Cerpen Zelfeni Wimra (Media Indonesia, 29 Juni 2014)

Marini dan Marina ilustrasi Pata Areadi

BELUM genap jam sembilan pagi, Marini sudah merangkak masuk kandang. Di dalam kandang itu, ada puluhan ekor ayam liar yang sengaja belum dilepaskan. Marini akan menangkap seekor dari ayam-ayam itu. Ayam bujang untuk melengkapi syarat meminta petuah kepada dukun Pati di kampung seberang.

Selain ayam bujang, Marini juga sudah menyiapkan sebilah pisau dan segantang beras. Juga ada pakaian dalam miliknya dan milik suaminya dibungkus dalam plastik bersama beberapa lembar uang puluhan ribu. Semua menjadi syarat untuk menemui dukun keramat itu.

Belakangan Marini memang sering merasa kehabisan akal melawan rasa cemburu pada suaminya. Dilihat dari rupa, suaminya yang sudah 45 tahun itu tidak begitu menarik lagi. Pekerjaan sebagai sopir truk membuat tubuh suaminya keling dan gempal. Ditambah lagi bau masam keringatnya yang semua itu tentu tidak menarik lagi bagi kebanyakan wanita. Tapi, Marini acap kali tidak kuasa melawan kecurigaannya.

Marini pernah tanpa sengaja, saat melintas sepulang belanja ke kedai, melihat suaminya dibikinkan teh telur oleh Rina yang tinggal di sebelah rumahnya. Rina memesan pasir kepada suaminya. Marini mulai merasa pikirannya campur aduk. Sebab, berdasarkan pengalamannya, setiap kali suaminya minta teh telur, berarti malam harinya, tempat tidur akan dibuat kusut oleh suaminya. Sekarang, Rina, janda beranak dua yang berencana akan menambah bangunan dapurnya itu yang membuatkan teh telur untuknya.

“Ini pasti ada apa-apanya,” pikir Marini.

Sepulang dari mengantarkan pasir itu, Kari, suami Marini, sering menceritakan kekagumannya pada Rina, yang meskipun sudah janda masih mampu hidup mandiri. Rina membuka usaha menjahit. Sekalipun sudah tidak punya suami, ia ternyata masih mampu melanjutkan pembangunan rumahnya.

Kata Kari kepada Marini, “Betapa bodohnya lelaki yang meninggalkan Rina. Padahal, Rina orangnya mandiri. Tapi, sekalipun dia mandiri, Rina sepertinya tetap kesepian. Dia tetap membutuhkan pendamping….”

Kata-kata Kari yang demikian itu pada mulanya tidak terlalu ditanggapi Marini. Namun, berselang hari, ia kembali melihat suaminya pergi ke tempat Rina membuka jasa menjahit. Kari ke sana bukan untuk menjahit baju atau celana, melainkan menanyakan apakah topinya ada ketinggalan di rumah Rina tempo hari saat mengantarkan pasir? Topi cowboy itu memang ketinggalan di rumah Rina.

Itu kali yang kedua. Marini tetap berupaya melawan perasaannya. Ia katakan pada dirinya: ah, itu hanya prasangka yang bukan-bukan saja. Sebaiknya tidak terlalu dihiraukan. Eh, malam harinya, menjelang tidur, saat Marini sudah berdandan cantik, Kari yang dia harapkan akan memperhatikannya malah bercerita soal Rina yang dengan sukarela mencuci topi cowboy-nya. Juga tentang aroma di ruangan rumah Rina yang wangi.

Kari juga mengungkapkan kekagumannya pada Rina yang rajin pergi senam. Meski sudah beranak dua, Rina tetap terlihat ramping. Kari memang tidak secara tegas membandingkan dirinya dengan Rina. Tapi isi perutnya serasa teriris-iris. Itu sama saja membanding-bandingkan.

Marini teringat dirinya yang memang sering tampak lusuh. Untuk membantu suami menambah masukan belanja, ia beternak itik dan ayam. Bagian belakang rumah mereka yang bergaya panggung dipagari untuk kandang itik. Bagian kandangnya juga dijadikan kandang ayam. Tentu rumahnya tidak sewangi rumah Rina.

Sebulan lebih sejak mengantarkan pasir ke rumah Rina, Marini berharap peristiwa itu akan selesai dan tidak berujung pada apa yang sangat dikhawatirkannya. Namun, yang terjadi justru lain lagi. Kari sering terlihat melamun. Ketika Marini menanyakan mengapa melamun, ia jawab sedang pusing memikirkan orderannya yang sepi. Apalagi menambang pasir sekarang harus pakai izin. Tidak boleh sembarang tambang saja. Pemerintah telah mengeluarkan perda untuk mengaturnya. Kalaupun membeli langsung ke penambang ilegal, modalnya lebih mahal. Kari juga bilang, akan mengganti truknya. Tidak lagi untuk mengangkut pasir, tapi diganti dengan mobil kanvas untuk mengecer bahan-bahan kelontong ke pelosok-pelosok kampung.

Menurut Marini, itu alasan yang dicari-cari. Menurutnya Kari sedang melamunkan Rina. Pernah dengan sengaja ia uji suatu kali. Di saat suaminya melamun, ia sengaja menceritakan kalau Rina itu memang tetangga yang baik. Raut muka Kari langsung berubah ceria. Jelas sekali, pembicaraan mengenai Rina sangat menarik baginya. Bisa membuyarkan lamunannya. Lantas, dirinya di mana; dianggap siapa? Sudah tidak adakah dirinya di pikiran Kari? Selain itu, kalau sempat truknya diganti dengan mobil kanvas, tentu ia akan sering pergi ke kota jemput-antar barang. Rute kegiatan yang sama dengan Rina. Hah! Marini tidak mau tinggal diam lagi.

Menjelang menikah dulu, ia pernah dinasihati, mengingat suaminya adalah sopir truk antarprovinsi yang menurut pergunjingan orang sekampung, punya istri di setiap perhentian. Jika itu terjadi, mendiang neneknya berpesan: “Pergilah ke dukun Pati. Dia kan juga masih kerabat ayahmu. Mintalah ramuan rendang kumbang padanya….”

Marini ingat persis nasihat itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menemui dukun Pati. Ketika pertama kali menemui dukun Pati, Marini tidak langsung diberi ramuan. Marini malah ditanyai. Mulai dari jumlah anak, orangtua, punya mertua atau tidak? Ia menjelaskan apa adanya. Perihal anaknya yang sudah tiga. Yang tua sudah kuliah, yang kedua hanya sampai tamat SMP. Dan yang ketiga masih kelas lima SD.

Mendengar penjelasan Marini, dukun Pati menolak memberinya ramuan rendang kumbang. Katanya, dampak ramuan itu memang membuat suami bisa manut dan patuh pada Marini, tapi semangat berusahanya akan menurun. Bagaimana pula nanti, dia berusaha untuk membiayai pendidikan anak-anak?

Marini tetap ngotot minta diberi ramuan itu. Ia yakinkan dukun Pati, bahwa dirinya punya usaha peternakan yang masih mampu menanggung biaya keluarga.

Dengan berat hati, dukun Pati akhirnya menyanggupinya.

“Makanlah sekenyang-kenyangnya tengah malam,” kata dukun Pati memberi arahan

bagaimana membuat ramuan rendang kumbang itu.

“Minum air asam yang banyak. Esok pagi, ketika dari dalam perutmu sudah terasa ada yang ingin keluar, pergilah ke tengah padang. Cari tempat rahasia yang sukar ditemukan orang dan keluarkan semuanya di situ.

“Apabila semuanya sudah keluar, tutup Dengan tempurung kelapa yang sudah dibelah. Jangan buang bungkil kelapa itu. Lalu biarkan sekitar dua minggu. Selama dua minggu itu, awasi tempurung biar tidak bergeser dari tempatnya.

“Usahamu akan berhasil apabila seluruh kotoran yang kau sungkup dengan kelapa itu sudah habis dimakan kumbang tanah. Yang tersisa di sana hanya serbuk tanah bekas galian lubang kumbang. Gali lubang itu dan temukan kumbangnya.”

“Tugasmu berikutnya, rendang kumbang itu sampai kering hingga bisa dijadikan serbuk. Serbuk itulah yang akan kau cairkan dengan air yang sudah dilarutkan dengan pakaian dalammu dicampur pakaian dalam suamimu. Masukkan cairannya ke dalam makanan atau minuman suami yang kau anggap keparat dan mulai memikirkan perempuan lain itu. Akibat memakan atau meminum ramuan yang kau campuri dengan serbuk itu, ia akan menjadi patuh padamu. Dia tidak akan beralih hati. Segala keinginanmu segera dia kabulkan.

“Kau pun akan selalu tampak menarik dan menjadi tumpuan segala-galanya bagi suamimu. Selamat mencoba Marini. Hati-hati, jangan sampai diketahui siapa pun.”

Marini pun dengan sangat hati-hati melakukan semua anjuran dukun Pati. Berselang tiga minggu, Marini sudah berhasil menemukan dan merendang kumbangnya. Serbuk kumbang itu pun sudah dilarutkan bersama pakaian dalamnya dan pakaian dalam Kari. Ramuan itu siap dicampurkan dengan makanan dan minuman untuk Kari.

Hari pertama, kedua, dan ketiga, setelah Kari memakan ramuan itu, dampaknya mulai kelihatan. Kari lebih cepat bangun pagi dari biasanya dan langsung membersihkan bak mandi. Sekaligus, Kari merapikan dapur yang terhubung dengan kandang itik. Pekerjaan yang selama ini tidak pernah dilakukannya, kini dikerjakan sepenuhnya oleh Kari.

Masalahnya tiba pada hari keempat. Kari kembali mendatangi rumah Rina, menawarkan diri memperbaiki kedai Rina. Dengan senang hati Rina mengizinkannya dan tentunya Rina membuatkan Kari teh telur lagi.

Marini langsung menjemput Kari ke rumah Rina yang sedang mengaduk-aduk semen dengan pasir. Kari ditariknya pulang. Kari tidak menolak, manut saja serupa kerbau tua. Kari dikurung di rumah, disuruh tidur dalam kamar. Kari menurut saja. Lalu, Marini pergi menemui dukun Pati. Mengadukan keluhannya.

Pertanyaan dukun Pati sederhana: Siapa Rina itu?

Marini menjelaskan dengan gusar, kalau Rina adalah Marina, saudara kembarnya. Tinggal bersebelahan rumah. Marina sudah tidak bersuami lagi. Sudah cerai.

“Kamu yakin pakaian dalam yang kamu larutkan bersama ramuan itu milikmu?” tambah dukun Pati.

“Yakin. Itu pakaian dalam saya,” jawab Marini.

“Ini di luar kuasa saya,” kata dukun Pati.

“Mungkin karena kalian sedarah, ramuan itu bekerja untuk kalian berdua, Marini dan Marina….”

“Lantas, sekarang apa yang harus saya lakukan?” Marini gemetar. Tubuhnya terasa dingin. Ia pernah diingatkan dukun Pati, kalau penangkal ramuan itu tidak ada. Cairan ramuan itu akan menyatu dengan darah dan daging orang yang memakan atau meminumnya. (*)

 

2014

Zelfeni Wimra, cerpenis dan penyair. Buku terkininya, Yang Menunggu dengan Payung (2013)

Advertisements