Archive for September, 2014

Penjara Kedua
September 28, 2014


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 28 September 2014)

Penjara Kedua ilustrasi Pata Areadi

APA yang akan terjadi besok? Rasanya seperti merenungi anak sungai yang bermula pada bersit mata air, menyalurkan rembesan air dari celah bukit, menyusup di celah-celah bebatuan, dan membelah hutan. Menuruni lereng, terjun ke jurang, lalu hilang. Tiba-tiba sudah bermuara di laut yang jauh. Tak terjangkau oleh perhitungan angka, juga waktu. Tak tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Begitulah saat badan sudah dikurung dalam sel penjara. (more…)

Advertisements

Menjelang Kurban
September 28, 2014


Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 28 September 2014)

Menjelang Kurban ilustrasi Rendra Purnama

Menjelang Kurban ilustrasi Rendra Purnama

Emak terduduk setengah rebah di ranjang tipisnya. Di sebelahnya, teh hangat masih mengepulkan asap. Beberapa kapsul dan pil bergeletakan di dalam nampan kecil. Dari jendela yang separuh terbuka, kelambu bergoyang ringan oleh embusan angin. Emak melemparkan tatapan kosong ke jendela terbuka itu. Seakan di sana ada sesuatu yang indah untuk ia raih dan ia jadikan bahan pembuat senyum yang baru. Emak benar-benar tersenyum.

“Mengapa emak tersenyum-senyum sendiri?” Aku menghampirinya dengan segelas air putih, “obatnya, Mak.” (more…)

Sepertiga Malam Terakhir
September 21, 2014


Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)

Sepertiga Malam Terakhir ilustrasi Pata Areadi

DI sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di saat-saat seperti ini?”

Sambil mengisap rokoknya,Dirminto memperhatikan rembulan yang gersang, yang kadang dilewati awan tipis, tapi kemudian lengang kembali. Di sekeliling rembulan ada bintang-bintang yang pendiam, sebagian berkedip, sebagian lagi bersinar cukup terang. Lelaki itu lantas melangkah masuk ke rumahnya yang sempit, istrinya ternyata sudah bangun, sibuk melipat baju-baju. Sementara itu, dua anak gadisnya masih terlelap di atas tikar, Manisha yang berusia empat tahun, dan Nalea tujuh tahun. (more…)

15 Tahun yang Lalu
September 21, 2014


Cerpen Didit (Republika, 21 September 2014)

15 Tahun yang Lalu ilustrasi Rendra Purnama

15 Tahun yang Lalu ilustrasi Rendra Purnama

Lima belas tahun yang lalu, jika kau lewat perempatan Jalan Cemara Kembar, yang jika ke utara akan membawamu ke Laut Jawa, jika ke barat akan kau jumpai Masjid Agung Tuban, ke timur akan membawamu ke gedung kantor Pos, dan ke selatan akan membawamu ke pusat pertokoan.

Lima belas tahun yang lalu di perempatan itu pasti akan kau jumpai seorang gadis muda penjual bunga. Ia biasa menjajakan bunga-bunga indahnya di depan Toko Sepatu Angkasa, entah sekarang toko itu masih ada atau tidak. Lima belas tahun yang lalu, jika kau masih ingat. (more…)

Laki-laki tanpa Cela
September 14, 2014


Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014)

Laki-laki tanpa Cela ilustrasi Pata Areadi

DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih. Pertanda bahwa itu diucapkan oleh orang yang berhati bening. Seperti dia. Laki-laki yang bagi saya, tidak punya cela sedikit pun.

Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang seorang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara. (more…)

Kafir
September 14, 2014


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 14 September 2014)

Kafir ilustrasi Rendra Purnama

Kafir ilustrasi Rendra Purnama

Warga kampung menganggap pria itu sebagai nabi. Pria yang sebenarnya setengah tidak waras karena ditinggal istrinya itu tiba-tiba menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Ia menjadi terkenal karena kata-katanya yang bertuah. Warga pun mengira, setiap kata-katanya merupakan sebuah doa. Maka, banyak orang yang mengamalkan serta mengikuti setiap petuah yang diucapkannya.

Satri, begitulah orang-orang acap memanggilnya. Pemuda ini sebenarnya gemar melamun dan bergumam tidak jelas di depan rumah. Tetapi, warga meyakini, jika pria itu tidak sekadar melamun atau merapal kalimat tanpa makna. Pria itu sedang mencari wahyu dari Tuhan. Setiap hari, banyak warga yang berkumpul di rumahnya, sekadar mencari berkah atau petuah. Bahkan, pernah, ada seorang pejabat yang meminta berkah untuk pemilihan dirinya sebagai dewan rakyat. (more…)