Cerpen Yusri Fajar (Media Indonesia, 22 Juni 2014)

Lelaki Berpeci ilustrasi Pata Areadi

BELUM sampai aku menjejakkan kaki di tepian pantai, tiba-tiba aku terkenang dirimu. Padahal aku mengunjungi pantai ini untuk melunaskan kerinduan pada samudra biru. Dulu ketika tempat ini masih bernama pantai Tanjung Kodok, aku, kau, dan kawan-kawan santri yang rata-rata berumur belasan tahun, setiap Jumat berolahraga lari pagi ke sini sambil melihat keindahan karang mirip katak raksasa yang dihempas ombak bertubi-tubi.

Kini Tanjung Kodok telah menjadi resor mewah, dan hamparan tanah di sekitarnya menjelma arena hiburan, mulai dari adu ketangkasan hingga rumah sakit hantu. Kau, sebagaimana aku, tak pernah menyangka, jika area yang dulu kita kenal sebagai lokasi untuk melihat hilal menjelang Ramadhan dan Lebaran, kini bersanding dengan gegap gempita kesenangan.  

Kodri, begitu aku mengenal namamu. Rambut ikalmu sering tertutup peci hitam yang mulai memudar warnanya. Kau bilang, peci itu hadiah dari kakekmu sepulang dari tanah suci. Seingatku kau sering mengenakan peci itu di berbagai kesempatan; saat mengaji, pergi ke sekolah, dan saat berbincang santai di beranda pondok, bahkan ketika kita menyantap hidangan di dapur umum pesantren.

Sudah lama aku tak tahu pasti kabarmu. Ada yang bilang kau pergi ke Poso, Mindanau, bahkan ke Afghanistan. Ada yang berkabar, kau kembali ke Lamongan setelah sadar bahwa tanah kelahiranmu lebih bermakna daripada negeri seberang. Kau ingin mengabdikan diri di pesantren almamater kita. Tapi ada yang mengabarkan kau tengah bersembunyi dari perburuan orang-orang yang ingin menangkap bahkan menghabisimu. Tapi, sebagian besar meyakini kau sudah mati. Tubuhmu hancur berkeping-keping dalam ledakan bom bunuh diri di kota penuh gemerlap lampu.

Setelah beberapa saat menyaksikan gelombang meliuk-liuk, aku bergegas meninggalkan pantai kemudian menyetop mobil angkutan umum di pinggir jalan raya Daendels yang sedikit menurun dan menikung. Tujuanku hanya satu, mengunjungi pesantren tempat kita menuntut ilmu, yang sudah puluhan tahun tak kukunjungi. Aku melewati jalan depan Pasar Wage yang masih saja kumuh dan teronggok di samping deretan perahu di bawah jembatan Paciran.

Begitu tiba di depan gang masuk pesantren, aku naik becak motor. Aku tertegun ketika sampai di halaman pesantren. Ingatanku melesat jauh ke belakang. Awal-awal di pesantren, aku mengenalmu sebagai santri urakan dan nakal. Tak jarang ketika teman-teman sekamar di asrama sedang terlelap, kau menggoda salah satu di antara mereka. Pernah kau mengambil bantal di bawah kepalanya dan memelorotkan sarungnya. Aku menegurmu karena jika teman yang kau kerjai marah, ketegangan dan perkelahian disertai sumpah serapah akan terjadi kembali. Dan sering kali, ketika hari mulai gelap, meskipun dilarang keluar malam nonton fi lm layar tancap, kau selalu mengajakku diam-diam. Kita biasa pulang mendekati tengah malam sambil tak lupa membincangkan fi lm penuh adegan syur yang baru saja kita tonton.

Ketika Kiai Syamsi menjelaskan tafsir kitab kuning dalam pengajian setelah subuh di pendopo rumahnya, kau justru tertawan kantuk di belakang kerumunan teman-teman. Kau gunakan pecimu sebagai bantal. Apakah kau masih ingat ketika tubuh teman-teman yang bersila di deretan depanmu, yang mulanya melindungimu dari pandangan Kiai Syamsi, tiba-tiba tersibak dan mata Kiai Syamsi tertuju pada tubuh telentangmu? Aku tak sempat membangunkanmu. Kau tersentak dan kedua matamu terbelalak ketika Kiai Syamsi mengguncang tubuhmu. “Bangun dan cuci muka segera! Waktunya mengaji malah bermimpi!” bentak Kiai Syamsi.

***

Suatu malam, tepatnya Kamis malam, setelah beberapa bulan kita tinggal di pesantren, kau mengajukan pertanyaan yang mengagetkan.

“Apakah kau mau ikut latihan perang?“ tanyamu, serius.

“Latihan perang? Di mana dan untuk apa? Bukankah negeri kita aman?“ aku penasaran.

“Latihan perang untuk menjadi tentara Tuhan. Latihannya di sana,“ jawabmu sambil menunjuk perbukitan kapur yang terbentang tak begitu jauh dari pesantren.

“Maksudmu?“ “Sudah saatnya kita melawan kesewenang-wenangan dan para penyebar kemungkaran. Jika mau, nanti kuajak kau ke lokasi.“

Aku terdiam. Hampir saja aku larut dan ingin ikut. Dari mana kamu mendapatkan pengaruh pemikiran seperti itu? Kiai Syamsi seingatku hanya sering menegaskan jihad melawan kemalasan, kemiskinan, kebodohan dan korupsi. Dia juga tak pernah mengajarkan tindakan radikal untuk melawan kezaliman.

Mengapa kau tiba-tiba bersemangat sekali untuk mengikuti latihan perang? Belum sempat aku mendapat jawaban, kamu mengeluarkan beberapa buku, majalah, video dan selebaran yang katamu kau dapat dari jauh. Mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan penegakan keyakinan adalah puncak pengorbanan suci. Begitulah salah satu kalimat yang aku baca di salah satu halaman buku yang sudah nampak lusuh.

“Aku ingin belajar mengaji saja. Membaca kitab kuning saja aku belum fasih,” kataku memberikan alasan.

“Pikirkanlah lagi. Menjadi syuhada sangat mulia,” katamu dengan nada meyakinkan.

“Tapi tidak harus dengan cara mengangkat senjata bukan?”

“Musuh sudah lama mengangkat senjata. Kita tidak bisa hanya menggempurnya dengan kata-kata.”

“Apakah orangtuamu tahu dan merestuimu?” Kau diam cukup lama seperti memikirkan sesuatu kemudian menghela napas. Matamu terlihat menyimpan bimbang yang dalam.

“Ini pilihan pribadi. Jika setelah aku melaksanakan panggilan ini aku tak akan lagi bertemu mereka, kuharap mereka mengikhlaskan diriku. Ini kesempatan yang tak akan datang dua kali,” katamu dengan mata masih menerawang. “Meski berat aku tetap ingin mengambil pilihan mulia ini. Sebagai sahabat aku ingin mengajakmu meraih kemuliaan itu.”

“Tapi aku belum berpikir mati dalam perang. Aku belum menikah,” jawabku setengah bercanda.

“Di surga kau akan bertemu bidadari,” jawabmu dengan wajah serius.

“Tapi aku ingin bertemu dan menggandengnya di dunia dulu.”

“Dunia fana tak akan menuntaskan dahaga cintamu. Di surga kau akan mendapatkan segalanya,“ katamu menimpali.

Aku tersenyum tapi tak serta merta mengiyakan ajakanmu.

Esok harinya ketika pasar Wage Paciran sedang ramai, kau menolak ketika aku ajak ke sana. “Ah, sebaiknya aku tak mendatangi lagi penjual aneka tanggalan, stiker, dan poster, yang selalu menyimpan, dan menjual gambar-gambar seronok di dalam tas kumalnya itu. Lupakan itu. Aku tak mau lagi membeli,“ katamu sambil menyambar peci dan melangkah pergi.

Waktu aku menawarimu untuk mengendap-ngendap keluar pesantren untuk menonton lagi film layar lebar di bioskop rakyat di dekat pasar Blimbing yang terletak beberapa kilometer dari Paciran ke arah kabupaten Tuban, kamu juga tak tertarik lagi.

Kemudian tanpa kabar yang jelas kau meninggalkan pertanyaan dan penasaran dalam diri Zaitun Ulyatin, santriwati cantik dari kota asalku, yang pernah kau kirimi surat cinta beberapa kali dan pernah kau ajak berduaan di pantai Tanjung Kodok. Kau tiba-tiba tak pernah menjawab surat-suratnya lagi. Ketika Zaitun mengalami demam rindu, ia bertanya padaku mengapa kau tak pernah menjawab suratnya lagi. Zaitun tak bisa lekas tidur karena setiap malam selalu teringat genggaman tangan dan ciumanmu.

***

Pesantren benar-benar gempar. Kau menghilang dan hanya meninggalkan secarik kertas di daun pintu lemariku. “Aku pamit pergi. Jika kelak aku mati, jangan dikira aku telah benar-benar mati. Aku telah sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan fana dunia ini tak lagi menggairahkanku. Aku tak sabar mempersunting keabadian, menjadi pengantin dalam kekekalan.”

Aku ingin dengan keras memanggilmu. Peci yang biasa kau taruh di atas lemarimu tak kulihat lagi. Para pengurus pesantren mencarimu ke tempat-tempat yang biasa kau kunjungi, termasuk Tanjung Kodok yang kini kukunjungi kembali. Hingga kini aku tak tahu pasti ke mana sebenarnya dirimu.

Meski masih ingin berlama-lama menelusuri setiap sudut pesantren, aku akhirnya meminta lelaki setengah baya yang mengemudikan becak motor untuk mengantarkan aku kembali ke depan gang pesantren. Aku harus segera kembali ke kompleks Wisata Bahari Lamongan. Teman-teman sudah menungguku. Kami harus segera pulang ke Malang sebelum hari beranjak petang.

Di depan teras gedung Al-Hijrah, tempat kita dulu sering melewati malam, aku tibatiba teringat kata-katamu, “Setelah purna kusiapkan diriku, aku akan mengarungi laut, lalu menekan pemicu maut di tubuhku sesampainya aku di pulau yang akan aku tuju itu.” Kalimat itu begitu lekat dalam ingatanku. Jika kau benar membuktikannya, tubuhmu pasti sudah hancur.

Becak motor siap membawaku meninggalkan halaman pesantren. Tapi sayup dari depan pintu kantor pesantren kudengar suara keras memanggil namaku. Aku mengenal betul suara itu, meski lama sekali aku tak mendengarnya. Tapi aku masih ragu. Ketika kubalikkan badan, betapa terkejutnya aku. Bukankah yang berjalan tergopoh-gopoh menuju arahku adalah kamu?

 

 

Advertisements