Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 27 Juli 2014)

Ziarah Lebaran ilustrasi Pata Areadi

DIK, maaf, sudah lama aku tak mengunjungimu. Apa kabarmu? Kapan kali terakhir aku datang ke sini, ya? Aku lupa. Kau? Entahlah, pastinya sudah lama sekali. Aku memang sangat sibuk. Sepanjang pekan, berhitung bulan, tak terasa sudah setahun. Mungkin lebih. Bahkan 24 jam sehari pun kadang-kadang terasa kurang.

Begitulah, pada akhirnya aku memang harus mewujudkan cita-citaku, Dik. Cita-cita yang dulu, yang setiap kali kuungkapkan, tak pernah kau sambut gembira. Kau bilang, untuk apa menyibukkan diri dengan perkara yang memusingkan, padahal hidup kita sudah tenang. Politik, menurutmu, hanya akan membuat tidur kita didatangi mimpi buruk. Waktu itu aku tertawa hingga terbahak-bahak. Sebab, kau terlalu naif. Dunia bukan sekadar tempat numpang lewat. Jika pun singgah di kedai, sungguh sayang kalau hanya bisa minum kopi. Hidup tenang bukan tolak ukur kebahagiaan. Kita tak bisa sepakat perihal pandangan ini. Tapi aku tahu bahwa kau sepenuhnya tahu, cita-cita ini sudah kupupuk jauh sebelum kita bertemu, dan kau juga tahu, aku bukan orang yang gampang menyerah.

Jika sekarang aku membenarkanmu, jangan salah kira, ini bukan penyesalan. Sama sekali bukan. Aku hanya ingin berbagi cerita. Bukankah memang hanya kau tempatku menumpahkan segenap rasa dan beban pikiran? Kau masih bersedia mendengarkan aku, kan? Kau tidak marah karena aku tidak membawa bunga, kan?

Terus-terang, ada kalanya aku lelah, dan berpikir untuk menyerah. Tapi setiap kali hampir sampai di titik ini, entah bagaimana, selalu ada hal-hal yang justru membuat semangat itu kembali menggebu. Semangat yang menumbuhkan keyakinan bahwa aku bisa, aku mampu, dan pantas memperjuangkannya. Satu di antaranya adalah analisis berdasarkan hasil survei lembaga-lembaga tepercaya bahwa akulah kandidat terdepan. Tidak ada figur lain yang lebih berpeluang dariku. Figur yang ada masih orang yang itu-itu juga: politikus tua yang telah berkali-kali kalah, pengusaha bermasalah, dan pensiunan jenderal yang tak populer. Partai-partai yang mereka pimpin juga buruk dan hina di mata rakyat, lantaran ulah kader korup. Jadi, sekiranya pun mereka mengeroyokku, aku yakin dapat menekuk mereka dengan sekali pukul.

Aku lega. Sampai kemudian, dari tempat yang tak diduga-duga, muncul figur lain, yang juga tak disangka. Di balik tongkrongannya yang serba tak meyakinkan, dia menyimpan potensi sangat membahayakan bila dibiarkan berkembang. Coba kau bayangkan, dia mampu mengerjakan apa yang tak pernah bisa kulakukan bahkan dalam angan-angan sekalipun. Dia dicintai dengan tulus, dan dalam berbagai kesempatan, langsung maupun tidak langsung, dipuja dan dipuji, digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan, dengan cara yang mengharukan. Sementara kau tahu, aku sangat paham betapa kebanyakan orang di sekelilingku hanyalah para penjilat.

Tapi seperti kukatakan tadi, aku tak mungkin mundur. Sudah terlalu banyak pengorbanan yang kulakukan, Dik. Waktu, tenaga, uang, bahkan dirimu.

Advertisements