Archive for August, 2014

Peci Ayah
August 31, 2014


Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 31 Agustus 2014)

Peci Ayah ilustrasi Pata Areadi

KAKEK selalu mengenakan peci. Kapan pun, di mana pun. Peci kesayangannya tak pernah lepas dari kepala. Bahkan hingga ia jatuh tertidur, peci itu bisa saja nangkring menutupi wajahnya, hingga dapat menyaring suara ngorok yang keluar dari mulutnya. Sebagai cucunya, sesekali saya iseng membuat kakek kelimpungan. Satu-satunya peci miliknya, dan hanya seminggu sekali dicuci itu, beberapa kali sengaja saya sembunyikan. Kalau sudah begitu, keributan akan terjadi. Karena ada banyak cucu, merekalah yang kemudian menjadi sasaran tuduhan. (more…)

Ujian
August 31, 2014


Cerpen Makanudin (Republika, 31 Agustus 2014)

Ujian ilustrasi Rendra Purnama

Ujian ilustrasi Rendra Purnama

Ia duduk lelah di kursi depan rumahnya. Membuka beberapa kancing baju bagian atas dan mengipas-ngipasinya dengan sobekan bekas kemasan minuman ringan alas lipatan pakaian-pakaian yang tertumpuk di atas meja. Lalu, mengelap wajah dengan selembar pakaian.

Lalu, terdengar derit pintu berkarat. Imah, istrinya keluar, lama berdiri dalam keterheranan, “Tidak biasanya, Bang.”

Ia mengerti maksud perkataannya, tapi tidak segera menjawab, masih merasakan panas yang belum juga reda. “Ingin pulang saja.” Suaranya setipis detak jam di dinding rumah. Ia terus mengipasi dadanya yang masih basah keringat. (more…)

Pacar Putri Duyung
August 24, 2014


Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 24 Agustus 2014)

Pacar Putri Duyung ilustrasi

TAK ada yang mencintai laut melebihi laki-laki itu. Hari itu, seperti kemarin-kemarin juga, Gede duduk di tepi laut, membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari, hingga mengubah kulitnya menjadi kecokelatan, rambut hitamnya menjadi kemerahan. Sepasang kaca mata hitam yang mencantol di hidungnya, membuat ia lebih nyaman memandang jauh ke samudra. Ia sedang menunggu ombak. Jika ombak yang dinantinya tak datang selama beberapa saat, ia akan melinting ganja, dan setengah jam sekali ia akan terus-menerus mengisapnya hingga kepalanya serasa berputar. Putaran di kepalanya itu mengingatkan ia pada wave tube. Saat ombak bergulung-gulung dan ia berselancar mengejar pipa ombak yang memanjang. Sering, jika sudah terlalu banyak ganja, matanya akan memerah. Kacamatanya akan berfungsi menutupi mata merah itu. Ia akan terlihat setengah mengantuk, tapi penglihatannya justru makin jelas dan tajam. (more…)

Ratapan Naila
August 24, 2014


Cerpen Ahmad Bayhaki (Republika, 24 Agustus 2014)

Ratapan Naila ilustrasi Rendra Purnama

Ratapan Naila ilustrasi Rendra Purnama

Suram kaca jendela, mengabarkan bahwa di luar gerimis sedang turun membasahi malam. Di kursi meja belajar, Naila duduk sambil menuliskan sesuatu pada lembar buku tulisnya. Sebuah lampu belajar menyala terang di sudut permukaan meja. Di sudut yang lain, sebuah jam weker kecil berbentuk apel berwarna hijau, menusukkan jarum pendeknya pada perut angka delapan.

Dari pintu kamar yang tak terkunci, Wulan, ibu Naila, masuk dan menghampiri Naila. (more…)

Keputusan Ely
August 3, 2014


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 3 Agustus 2014)

Keputusan Ely ilustrasi Seno

ELY mengemas semua yang tak bisa ditinggalnya. Bahkan suara burung-burung di pohon akasia yang berkicau sepanjang hari sudah dia masukkan ke dalam toples. Dengan secongkel cat warna merah jambu dari ayunan di taman belakang rumah, dan cacing-cacing pada tanah gembur dari taman ayahnya.

Saat meninggalkan ayah Ely, ibunya hanya berkata maaf. Ayah Ely di kursi roda tak menyahuti. Ia hanya dapat menatap mata istrinya. Melihat itu, Ely ingin menghamburkan tubuh ke pangkuan ayahnya. Namun, kakak Ely sudah berdiri di belakang kursi roda. Hanya menggelengkan kepala, lantas mengangkat dagu mengusir Ely. (more…)