Cerpen Arena Bayu (Suara Merdeka, 29 Juni 2014)

Tulah Si Tulah ilustrasi Farid S Madjid

IA biasa dipanggil Tulah, si pembawa sial yang tak pernah mujur, padahal bapaknya menamainya Ragil, si anak terakhir. Tapi sekarang orang-orang kampung sudah lupa bagaimana melafalkan nama aslinya, jadilah ia akrab dipanggil Tulah.

Nyatanya hidup Tulah tak benar-benar tak mujur, setidaknya menurutnya sendiri. Dua tahun lalu ia berhasil mengawini Tini, si perawan malu-malu yang menunduk ketika dipandang dan merona ketika dipuji. Tini kecil yang bergigi gingsul, begitu Tulah menyebut istri yang selalu menyambutnya dengan teh tawar ketika pulang mencari ikan.

Tapi Tulah juga tak beruntung jika dibandingkan dengan keluarganya. Bapaknya semasa hidup pernah jadi lurah di kampungnya. Kakaknya yang cuma satu sudah hidup di kota, seorang karyawan di perusahaan pelat merah.

Toh Tulah menjalani hidupnya dengan senang hati. Ia memang putus sekolah saat bapaknya meninggal hingga harus menyambung napas dengan mencari ikan. Kebahagiaannya hanya sesederhana pelukan Tini yang menunggunya di rumah. Tapi duri itu tetap ada jika ingat kakak yang membencinya, yang melupakannya, yang menyalahkannya karena merenggut ibu kala melahirkannya, bahkan barangkali juga kakaknya yang mulai memanggilnya dengan Tulah.

Jadilah bersaudara itu berbeda seperti siang-malam. Sang kakak adalah pekerja kantor sukses, sedangkan adiknya tetap di kampung dengan menyandang julukan Tulah, si pembawa sial yang tak pernah mujur.

***

SIANG itu angin pantai menampar seperti amarah. Keras. Matahari sedang terik dan hidung Tulah dipenuhi bau laut yang asin. Butir-butir garam juga menyisa di tubuhnya yang terpanggang matahari.

Oh takdir pesisir.

“Sudah banyak tangkapanmu, kawan?” Si Dardi meneriakinya dari jauh, ah laki-laki pendek itu sudah bersiap pulang rupanya.

“Belum oi, lihatlah baru dapat segini bisa-bisa tak makan aku dan Tini besok,” jawabnya sambil memperlihatkan hasil ikannya yang hanya seperempat wadah.

“Ah sial rupanya Si Tini kawin dengan macam kau,” canda temannya sambil tertawa, “Pulang dulu aku Tulah, salam buat istrimu.”

“Jauh-jauhlah setan macam kau,” begitu Tulah melepas kawannya dengan umpatan dan gurau yang renyah.

Pantai adalah rumah kedua bagi Tulah. Di situ ia menikmati lebih dari separuh harinya, di situ pula ia bercengkrama dengan orang-orang kampung yang senasib dengannya. Canda dan percakapan pesisir itulah yang memeriahkan hari-harinya jika tak sedang bersama Tini.

Hari menjelang sore, matahari terlihat berpamitan dan wadah ikan Tulah sudah terisi tiga perempat bagian. Ini waktunya pulang. Tini dan teh tawarnya pasti sudah lelah menunggunya seharian. Maka bergegaslah Tulah membereskan peralatannya dan minta diri pada pencari ikan lain yang belum menyerah.

“Tin, Abang pulang.” Dia taruh peralatannya di belakang rumah kayunya yang rapuh, dia cari istrinya yang dirinduinya seharian.

“Tini di depan, Bang,” sahut istrinya dari beranda, “Teh tawar ada di dapur, Bang, habis minum ke sini ya.”

Diminumnya teh hangat di gelas tua itu setengah, dibawa sisanya ke depan menghampiri istrinya. “Ada apa, Tin?”

“Ada surat Bang, dari kakak Abang.”

Segera dihampiri istrinya, sempat dicium kening istrinya sebagai pemuas rindu, dimintanya surat dari kakaknya yang bertahun-tahun tak pernah menghubunginya.

“Tumben ya, Tin?”

“Baca dulu, Bang.”

Senja itu membawa bahagia pada Tulah, betapa tidak, surat itu ternyata berisi permintaan maaf kakaknya yang selama ini memusuhinya. Kakaknya mengaku salah dan ingin segera berkunjung. Surat itu juga menjelaskan bahwa sebenarnya kakaknya selalu memantau Tulah, hanya saja ia masih gengsi. Makanya sang kakak begitu ingin meminta maaf karena inilah saatnya perselisihan diakhiri.

“Alhamdulillah, Tin,” senyum Tulah berkembang.

“Selesaikan dulu bacanya, Bang.”Tini ikut tersenyum melihat suaminya yang legam tapi penyayang itu berseri.

Di akhir paragraf, kakaknya memberitahukan bahwa ia masih sibuk dua hingga tiga bulan ke depan. Jadilah ia akan mengutus dulu si Ardi anak tunggalnya yang sudah SMP untuk berlibur di rumah Tulah, mengisi waktu liburan sekolahnya selama beberapa hari.

Bukan main senangnya hati Tulah membaca keseluruhan isi surat itu. “Oh keponakanku akan datang. Keluarga kita akan kedatangan tamu besar, Tin. Kita harus bersiap-siap.”

“Iya, Bang, nanti kita siapkan hasil laut kampung kita pada anak kota itu. Pasti suka iya kan, Bang?”Tini juga ikut bahagia, dibersihkannya sisa-sisa garam di tangan suaminya. “Kita sembahyang dulu, Bang. Magrib sudah bertanda.”

Sepasang manusia yang bahagia itu segera menuju kamar mandi, mengambil wudu dengan air yang samar-samar asin. Mereka sembahyang bersama mengucap syukur pada Yang Memberi Hidup akan anugerahnya hari ini. Lebih-lebih Tulah, sujud syukurnya bertahan lama sekali.

Ah malam itu mereka tidur dengan senyum mengambang.

***

PADA hari keponakannya akan datang, Tulah berangkat ke pantai berbekal semangat tinggi. Ia bertekad akan membawa ikan yang banyak untuk tamu istimewanya. Maka pagi-pagi ia sudah bergegas mendahului teman-temannya yang kebanyakan masih berkain sarung di rumah atau pojok jalan.

“Pagi benar kau, Tulah?”

Tulah menoleh, oh itu Salman. “Iya, Man, ada tamu aku hari ini. Akan kuambil ikan selautan nanti.”

“Oh janganlah, sisakan buatku juga, anakku juga butuh makan nanti,” Salman juga menyahut candaan Tulah dengan gurauan. Dua laki-laki tanggung itu tertawa.

Di pantai, Tulah mencari ikan dengan keringat bercucuran. Semangatnya di ubun-ubun, keponakannya harus puas nanti. Sayang, hingga siang hanya sedikit ikan yang dia dapatkan. Cuma ikan-ikan kecil yang tak bisa diolah jadi masakan istimewa yang tertangkap. Yang besar hanya satu, itu pun ikan buntal beracun yang harus hati-hati mengolahnya.

“Sial, ke mana ikan-ikan hari ini?” umpat Tulah.

Matahari sudah tepat di atas kepala. Tulah ingin menengok rumah dulu, siapa tahu keponakannya sudah sampai. Ah Tulah juga ingin menyambutnya, nantilah mencari ikannya ia lanjutkan lagi.

“Tin, Ardi sudah datang?” teriaknya sesampai rumah.

“Belum, Bang. Tak sabar ya rupanya suamiku ini,” goda istrinya.

Tulah menghampiri istrinya, dia angkat tubuh kecil Tini sambil tertawa. Istrinya kaget. “Eh turunkan, Bang, aku lagi buat bumbu.”

“Tini… Tini, beruntung Abang punya kamu.”

Istrinya tersenyum malu. Gigi gingsulnya mengintip, manis sekali.

Tok tok tok!

“Permisi?”

Suami-istri itu bergegas ke pintu depan, mereka tahu tamu istimewanya sudah datang. Remaja berwajah kota berdiri di sana. Ia belum pernah melihat langsung keponakannya tapi Tulah yakin orang yang di pintu itu pasti tak salah lagi.

“Betul ini rumah Pak Ra….”

“Ragil.” Belum selesai remaja itu menyelesaikan kalimatnya Tulah sudah menjawab. “Aku sudah lama tak mendengar nama itu, Nak.”

Remaja itu bingung.

“Kamu pasti Ardi, ya? Masuk dulu, Nak, maaf rumah kami seadanya.” Kali ini Tini memutus kecanggungan remaja itu.

Ardi ternyata tinggi, kepalanya sudah sampai setelinga Tulah. Padahal usia Tulah lebih dari usia Ardi dikali dua. Rupanya kakaknya mencukupi gizi anaknya dengan baik.

Mereka bertiga duduk di ruang tamu yang berdebu. Jarang ada tamu di rumah itu, kalaupun ada, hanya tetangga hingga tak perlu lagi didudukkan di ruang tamu.

“Naik apa ke sini, Nak?” tanya Tulah.

“Tadi diantar sopir Ayah, Paman. Ternyata jauh juga ya, hampir tiga jam.” Anak itu terlihat lelah tapi wajah antusiasnya tak bisa bersembunyi di balik riangnya.

“Senang kamu di sini, Nak? Bagaimana kabar ayahmu?” Tulah juga tak kalah antusias menyambut anak itu.

“Baik, Paman. Ayah menitip maaf belum bisa langsung datang kemari.”

“Tak apalah itu, kami juga tahu ayahmu sibuk,”Tini menyahut, “Istirahatlah dulu baiknya, Nak.”

Bau bumbu masakan dari dapur tercium sampai ruang tamu.

“Bibi masak? Ardi juga pandai memasak, biar Ardi bantu Bibi saja ya, sudah biasa Ardi pekerjaan seperti ini.”

“Baiklah kalau begitu,” Tulah menoleh ke istrinya, “Ikan sedikit tadi Abang tinggal di dapur ya, olah saja yang bisa diolah. Ini Abang berangkat ke pantai lagi, semoga dapat ikan besar ya.”

Setelah menyimpan barang bawaannya, Ardi segera menyusul bibinya di dapur, sementara Tulah berangkat lagi ke pantai dengan perasaan membuncah. Tak akur dengan kakaknya membuat tahun-tahunnya terasa panjang, dan sekarang semua sudah selesai. Membayangkan istrinya yang menyenangkan, kakaknya yang sukses dan keponakannya yang periang, Tulah tak pernah sebahagia hari itu.

Mungkin juga bahagia itu yang membuat ikan-ikan datang. Wadahnya hampir penuh menjelang petang, ikan tongkol sebesar lengannya juga ada di sana. Rencananya itulah yang akan dia sajikan pada Ardi malam nanti, sedang ikan-ikan lainnya akan dijualnya nanti.

Tulah puas pada tangkapan dan dirinya sendiri. Maka pulanglah ia ingin segera menemui istri dan keponakannya. Langkahnya cepat-cepat seperti kepiting, meninggalkan jejak dangkal di pasir yang bening.

“Tin, Abang pulang, kita makan besar malam ini,” teriak Tulah gembira, dia taruh wadah ikan di tempat biasanya, dia cari istri dan keponakannya.

Tapi tak ada jawaban.

“Tin? Ardi? Di mana kalian?”

Rumah kayunya masih saja hening dan justru debur ombak kejauhan yang menjawab samar. Dia cari dua orang yang membuat harinya bahagia itu di dapur tapi tak ada, peralatan masak dan bumbu masih tergeletak di sana. Pikir Tulah mungkin Ardi istirahat, tapi di kamar juga kosong. Aneh.

“Aku bawa ikan Tongkol, Tin,” dia panggil istrinya sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.

“Ardi, di mana kau, Nak?”

Tibalah langkah kakinya di ruang tamu. Rasa kaget datang lebih cepat dari dosa. Tubuh remaja tanggung yang dicarinya tergeletak di lantai. Tulah berteriak,

“Astagfirullah!”

Tubuh itu tak bergerak meskipun digoyang-goyang. “Nak, Ardi, kamu kenapa?” Wajah remaja itu membiru dengan sirat menahan sakit. Tak ada lagi napas yang keluar dari hidungnya.

“Tin! Tin!” dia cari istrinya ke semua sudut rumah, keringat dingin mengalir di punggungnya. Tulah gugup. Tapi di samping sumur ada kaki ramping yang dia kenali.

Tini.

Tulah terkesiap! Wajahnya sepucat langit berawan.

Dia tengok lagi sekeliling, samar dia lihat ada piring di meja makan. Ikan buntal tangkapannya pagi tadi sudah tergigit sebagian. (*)

— Arena Bayu, penikmat cerpen dan puisi kelahiran Kudus ini tinggal di Semarang

Advertisements