Hujan


Cerpen Nufi Ainun Nadhiroh (Suara Merdeka, 15 Juni 2014)

Hujan ilustrasi Toto

“APAKAH hujan terbuat dari kesedihan sehingga setiap kali ada hujan kau menangis?’’

Kau diam. Matamu berkaca-kaca. Sedang suara hujan mungkin menyamarkan pertanyaanku. Atau, kau sudah bosan mendengar pertanyaan itu? Tapi, bukankah kau sangat menyukai hujan? Hujan yang jatuh di atap dan menimbulkan suara aneh, airnya yang menetes satu per satu dari pepohonan, menggaris di kaca-kaca, pun aroma tanah yang perlahan menelusup, katamu sayang kalau dilewatkan.

Tapi, hei hei, kenapa pipimu yang basah? Apakah kau sudah bosan dengan keberadaanku? Atau, kesedihan terlalu tajam merobek hatimu, hingga kau tak bisa menjawabnya, dan kau menangis?

Kau masih bertahan dalam diam. Kau menunduk sambil mendekap lutut. Matamu semakin basah. Sedang guntur kian bergelegar. Langit kian lebam. Kilat tak henti-hentinya mencambuk langit. Dan angin seperti menepi di pohon mangga, pohon pisang, dan menepi di halte bus, toko, masjid, angkringan, rumah penduduk, dan menepi ke tubuh kita yang sama-sama terdiam dalam dingin.

Sesekali kau mengangkat wajah. Wajahmu tak kalah lebam dari langit. Dan air mata semakin deras menggelinding di pipimu. Perlahan urat-uratku menegang. Darahku seperti berdebur, kian mendidih.

“Apakah dia memukulmu lagi?” tanyaku sembari meraih tanganmu.

Kau mengangguk seraya menyandarkan kepala ke bahuku perlahan.

Jancuk! Lelaki keparat!” aku berdiri.

“Jangan, kau mau pergi ke mana?” tanyamu seraya meraih tanganku.

“Apakah kau mau membuatku semakin menderita?” lanjutmu lirih.

“Dia harus kuberi pelajaran.” Suaraku meninggi. Sekujur tubuhku gemetar lantaran marah. “Dia tidak berhak menyakitimu. Dan kau berhak melawan.”

“Tidak. Aku mau kau di sini saja, mengobati lukaku,” pintamu.

“Aku tidak mau dia menyakitimu lagi.”

“Aku mau kau terus seperti itu. Mungkin dengan begitu, aku tak perlu takut bila dia menyakitiku, dan tak khawatir kehilanganmu,” ujarmu sedikit tertahan. Pelan kau memelukku. Erat.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Aku tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan padamu.”

“Aku tak ingin terlihat seperti pengecut di matamu. Dan, kau jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu.”

“Aku tak akan kuat bila kau pergi.”

“Tinggalkan saja suamimu.”

“Itu bukan jalan keluar.”

“Bah! Kenapa kau tidak mau meninggalkannya?” tanyaku geram. Pipimu semakin basah.

Pelan kau melepas pelukanku.

“Aku sudah baikan, kau pulang saja,” pintamu lirih.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Keluargamu pasti sudah menunggu.”

“Hei, kau kenapa? Tidak biasanya kau begitu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian.”

“Suamiku sebentar lagi pulang.”

“Tidak, kau harus ikut denganku malam ini.”

“Ke mana?”

“Ke suatu tempat yang tak ada seorang pun tahu kecuali diriku.”

“Bukankah pergi bukan pilihan yang tepat?”

“Kau meragukan kesungguhanku?”

“Kau tidak pernah ingkar janji dan bertanggung jawab.”

“Lantas, kenapa kau tidak mau pergi denganku? Keluargaku tidak akan tahu akan hal ini. Atau, kalau kau mau, aku siap meninggalkan keluargaku.”

“Tidak, kau tak perlu melakukan itu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau menyakiti siapa pun.”

“Apakah kau sadar, kau menyakiti dirimu sendiri. Dan aku tidak mau itu terjadi.”

“Sudah terlambat.”

“Tak ada kata terlambat. Jika kau mau, kau bisa kemasi barang-barang dan pergi.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Tidak ada.”

“Dalam keadaan seperti ini kau masih mau berbohong.”

“Aku sayang kamu.”

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan.”

“Kita bisa celaka.”

“Apakah itu alasan kenapa kau tidak mau meninggalkannya.”

Kau diam kembali. Pelan kuhapus sisa airmata di pipimu. Kau menarik napas panjang. Hujan mulai reda.

“Sudah malam, kau harus pulang. Aku tak apa,” katamu. Kau mencoba tersenyum.

“Tidak. Kau belum jawab pertanyaanku.”

“Kau harus istirahat. Besok kau masuk kerja pagi. Jangan buat keluargamu curiga.”

“Tidak. Aku tak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

Kau tersenyum dan memelukku.

“Kau masih seperti dulu. Tapi, semuanya sudah berbeda, bukan?” kau berujar pelan.

“Kau juga masih seperti dulu. Tidak pernah menjawab pertanyaanku.”

“Hmm.”

“Dan setiap kubilang begitu kau tersenyum.”

“Hmm.”

“Dan aku harus mengulang pertanyaan itu di lain waktu.”

“Hmm….”

Kau tersenyum. Kau memang perempuan yang tabah dan kuat. Itu yang membuatku takut kau kenapa-kenapa, sebab kau tak akan bilang pada siapa pun kalau kau bersedih, termasuk padaku. Sementara hujan kembali turun. Angin berembus semakin kencang. Dan aku semakin gelisah.

“Hujan lagi,” gumammu tiba-tiba.

“Iya. Kenapa?”

“Kau sering bertanya tentang hujan padaku, ya.”

“Dan kau tak pernah menjawabnya, bukan?”

Kau terdiam. Matamu kembali berkaca- kaca.

“Hujan…,” ujarmu lagi seraya mendaratkan tatapan ke wajahku. “Hujan terbuat dari sebuah rindu dan kesedihan. Rindu seorang anak kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Pun dari kesedihan yang membuatku terkurung di rumah lelaki keparat ini. Lelaki pemabuk yang menyeretku ke semak-semak pada suatu malam dalam hujan yang deras….”

“Lantas, kau menikah dengan keparat itu, lalu pergi tanpa memberi tahuku?”

“Aku tak ingin kau sedih.”

“Hingga aku melihatmu di trotoar beberapa bulan lulu? Dengan wajah lebam? Setelah bertahun-tahun kau menghilang.”

Kau kembali menangis. Pelan kupeluk tubuhmu. Dengan suara serak kau berkata lagi, “Mungkin aku harus memberi tahumu sekarang, kenapa aku tidak bisa meninggalkannya,” suaramu tersendat.

“Mungkin alasanmu sangat kuat kenapa kau tidak mau memberi tahuku. Padahal, aku sangat mencintamu, menyayangimu dan selalu merindukanmu seperti dulu.”

“Aku tahu itu. Aku juga mencintamu. Tak ada pasangan yang bisa membuatku nyaman, selain dirimu. Itulah kenapa aku tidak mau pergi dengan terburu-buru. Kau yang terbaik buatku. Tapi…,” suaramu tiba-tiba terhenti.

“Tapi kenapa?”

“Aku sudah mengandung anaknya,” katamu pelan.

“Ya, dugaanku selama ini ternyata benar.”

“Aku takut kau meninggalkanku.”

“Tidak. Kita akan mengasuh anak itu bersama.”

“Berdua?”

“Iya, kita akan bahagia, meski tanpa seorang lelaki pun. Dan sesekali kita harus beri mereka pelajaran.”

“Benar katamu, suamiku tak berhak menyakitiku. Aku harus melawan lelaki brengsek itu.”

“Semua lelaki memang brengsek.”

“Tunggu. Semua lelaki? Maksudmu?”

“Suamiku juga begitu. Dia lelaki hidung belang. Dia memiliki banyak selingkuhan.”

“Kenapa kau tidak pernah bercerita?”

“Aku tak ingin membuatmu berpikir tentang masalah keluargaku.”

“Tapi, kau memikirkan masalah keluargaku.”

Aku terdiam. Sedangkan mata kita saling tatap dalam kesedihan yang dalam.

“Kau tahu, aku sudah membeli racun tikus buat makan malam suamiku nanti,” katamu lirih.

“Dan aku sudah memutus rem mobil suamiku,” kataku dengan semangat.

Keheningan kembali tercipta. Dan wajahmu berseri-seri.

“Bila lahir nanti, anakku akan memiliki dua orang ibu yang sangat menyayanginya, tanpa seorang ayah,” simpulmu.

Perlahan kupeluk tubuhmu. Erat. Pun sebaliknya. (*)

Yogyakarta, Mei 2014

— Nufi Ainun Nadhiroh, lahir di Sidoarjo dan kuliah di Jurusan Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: