Fitnah


Cerpen Yenny Grayni (Republika, 13 Juli 2014)

Fitnah ilustrasi Rendra Purnama

Fitnah ilustrasi Rendra Purnama

“Bukan aku yang mengambilnya.” Suara bergetar keluar dari mulut Jannah. Wanita itu dari tadi membela diri di depan mertuanya. Seperti ditahan, air matanya tidak kunjung turun membasahi pipi. Seperti hatinya yang bertahan dari gempuran fitnah sang mertua. Dia ingin kuat walau hatinya sesak menahan marah.

“Apa pun katamu, uang itu harus kembali. Atau, jangan harap Khairul mau menerimamu.”

Sang mertua kukuh mempertahankan egonya. Dalam benaknya, tidak ada hal yang disukai dari menantunya itu. Pikirnya dari dulu, anak semata wayangnya salah memilih calon pendamping. Uang tabungan yang disimpannya hilang. Dan, siapa lagi kalau bukan orang rumah ini pelakunya.

Hanya mereka bertiga. Khairul berangkat bekerja sejak pagi. Ia sibuk dengan cucian di belakang. Dan, selama itu, hanya Jannah yang di dalam rumah. Biasanya, dia membersihkan ruang tamu dan kamar-kamar. Mungkin, saat itulah dia masuk ke kamarnya dan mengambil uang di dalam lemari pakaian. Dugaannya seperti itu.

Namun, ketika dituduh, Jannah berkilah. Dia tetap merasa tidak salah. Saking geramnya dengan tuduhan tersebut, tanpa disadari dikeluarkannya kata-kata sumpah.

“Demi Allah dan demi Nabi Muhammad, saya tidak mengambil uang itu, Bu. Saya memang masuk ke kamar ibu. Tapi, tidak membuka lemarinya. Saya bersumpah demi Allah, Bu.” Terdengar jelas dari nada suaranya bahwa Jannah frustrasi. Itu mungkin cara terakhir melawan fitnah ibu mertuanya.

“Tunggu saja sampai suamimu pulang. Saya akan laporkan. Sekarang kembalikan uang itu secepatnya. Sebelum saya usir kamu dari rumah ini.”

Mendengar ancaman dari ibu mertua, Jannah berlari ke kamarnya. Kini, dia tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya. Bersama itu, jatuhlah air mata yang ditahannya dari tadi. Begitu derasnya, seakan itu luapan dari jiwanya.

Dari dulu, ibu mertua selalu mencari masalah dengannya. Sejak setahun tinggal bersama karena menikah dengan Khairul, dia tidak pernah menampakkan rasa senangnya. Pertama kali menginjak kakinya di rumah itu, sang mertua menyambutnya dengan wajah masam.

“Khairul itu lulusan teknik sipil. Dia pintar. Jadi kamu harus pintar juga.” Begitu kata mertuanya. Awalnya, dia membenarkan perkataan mertuanya. Tapi, seiring waktu, kata-kata itu seperti memojokkan dirinya yang hanya lulusan SMA.

“Salah jika kamu pilih dia.” Suatu hari tanpa sengaja, didengarnya kata itu dari pembicaraan Khairul dan ibunya. Begitu pedih rasanya. Tapi, Jannah seperti berada dalam sekolah kesabaran. Walaupun ia bukan menantu yang diinginkan ibu suaminya, dengan ikhlas dia mau menerima hinaan demi hinaan itu.

“Kalau saja istrimu sarjana. Dia pasti bisa membantu mengerjakan pekerjaanmu.
Atau, mungkin dia bisa bekerja juga.” Segala cibiran didapatinya ketika malam tiba. Saat mereka sedang makan bersama dalam satu meja. Khairul, suami yang tidak pernah mengungkit latar belakang istrinya yang dari pendidikan biasa. Tetapi, dia tidak bisa berbicara banyak pada ibunya. Di satu sisi, ibunyalah yang membuatnya jadi sarjana.

Jauh dari penilaian ibunya yang menganggap dirinya salah memilih istri yang tidak sepadan. Khairul punya maksud sendiri mengapa memilih Jannah sebagai istrinya. Padahal, Jannah bukan berasal dari keluarga berada. Setamat SMA, dia harus membantu keluarganya berjualan sayur di pasar. Jannah memang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, tetapi apa yang menarik darinya adalah bisa menjadi teman baik dan setia.

Mereka berteman sejak SMA. Jannah selalu dipanggil kakak oleh Khairul.
Karena wejangan dan nasihat yang selalu didapatkannya dari Jannah. Diam-diam dia mengagumi sosok Jannah yang selalu berpikir positif dan berteman dengan siapa saja. Pernah dulu, Jannah mengunjungi rumah gurunya yang sakit seorang diri. Semua teman yang lain menolak menjenguknya karena dia terkenal sebagai guru paling kejam di sekolah. Tapi, Jannah keluar dari kotak pemikirannya. Saat itu, yang ada di dalam benaknya adalah seorag guru yang dilanda musibah. Bukan guru yang kejam.

Mereka menikah saat bertemu kembali setelah empat tahun berpisah. Masih sama seperti dulu. Jannah adalah seorang gadis yang ceria. Yang berubah adalah kedewasaan berpikirnya.

Kini, gadis yang dikaguminya itu telah jadi istrinya. Berada di sampingnya ketika lelah bekerja seharian. Mengurut punggung dan pundaknya. Menyiapkan air panas untuk mandi. Dan, tak sekalipun didengarnya keluh kesah dari mulutnya. Bahkan, tentang ibunya. Pikirnya selama ini, rumahnya begitu nyaman dan tenteram. Tidak ada keributan dan perselisihan di dalamnya. Itu sebelum kejadian hilangnya uang. Kini, hatinya mulai resah. Memikirkan nasib Jannah ke depannya. Apakah ibunya akan memaafkan istrinya?

Malam menutup diri dalam kesunyian. Sesekali terdengar suara lalu-lalang kendaraan bermotor yang melewati rumah itu. Di dalamnya sepasang suami istri tidur. Sang istri mengejapkan matanya. Membelakangi suaminya. Dalam hati dia tidak ingin suami melihat matanya yang bengkak.

Perlahan tubuh yang berbalik itu ditarik hingga tampaklah wajah yang ditutupi itu.
Sang suami berbisik, “Bertahanlah, sayang. Ini ujian untuk rumah tangga kita. Tetaplah tenang. Jadilah Jannah yang aku bangga-banggakan. Walau satu orang yang kucintai memfitnahmu. Tidak akan menyurut hatiku untuk mencintaimu. Bahkan, jika kau berbuat salah pun, itu adalah salahku. Apa pun yang menimpamu. Aku akan menjagamu hingga akhir perjuanganku.” Kata itu keluar beriringan dengan derasnya air mata Jannah. Kini, dia menyadarinya. Mutiara itu ada di dalam hatinya. Dan, suaminya adalah pelindung mutiara itu.

Seperti mendapat kekuatan baru. Jannah seakan siap menerima apa pun perlakuan ibu mertuanya. Dia akan membereskan segala kesalahpahaman yang terjadi. Rumah itu harus dibuatnya hangat. Karena dialah ratu dalam rumah itu. Betapa pun tidak sukanya mertua padanya, dia akan menjaga nilai kebaikan di dalam hatinya. Sebuah mutiara yang tersimpan di dalam dirinya. Dia akan terus mengasah mutiara tersebut agar cahayanya sampai ke hati mertuanya.

Besoknya diungkapkan keinginan hatinya.

“Saya ingin mengakui yang sejujurnya, Ibu. Bahwa bukan aku pelakunya. Tetapi, jika ibu tidak percaya tidak apa-apa. Saya terima. Dan, saya akan bayar semua uang ibu yang hilang.”

“Terserah kamu. Dasar pencuri.” Wanita itu mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Tapi, layaknya mutiara. Tidak akan ternodai oleh debu yang menempel. Dia sudah siap. Kata-kata itu seperti pemberi kekuatan untuk lebih memerhatikan mertuanya. Mentalnya siap menerima perlakuan dari ibu suaminya.

Tanpa mengetahui siapa sebenarnya pelaku dari pencuri uang itu, Jannah tetap membayar ganti uang yang hilang. Dengan kemahiran memasak, dia membuka katering di rumahnya. Berkat modal dan doa dari suaminya, dia banyak memperoleh orderan dari tetangganya.

Kini, uang itu sudah dapat diganti. Tapi, wajah masam itu masih memayungi rumah tangga Jannah. Dengan mutiara yang dimiliknya di dalam hati, dia akan terus berbuat baik. Bahkan, kepada orang yang membencinya. (*)

 

Pemilik nama asli Yeni Anggraini ini lahir di Aceh, Bireuen, 24 Juli 1993. Mahasiswa jurusan akuntansi ini kini aktif menulis sastra.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: