Suara 1


Cerpen Taufik Ikram Jamil (Media Indonesia, 1 Juni 2014)

Suara ilustrasi Pata Areadi

TAK ada keistimewaan khusus dari upacara kematian yang diceritakan Murad sampai ia harus membatalkan janjinya dengan saya. Membatalkan pekerjaan besar yang telah kami rancang berbulan-bulan. Melalui pesan pendek (SMS) yang tiba di telepon genggam saya, Murad menulis, ‘Maafkanlah kalau aku tidak meminta maaf karena pembatalan ini, sebab aku harus mengikuti upacara kematian itu’.

Diakuinya bahwa sosok yang mati tersebut bukanlah saudara, bukan kaum kerabat. Bukan kawan, terutama bukanlah lawan. Tidak sosok terhormat, tak pula tokoh terpandang. Mengenalnya, pasti. Tapi ya sekadar kenal, tidak sampai menjadi sahabat, menjadi orang yang dapat dijadikan obat karena kepadanya semua persoalan dapat disampaikan.

Saya paham kalau ia harus melayat. Saya paham kalau ia harus memandikannya, menyalatkannya, dan menguburkannya. Saya paham, kalau ia dapat larut sebegitu jauh karena menghayati kematian yang berada di pelupuk matanya. Bukankah kematian merupakan satu dari dua warisan besar manusia yang senantiasa memberi ingatan tanpa kata-kata. Sesuatu yang paling dekat tanpa dapat diraba dalam bentuk apa pun, tetapi dapat menjauh tanpa jejak, tanpa bekas walau sekelibas bayangan.

Cuma saja, penyelenggaraan suatu kematian tidak mungkin menelan masa demikian panjang, sampai Murad harus membatalkan janjinya dengan saya—membatalkan pekerjaan besar yang kami rancang berbulan-bulan. Satu, dua, tiga, bahkan tiga hari, kurasa cukup untuk menempatkan kematian sebagai sesuatu yang meski datang setiap saat, pada tempat yang semestinya. Tempat di mana kematian bukanlah cerita kosong, tetapi awal dari cerita panjang sesungguhnya.

Kalau bukan kaum kerabat, apalagi kalau bukan anggota keluarga, bisa saja kan Murad meninggalkan beberapa saat upacara kematian itu, untuk memenuhi janjinya dengan saya. Ia pergi dulu ke tempat kematian itu, memanjang-manjangkan doa dan mengucapkan belasungkawa agak satu atau dua jam, waktunya tak akan sampai setengah hari. Bahkan, bukan mustahil ia dapat menyalatkan jenazah yang selalu dilakukan bakda zuhur. Masih banyak waktu tersisa untuk menunaikan janjinya dengan saya, sebab untuk memenuhi janji tersebut, kami harus bertemu dulu sekitar pukul 14.00.

Kalaupun jenazah akan dikebumikan setelah sanak-keluarga datang, itu pun pasti dilakukan tidak mungkin menjelang malam. Tinggal waktu pertemuan kami untuk memenuhi janji yang sudah dirancang sedemikian lama, digeser menjelang malam. Pasalnya pasti, pelaksanaan janji yang kami buat itu dilakukan pada sepertiga awal malam.

Jadi, masih banyak waktu, masih banyak waktu. Murad tidak harus membatalkan janji dengan saya untuk suatu pekerjaan yang sudah kami rancang berbulan-bulan, bahkan nyaris menjadi obsesi kami, hanya karena upacara kematian tersebut. Suatu upacara yang saya kira tidak istimewa. Bagaimana dikatakan istimewa, sebab yang mati itu hanya kenalannya yang biasa-biasa saja, juga dari kalangan awam?

Sementara janji kami? Janji saya dan Murad. Suatu pekerjaan besar yang sudah kami rancang berbulan-bulan, bahkan hampir menjadi obsesi kami sepanjang waktu.

***

Tak habis pikir saya, mengapa Murad membatalkan janjinya hanya karena upacara kematian yang tidak sedikit pun terkesan istimewa, baik dalam pengertian bentuk maupun sifatnya itu. Masih saya terima kalau pelaksanaan janji tersebut ditunda agak beberapa jam, bahkan satu sampai tiga hari. Tetapi membatalkannya secara permanen sebagaimana pesan pendek Murad kepada saya dengan kalimat, ‘Sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan’, sungguh telah memukul-mukul batin saya. Sungguh telah mengguncang-guncangkan batin saya.

Saya harus berbicara dengannya, tak puas kalau dalam suasana batin semacam ini, berkomunikasi dengan hanya menggunakan pesan pendek. Saya pencet huruf M sebagai bunyi awal dari nama Murad di papan huruf telepon genggam. Tak perlu waktu lama kemudian, jaringan telepon genggam kami tersambung. Saya menunggu Murad menjawab panggilan saya lewat benda kecil itu. Sekali, dua kali, tiga kali….

Murad tak menyambut juga. Tapi, saya sabar-sabarkan diri. Saya ulangi tindakan memencet tanda panggilan kepadanya. Berkali-kali, berkali-kali, entah berapa kali. Untuk memelihara kesabaran, saya bayangkan Murad tengah sibuk menyelenggarakan jenazah. Barangkali ia ikut memandikan tubuh yang tak berdaya itu, mengafaninya sekaligus. Ia menyobek kain putih dengan teliti untuk membungkus jenazah, sambil tak putus-putus berdoa. Mulutnya komat-kamit, penuh dengan kata-kata khidmat yang meminta.

Telah ia simpan dalam-dalam apa pun yang terlihat dari tubuh jenazah. Membayangkannya pun harus disingkirkannya, apalagi mengungkapkannya kepada orang lain. Di sisi lain, barangkali Murad membayangkan, bagaimana sekiranya jenazah itu ialah dirinya sendiri. Tanpa daya, kemudian berucap sesuatu yang sama sekali tidak terdengar oleh makhluk hidup di sekitarnya. Untuk tenteramnya, ia bayangkan bahwa ucapan jenazah itu tak lain agar bagaimana pengebumiannya disegerakan sehingga makin sempurnalah ia menempuh jalan awal dari satu jalan yang teramat panjang, menuju keabadian dalam kasih sayang langsung dari si Pencipta.

Sesekali dibayangkannya Murad harus menasihati sanak-keluarga dari jenazah. Menangis tentu saja boleh, tetapi janganlah meratap. Ia katakan bahwa sesungguhnya jenazah menuju keabadian, menunaikan janjinya sejak awal. Tempatnya sudah jelas, apalagi ia meninggal dalam keadaan baik-baik dengan berbagai kebaikan semasa hidup. Tinggal kita yang berada di dunia, menanti misteri kematian. Hubungan dengan jenazah akan terus berlanjut, sejauh kebaikan yang dapat dipersembahkan orang-orang yang hidup. Amal jariah dan doa anak yang saleh menjadi harapan jenazah untuk menemaninya di alam sana.

Alhamdulillah, akhirnya Murad menjawab panggilan saya. Langsung saja saya berujar, “Assalamualaikum. Bagaimana? Masih di tempat upacara kematian itu kan?”

***

TAK ada suara Murad yang terdengar untuk membalas sapaan saya. Meski demikian, saya masih berpikir, mungkin suara saya kurang kuat, sedangkan di sana, Murad berada di tengah keramaian orang. Suara saya mungkin tertindih oleh suara-suara ramai, apalagi perhatian Murad bercabang-cabang, sehingga sapaan saya menjadi amat kabur dalam alam perhatiannya. Tak pelak lagi, saya kuatkan suara saya dengan sapaan serupa, “… Bagaimana? Masih di tempat upacara kematian itu kan?”

Waduh, tetap tak ada jawaban, sementara sambungan telepon genggam antara saya dengannya masih berlangsung. Saya masih mengucapkan sapaan serupa tadi, yang juga tidak dibalas sedikit pun oleh Murad. Saya jauhkan pesawat telepon dari telinga agar saya dapat membelek-beleknya, melihat keadaan fisik benda itu sacera teliti, seolah-olah alat itu bermasalah. Tidak juga, telepon genggam saya terlihat baik-baik saja. Ketika benda itu kembali saya tempelkan di telinga, sambungannya ke telepon genggam Murad masih berlangsung. Kontan saja saya berucap, “Halo, halo. Murad! Ini aku…”

Hanya diam, ya hanya diam. Tak ada jawaban, tak ada apa-apa. Ya, benar-benar tidak ada apa-apa. Kalaupun Murad tak menjawab, tak mungkin pula tidak ada sekecil suara pun yang terdengar. Pasalnya, bukankah ia pasti berada di tengah keramaian orang, di tengah sejumlah orang. Di tengah orang yang berkomunikasi atau entah apa namanya, kemudian tersambar oleh penangkap suara di telepon genggamnya, kemudian secara otomatis tersadap oleh telepon saya.

“Murad…!” teriak saya, mungkin lebih dapat dikatakan melolong.

Kesabaran saya rupanya sudah tinggal setitik. Begitu saja kemudian saya berpikir harus menemuinya sekarang. Sekarang juga, tak dapat ditunda lagi. Berbagai persoalan segera menyerbu benak saya yang sejak tadi hanya berupa pertanyaan, tetapi kini telah menjadi hujatan. Misalnya, saya menjadi tidak bisa menerima keputusan Murad yang membatalkan janjinya kepada saya, sebuah pekerjaan besar yang telah kami rancang, hanya karena upacara kematian.

Kawasan rumah Murad tidak sulit saya capai, tak sampai satu jam. Saya langsung masuk ke dalam gang yang menuju rumahnya. Dari sekian ratus meter, saya memang sudah melihat kerumunan orang yang seolah-olah mempercepat langkah saya. Tetapi kemudian langkah saya melambat, bahkan terhenti ketika membaca sederetan papan duka cita yang bertuliskan, ‘Ikut Berduka atas Meninggalnya ‘Suara’, semoga diterima di sisi-Nya’.

Suara? Suara telah meninggal, tanya saya dalam hati. Dalam pikiran yang kacau, saya langsung teringat permintaan Murad untuk membatalkan janjinya dengan saya, membatalkan pekerjaan besar yang telah kami rancang sekian lama. Ya, bagaimana pula kami dapat menculik Suara, setelah Suara itu sendiri meninggal? Menculik agar Suara terselamat dari diperjualbelikan, dipecundangi, dinodai, dan berbagai hal buruk yang menimpanya selama ini. “Ya Allah, begitu cepat Engkau ambil Suara dari dunia,” kata saya dalam hati. Tapi belum sempat kalimat itu saya cernai ulang, hati saya berkata lagi, “Suara yang mana?”

Selanjutnya, saya tak mau melayani kata-kata hati itu. Saya harus menemui Wahab. (*)

Taufi k Ikram Jamil, sastrawan, tinggal di Pekanbaru, Riau. Buku puisinya, Tersebab Aku Melayu (2010)

One Response

  1. Wahab itu siapa yaa?? Gagal paham 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: