Tamu Perkabungan


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 08 Juni 2014)

Tamu Perkabungan ilustrasi Rendra Purnama

Tamu Perkabungan ilustrasi Rendra Purnama

Tanpa harus diwartakan, kabar wafatnya Ustaz Kahar menyebar seperti gas pembuangan yang lepas dari bibir knalpot di jalanan. Mengudara tak tertahankan. Rumah Ustaz Kahar di Kampung Ngernak sudah penuh sesak oleh pelayat yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada pendakwah kondang itu. Pelayat sudah ramai sebelum jenazah Ustaz Kahar pulang. Juga mobil keluarga Ustaz Kahar yang dikemudikan, Sapuan, muncul.

Di luar komando, banyak orang sudah mengerjakan aneka persiapan pengurusan jenazah Ustaz Kahar. Kafan dan tempat pemandian tidak usah disiapkan, kabar dari perwakilan keluarga bahwa jenazah sudah dimandikan di rumah sakit. Di dapur, para wanita sedang menyiapkan nasi uduk, mengolah beberapa ekor ayam dan seekor kambing jantan sebagai sajian kenduri dan menyambut tamu yang tentu bukan pelayat sembarangan. Sudah bisa di pastikan beberapa pejabat penting dan ulama besar bakal datang. Tenda untuk istirahat sudah didirikan. Bagaimanapun, Ustaz Kahar bukan orang biasa. Alim, baik hati, juru agama, dan ditambah dermawan meski Ustaz Kahar tidak memiliki sawah berkedok-kedok layaknya carik dan lurah Kampung Ngernak.

“Andai Ustaz Kahar tidak ada, pasti kita masih menyembah beringin dan batu,”
seorang pelayat mengungkit jasa Ustaz Kahar.

“Kita tak akan mengenal Allah, kan?” yang lain menimpali.

Ustaz Kahar seperti sumur di tengah ladang. Mengairi dan memberi penghidupan, khususnya perihal ruhiyah. Hal itu dimulai sejak selesai pendidikan di Pesantren Babussalam, Kudus. Ustaz Kahar kembali ke Kampung Ngernak. Ingatannya tertambat pada orang kampung yang belum tersapu hidayah. Mulailah Ustaz Kahar muda mengajari tetangga, anak-anak muda, orang-orang tua dengan ajaran yang dibawa dari Kudus.

“Bahkan, ayahku adalah murid mengaji Ustaz Kahar. Lalu aku. Sayang, anakku tidak mencicipi ajaran Ustaz Kahar. Allah lebih rindu kepada Ustaz Kahar,” seorang lagi mengungkit kebajikan Ustaz Kahar.

“Orang saleh memang lebih cepat dipanggil karena dirindukan Allah.”

“Benar. Bahkan, sampai usia sepuh, panggilan mengisi pengajian tidak pernah ditolak oleh Ustaz Kahar. Semoga Allah menerima semua amal kebaikannya.”

“Amin,” serentak dijawab. Doa itu seperti kelelawar yang tak habis ditelan malam.
Mengawang-awang menunggu dikabulkan.

Ustaz Kahar berniat melanjutkan ekspansi dakwahnya. Terlebih, kampung-kampung yang mengitari Kampung Ngernak masih dikerubuti oleh aroma merah. Abangan. Masih banyak orang di kampung-kampung sekitar Kampung Ngernak yang menyujudi matahari, membuat meja sesaji di pekarangan, dan percaya pada hal-hal mistis.

Sehingga, perbedaan antara kampung yang sudah terkena ajaran Ustaz Kahar, seperti bentangan malam dengan cercah sinar kala fajar. Sungai di luar kampung se perti sebuah pagar antara kampung dan corak warna yang berbeda. Kampung Ngernak lebih hijau ngrembuyung, rimbun.

Sedangkan, kampung-kampung sekitarnya masih merah, bahkan hitam. Kampung Sambeng adalah kampung telembuk. Banyak wanita menjadi gundik lurah dan juragan. Penyambung ayam dan hobi menuang tuak. Sangat kontras dengan Kampung Ngernak.

“Andai tak ada Ustaz Kahar, tentu aku bakal lahir dari ibu telembuk.” Seru seorang warga Kampung Sambeng.

Seketika, semua kepala tertuju kepada asal suara. Langsung manggut-manggut membenarkan.

“Kalau tidak orang Sambeng bakal terus-terusan di dunia kelam.”

Berkat jasa Ustaz Kaharlah sedikit demi sedikit telembuk, arak, dan sambung ayam menyisih dari Kampung Sambeng. Meski, desakan ekonomi tidak bisa dilepas dengan mudah. Pertelembukan di Kampung Sambeng justru terlokalisasi di pinggiran kampung dekat aliran sungai.

“Kabarnya, Ustaz Kahar juga suka ke warung Mak Tam,” kalimat ini terasa ingin mengungkap hobi lain Ustaz Kahar.

“Benar. Tapi, jangan salah sangka. Ustaz Kahar menggemari wedang jahe merah dan lontong tahu di Warung Mak Tam.”

“Hampir aku percaya gosip kalau Ustaz Kahar suka ke bangunan sebelahnya.” Tanpa perlu dijelaskan rumah sebelah warung Mak Tam adalah tempat telembuk berdiam.

Hush! Ustaz Kahar sering diundang untuk mengisi pengajian.”

Pembicaraan terjeda. Masing-masing hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Kamu tahu apa komentar Ustaz Kahar saat kutanya perihal rumah telembuk itu?”

“Bagaimana?”

Yang ingin menjawab menarik napas dalam-dalam, seolah sedang melepas rahasia besar.

“Ustaz Kahar hanya berkata, kalau usaha sudah dikerahkan, dakwah diserukan, dan mereka masih begitu, ya kita contoh Nabi Muhammad, terus saja mendoakan.”

“Benar-benar Ustaz Kahar orang luar biasa.”

Kalimat-kalimat penuh penghormatan terhenti ketika sirene mobil ambulans terdengar semakin keras, diiringi sedan keluarga yang dikemudikan Sapuan. Meski tanpa ada air mata yang jatuh berlebihan, jelas sekali wajah-wajah keluarga Ustaz Kahar sangat nestapa. Bu Ustaz tampak masih suka mengusap air mata dengan kacu. Anaknya, Gus Zaky, yang tampak tenang sambil merangkul Bu Ustaz. Hanya Sapuan yang memiliki tatapan mata kosong.

Suara tahlil dan lantunan ayat suci mengiringi jenazah yang sudah berkafan rapi untuk disemayamkan sebentar di rumah duka. Para pelayat berdiri untuk menghormati. Mengantre menshalati. Sambil melantunkan doa menunggu pengumuman upacara pemberangkatan jenazah dimulai.

***

Semua orang sangat tertarik dengan cerita Sapuan, sopir yang malam itu mengantar Ustaz Kahar mengisi pengajian Isra Mi’raj di Kampung Sambeng.

“Bagaimana bisa, Sapuan?”

Sapuan mendesah panjang. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan yang mendalam. Wajar, karena Sapuan sudah menjadi sopir Ustaz Kahar bahkan sejak Sapuan masih duduk di kelas tiga aliyah. Dan, kehilangan Ustaz Kahar yang sangat mendadak tentu membuat hati Sapuan masih diliputi rasa tidak percaya bercampur sedih tak berhingga.

“Sapuan masih shock!”

“Ustaz Kahar pasti syahid. Beliau wafat saat pulang dari mengisi pengajian.
Perjalanan dakwah.”

“Benar,” yang lain serba menyahut.

“Biarkan Sapuan cerita dahulu.”

Sapuan masih duduk bersandar di leher kursi.

“Ustaz Kahar selesai ngisi pengajian jam 11 malam. Kutawari beliau untuk mampir di warung Mak Tam untuk minum jahe panas. Seperti biasa, saat pulang malam, beliau gemar minum jahe untuk menghangatkan perut. Beliau setuju. Lalu, beliau melepas serban dan kopiah sebelum turun. Mak Tam yang sudah mafhum kebiasaan beliau, menyiapkan jahe panas. Itu kesukaan Ustaz Kahar. Beliau masih bercanda dan sesekali menasihati Mak Tam yang sudah tua, tapi belum mau shalat dan menutup kepalanya dengan jilbab. Jam 12 beliau rampung minum dan minta segera pulang. Baru berjalan seratus meter, kudengar napas Ustaz Kahar berat dan sesak. Kutanya. Tapi, tak ada jawaban. Kuhentikan mobil. Dan, saat menengok ke belakang, Ustaz Kahar sudah terkulai lemas di jok.”

“Mungkin Ustaz Kahar terkena serangan jantung, Sapuan?” cerita Sapuan disela seseorang.

“Aku tak tahu. Setelah itu, buru-buru aku menelepon Ibu Ustaz dan kukendarai mobil ke rumah sakit. Dan, ternyata beliau wafat dalam perjalanan.”

“Jadi, nasihat kepada Mak Tam itu nasihat terakhir Ustaz Kahar.”

“Benar.”

“Dan, pengajian di Kampung Sambeng adalah pengajian terakhir beliau.”

Percakapan itu kembali terhenti. Saat Pak Lurah memimpin pemberangkatan jenazah Ustaz Kahar. Tampak para pelayat menyimpan mendung di setiap matanya. Terlebih, Bu Ustaz dan Gus Zaky. Sosok paling berpengaruh itu telah kaku dan tak boleh lama-lama disimpan di rumah. Jenazah Ustaz Kahar harus tetap segera dimakamkan sesuai kaidah sunah meski seluruh Kampung Ngernak sangat tidak ikhlas melepas kepergian Ustaz Kahar. Pak Lurah terus menyebut jasa-jasa Ustaz Kahar dan mengajak para pelayat untuk mengikuti jejak Ustaz Kahar yang sepenuh usianya untuk kemaslahatan orang lain.

Di tengah-tengah tuturan Pak Lurah, tiba-tiba dengan mengendarai motor matic, seorang wanita muda yang tidak asing di mata orang Kampung Ngernak turun dari motor membawa bocah lelaki berusia tujuh tahunan.

“Itu Titin.”

“Mau apa si Titin datang?”

Desas-desus semakin tak terbendung. Titin masuk ke dalam rumah, seolah tak mendengar semua perbincangan orang. Titin menyampaikan belasungkawa atas kematian Ustaz Kahar. Semua pelayat tidak percaya bagaimana seorang telembuk mau ikut mendatangi perkabungan Ustaz Kahar. Titin terlalu najis untuk menjadi pelayat di pemakaman Kyai Kahar, orang yang suci.

Terdengar suara dari dalam rumah bercampur isak tangis tanpa henti.

“Titin, tolonglah hormati keluarga kami. Kami sedang berduka,” itu suara Bu Ustaz.

“Bu Ustaz, apa saya tidak boleh ikut berduka? Ustaz Kahar juga suami saya. Izinkan bocah ini melihat wajah ayahnya sebelum disemayamkan.”

Semua wajah ternganga. Lalu, tertuju pada Sapuan. Semua orang tahu warung Mak Tam berada di samping rumah Titin, janda yang sesekali jadi telembuk. (*)

 

 

Telembuk: pekerja seks komersial.

 

Yogyakarta, 2014

Teguh Affandi. Tulisannya dimuat di sejumlah media. Di antaranya, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Riau Pos, Femina, Sekar, Nova, Cempaka, Paras, NooR, Ummi, Sabili, Radar Surabaya, Padang Ekspres, dan Koran Merapi. Pernah menjadi juara 1 dan harapan 1 lomba cerpen FLP Bekasi, juara 2 lomba cerpen Islami UGM, juara 1 lomba cerpen Tangga Pustaka, juara 1 lomba cerpen Pulkam 2013, dan cerita terbaik Bentang Pustaka edisi Juli 2013, November 2013, Januari 2014, Maret 2014, dan April 2014.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: