Hati yang Gelisah


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan (Republika, 15 Juni 2014)

Hati yang Gelisah ilustrasi Rendra Purnama

Hati yang Gelisah ilustrasi Rendra Purnama

Perempuan paruh baya itu terduduk lemas di kursi ruang tamu. Anaknya baru saja menelepon. Kata anaknya, “Bu, Najib hari ini pulang kampung. Tapi, tidak naik bus. Najib naik sepeda motor bersama teman. Berdua saja,” lalu, ia menjawab, “Jangan, Nak! Naik bus saja,” ia begitu khawatir dengan apa yang menimpa suaminya tempo hari yang meninggal akibat kecelakaan motor di tempat kejadian. Belum sempat ia berkata berpanjang lebar dengan kata-kata larangan, anaknya memotong, “Najib sekarang sudah di jalan, Bu. Doakan Najib ya, Bu, selamat sampai di rumah,” sebelum akhirnya anaknya menutup telepon.

Wajah perempuan itu begitu pucat, seluruh tubuhnya mendadak dingin dan hatinya pun berdebar begitu cepat penuh kekhawatiran. Permintaan atau kabar seperti itulah yang paling dikhawatirkan dari anak lelakinya itu selama ini. Padahal, sebelumnya, dulu, ia sering bilang pada anaknya itu, “Jika perjalanan jauh jangan naik sepeda motor, Nak. Rentan kecelakaan. Lebih baik naik bus saja atau naik kereta api.” Apa yang ia larang pada anaknya karena ia masih trauma dengan apa yang menimpa suaminya.

“Jika sudah saatnya meninggal, gak mesti naik sepeda motor, Bu. Saat ini juga bisa,” bantah anaknya tempo hari pada saat anaknya meminta agar bersepeda motor ke luar kota bersama temannya, “Janganlah, Nak. Ibu mohon,” bagaimanapun, anaknya harus patuh pada ibunya, pada hari itu. Namun, anaknya diam-diam dalam hatinya ingin berkendara sepeda motor dengan menempuh jarah yang jauh dan kini anaknya telah mendapat celah, bagaimana ia dapat bersepeda motor bersama temannya pada saat libur kuliah setelah ujian semester. Namun, anaknya tidak tahu….

Ibu manakah yang tidak gelisah akan hal itu?

“Ya, Allah, Ya Mu’min, lindungilah anak hamba dari marabahaya. Selamat sejahterakanlah ia sampai tujuan. Hanya kepada-Mu, hamba-Mu ini memohon. Tiada tempat meminta kecuali pada-Mu.” Lirihnya dalam doa penuh harap.

Ia seakan tak bisa berdiri dari duduknya, serasa tulang-tulang pada tubuhnya tak berfungsi untuk menegakkannya. Kekhawatirannya itu seolah melumpuhkan segalanya. Lantas, ia buang pandangannya pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia membayangkan telepon genggam itu tidak akan berdering, meskipun berdering tidak akan mengabarkan sesuatu yang tidak diharapkannya, seperti tempo hari, saat seseorang mengabarkan kecelakaan suaminya.

“Suami ibu sekarang berada dirumah sakit…” begitu terdengar suara dari ujung telepon tempo hari.

“Ini siapa? Ada apa dengan suami saya?” ia ucapkan pertanyaan itu penuh pertanyaan yang menggelisahkan hatinya.

“Suami ibu kecelakaan.”

Pada saat itu ia tidak tahu kalau suaminya itu telah meninggal dan dibawa di rumah sakit. Pantaslah, dalam kecemasannya menunggu suaminya di rumah, suaminya tak kunjung sampai rumah setelah percakapan lewat telepon beberapa jam lalu, “Ma, Papa sedang di jalan, mau pulang….” Ternyata, suami telah tiada lagi.

Tak lama berselang, ia dan anak lelaki semata wayangnya itu datang ke rumah sakit yang dimaksud.

Bersama suara ambulans yang meraung-raung, ia juga meraung-raung di dalam mobil ambulans yang membawa suaminya ke rumah mereka. Sesekali, ia menatap nanar anak lelakinya itu dengan mata yang memerah, berair, dan ia memeluk anaknya begitu erat. Anaknya pun turut menangis, namun tidak mengerti mengapa ia menangis. Ia menangis karena ia melihat ibunya menangis. Apa yang dapat dimengerti anak usia 6 tahun ketika ayahnya meninggal? Apa yang dapat dimengerti anak seusianya tentang arti sebuah kehilangan yang sesungguhnya?

Dari itu, ia masih begitu trauma dengan keadaan yang mencemaskan seperti ini.

***

Ia ingin sekali menjangkau ponsel yang berada di atas meja itu, lalu menelepon anaknya dan mengatakan, “Nak, janganlah naik sepeda motor. Naik bus saja.” Namun, ia mencoba menebak apa yang akan dikatakan anaknya bila ia benar-benar melarang anaknya pulang dengan berkendara sepeda motor, “Bu, Najib sudah di jalan, gak mungkin kan Najib meninggalkan teman Najib naik sepeda motor sendirian. Padahal, Najib sudah berjanji padanya. Tolonglah Bu, kali ini saja, setelah itu gak akan pernah lagi Najib mencobanya….”

Namun, ia mencoba. Apa salahnya mencoba, bila benar-benar anaknya menurut dan berubah pikiran. Kemudian, ia menjangkau ponsel di atas meja, lalu mencari nama anaknya dengan tergesa-gesa dengan tangan yang begitu dingin, lantas ia menekan tombol yes dan terhubunglah dengan ponsel anaknya.

Yang terdengar hanya suara hampa, seperti angin. Anaknya tak mengangkat panggilannya. Berkali-kali ia coba, tetapi tetap nihil. Anaknya tak juga mengangkat panggilannya.

“Ah, barangkali ia tak mau mengang katnya karena berada di jalan. Bukankah mengangkat panggilan di jalan akan menyebabkan bahaya?” katanya lirih dengan jantung berdebar.

Ponsel masih berada digenggamannya. Apa salahnya mencobanya lagi, mudah- mudahan diangkat dan ia akan mendapat kejelasan yang pasti dari anaknya agar ia tak terlalu cemas seperti itu. Lantas ditekannya kembali tombol yes.

“Nomor yang Anda panggil sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi”

“Ya, Allah, apa yang sedang terjadi. Apakah anakku baik-baik saja dalam perjalanannya? Mengapa ponselnya tidak aktif?” Kekhawatiran menyeruak dari dalam hatinya yang paling dalam dan bertambah- tambah semakin resah.

Lantas, ia menduga apa yang sedang terjadi pada anaknya, mengapa handphone anaknya tidak aktif?

Ia membayangkan ponsel anaknya itu terjatuh dari saku celananya ketika akan mengambilnya karena mengetahui ada yang sedang memanggil. Atau juga, lebih parahnya ia membayangkan, ketika anaknya sedang merogoh kantung celananya, sehingga ia tak konsentrasi menyetir, lantas sepeda motornya itu melaju ke tengah jalan dan menyerobot lajur pengendaraan lain, dan ada mobil, atau bus, atau kendaraan lain yang menghantam sepeda motor anaknya. Bedebam!

“Ah, tidak mungkin!” ia membuang jauh-jauh pikiran jahat yang sesungguhnya ia bayangkan sendiri.

“Mungkin Najib sengaja mematikannya karena ia tak mau diganggu dalam perjalannya,” sanggahnya sendiri.

“Ya Tuhan, lindungilah anak hamba-Mu ini.”

Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk menghilangkan rasa gelisah itu.
Dari itu, ia mencari tahu apa yang patut dikerjakannya, sehingga enyahlah pikiran yang tak mengenakkan hatinya itu.

Lantas, ia mencoba bangkit dari kursi dan mencari tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berjalan mondar-mandir. Dari ruang tamu ke kamar, kemudian ke luar dan mengarah ke beranda rumah. Di tatapnya jalan menuju arah rumahnya, ia membayangkan kalau anaknya nanti berada di jalan itu, dan melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Ah, desahnya. Hatinya tetap juga tak tenang.

Kemudian, ia berjalan masuk ke dalam rumah dan mengarah ke dapur, lantas ke kamar mandi. Apa yang akan dilakukannya di kamar mandi? Kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Sampai pada akhirnya, ia berpikir yang harus dilakukannya adalah menyiapkan makan malam untuk menyambut anaknya. Lantas, ia berlama-lama di dapur, memasak masakan yang paling disuka anaknya, meski kegelisahan tetap menyelimuti hatinya. Ia benar-benar gelisah, belum pernah ia gelisah seperti ini.

***

Ia duduk melamun, memandang masakan di atas meja yang ia masak buat anaknya.
Namun, anaknya tak kunjung sampai ke rumah. Padahal, sudah jam delapan malam.
Menurut perhitungan normal, semestinya anaknya sampai di rumah satu jam yang lalu.
Hatinya benar-benar gelisah. Berkali-kali ia hubungi anaknya melalui ponsel, tapi nomor anaknya tidak aktif-aktif juga. Pikiran-pikiran yang tak mengenakkan terus menyelimutinya. Ia berharap, ponselnya berdering atau anaknya mengetuk pintu rumahnya. (*)

 

 

Medan, Mei 2013

Muftirom Fauzi Aruan lahir di Tanjung Pasir, 15 Januari 1991. Sekarang Aktif di FLP Sumatra Utara. Cerita Pendeknya dimuat di beberapa media massa lokal, Seperti Sumut Post, Mimbar Umum, dan Medan Bisnis.

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: