Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014)

Laki-laki tanpa Cela ilustrasi Pata Areadi

DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih. Pertanda bahwa itu diucapkan oleh orang yang berhati bening. Seperti dia. Laki-laki yang bagi saya, tidak punya cela sedikit pun.

Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang seorang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara.

Dengan berlinang airmata ia mengisahkan cerita itu. Membuat saya makin mabuk pada pesonanya. Berpikir telah menikahi seorang malaikat. Ia memegang erat tangan saya, dan menghapus airmata yang mengalir di pipi saya. Saya terbenam dalam perasaan yang campur-aduk. Saya makin menginginkan laki-laki itu.

Saya harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugas kita sebagai umat manusia. Kita tidak mungkin membiarkannya terlunta-lunta tanpa pertolongan.

Saya sangat sedih harus melakukannya. Ini akan menjadi berat untukmu, karena kau tidak lagi menjadi satu-satunya.

Mulut saya terkunci. Betapa inginnya saya menjadi seorang pahlawan, yang rela berkorban sepertinya. Yang membuat dia terlihat makin gagah dan bercahaya. Membuat saya ingin merangkumnya dalam pelukan. Membuat saya semakin ingin memilikinya seorang diri. Hanya seorang diri.

Namun, katanya saya tidak boleh egois, dan hanya mementingkan perasaan sendiri. Saya harus rela berkorban untuk orang lain. Seperti dia. Samakah kami?

Bagaimana cara membagi suamimu dengan perempuan lain? Telah ditemukankah caranya oleh seseorang? Kalau sudah, saya ingin datang untuk belajar pada orang itu.

Saya sudah berulang kali menasihati diri sendiri untuk menjadi sabar, pasrah, dan lemah-lembut. Tapi, saya tak pernah sungguh-sungguh tahu caranya. Saya hanya menyimpan kengerian yang menjelma mimpi-mimpi aneh selama sepekan ini.

Sudah seminggu saya bermimpi melihat seekor gurita raksasa sedang menunggu di ambang pintu rumah kami. Gurita itu merentangkan tentakel-tentakelnya sehingga tampak jelas di jendela rumah kami. Di waktu-waktu tertentu, si gurita mengibaskan tentakelnya ke jendela dan menimbulkan suara ketukan. Semakin lama ketukan itu semakin sering.

Setiap saat gurita itu bisa menghancurkan pintu dan mengambil alih rumah kami. Mimpi yang ganjil. Namun, saya tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Saya pernah mencoba menceritakan hal-hal seperti ini, dan teman-teman saya mengatakan saya cengeng, egois, dan manja.

Pikirkanlah dulu. Saya tidak akan memaksamu. Pikirkanlah semalam ini. Saya menunggumu besok pagi. Karena waktu yang kita miliki tidak banyak. Lusa mungkin terlambat.

Siapakah saya yang harus membuat keputusan begitu pelik? Jika saya mengatakan tidak, saya membayangkan berpasang-pasang mata yang mengatakan saya sebagai perempuan yang tidak punya belas kasihan.

Jika saya mengatakan iya, tentakel-tentakel raksasa itu akan memecahkan jendela-jendela kaca di rumah kami, memasuki rumah dan duduk di sofa TV yang biasa saya duduki.

Saya tidak mengerti ada orang-orang yang begitu mudah membuat keputusan seperti ini. Mereka yang terlihat anggun dengan senyumnya yang manis dan menenangkan. Mengapa saya tidak bisa meniru mereka sedikit pun?

Saya membayangkan perempuan muda itu di kepala saya. Dengan wajah ranum tak berdosanya? Dengan senyum polosnya yang memantik belas kasihan. Sanggupkah saya melihat perempuan muda itu masuk ke kamar yang sama dengannya. Laki-laki milik saya. Rasa sakit yang sama. Terus berulang sejak saya mengenalnya. Setiap irisan rasa bahagia seolah selalu berteman dengan rasa sakit. Mereka teman abadi yang tidak bisa dipisahkan.

Pikiran saya terus berputar-putar, seakan tidak ada batasan untuk perputarannya. Detak jam pada pukul dua belas malam menyentakkan saya. Subuh akan segera datang, dan saya belum mengambil keputusan.

Dan, saya membayangkan kengerian yang lain. Dia akan meninggalkan saya demi menepati janjinya pada perempuan muda itu. Demi hasratnya yang besar untuk berkorban. Karena ia terlalu banyak mendengar cerita-cerita kepahlawanan. Jika begitu, saya hanya bisa menangisi kepergiannya. Merindukan bau tubuhnya setiap malam tiba. Saya terdesak oleh kebuntuan.

Saya menyalakan komputer, ingin mendapat inspirasi seperti yang sudah-sudah, untuk tulisan saya. Saya ketik nama perempuan muda itu. Saya cari foto-fotonya di internet. Saya mengagumi wajahnya yang bening, dengan rambut panjang yang berkilauan. Perempuan itu begitu cantik. Pantas saja dapat membuat laki-laki manapun terpesona. Saya hanya bisa menangkap kegembiraan pada wajah perempuan itu. Perempuan yang sedang mekar dan menunjukkan keranumannya. Ia pantas menjadi keponakan saya, karena ia begitu muda, dan juga tidak berdosa.

Saya akan berdosa jika tidak menerimanya menjadi teman hidup kami. Perempuan itu bisa menjadi adik saya. Begitu cerita-cerita perempuan anggun yang dapat membagi suaminya. Wajah tidak berdosa itu tidak mungkin mengancam. Kami bisa menjadi keluarga yang rukun.

Saya sudah bulat membuat keputusan untuk menerimanya ketika sebuah foto membuat saya sesak napas. Perempuan muda itu memeluknya dalam kehangatan. Wajah perempuan muda itu mekar oleh kegembiraan. Dia tersenyum dengan kilauan yang lebih cemerlang dari matahari. Foto serupa bermunculan dan memenuhi layar komputer di hadapan saya. Pada foto terakhir, keduanya saling mengecup mesra. Perut saya bergolak mual.

Saya memejamkan mata pada berdetik-detik yang lewat. Menghirup angin yang lewat di hadapan saya. Mengingat bertahun-tahun yang saya lewati bersama dia. Mengingat kalimat demi kalimat yang pernah ia ucapkan. Helai demi helai membuka di hadapan saya.

Mengingat rasa sakit yang sama. Bahagia yang berhimpitan dengan rasa sakit.

Kadang-kadang terasa ganjil, tapi entah mengapa saya tidak pernah memikirkannya.

Di awal pertemuan kami, lima belas tahun yang lalu, dia selalu mengatakan kau adalah matahari yang menyinari hidupku. Di waktu lain, dia juga mengatakan; tanpamu, hidupku akan menjadi sekumpulan senja.

Setelah itu, entah mengapa saya tidak pernah lagi bertanya atau sekadar bertanya-tanya dalam hati tentangnya. Saya percaya ia adalah laki-laki tanpa cela.

Pun pada malam-malam tertentu, ia tidak pulang ke rumah dengan alas an yang terasa ganjil. Tak pernah terbetik kecurigaan. Seharusnya saya bertanya dan menatap matanya. Kemana kau pergi? Apakah kau bersama perempuan lain?

Kokok pertama ayam jago menyentakkan saya dari lamunan. Seluruh hidup saya selama lima belas tahun sudah saya putar-ulang dalam semalam. Saya memasukkan baju-baju tanpa suara. Memilih barang-barang terpenting yang saya miliki. Saya melirik dia yang masih lelap dalam tidurnya, sekilas. Wajahnya menyunggingkan senyum tipis. Saya tidak lagi berselera padanya.

Seharusnya ketika ia datang dengan kisah palsunya itu, saya memberikan sebuah syarat padanya. Sudah kau temukan juga untukku seorang laki-laki muda dan menderita karena ditinggalkan oleh istrinya dengan semena-mena? Laki-laki muda dengan otot yang liat dan senyum yang semanis gula. Kau memintaku untuk menyelamatkannya dan membawanya ke rumah kami.

Tepat ketika selubung gelap berganti dengan terang, saya sudah berdiri di depan rumah, menunggu tukang ojek yang sudah saya pesan. Melintas dalam ingatan saya, kata-kata seorang kawan, bersikaplah awas jika kau hidup dengan seseorang yang kau anggap tidak mempunyai cela sedikit pun. Karena ada dua pilihan yang tersedia, ia bukan manusia, atau kau tidak mengenalnya sama sekali…. (*)

Ni Komang Ariani lahir di Bali, 19 Mei 1978. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga ini, menulis cerpen dan novel. Buku cerpen terkininya, Bukan Permaisuri (2012)

Advertisements