Cerpen Agus Noor (Media Indonesia, 15 Juni 2014)

Hari Baik untuk Penipu ilustrasi Pata Areadi

HIDUP mengajarkan padanya, seberuntung-beruntungnya orang beruntung, masih lebih beruntung penipu yang beruntung. Namun, ia juga tahu, penipu yang baik tak hanya mengandalkan keberuntungan, tapi juga mesti pintar memanfaatkan setiap kesempatan.

Kini ia sedang berada di puncak keberuntungannya sebagai penipu. Ia tersenyum menatap wajahnya di cermin. Jangankan orang lain, dirinya sendiri sering merasa tertipu setiap melihat wajahnya sendiri. Barangkali aku memang ditakdirkan menjadi penipu yang baik, batinnya. Lalu ia teringat sebuah cerita yang pernah didongengkan ibunya semasa kanak-kanak.

Penduduk kampung di pinggir hutan itu terkejut ketika mendengar teriak ketakutan seorang anak yang bertemu harimau. Belakangan penduduk kampung itu memang cemas karena seekor harimau terlihat berkeliaran. Dengan membawa bermacam senjata, mereka segera berlarian hendak menyelamatkan. Tak jauh dari hutan, mereka melihat anak yang berteriak minta tolong itu. Tak ada harimau, karena anak itu memang hanya memperdaya seluruh penduduk. Ia memang dikenal anak nakal yang suka iseng dan menipu.

“Bukan anak nakal, Bu,” komentarnya.

“Dengar dulu ibu selesai bercerita!” kata ibunya, lalu melanjutkan.

Beberapa hari kemudian, penduduk mendengar kembali teriakan anak itu minta tolong, “Ada harimauuuuu… Ada harimauuuu….” Tapi penduduk tak peduli. Menganggap itu hanya tipuan lagi. “Kau tahu,” kata ibunya, “anak itu kemudian mati dimangsa harimau. Sekali kau menipu, orang tak akan memercayaimu lagi,” ibunya mengakhiri cerita. Lama ia terdiam merenungkan cerita itu. Ia ngeri membayangkan tubuh bocah itu dicabik-cabik harimau.

Ia tentu saja tahu, kenapa ibu menceritakan kisah itu padanya menjelang tidur. Beberapa kali ibunya kehilangan uang di dompet dan ia selalu menjawab tak tahu setiap kali ditanya. Ibunya menanamkan kejujuran dengan cerita itu. Namun, persoalannya bukan ‘sekali kau menipu, orang tak akan memercayaimu lagi’, seperti kata ibunya, tapi ‘sekali orang tahu kau menipu, orang tak akan memercayaimu lagi’. Ia yakin bocah itu akan selamat bila berhasil membuat orang lain tak tahu bahwa ia telah menipu. Penipu yang baik tak akan pernah membiarkan orang lain menyadari bahwa mereka telah tertipu! Sejak itu, setiap kali ditanya soal uang di dompet yang hilang, ia selalu berusaha agar ibunya tak pernah tahu bahwa ia telah menipunya; dan itu membuatnya senang.

Advertisements