Archive for July, 2014

Ziarah Lebaran
July 27, 2014


Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 27 Juli 2014)

Ziarah Lebaran ilustrasi Pata Areadi

DIK, maaf, sudah lama aku tak mengunjungimu. Apa kabarmu? Kapan kali terakhir aku datang ke sini, ya? Aku lupa. Kau? Entahlah, pastinya sudah lama sekali. Aku memang sangat sibuk. Sepanjang pekan, berhitung bulan, tak terasa sudah setahun. Mungkin lebih. Bahkan 24 jam sehari pun kadang-kadang terasa kurang.

Begitulah, pada akhirnya aku memang harus mewujudkan cita-citaku, Dik. Cita-cita yang dulu, yang setiap kali kuungkapkan, tak pernah kau sambut gembira. Kau bilang, untuk apa menyibukkan diri dengan perkara yang memusingkan, padahal hidup kita sudah tenang. Politik, menurutmu, hanya akan membuat tidur kita didatangi mimpi buruk. Waktu itu aku tertawa hingga terbahak-bahak. Sebab, kau terlalu naif. Dunia bukan sekadar tempat numpang lewat. Jika pun singgah di kedai, sungguh sayang kalau hanya bisa minum kopi. Hidup tenang bukan tolak ukur kebahagiaan. Kita tak bisa sepakat perihal pandangan ini. Tapi aku tahu bahwa kau sepenuhnya tahu, cita-cita ini sudah kupupuk jauh sebelum kita bertemu, dan kau juga tahu, aku bukan orang yang gampang menyerah. (more…)

Bulan Bulat Penuh
July 20, 2014


Cerpen Budi Hatees (Media Indonesia, 20 Juli 2014)

Bulan Bulat Penuh ilustrasi Pata Areadi

BULAN bulat penuh di atas pohon bacang yang tumbuh semarak di halaman rumah. Pendar cahayanya bagai hendak mengganti malam menjadi siang. Membias sampai ke dalam rumah, menyusup lewat celah dinding tepas, membentuk jarum-jarum cahaya dan menembus binar redup lampu minyak tanah yang tergantung di dinding. Angin malam menusukkan gigil pada kulit tubuhmu yang tua dan rapuh. Perlahan kau bangkit dari ranjang, mengansur selangkah untuk meraih lampu minyak, mendekatkan nyalanya ke ranjang, guna memastikan apakah Salminah sudah terlelap. (more…)

Tapai Daun Ploso
July 20, 2014


Cerpen Tiyasa Adfian (Republika, 20 Juli 2014)

Tapai Daun Ploso ilustrasi Rendra Purnama

Tapai Daun Ploso ilustrasi Rendra Purnama

Semenjak pulang dari mushala dan selesai melipat mukena, Wahyuni sibuk di dapur. Tak dihiraukannya Subandi, suaminya yang mengeraskan bacaan Alquran dan zikir pagi hari. Tanah masih gelap dan suara santri tadarus terdengar keras. Hewan ternak di kandang masih tidur tenang. Lebaran tinggal empat hari lagi. Semua wajah puasawan tampak lebih berseri.

Wahyuni mengambil lima kilogram beras ketan yang sore tadi dititipkan kepada tetangga untuk digiling. Sekedok sawah tahun ini hanya menghasilkan sedikit beras ketan. Beras ketan itu Wahyuni pastikan bebas dari kerikil, jagung, atau kulit gabah yang kadang terbawa saat proses penggilingan. Dengan hanya diterangi lampu 15 watt di dapur, tangan sepuh Wahyuni terampil membersihkan di atas tampah. Di tapeni, kemudian diputar-putar agar kotoran berkumpul di tengah. Setelah di tengah, kotoran mudah diraup untuk dibuang. Kerikil dan kotoran hanya memperburuk tapai ketan buatannya. Setelah yakin tidak ada kotoran, Wahyuni merendam beras ketan itu. Butuh sekitar satu jam untuk merendam. (more…)

Rajah Nurbuwat
July 20, 2014


Cerpen Tiyasa Adfian (Suara Merdeka, 20 Juli 2014)

Rajah Nurbuwat ilustrasi Hery

Tidak akan manjur rajah nurbuwat kalau tidak dibungkus kafan perempuan yang meninggal dalam keadaan perawan. Demikian pesan Kiai Arofah kepada Pak Kalimas. Jabatan “kiai” bukan lantaran gemar memberi ceramah melainkan karena Kiai Arofah bisa berurusan dengan hal tak terlihat. Juga karena lelaki yang tak pernah luput mengemut kretek itu selalu memakai kemeja putih seperti baru pulang dari Makkah. (more…)

Menara Dosa
July 13, 2014


Cerpen Maya Lestari Gf (Media Indonesia, 13 Juli 2014)

Menara Dosa ilustrasi Pata Areadi

AJAJIA menemukan sebuah pohon ajaib. Keajaibannya bukan pada lingkar pohonnya yang besar, juga bukan pada batangnya yang begitu tinggi. Sedemikian tinggi seolah hendak menandingi langit. Keajaiban pohon itu terletak pada kemampuannya menyerap segala suara. Barang siapa berbicara di hadapan pohon itu, akan merasakan betapa suara mereka disedot ke dalam setiap pori-porinya, lalu hilang dan tak berbekas dalam ingatan. Pohon itu seolah-olah memiliki kekuatan menghisap segala suara dan ingatan yang berada di dekatnya. Rupa-rupa suara bagaikan sumber energi bagi pohon itu, yang akan ia santap dengan rakus. (more…)

Fitnah
July 13, 2014


Cerpen Yenny Grayni (Republika, 13 Juli 2014)

Fitnah ilustrasi Rendra Purnama

Fitnah ilustrasi Rendra Purnama

“Bukan aku yang mengambilnya.” Suara bergetar keluar dari mulut Jannah. Wanita itu dari tadi membela diri di depan mertuanya. Seperti ditahan, air matanya tidak kunjung turun membasahi pipi. Seperti hatinya yang bertahan dari gempuran fitnah sang mertua. Dia ingin kuat walau hatinya sesak menahan marah.

“Apa pun katamu, uang itu harus kembali. Atau, jangan harap Khairul mau menerimamu.” (more…)