjelaskan dengan sabar. “Kan ada kamu yang menjaga kiosku kalau aku sedang shalat.”

Ketika ia mengatakan hal itu, entah mengapa ada rasa bangga di hatiku. Aku merasa berharga sebagai laki-laki yang bisa membantu seorang gadis cantik sepertinya. Saraf-saraf remajaku mulai memberi tanda, aku jatuh cinta padanya.

Itu terjadi 15 tahun yang lalu. Saat kami berdua sama-sama muda, sama-sama remaja, saat aku belum tahu apa itu mahram, apa itu aurat, yang kutahu saat itu hanya cinta, dan bunga-bunga yang mulai mekar di dalam dada.

Saat itu aku mencoba menyentuh tangannya, Mutia menghindar, waktu itu aku tak tahu apa alasan yang sesungguhnya. Setelah itu, beberapa kali aku mencoba mencari-cari kesempatan untuk menyentuh kulit lembutnya, tapi Mutia tetap mengelak seperti biasa.

Pagi itu hujan luar biasa deras, separuh dari koran jualanku basah. Dengan cuaca demikian buruk, aku tak bisa berjualan di jalan-jalan. Sungguh sial luar biasa. Siang hari matahari masih malas untuk menampakkan diri. Aku berjalan lunglai menuju perempatan Cemara Kembar.

Kulihat kios bunga Mutia tampak basah berantakan, hanya sedikit bunga-bunga yang ia pajang, sisanya ia letakkan dalam kardus dan ia sembunyikan dengan rapi di dalam Toko Sepatu Angkasa.

Ah … kami senasib.

“Assalamualaikum, San ….” Mutia menyapaku dengan senyum. Aku selalu heran bagaimana caranya mengenaliku, belum juga aku sapa, ia sudah tahu kalau yang datang kepadanya adalah aku.

“Waalaikumusalam, Mut.” Kau pasti tertawa jika mendengar caraku menjawab salam Mutia. Lima belas tahun yang lalu aku belum bisa membaca tulisan Arab, belum bisa melafalkannya dengan sempurna. Jawaban salam yang kuucapkan itu kupelajari dari Mutia, sungguh kikuk aku melakukannya.

Hatiku murung, nasib buruk pagi itu membuatku tak banyak bicara. Dongkol aku dengan hujan yang membuat surut rezekiku. Bahkan, gara-gara itu, siang ini terpaksa aku membeli nasi putih dengan tempe saja, untungnya wanita tua langgananku baik hati mau membagi kuah kare jualannya.

“Kenapa kau diam saja? Kau marah padaku?” Mutia bertanya. Memang tak biasanya aku berdiam diri.

“Tidak … tidak … sungguh aku tak marah padamu, Mut.” Dengan segera kujawab pertanyannya, aku tak mau ia salah sangka, ah … mana mungkin aku marah pada gadis secantik ini.

“Lalu?”

Aku menceritakan segala keluh kesahku padanya. Tentang hujan, tentang jualanku yang basah, uang yang kudapat hari ini sangat memprihatinkan.

“Kau sendiri mendapatkan kesusahan dengan hujan deras yang turun pagi ini, kulihat kiosmu basah, bunga-bunga juga pasti tak laku terjual, tapi mengapa kau masih bisa tersenyum semanis itu, Mut?”

Aku bertanya penasaran.

“Hujan itu rezeki yang turun dari Allah, aku harus mensyukurinya.”

“Tapi … kalau hujan adalah rezeki, mengapa hujan justru membuat rezekiku berkurang?”

“Aku percaya, San, Allah akan menolongku jika aku sabar dan shalat, begitu pula denganmu, jangan takut kehilangan rezeki, Allah akan menolongmu jika kau sabar dan shalat.”

Kau pasti tak akan percaya, siang itu aku belajar shalat pada Mutia. Anak jalanan yang tak kenal agama sepertiku, tiba-tiba belajar shalat pada gadis buta penjual bunga.

Di dalam gudang sepatu sempit aku memandang Mutia melaksanakan kewajibannya. Aku terkesan, benarkah dengan shalat Allah akan menolongku? Koh Wang, orang Tionghoa pemilik toko sepatu itu, tertawa melihatku bengong memandang Mutia.

“Jangan cuma dilihat, belajar juga padanya,” Koh Wang menepuk pundakku.

Hari-hari berikutnya aku belajar shalat pada Mutia. Bertanya macam-macam, termasuk juga tentang keraguanku padanya.

“Hidupku berantakan sejak aku kecil. Ayahku kabur dari rumah saat aku berusia tujuh tahun, ia sama sekali tak pernah memberi nafkah, aku tak sekolah, tak pernah belajar apa-apa … aku bingung dengan masa depanku nanti. Apakah dengan shalat segala keruwetan hidupku itu bisa teratasi?”

Mutia tersenyum, ia mengangguk. Saat itu juga Mutia menyodorkan sebuah kado untukku, sebuah kain sarung lengkap dengan peci hitam. Aku tak pernah menduga.

Aku tak tahu waktu itu apa yang mendorongku begitu nekat untuk memeluknya.
Tiba-tiba saja aku maju, lalu melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Sontak Mutia menolakku dengan keras. Ia mendorongku agak keras. Aku terkejut.

“Kenapa, Mut? Kenapa kau selalu menolakku? Setiap kali aku berusaha untuk menyentuh tanganmu kau selalu menarik diri, kenapa, Mut?” Mutia tampak sangat terkejut dengan kemarahanku yang tiba-tiba.

“Apa karena aku hanya anak jalanan, penjual koran, anak dari bapak bajingan dan tak becus mengurus, apakah karena itu aku tak layak untuk mencintaimu, Mut?” Mutia tak menjawab, ia gemetaran. Kemarahanku berlanjut.

“Kau tak ada bedanya dengan orang-orang lain yang selalu memandang sinis padaku, Mut … lebih baik aku pergi ….”

Setan apa yang telah membuatku berkata begitu kasar pada gadis manis itu? Hingga kini, 15 tahun telah berlalu aku masih saja memikirkan hal itu.

“Kau tak paham, San … kau tak ….” Waktu itu Mutia gemetaran begitu hebat, ia ucapkan kata-kata itu dengan terbata-bata.

“Apa yang tak kupahami, Mut … ah …!” Aku pergi saat itu juga. Dan tak menoleh lagi pada Mutia yang masih kudengar isak tangisnya. Aku begitu marah dan kecewa, tak sadar kubawa sarung beserta peci yang ia berikan padaku. Jika kesadaranku cukup baik waktu itu, kado itu pasti akan kukembalikan padanya saat itu juga.

Berhari-hari aku tak mengunjunginya, sengaja. Aku tak mau melaksanakan shalat karena hal itu akan mengingatkanku pada Mutia. Namun, pada suatu malam, kalau tidak salah sepekan setelah kemarahanku padanya. Aku melihat sarung dan peci hadiah dari Mutia terongok di atas meja kamarku.

Tiba-tiba ada tangan tak kasat mata yang mendorongku untuk mengambilnya. Aku menuju belakang rumah, mengambil air wudhu. Beberapa menit kemudian, aku sudah khusyuk bersujud di atas koran di lantai semen kamar kontrakanku yang sederhana.

Air mataku tumpah. Saat itu juga kurasakan penyesalan yang mendalam, juga rindu … rindu … yang tak terperi rasanya.

Keesokan harinya, aku berniat menemui Mutia. Di perempatan Cemara Kembar yang rindang dan sejuk itu, di depan Toko Sepatu Angkasa milik Koh Wang, aku terduduk dengan risau. Kios Mutia sudah hilang tak berbekas.

Koh Wang bilang beberapa hari yang lalu datang Satpol PP mengusir semua pedagang di trotoar jalan. Dagangan Mutia termasuk salah satu dagangan yang diambil paksa. Setelah itu, Koh Wang tak tahu apa pun lagi tentang nasib Mutia. Koh Wang menyarakan mencarinya di Dermaga. Pesan terakhir Koh Wang membawaku mencari Mutia di Dermaga, seluruh kampung di pinggiran Dermaga kujelajahi. Tak kutemukan jejak gadis manis itu.

Lima belas tahun yang lalu peristiwa itu terjadi. Ada sesal yang tak kunjung terobati, ada rindu, dan air mata yang selalu tercurah dalam setiap sujudku untuk gadis buta penjual bunga itu. Lima belas tahun telah berlalu dan kini aku masih terus mencari. (*)

 

 

Didit, pegiat sastra. Saat ini tinggal di Tuban, Jawa Timur.

 

Advertisements