Cerpen Budi Saputra (Suara Merdeka, 13 Juli 2014)

Luka Bakar ilustrasi Toto

Segalanya begitu cepat berubah. Ketika hari terburuk dalam usianya itu terjadi, di ambang pintu, ia hanya bisa menahan tangis sambil memegang luka bakar di tangannya. Berdiri tersandar, menyaksikan istri dan ketiga anaknya berlalu menuju kejauhan. Ia tak kuasa untuk menahan, memberi sedikit penjelasan perihal ujung pangkal mimpi buruknya yang mahaaneh itu. Setelah 12 tahun meniti bahtera, ia pun harus menerima kenyataan pahit. Tinggal sendirian, dalam kesepian yang kian menyeramkan.

Kepergian anak dan istrinya itu, sungguh akhir dari masa jaya yang pernah direngkuhnya. Sebuah toko dengan segala kebutuhan, ia rintis dari modal uang pinjaman seorang temannya itu. Ia sendiri pun tak pernah menduga, tokonya begitu laku keras hingga kerap menimbulkan antrean yang panjang. Dalam waktu singkat, orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, seakan tak memiliki jalan lain untuk membeli kebutuhan sehari-hari selain menuju toko yang tepat berdiri di sisi kiri rumahnya itu. Barang-barang pesanan pun tak pernah sepi dikirim melalui para pengecer sembako ke tokonya.

Namun begitulah pada akhirnya. Keakraban yang dijalin dengan orang-orang yang berlangganan belanja padanya, hanyalah daftar panjang utang piutang yang tak kuasa dielakkannya. Atas nama kebaikan, baginya sungguh tak masalah untuk meringankan beban orang lain. Begitu para pelanggannya datang untuk mengutang, ia sama sekali tak pernah menolak. Barang-barang kebutuhan sehari-hari akan ia bungkus dan tak lupa ia mencatatnya di daftar utang-piutang yang kian hari kian rumit itu. Istrinya yang awalnya tak merasa keberatan, lama kelamaan pun mulai gerah melihat jalan pikirannya.

Istrinya tentu tak yakin utang-piutang itu akan segera dilunasi atau malah dibiarkan mengendap begitu saja. Tak jarang, pertengkaran ia dan istrinya pun tak terelakkan. Utang-piutang itu akhirnya memang banyak yang tak terlunasi. Dugaan istrinya benar bahwa para pendatang yang merupakan pelanggannya itu, yang kebanyakan buruh sebuah pabrik yang barangkali tak diperpanjang kontraknya, telah banyak angkat kaki dari rumah sewaan. Menghilang begitu saja tanpa memberi kabar padanya.

Ia pun merasa tak berdaya. Puncaknya, ketika anak sulungnya jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk pengobatan anaknya itu. Pikiran istrinya yang melihat si sulung jatuh sakit, menjadi kian runyam dan tak henti-henti menyalahkannya dalam pertengkaran yang telah lama merembes ke telinga tetangganya itu.

Perlahan, satu per satu barang berharganya pun dijual untuk biaya pengobatan si sulung yang terbaring lemah di rumah sakit. Tak pelak, pada suatu hari ia pun termenung di belakang rumah lantaran kondisi anaknya tak kunjung membaik meski telah banyak harta benda terkuras. Pintu tokonya pun lebih sering terlihat tertutup.

Pagi itulah awal dari cerita menyeramkan di balik luka bakar di tangannya. Sebetulnya, ia akan bersiap untuk ke rumah sakit setelah berkunjung ke rumah salah seorang saudaranya. Begitu meluncur tak jauh dari rumah saudaranya itu, sebuah kebakaran hebat yang membakar sebuah ruko tepat berada di depan matanya. Dan entah kekuatan apa yang mendorong dirinya. Tiba-tiba saja, ketika melihat seorang bocah terkurung dalam kobaran api, ia pun segera berlari ke arah bocah itu. Tapi begitulah. Yang terjadi sungguh pemandangan memilukan. Bocah yang hendak ia tolong itu tak berhasil diselamatkan. Ia pun menjerit kesakitan, lantaran tangan kanannya mengalami luka bakar yang cukup berat.

Luka bakar di tangan kanannya itu tak serta merta sembuh dengan begitu cepatnya seperti yang ia perkirakan. Terlebih semenjak kejadian itu, ia pun kerap didatangi mimpi-mimpi yang aneh. Setiap mimpi-mimpi aneh itu mendatanginya, tak jarang ia merasakan tangan kanannya kepanasan bagai tersulut bara api.

“Arrghh,” ia mengerang kesakitan begitu tersentak di sisi istrinya. Pada suatu malam, dan untuk kesekian kalinya ia bermimpi dengan peluh dingin membasahi tubuhnya. Istrinya yang melihatnya kerap seperti itu, begitu bingung dan mulai dihinggapi pikiran-pikiran buruk perihal dirinya.

Ia pun menyadari. Luka bakar yang ia alami dan mimpi-mimpi aneh yang kerap mendatanginya, memang terasa begitu berat baginya. Tak jarang, pada tengah malam ia kerap meracau dan berteriak begitu melihat sosok aneh dalam mimpinya. Sempat pula timbul dalam pikiran istrinya, bahwa, mimpi-mimpi aneh yang mendatanginya di tengah malam itu, apakah karena diguna-guna? Entahlah, ia sendiri bingung, dan sempat berpikir, ia akan memotong tangan kanannya agar luka bakar dan mimpi-mimpi aneh itu segera lenyap.

***

LUKA bakar di tangan kanannya memang telah mulai sembuh. Beberapa kegiatan yang sebelumnya tak bisa ia lakukan dengan tangan kanannya, telah bisa ia lakukan sendiri tanpa dibantu sang istri yang kadang dilakukan dengan perasaan terpaksa padanya. Mimpi-mimpi aneh yang kerap mendatanginya di tengah malam itu pun telah lenyap. Meski kadang istrinya mendapatinya meracau, menyebut nama orang-orang yang pernah berutang padanya.

“Sejak dulu begitu. Makanya, inilah akibat kesalahan Bapak dalam berjualan,” keluh istrinya, ketika ia kembali meracau pada malam hari.

Ia tak peduli keluhan istrinya itu. Melihat luka bakar di tangan kanannya telah mulai sembuh, ia girang bukan kepalang. Perasaan bahagia jelas terpancar di wajahnya. Tapi yang paling membuatnya bersyukur, tentu perihal kesembuhan anaknya, dan rencana untuk memotong tangan kanannya telah ia kubur dalam-dalam. Meski istrinya pernah menyebutnya kurang waras, lantaran tokonya mengalami kebangkrutan, dan harta benda terkuras untuk pengobatan anaknya, ia tak peduli. Ia jelas bahagia lantaran telah terbebas dari mimpi-mimpi aneh itu, dan bisa berjualan lagi meski dengan modal yang sangat kecil.

Tak berselang lama dari kesembuhan luka bakar di tangan kanannya itu, nyatanya, ia pun mengalami kejadian yang tak kalah aneh dari yang sebelumnya. Tepat pada hari keempat puluh setelah kesembuhan itu, kali ini, giliran kedua tangannya yang mengalami luka bakar.

Malam itu, sungguh malam yang sangat mengerikan baginya. Dan bagi istrinya, malam itu adalah benar-benar malam dari puncak kejenuhan dan kesabaran.

Bermula dari sebuah mimpi yang saat itu juga diiringi hujan yang sangat lebat. Di dalam mimpi itu, ternyata ia melihat kedua orang tuanya tengah berada di dalam neraka. Kedua orang tuanya itu menjerit minta tolong. “Tolong kami. Tolong kami, Nak.” Ia pun melihat dirinya dalam mimpi itu segera mengulurkan kedua tangannya untuk membantu kedua orang tuanya. Begitu ia tersentak dari mimipi buruk itu, ia pun menjerit ketakutan melihat kedua tangannya telah terbakar. Istrinya yang mendengarnya menjerit ketakutan itu langsung mengatakannya gila lantaran dianggap telah membakar tangan sendiri.

Ya, kenyataan pahit itu pun harus ia terima. Istrinya benar-benar menganggapnya gila, dan memilih untuk meninggalkannya serta membawa ketiga anaknya. Mulai di pagi harinya itu, tidak saja kesepian panjang yang akan ia lalui, tapi anggapan gila yang diteriakkan oleh istrinya dan disaksikan oleh para tetangganya itu, sungguh membuat jiwanya tergoncang hebat. Tak berselang lama, anggapan gila itu menyebar luas ke mana-mana. Orang kampung benar-benar percaya bahwa ia telah gila begitu melihat kedua tangannya mengalami luka bakar. Orang kampung pun juga serta merta menjauhinya. Meninggalkan ia sendiri di rumah, yang beberapa perabotnya dibawa pergi oleh istri dan ketiga anaknya.

***

SEMENJAK kepergian istri dan ketiga anaknya itu, ia memang lebih banyak bermenung meratapi nasibnya. Bila keluar rumah , ia pun menutupi luka bakar di kedua tangannya agar tak terlihat oleh orang kampung. Dan ini sungguh begitu berat baginya. Terlebih membayangkan mimpi buruk yang ia alami itu, sungguh membuatnya kian diserang kesepian yang menyeramkan bila malam tiba. Setiap kali hendak tidur, ia selalu ingat dan takut mimpi itu akan datang lagi. Sehingga, di suatu malam yang ia tahankan kantuk yang amat berat, ia pun pernah membatin, kapan mimpi-mimpi buruk itu hilang dan berganti dengan mimpi yang baik-baik?

Telah hampir tiga bulan lamanya ia begitu tersiksa dengan mimpi yang ia alami itu lantaran tak berani untuk tidur. Saking takutnya ia dengan mimpi buruk itu, ia pun menyiapkan ember berisi air untuk merendam kedua kakinya jika sewaktu- waktu ia tertidur lantaran tak tahan lagi menahan kantuk. Tak jarang pula, ia memilih tidur sambil bersandar di kursi dengan posisi kedua kakinya direndamkan ke dalam ember.

Ia tentu sangat menginginkan mimpi-mimpi yang baik itu segera datang padanya. Malam itu, akhirnya ia memilih tidur di dalam masjid, dan berharap melihat kedua orang tuanya yang lama meninggal itu berada di dalam surga. (*)

 

 

Padang, 2014

— Budi Saputra, alumnus STKIP PGRI Sumatera Barat, lahir di Padang, 20 April 1990. Cerpen dan puisinya tersiar di berbagai media massa.

Advertisements