Kafir


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 14 September 2014)

Kafir ilustrasi Rendra Purnama

Kafir ilustrasi Rendra Purnama

Warga kampung menganggap pria itu sebagai nabi. Pria yang sebenarnya setengah tidak waras karena ditinggal istrinya itu tiba-tiba menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Ia menjadi terkenal karena kata-katanya yang bertuah. Warga pun mengira, setiap kata-katanya merupakan sebuah doa. Maka, banyak orang yang mengamalkan serta mengikuti setiap petuah yang diucapkannya.

Satri, begitulah orang-orang acap memanggilnya. Pemuda ini sebenarnya gemar melamun dan bergumam tidak jelas di depan rumah. Tetapi, warga meyakini, jika pria itu tidak sekadar melamun atau merapal kalimat tanpa makna. Pria itu sedang mencari wahyu dari Tuhan. Setiap hari, banyak warga yang berkumpul di rumahnya, sekadar mencari berkah atau petuah. Bahkan, pernah, ada seorang pejabat yang meminta berkah untuk pemilihan dirinya sebagai dewan rakyat.

“Ini sudah tidak bisa dibiarkan, Pak!” kataku, suatu sore, kepada ketua adat di kampung, melaporkan tingkah menyimpang warga.

“Apa yang tidak bisa dibiarkan?”

“Warga menganggap, Satri adalah seorang nabi.”

“Bukankah itu benar, Satri adalah nabi.”

“Pak?!” Aku mengernyit kening. Apakah semua orang sudah tidak waras di kampung ini?

“Kau masih juga tidak percaya, kalau setiap perkataannya selalu bertuah dan menjadi kenyataan? Ia adalah nabi yang diutus Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada kita.”

Aku ingat, memang, untuk beberapa kali kata-kata Satri sekilas tampak menjadi doa yang sangat manjur. Ia pernah mengatakan kalau di desa ini akan turun hujan. Hujan pun tidak akan reda sampai warga menyiapkan sesaji berupa ayam kampung berbulu hitam, beras merah, dan secangkir kopi hitam, kemudian diletakkan di setiap rumah. Benar, hujan turun selama berhari-hari dan menyebabkan banjir. Hujan pun menenggelamkan seluruh rumah dan ternak. Hujan hanya berhenti ketika warga melunasi petuah yang diucapkan Satri.

“Satri pun pernah mengatakan, kalau musibah akan silih berganti datang di desa ini,” kata pria setengah baya itu dengan tubuh mengigil. “Perkataannya sungguh bertuah, berbulan-bulan, kampung mendadak dilanda musim kemarau, semua tanaman mengering, ternak-ternak mati, dan banyak warga yang kelaparan seraya terkena penyakit, bahkan di antaranya ada yang mati.”

“Itu hanya kebetulan, Pak!”

“Tidak! Tidak ada sebuah kebetulan di dunia ini! Kau ingat, ketika Satri mengatakan, kalau kampung ini juga akan mendapatkan rezeki yang melimpah. Setelah segala bentuk bencana yang menimpa. Benar! Desa ini, menjadi sangat subur, semua tanaman dapat tumbuh dengan baik, anak-anak lahir dengan sehat, dan para perawan menikah dengan para perjaka dari kota.”

“Tetapi, semua rezeki, adalah urusan Tuhan, Pak!”

“Ya, urusan Tuhan, tetapi Satri adalah perantara-Nya. Karena Satri adalah nabi.”

Mulutku seperti dijejali setumpuk batu, arkian tak lagi berucap. Aku mendengus kecewa.

Aku tinggalkan rumah ketua adat di kampungku itu. Sepanjang jalan, aku bergumam tak menemu arah, sesekali aku pun mengumpat, tentang tingkah penduduk desa yang sudah mulai aneh, karena menganggap orang yang sebenarnya tak waras itu, menjadi seorang nabi.

***

Sepulang dari rumah pemangku adat, aku singgah sebentar di masjid. Di tempat itu, tidak ada seorang pun. Masjid begitu senyap dan kotor. Aroma tak sedap menguara. Tempat itu, seakan telah ditinggalkan begitu lama oleh umatnya. Tempat yang seharusnya menjadi pusat bersembahyang, dan media untuk menyambung komunikasi kepada Tuhan, kini, menjadi rumah tua yang angker.

Warga kampung pun lebih memilih meminta segalanya kepada Satri, bukan kepada Tuhan!

“Ini sudah tidak dapat dibiarkan!” Pekikku, setelah mengumandangkan azan, dan tidak ada seorang pun yang datang untuk melakukan shalat berjamaah.

Sore itu, aku mendatangi rumah Satri. Seperti biasa, ia hanya termangu di serambi rumah, seraya merapalkan kalimat-kalimat tak jelas serupa mantra, dengan mata yang mengerjap-ngerjap. Ia tidak memerdulikan kehadiranku. Aku pun melihat, di dekat kakinya, ada dua orang yang sedang duduk bersila. Mereka seperti sedang menghambakan dirinya kepada Satri.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

“Menunggu wahyu dari nabi.”

“Nabi?!” Umpatku heran. “Kalian aneh!”

Aku mengusir dua orang itu. Tetapi, tanpa aku duga, muncul orang-orang bertubuh besar yang tidak aku kenal. Mereka pun menyeretku dengan paksa keluar dari tempat tersebut.

“Kalian penyembah setan!” Pekikku seraya meronta mencoba meloloskan diri.

“Tutup mulutmu!”

“Kalian akan dikutuk!”

“Kau yang akan dikutuk karena kau telah mengumpat seorang nabi!” Kata seorang, seraya melemparkan kepal tangannya ke wajahku. Aku terjerembab jatuh. “Cepatlah, minta maaf kepada sang nabi!”

“Aku tidak sudi!” Aku menentang keras.

Hantaman-hantaman liar pun kemudian tanpa ampun merajah tubuhku. Mereka menghajarku dengan membabi buta. Sedangkan, Satri tetap tampak tenang, merapal, dan memerhatikan langit senja yang kemerahan.

Mereka menyeretku dan melemparkan tubuhku ke tepi jalan. Tak ada seorang pun yang berani menolongku, mereka malah menatapku dengan mata yang bengis dan jijik. Mereka pun menyebutku sebagai kafir!

***

Terhuyung-huyung, aku berjalan menuju masjid. Sesampainya di masjid, pelan-pelan aku merebahkan tubuh yang terasa remuk. Apakah di dunia ini sudah tidak ada lagi kebenaran? Atau, semua orang sudah tak lagi waras karena kehendak dan keinginannya yang pintas? Aku meratapi diriku sendiri yang tak berdaya dan bersimbah darah.

Seekor tikus melintas, berhenti di depan wajahku, kemudian sepasang matanya mengamatiku iba. Tetapi, tidak begitu lama, tikus itu menjadi gelisah, kemudian pergi. Lamat-lamat, aku mendengar gemuruh langkah kaki yang mendekat. Puluhan orang mendadak berkerumun di luar masjid seraya berteriak-teriak lantang.

Mereka mengepung masjid lengkap dengan obor dan galon-galon berisi bensin. Mereka seakan ingin membakar masjid.

“Bakar!”

“Ayo, bakar masjid ini!”

“Bakar!”

“Kita sudah tidak membutuhkan masjid ini lagi!”

Orang-orang itu seperti telah dirasuki setan.

“Ya! Karena kita sudah memiliki Tuhan baru!”

“Kita tidak lagi membutuhkan Tuhan yang lama!”

“Tuhan yang baru, lebih cepat mengabulkan permohonan-permohonan kita.”

“Betul! Tuhan yang lama, terlalu lama mengabulkan doa-doa kita!”

“Bakar Tuhan!”

“Bakar!”

Mereka pun menyiramkan cairan pekat ke sekeliling bangunan, kemudian menyulutnya dengan obor. Api berkobar, membakar masjid dengan begitu cepat. Aku pun masih di dalam masjid ketika api meluluhlantahkan bagunan. Orang-orang itu bersorak girang, seperti tak tergurat sedikit pun wajah penyesalan setelah membakar masjid. Bahkan, mereka berjingkat-jingkat bahagia.

***

Tidak begitu lama, setelah masjid itu terbakar habis, gerimis turun. Hujan pun semakin deras, bahkan hujan turun berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan tidak juga reda. Hujan seakan tak mampu memadamkan bara api, bekas puing-puing reruntuhan masjid itu.

Asap terus mengepul, hujan pun membuncah, menjadi sebuah banjir yang menelan desa. Tetapi, asap dari puing-puing rumah Tuhan yang terbakar itu masih terus berkepul tebal. Asap tebal itu, seakan menjelma menjadi sebersit doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. (*)

 

 

Risda Nur Widia. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua Festival Sastra 2013 (UGM), Nominator Sastra Profetik 2013 (UHAMK). Cerpennya telah tersiar di beberapa media.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: