Cerpen Ahmad Bayhaki (Republika, 24 Agustus 2014)

Ratapan Naila ilustrasi Rendra Purnama
Ratapan Naila ilustrasi Rendra Purnama

Suram kaca jendela, mengabarkan bahwa di luar gerimis sedang turun membasahi malam. Di kursi meja belajar, Naila duduk sambil menuliskan sesuatu pada lembar buku tulisnya. Sebuah lampu belajar menyala terang di sudut permukaan meja. Di sudut yang lain, sebuah jam weker kecil berbentuk apel berwarna hijau, menusukkan jarum pendeknya pada perut angka delapan.

Dari pintu kamar yang tak terkunci, Wulan, ibu Naila, masuk dan menghampiri Naila.

“Bikin PR, Naila?” tanya perempuan berkerudung putih itu. Ia berdiri di belakang kursi yang Naila duduki.

“Iya, Bu,” jawabnya tanpa menoleh. “Laporan praktikum biologi.”

“Belajar yang giat, ya, Naila. Ujian akhirmu kan sudah dekat.”

“Baik, Bu.”

“Ya sudah. Ibu keluar dulu.”

“Tunggu sebentar, Bu.” Cegah Naila seraya membalikkan tubuh ke belakang.

“Ya?”

“Bapak kapan pulang sih, Bu?”

“Bapak pasti pulang, Naila.”

“Iya. Tapi kapan…?”

“Sudahlah, tak usah kau pikirkan kapan Bapak akan pulang. Lebih baik kamu pikirkan pelajaranmu. Pada saatnya nanti, Bapak pasti pulang kok!”

Naila kembali melanjutkan pekerjaannya begitu ibunya keluar. Barulah pada jam sembilan lewat seperempat, gadis manis bergigi gingsul itu menyelesaikan PR-nya. Setelah merapikan alat tulisnya, Naila tak langsung tidur. Dibukanya lemari pakaian berwarna gelap yang berdiri di sisi ranjang kamarnya, lantas diambilnya sebuah jaket yang terlipat rapi di salah satu raknya. Jaket yang sejak ia miliki baru sekali dipakainya itu berwarna merah jambu. Pada sisi kupluknya yang melingkar, terdapat bulu-bulu lembut berwarna putih. Ya, jaket itu adalah benda pemberian terakhir bapaknya sebelum berangkat merantau ke negeri jiran, empat tahun silam. Saat itu, Naila baru kelas enam SD.

Kemudian, jaket itu, oleh Naila dibentangkan di atas kasurnya yang berseprai warna putih. Lalu, dengan tatapan sendu, dipandangnya jaket itu. Hal itulah yang selalu Naila lakukan setiap malam menjelang tidur.

Naila tak pernah tahu bahwa ibunya selalu menyaksikan apa yang dilakukannya itu. Naila pun tak tahu bahwa sang ibu selalu mengintipnya dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ketika menyaksikan kelakuan anaknya yang didera rindu itu, selalu ada gemuruh di dada Wulan.

Kemudian, setelah cukup lama memandang jaket itu, Naila merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dipeluknya jaket itu erat-erat, hingga lelap mengantarkannya ke alam mimpi.

***

Tanpa terasa sudah berlalu tiga hari sejak Naila dinyatakan lulus dari sekolah. Itu berarti, acara wisuda sekolah hanya tinggal hitungan hari lagi. Dalam acara akbar yang setiap tahun tak pernah absen diadakan itu, sekolah mengundang kedua orang tua masing-masing murid yang akan diwisuda. Karena itu, sejak seminggu sebelumnya, undangan itu sudah dibagikan kepada semua murid kelas akhir. Tentu semuanya dapat, begitu pun Naila.

Kepada sang ibu, dengan raut wajah yang tampak sendu, Naila menyerahkan undangan itu saat makan malam di meja makan. Tentu Wulan tahu apa yang sedang bergejolak di dada putri semata wayangnya itu.

“Kenapa sampai sekarang Bapak belum pulang juga sih, Bu?” mendadak Naila bertanya.

“Mungkin sekarang Bapak sedang sibuk, Naila,” jawab Wulan.

“Dulu, Ibu bilang, Bapak cuma akan pergi dua tahun. Tapi kenapa sampai sekarang Bapak belum pulang juga?

“Ibu juga tidak tahu kenapa, Naila.”

“Apa mungkin Bapak sudah tidak sayang Ibu dan Naila lagi?”

“Tidak, Naila. Cuma Naila dan Ibu yang Bapak sayangi!”

Naila diam tertunduk.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu persiapkan diri untuk tes masuk SMA nanti.”

“Tapi, dengan siapa Ibu akan datang ke acara wisuda Naila?

“Kamu tenang saja. Kan masih ada Om Samad.”

Meski ibunya berkata begitu, nyatanya Naila masih saja tampak tidak senang.
Sebagaimana anak-anak lain, tentu Naila juga ingin bapak dan ibunya sendiri yang datang langsung ke acara wisudanya.

“Bapak ….” batin Naila berbisik. “Kapan Bapak pulang?”

***

Sehari sebelum acara wisuda, semua murid kelas akhir mengikuti geladi resik yang diadakan di aula sekolah. Dalam geladi resik itu, para murid berlatih beberapa himne yang besok akan ditampilkan.

Begitu geladi resik yang berlangsung sekitar dua jam itu selesai, beberapa murid ada yang langsung keluar dari aula, ada pula yang masih tinggal. Naila masih tinggal. Ia duduk bersama beberapa teman sekelasnya di antara deretan kursi yang telah tertata rapi di aula itu.

“Yang akan datang bersama ibumu, siapa, Naila?” tanya Rayya, teman Naila.

Mendengar pertanyaan itu, Naila hanya diam tertunduk.

“Memangnya bapak Naila ke mana, Ray?” tanya temannya yang lain pada Rayya.

“Jadi, kamu belum tahu kalau bapak Naila sudah kawin lagi?”

“Hah! Yang benar?”

Naila masih diam. Namun, karena kata-kata yang diucapkan teman-temannya kian berjejalan menusuk rongga telinganya, Naila pun bangkit dari duduknya, lantas berlari keluar aula. Wajahnya tampak memerah. Matanya pun berkaca-kaca.

***

Pukul 19.25. Di kamarnya, dengan dibantu sang ibu, Naila mencoba baju toga yang besok akan dipakainya. Oleh sang wali kelas, baju serba hitam lengkap dengan topinya itu, dibagikan siang tadi. Tak lama setelah geladi resik selesai.

Tatkala Wulan jongkok di depan Naila sambil merapikan baju toga itu, mendadak Naila bertanya, “Ibu, apa benar Bapak sudah kawin lagi?”

“Hush!! Siapa yang bilang seperti itu?” Wulan balik bertanya.

“Teman-teman.”

“Bohong! Tak usah kau dengarkan mereka! Bapak itu, cuma sayang Naila dan ibu!”

Jarum jam weker di sudut permukaan meja belajar Naila, terus berputar menggeser waktu. Naila membuka lemari pakaian dan mengambil jaket merah jambu kesayangannya. Jaket itu, seperti malam-malam yang telah lalu, ia bentangkan di atas kasur, lantas dipandanginya dengan tatapan sendu.

Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Wulan masih saja mengintip. Lama ia berdiri di situ. Beberapa saat kemudian, Naila pun merebahkan tubuh di atas kasur sambil memeluk jaket itu. Ketika dirasanya Naila sudah terlelap, Wulan pun berlalu ke kamarnya.

Dini hari itu, seperti biasa, Wulan terbangun dari lelap tidurnya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Ya, semenjak jauh sebelum Naila lahir, Wulan sudah membiasakan diri untuk shalat Tahajud setiap malamnya.

Ketika melangkah ke kamar mandi, Wulan mendengar selarik suara saat melintas di depan pintu kamar Naila. Ia pun menghentikan langkah, lalu dibukanya daun pintu kamar Naila perlahan.

“Pak … Bapak ….” igau Naila dalam tidurnya. “Bapak kapan pulang? Besok Naila wisuda, Pak. Apa Bapak sudah tidak sayang lagi sama Ibu dan Naila? Bapak tidak kawin lagi seperti yang dikatakan teman-teman Naila itu, kan? Bapak … cepat pulang. Naila kangen ….”

Demi mendengar igauan anak gadisnya itu, butiran bening air mata pun tak kuasa Wulan bendung. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Naila tahu, bahwa sosok bapak yang selama ini amat dirindukannya itu telah pergi untuk selama-lamanya, dua tahun yang silam dalam sebuah kecelakaan pesawat. (*)

 

 

Kutub, 2014

Ahmad Bayhaki, lahir di Sumenep, 28 Maret 1996. Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari, Yogyakarta. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

 

Advertisements