Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 29 Juni 2014)

Slerok ilustrasi Rendra Purnama
Slerok ilustrasi Rendra Purnama

Undangan dari Taris kudekap. Wewangian menguap dari kertas itu. Sungguh tak asing, aroma parfum yang hilang dan tercium secara tiba-tiba. Lebih dari setahun aroma tersebut hilang, namun membekas seperti kerak di kaki dermaga. Bersugesti.

Parfum itu manifestasi keindahan! Koarnya ketika kukritik aroma parfum itu. Kepalaku pening karena menurut penciuman, Taris berlebihan memakainya.

Lebih dari itu, feeling berbicara lain. Taris membentuk kepribadian baru dalam diri seorang yang tak suka aroma parfum atau barangkali dia tak lebih hanya seorang penjual yang menawarkan barang? Ya, Taris memiliki toko, La Tansa de Parfum namanya. Ah, perasaan kadang berlebihan.

Dia mengenalkan berbagai jenis dan merek parfum. Tentu saja, sebagai orang yang tak suka menggunakan parfum, aku sama sekali tak tertarik mengenali jenis wewangian, apalagi mereknya. Bila ada aroma pengusir bau yang melekat di badan, barangkali hanya deodoran. Bukan soal parfum yang melekatkanku dengannya. Perasaan peduli terhadap pendidikan di daerah tertinggal yang membuatku dekat dengan gadis bermata matahari itu.

Taris seorang petualang sejati. Dia aktivis lingkungan. Di kampus, dia konsen menggeluti bidang konservasi lingkungan. Menurutku, Taris perempuan yang unik:
mengambil jurusan ekonomi, tetapi konsen pada konservasi lingkungan.

Cerita bermula ketika Taris melakukan observasi lingkungan di lereng Gunung Raung, pembatas antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Secara detail bercampur empati, dia menceritakan temuan sekelompok penduduk dengan keterbatasan:
pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Slerok nama kampung itu. Tumbuh di kawasan hutan pinus yang dingin dan tak ramah sinyal. Kendati berada di lereng gunung, sumber mata air tak lebih dari sekadar pancuran air keran. Slerok mirip dengan area yang hilang. Pada saat penduduk Kota Jember menyambut gembira event tahunan macam Bulan Berkunjung ke Jember yang go international, masyarakat Slerok bersusah payah di lereng yang senyap nan asing.

“Sebenarnya tak ada yang perlu ditakjubkan melihat kondisi pendidikan seperti itu. Apa yang tidak ada di negeri ini. Meski berganti rezim dan setiap kebijakan diselipkan kata modernisasi dan pemerataan sosial, tetap ada yang terabaikan,” tukasnya dengan alis terangkat dan hampir bersentuhan.

Taris antusias membangun area yang hilang itu. Seakan esok tak akan melihat kampung itu lagi. Salah satu terobosan pikiran yang dikembangkan adalah menghidupkan kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah dasar yang mati suri selama 1,5 tahun.

Sekolah dengan bangunan serbasirap itu memiliki dua ruang kelas. Satu ruang untuk kelas satu, dua, dan tiga, sementara kelas empat, lima, dan enam di ruang yang satunya. Di ruang kelas hanya ada tiga gambar: presiden, wakil presiden, dan burung garuda lengkap dengan lima butir Pancasila. Tak ada peta, buku pengayaan, dan bank data kelas.

“Sekolah itu harus hidup. Sebagian anak sudah ogah-ogahan belajar, lebih memilih mengumpulkan biji mahoni dan sengon daripada turun-naik sekadar belajar cara berbahasa Indonesia yang benar. Kaki-kaki itu lelah setiap hari terluka kena batu cadas jalan setapak. Kasihan bukan, mereka juga anak bangsa.”

Masalahnya hanya Taris seorang yang iba. Taris mengerti di antara para pencinta alam, dalam kondisi seperti ini, hanya aku yang memahami perasaannya. Dan, dia menutup cerita sembari merajuk dengan nada iba: aku butuh bantuanmu.

Uluran tangannya tanpa jeda membuka cakrawala. Alif ba ta tsa, ilmu hitung, cerita rakyat, dan pantun jenaka terselip renyah di antara tawa canda. Bau lapuk sirap dilahap rayap dan aroma keringat lenyap oleh wewangian di tubuhnya.

Tak mudah berdamai dengan masa silam yang sesekali bertandang sebagai rasa sesal.
Namun, tatapan sendu anak perempuan yang terbaring di atas lincak beralas rajutan serabut daun pinus menyadarkan betapa masa silam datang bukan untuk dihukumi, apalagi dirutuki, melainkan menjadi cermin untuk melangkah.

“Sudah kuduga kakak pasti senang,” suara Wulan ringan, namun menjerat leher.

Ada cahaya di matanya. Lidahku menebal. Telingaku mengental. Tangan Wulan terasa dingin menggenggam pergelangan tanganku. Energi itu memberikan keyakinan betapa dugaannya tidak salah.

Bentuk alisnya yang tebal melengkung menipu pandangan seolah dia berbaring karena kecapaian biasa. Sakit yang tak bisa dia lawan seperti sirna oleh senyum yang selalu mengembang. Bibirku berat untuk ditarik, tetapi harus kutarik, demi Wulan.

Malam itu langit bersih meski hanya dengan sedikit bintang. Memasuki pergantian musim, Gunung Raung seperti dipeluk duri-duri tajam. Angin berkesiur membangkitkan bulu kuduk. Deru generator meraung-raung. Sebentar lagi, mesin itu akan mati karena sudah larut malam. Generator itu memiliki nyawa enam jam per hari untuk menghasilkan tenaga listrik.

Benar! Raungan itu kini mati. Rumah-rumah berdinding sirap dengan jarak yang berjauhan seperti sebuah peti mati peninggalan sejarah. Ada suasana dingin, gelap, dan muram bergelantungan di dinding kamar.

Penduduk tak berani membangun rumah yang lebih megah dari itu. Lahan di sana secara legal milik Perhutani yang menanungi area hutan pinus. Memberikan izin permanen membuat masalah tentang urusan klaim kepemilikan lahan. Di samping itu, bangunan permanen susah didirikan karena kontur tanah yang berbatu dan jalan transportasi yang sulit dilalui.

Dari celah dinding sirap, di situ aku leluasa melirik langit dengan dua bintang yang tertangkap oleh pandangan. Kesiur angin berdesir menudung reranting pinus. Deru serangga malam terasa dekat. Ingin kumainkan harmonika, tetapi lidah rasanya terkunci untuk berirama.

Malam seperti kembali mendamparkanku sebagaimana malam pertama di tempat ini. Butuh waktu seminggu tubuhku menyesuaikan diri dengan suhu yang seperti sayatan pisau cukur. Selimut tidak melelapkan mata. Dingin kerap melawan. Semalam suntuk waktu kuhabiskan duduk sengkil, memandang puncak Gunung Raung.

Lolongan anjing menemani pandangan sunyi. Pikiran berkelana pada suatu masa yang melelahkan. Taris pamit untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswi. Skripsinya mandek hampir tiga semester.

“Paling lama enam bulan,” pintanya.

Berat membayangkan saat dia tiada, aku sendiri mengurus enam kelas sekaligus kendati secara realitas hanya ada dua kelas. Karena keterbatasan fasilitas, saat ini dua ruang kelas itu dipakai untuk kelas satu, dua, dan tiga, sementara kelas empat, lima, dan enam ‘dimutasi’ dengan sistem sekolah jarak jauh ke SDN Sumber Gadung, 1,5 kilo di bawah Kampung Slerok. Peran ganda kulakukan: pukul enam mengantar anak kelas empat, lima, dan enam, dan pukul delapan mengajar kelas satu, dua, dan tiga.

Bukan namaku yang tertulis di atas undangan. Undangan ditujukan untuk Ustaz Izzuddin, pengasuh pondok tahfiz, tempat Wulan belajar agama selepas lulus dari sekolah reot itu. Tanggal resepsi pernikahan sudah lewat dua bulan lalu. Wulan sengaja menyimpan undangan warna merah marun itu untuk menunjukkan kabar bahagia kepada seluruh penduduk Slerok. Orang pertama dia pilih adalah aku.

Wulan hanya segelintir bocah lereng gunung yang hidup karena mimpi-mimpi Taris. Taris jago membakar motivasi betapa hidup untuk mengabdi. Dia mampu mengubah keterbatasan menjadi ketak berhinggaan. Dia bukan hanya berhasil meyakinkan bocah-bocah untuk terus meraup ilmu demi menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan, tetapi berhasil meyakinkan orang tua bahwa tak ada yang sulit asal berusaha. Sebagai orang tua, tentu mereka ingin anaknya memiliki kehidupan lebih baik, yang tidak hanya mengandalkan tenaga fisik, naik-turun gunung sekadar untuk bertahan hidup.

Kini, Wulan sudah pergi. Tubuhnya berdiri di puncak Gunung Raung dengan lambaian tangan yang khas. Dia tampak berpamitan sebelum melakukan perjalanan jauh, entah ke mana. Gamitan tangan dingin itu masih membekas di pergelangan tangan. Baru terasa jika rasa dingin itu simbol kepasrahannya pada keadaan.

Akhir-akhir ini, pikiranku dicekoki berbagai argumen untuk meninggalkan Slerok. Apa yang perlu ditunggu lagi. Perempuan yang diharapkan datang tak mungkin kembali. Dia sudah memiliki imam, penuntun hidup. Membangkang pada imam berarti memaktubkan diri menjadi penghianat.

Senyum Wulan, dengan segala perjuangan dan kelelahan, membuat perasaan untuk meninggalkan Slerok menyisakan rasa malu. Dia berjuang membangun harapan sampai di atas kerongkongan. Apakah kakak menyerah dan meninggalkan kami hanya karena Kak Taris tak kembali? Di dalam mimpi, berkali Wulan bertanya.

Dalam kondisi apa pun, puncak gunung tampak berwibawa. Bulan sabit bertengger di atasnya seperti bando anak perempuan yang terlepas. Rindu ini tak pernah berada di titik nadir.

Undangan itu masih kudekap. Dada terasa pecah. Mata jadi perih ingat pesan Wulan: sampaikan salamku pada Kak Taris. Ada senyum di sana. Di puncak Gunung Raung. (*)

 

 

Jember, 1 Juni 2014

(Dedikasi untuk almarhum Ribut Sri Wulandari)

 

Fandrik Ahmad, cerpenis sekaligus jurnalis yang banyak menulis cerita di sejumlah media, seperti Jurnal Nasional, Nova, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Femina, Jawa Pos, dan lain lain. Kini bermukim di Jember, Jawa Timur.

Advertisements