Sirene dan Azan Berbuka


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 06 Juli 2014)

Sirene dan Azan Berbuka ilustrasi Rendra Purnama

Sirene dan Azan Berbuka ilustrasi Rendra Purnama

Kabar pengurangan jumlah sopir taksi membuat Sahri dan kawan-kawannya risau.
Kabarnya, keuangan kantor yang mempekerjakannya mulai defisit. Banyak pelanggan menjauhi taksi perusahaan Sahri. Kawan-kawan Sahri berlaku curang. Menarik ongkos melebihi semestinya, mematikan argometer dalam perjalanan, bahkan memutar-mutarkan pelanggan. Akibatnya, ongkos taksi yang seharusnya lima puluh ribu membengkak empat atau lima kali lipat. Tetapi, dipastikan Sahri bukan termasuk yang begini. Dia meyakini perkataan orang bijak; orang jujur bakal makmur.

Kabar tak sedap membuat Sahri khawatir. Sahri mencari ke mana lagi seandainya namanya masuk dalam daftar sopir yang dirumahkan. Menyetir hanya satu-satunya keahlian yang dimilikinya. Nasib orang kecil selalu diimpit kesakitan. Dia teringat kebutuhan tahun ajaran baru anaknya dan kandungan istrinya yang masuk sebelas minggu. Apalagi sekarang bulan puasa. Meski makan dan minum hanya dua kali sehari, tetapi uang yang keluar bisa berlipat-lipat.

“Sahri, menurutmu bagaimana?” seorang kawan berseloroh dengan bibir mengemut kretek, tangan kiri mengipas-ngipas buku teka-teki silang yang basah oleh keringat. Beberapa kancing baju tercerai dari lubang. Sahri maklum kebiasaan kawan-kawannya yang selalu abai pada orang berpuasa. Makan, minum, dan merokok seenaknya.

Sahri menjawab dengan anggukan, lalu melirik jam di pergelangan kanan. Sore seperti ini banyak pekerja pulang atau mencari takjil, kudapan, dan makanan ringan. Asap kretek pekat disembur ke muka Sahri.

“Kamu harus siap jadi sopir truk sampah lagi, Sahri.”

“Semoga tidak. Aku kan sopir jujur, tidak seperti kalian.”

Pembelaan Sahri dibalas sorakan penuh ejekan. Sahri merapikan kemeja dan memasukkan dalam celana. Rambut disisirnya dengan jari. Lalu, melangkah menuju taksi yang terparkir di pinggir jalan.

Sahri bersiap beroperasi. Istirahat mengusir penat dirasa Sahri cukup. Dia harus menarik pedal menjemput penumpang dan mengais rupiah di jalanan.

“Sahri …! Yang semangat! Mungkin ini terakhir jadi sopir taksi. Besok atau lusa siap-siap nganggur.”

Sorai itu ditanggapi enteng. Dibalas dengan lambaian tangan tanpa menoleh ke belakang. Mata Sahri lurus ke arah taksi jambon yang mulai luntur. Dalam hati, Sahri berdoa semoga dapat banyak penumpang.

***

Andai dia boleh meneriakkan protes, Sahri ingin mengadu keras kepada Allah.
Dia merasa kehidupan orang jujur selalu tidak seenak yang tidak jujur. Peribahasa tentang kemuliaan orang jujur hanyalah perhiasan mulut, khutbah di mimbar, dan penutup sebuah dongeng anak-anak. Nyatanya berbalik 180 derajat.

Di televisi Sahri menyaksikan nasib pencuri yang lebih baik. Bermobil mewah, rumahnya banyak, dan besar. Kekayaan dan simpanan di mana-mana. Apa Sahri harus menjadi pencuri untuk berkecukupan?

Kurang jujur apa hidupnya. Ketika pejabat kelurahan mendata keluarga miskin untuk BLT dan bantuan beras miskin, Sahri tidak memelas-melas dimasukkan daftar. Dan, nyatanya dia bukan keluarga paling miskin. Juga ketika ada tawaran menjadi juru ketik dan pesuruh di kantor gubernuran, Sahri menolak karena dia harus mengucurkan beberapa juta untuk pelicin. Kedekatan dengan Allah tidak menjamin kehidupan dunia enak.

“Insya Allah, kita dijamin di akhirat.” Begitu istrinya selalu menenangkan. Untuk lebih baik hidup sederhana bahkan kekurangan asal jujur, daripada mewah namun didapat dari cara salah.

Sahri mengelus dadanya yang kurus. Tulang iganya mencuat ke depan. Sebagai suami dan ayah, Sahri ingin membuat istri dan anaknya bangga memilikinya. Sahri ingin mengembalikan kalung dan cincin maskawin istrinya yang dipinjam sebagai modal usaha namun menguap karena rugi. Sahri ingin memberikan sepeda berkeranjang untuk anaknya. Bulan Ramadhan ini, Sahri ingin membuat rumahnya ceria. Berbuka dan sahur dengan semur ayam. Lalu, merencanakan mudik ke Jawa. Dan, itu semua butuh uang yang tidak sedikit.

“Nasib wong cilik!”

Sahri menyemangati dirinya sendiri. Selicik-liciknya sopir taksi tetap tidak sebanyak hasil korupsi pejabat dan takkan membuatnya kaya mendadak. Sahri fokus di kemudi setir. Matanya awas kalau ada orang melambai menghentikan taksinya. Peluh menetes hingga tangan dan mengecek basah di kemudi setir.

***

Satu jam Sahri berkeliling. Pintu rezeki susah ditebak, seperti nasib cuaca di langit.
Sebelum ini cuaca begitu panas seperti sauna. Dan, sekarang mulai terlihat serombongan mendung yang berdompol-dompol macam duku. Hitam. Tebal. Dan, tak lebih dari sejam azan berbuka berkumandang.

Sahri mengarahkan taksi ke area perkantoran. Mungkin ada satu atau dua orang yang jadi penumpangnya sore ini. Mata Sahri menangkapnya. Seorang wanita muda dengan tas dan kantung belanja sesak memberhentikannya.

“Mangkunegaran, Pak!”

“Siap, Bu!” Sahri menghidupkan argometer. Lalu, kembali menggabungkan dengan mobil dan bus kota yang sesak di jalanan. Menjelang berbuka, jam pulang kantor, jam-jam orang ingin ngabuburit, mencari makanan buka puasa.

Wanita itu meletakkan tas belanjaan di jok samping. Mengeluarkan ponsel dan menjawab beberapa pesan. Setelah itu dikeluarkannya tablet, dia ingin mengubah status di beberapa sosial medianya. Wanita itu tidak menyadari sedang diperhatikan Sahri lewat kaca spion.

“Habis belanja, Bu?”

Wanita muda itu terhenyak mendengar pertanyaan basa-basi dari Sahri.

“Ya. Selesai jam kantor tadi belanja keperluan sahur. Namanya juga ibu rumah tangga.” Wanita itu mencari sebuah nama di tanda identitas yang terpajang di dashboard depan. Wanita itu menemukan nama agar percakapan lebih akrab.

“Pak Sahri? M-nya Muhammad, Pak?” wanita itu bertanya setelah melihat cetakan nama M Sahri.

“Bukan. Kebanyakan beranggapan demikian. M-nya Maskun.”

Wanita itu manggut-manggut, lalu kembali ke layar tablet di tangan.

Perjalanan taksi sangat lambat. Antrean mobil sesak dan hampir tidak bergerak.

“Bisa telat buka di rumah ini,” wanita muda itu gusar.

“Apa mau dilewatkan jalan tikus? Ada beberapa jalan yang bisa memotong.”

“Bagus itu, Pak.”

Sahri membalas dengan senyuman hormat.

“Tetapi tolong mampir di Pusat Jajajan Lembah. Saya ingin membeli beberapa takjil.
Karena pasti tidak sempat sesampainya di rumah.”

Sahri membalasnya dengan anggukan. Wajah Sahri kembali bercahaya. Rezeki sudah di depan mata. Sahri menyusun rencana untuk keluarganya malam ini. Sahri tetap berkonsentrasi penuh pada taksi. Dan, wanita muda itu cengar-cengir di kursi belakang dengan aneka aplikasi sosial media di layar tablet-nya.

“Silakan, Bu!” Sahri menyilakan wanita muda itu untuk membeli beberapa jajajan di Pusat Jajanan Lembah.

“Tunggu sebentar, Pak Sahri!”

Wanita itu keluar dan berhambur bersama para pengunjung Pusat Jajanan Lembah yang berdesakan di kios-kios.

Keringat tiba-tiba membanjiri dahi Sahri. Apa ini tanda Sahri harus melanggar janji untuk menjadi sopir taksi yang jujur? Apa ini kesempatan perdananya untuk berlaku culas? Sahri melihat tablet wanita itu tergeletak di kursi belakang. Sahri yakin itu dihargai beberapa juta. Tetapi, apa Sahri berani melakukannya? Sahri bisa dengan mudah meninggalkan wanita muda itu, masuk ke jalan tikus lain, dan menghilang. Secerdik-cerdiknya wanita muda itu, sopir taksi lebih tahu jalan tersingkat untuk lari.

Sahri mengelap keringat. Lalu, perlahan diinjak pedal gas. Sahri melaju dengan perasaan yang bergurindam sahut-sahutan. Takut. Merasa bersalah. Dan, desiran bahagia karena sekeluarga bisa berbuka enak malam nanti.

Secepat kilat taksi Sahri berbelok ke gang kecil. Laju dipercepat. Sahri menjauh dari Pusat Jajanan lembah. Butuh waktu lama untuk mengejarnya, bahkan dengan ojek tercepat sekali pun.

“Pasti wanita itu tidak bisa mengejarnya,” Sahri menurunkan kecepatan.

Jalanan mulai gelap. Orang-orang semakin sibuk ingin lekas berbuka. Tak berapa lama azan berkumandang. Waktunya berbuka. Sahri meraih botol air mineral dan meneguknya beberapa kali.

Seketika Sahri teringat kalau wanita itu sempat menanyakan namanya. Tiba-tiba kegugupan menguasai Sahri. Wanita itu tentu dengan mudah dapat menemukannya.
Lalu, melaporkan ke polisi. Sahri tidak tenang. Tablet dan kantung belanja wanita muda itu masih tergolek di kursi belakang.

“Duh, mati aku!” gumam Sahri mengumpati kebodohannya sendiri. Kegugupan semakin mendera ketika suara sirene terdengar makin keras.

“Polisi?”

Sahri tidak bisa berpikir jernih. Secepat kilat tablet dan kantung belanja milik wanita itu dilempar keluar jendela. Barang bukti tiada. Sahri bernapas lega. Meski Sahri harus merangkai kebohongan kalau wanita muda itu berhasil menemukannya. Sahri kembali melajukan taksinya. Dan, dari belakang suara sirene semakin mengaum keras dan menebarkan teror. Taksi dihentikan di masjid. Lalu, Sahri melihat sirene itu berasal dari ambulans yang buru-buru lewat. (*)

 

Teguh Affandi, lahir di Blora, 26 Juli 1990. Cerpennya dimuat di sejumlah media nasional dan lokal. Pernah menjadi juara 1 dan harapan 1 lomba cerpen FLP Bekasi, juara 2 lomba cerpen islami UGM, Juara 1 Lomba Cerpen Tangga Pustaka, Juara 1 Lomba cerpen Pulkam 2013, dan cerita terbaik Bentang Pustaka edisi Juli 2013, November 2013, Januari 2014, Maret 2014, dan April 2014.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: