Firasat


Cerpen Fahdiant Uge (Republika, 22 Juni 2014)

Firasat ilustrasi Rendra Purnama

“BU, tapi ini sudah keempat kalinya. Berturut-turut!” kalimat Shafira bergetar. Ketakutan.  Air teh panas yang di tuangnya membuat gelas beling bening retak. Air teh memenuhi meja makan. Menetes ke lantai. Shafira mengempaskan teko. Ada embusan putus asa atas kepungan firasat buruk di benaknya.

“Kamu ini termakan sinetron. Gelas retak itu biasa. Kualitas pabrik sekarang menurun,” ibunya tidak menggubris. Konsentrasinya tertuju pada mangkuk berisi sayuran dan lauk yang dihidangkan di meja makan. Dalam hati, ibunya membenarkan hipotesis tersebut. Shafira berusia 30 tahun, tetapi kekanak-kanakan. Bagaimana jadi istri orang jika setiap kejadian diartikan firasat buruk? Bisa makan hati. 

“Apa ini bukan sebuah tanda buruk, Bu? Gelas ini retak berturut-turut.”

Shafira berhenti menyiapkan hidangan makan siang, lalu terduduk lemas di kursi. Sinar matahari yang tembus dari genteng kaca menyinari pipi dan bahunya. Membuat kulit Shafira yang gelap menjadi terang. Bulir keringat dan hitam jelaga di pelipis kanan luput dari perhatian.

“Bukan berturut-turut, Shafira. Kamu berlebihan. Kamu terlalu memikirkan perihal gelas retak. Yang pertama itu dua bulan lalu, saat ada pengajian ibu-ibu di rumah. Yang kedua pada awal bulan lalu dan itu juga karena wedang jahe bapakmu terlalu panas. Ketiganya itu gelas baru, kan? Aku yang keempat lupa.”

“Dua hari lalu ibu.”

“Ya! Yakin saja itu sebagai peristiwa alami. Gelas sekarang semakin buruk karena dibuat dari bahan daur ulang. Jadi, wajar kalau mudah bentet, retak kalau terkena air panas.”

“Tapi, Shafira masih khawatir. Apa ini pertanda buruk?”

“Kamu benar-benar susah dinasihati. Sembahyang dulu saja, tamumu datang lima belas menit lagi.”

Shafira beranjak dari kursi. Matanya tidak ikhlas menerima kesimpulan ibunya. Shafira masih memendam rasa tidak enak dan firasat buruk yang memenuhi kepalanya. Rapalan doa dan taawuz belum mengusir firasat yang berupa wahyu dari Allah atau embusan prasangka buruk dari setan. Lima kali berturut-turut gelas retak di tangan Shafira, meskipun berjeda lama, membuatnya takut. Terlebih, saat itu bukan siang yang biasa. Siang yang menjadi awal sejarah hidup Shafira.

Sebentar lagi rombongan Galang datang melamar bersama rombongan keluarganya.  Melingkarkan cicin emas di jari manis Shafira dan membuat rencana akad nikah digelar.  Pertemuan ini akan menjadi mula pertautan dua jiwa dan keluarga. Hidangan makan siang untuk rombongan Galang, yang akan menjadi suami Shafira. Maka, peristiwa yang menurut Shafira sebagai firasat buruk itu membuatnya galau. Shafira tidak ingin rencana indah menjadi sia-sia.

“Semoga tidak terjadi apa-apa. Ya Allah, mudahkanlah urusan saya,” Shafira bergumam sambil berjalan menuju kamar mandi.

***

Firasat hanyalah tanda. Tanda tak selamanya menggambarkan peristiwa. Pertemuan dua keluarga sebagai awal mula proses pernikahan antara Galang dan Shafira, berjalan lancar. Tidak ada hal yang dicemaskan oleh Shafira. Galang tidak lupa membawa peningset, berupa cincin dan kalung emas, serta beberapa buah tangan berupa kue tradisional dan buah segar. Sebaliknya sebagai isen keranjang, bingkisan balasan dari keluarga Shafira, disiapkan jadah dari ketan pulen, dodol krasi kan, dan pisang raja hasil kebun sendiri. Berbalas bingkisan hal wajar saat proses nembung, lamaran.

Shafira tersenyum. Pipinya merona bahagia. Keluarga Galang pulang membawa rencana pernikahan indah. Shafira pun demikian. Firasat buruk beberapa jam lalu menguasai pikirannya lenyap dan tergantikan dengan bayangan yang indah. Menjadi istri Galang, menjadi ibu, dan berbakti kepada suami.

“Kamu bahagia sekali, Shafira.” Ibunya menggoda. Mereka sedang merapikan piring, mangkuk, dan gelas kotor di meja makan.

Shafira membalas bahagia. Tidak ada yang membahagiakan wanita selain menerima lamaran pria.

“Masih percaya kalau gelas pecah lima kali itu firasat buruk?”

Shafira menggeleng. Shafira berlidah kelu. Seolah kalimat dalam kepalanya terisap rasa bahagia di dada. Hingga hanya senyuman dan pipi memerah yang tersisa.

“Terus saja berdoa agar Allah memudahkan urusanmu dengan Galang.”

“Dua bulan lagi, Shafira bakal jadi istri orang, Bu.”

“Insya Allah.”

Shafira kembali mengambil perabot di meja yang kotor. Lalu, mengumpulkan dan membawanya ke bak pencucian. Dari mulut Shafira terdengar gumaman lagu ceria.

Masih merasa tidak percaya kalau ada pria yang melamar. Meski Galang berstatus duda, itu tidak menjadi masalah bagi Shafira. Sebelum bertemu Galang, Shafira tidak percaya pada kekuatan jodoh. Shafira rela jika selamanya menjadi perawan tua. Aneka usaha dikerahkan agar jodoh mendekati Shafira.

Mulai dari perjodohan dengan kerabat jauh, dikenalkan santri seorang kiai, berpacaran. Tetapi, semua gagal. Bahkan, usaha yang baru yaitu menjalin kedekatan dengan duda yang juga wali murid seorang siswanya. Tetapi, belum berjodoh. Ternyata, Galang meski duda akan menjadi labuhan bakti Shafira sebagai istri nantinya.

Peristiwa gelas pecah karena dituangi teh panas oleh Shafira memurukkan hatinya. Membuat Shafira yakin jika Allah menakdirkannya sebagai perawan seumur hidup.

Sambil mencuci piring Shafira terus mendendangkan lagu ceria dan mengumbar senyum bahagia.

***

Pagi setelah subuh, badan Shafira lemas, matanya berat, kepalanya seperti digantungi bola besi satu kuintal. Menjerat sakit. Perutnya melilit. Dilihatnya kalender duduk di meja rias Shafira. Bulatan merah melingkari dua hari lagi. Apa siklus bulanan Shafira datang lebih cepat?

Hal demikian biasa dirasakan perempuan. Shafira didera sakit datang bulan.
Meski dua puluh tahun mengalaminya setiap bulan, tetapi sakit di perut akibat peluruhan membuat Shafira lemas. Dan awal bulan ini, sakit di perut Shafira terasa lebih sakit.

“Sebaiknya aku izin tidak masuk sekolah. Perutku tidak bisa ditahan.”

Dengan tubuh masih tetap merebah di kasur, Shafira mengirim pesan kepada Galang agar menyampaikan izin kepada sekolah. Dan, menunjuk guru lain untuk mengisi jadwalnya hari ini. Tak berlangsung lama pesan itu dibalas Galang. Tiap kalimat di pesan pendek Galang dan doa agar lekas sembuh di kalimat terakhir, sedikit melegakan nyeri dahsyat.

Jika masih saja sakit, lekas periksa. Jangan sampai kelasmu kosong. Syafakillah, Shafira.

Doa melalui pesan digital terasa hingga ulu perasaan Shafira.

Hingga lepas Zhuhur, sakit itu tidak berkurang. Seperti ada ratusan jarum menyerang rahim Shafira. Ada tendangan dan pukulan ganda yang bergantian menghantam. Sakit luar biasa. Untuk sekadar beranjak ke kamar mandi, Shafira harus dipapah ibunya.

“Kamu kenapa Shafira?”

Shafira menggeleng sambil meringis menahan sakit.

“Semoga hanya sakit datang bulan saja,” ibunya menyorongkan jahe panas untuk meredam perutnya. Lalu, disodorkan minuman kaleng pereda nyeri haid. “Sebentar lagi dokter Desi datang. Ibu memanggilnya untuk memeriksamu. Ibu khawatir.”

Shafira mengangguk. Jahe hangat diteguk. Sekaleng minuman pereda nyeri haid dihabiskan. Lalu, Shafira kembali rebah di kasur.

***

Shafira teringat gelas yang retak untuk kelima kalinya. Apakah ini adalah firasat akan terjadinya sesuatu yang tidak enak?  Shafira mengelap air mata yang menetes hingga dagunya. Hasil pemeriksaan sementara dokter Desi membuat Shafira ketakutan. Meski belum bisa dipastikan positif, tetapi tanda-tandanya rahim Shafira terkena virus rubella. Virus yang bisa mengancam janin nantinya.

“Shafira, Galang datang.”

Shafira terhenyak dari keliaran pikirannya. “Suruh tunggu saja di luar, Bu. Shafira ganti baju dulu?”

“Sudah bisa jalan?”

“Insya Allah.”

Shafira merapikan pakaian dan berjalan tertatih ke ruang tengah. Galang sudah datang dengan bungkusan buah di meja.

“Kok kamu ke sini?”

“Jenguk kamu. Bagaimana sudah enakan?”

“Masih nyeri.

“Apa kata dokter Desi?”

Shafira langsung terpojok.

“Tidak apa-apa. Hanya nyeri haid yang luar biasa saja. Besok atau lusa juga sudah baikan.” Shafira berbohong.

“Syukurlah kalau begitu. Soalnya tadi Bu Wigati dan Bu Harini khawatir kalau rahimmu kena virus Torch. Kamu kan suka menggendong kucing. Dan, katanya Torch bisa membuat janin mudah keguguran.”

Shafira wajahnya kusut. Senyumnya dibaik-baikan.

“Ah semoga tidak!”

“Istriku yang pertama kuceraikan karena mandul.”

Tengkuk Shafira meremang. Dia teringat peristiwa gelas retak sebelum Galang melamarnya. Ibunya tidak percaya itu firasat buruk karena gelas sekarang berbahan baku kurang baik. Tetapi, Shafira mulai percaya itu sebuah firasat, entah baik atau buruk. Shafira berusaha berbaik sangka akan takdir Allah.
 

Juni, 2014

Fahdiant Uge, belajar menulis di Kampus Fiksi, Penerbit DivaPress Yogyakarta.
Cerpennya dimuat di Suara Merdeka, Cempaka, dan Koran Merapi.

 

7 Responses

  1. nggantung -_- tapi bagus

    Like

  2. iya, masih gantung ceritanya
    tapi boleh lah
    baca juga cerpen amatiran saya ini ya
    http://lukiluck11.blogspot.com/2014/06/cerpen-lost-love.html

    Like

  3. bagus, kalo nggantung kan cerpen, panjang ya jadi novelit!

    Like

  4. Terimakasik atas cerpennya ceitanya menarik sekali!

    Like

  5. bagus *^_^*

    Like

  6. Yes, ringan tapi bagus

    Like

  7. bagus, realisnya kuat, meski mencuplik bahan-bahan yang mainstream, namun pengolahannya nggak bikin bosen

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: