Archive for June, 2014

Marini dan Marina
June 29, 2014


Cerpen Zelfeni Wimra (Media Indonesia, 29 Juni 2014)

Marini dan Marina ilustrasi Pata Areadi

BELUM genap jam sembilan pagi, Marini sudah merangkak masuk kandang. Di dalam kandang itu, ada puluhan ekor ayam liar yang sengaja belum dilepaskan. Marini akan menangkap seekor dari ayam-ayam itu. Ayam bujang untuk melengkapi syarat meminta petuah kepada dukun Pati di kampung seberang.

Selain ayam bujang, Marini juga sudah menyiapkan sebilah pisau dan segantang beras. Juga ada pakaian dalam miliknya dan milik suaminya dibungkus dalam plastik bersama beberapa lembar uang puluhan ribu. Semua menjadi syarat untuk menemui dukun keramat itu. (more…)

Advertisements

Tulah Si Tulah
June 29, 2014


Cerpen Arena Bayu (Suara Merdeka, 29 Juni 2014)

Tulah Si Tulah ilustrasi Farid S Madjid

IA biasa dipanggil Tulah, si pembawa sial yang tak pernah mujur, padahal bapaknya menamainya Ragil, si anak terakhir. Tapi sekarang orang-orang kampung sudah lupa bagaimana melafalkan nama aslinya, jadilah ia akrab dipanggil Tulah.

Nyatanya hidup Tulah tak benar-benar tak mujur, setidaknya menurutnya sendiri. Dua tahun lalu ia berhasil mengawini Tini, si perawan malu-malu yang menunduk ketika dipandang dan merona ketika dipuji. Tini kecil yang bergigi gingsul, begitu Tulah menyebut istri yang selalu menyambutnya dengan teh tawar ketika pulang mencari ikan. (more…)

Slerok
June 29, 2014


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 29 Juni 2014)

Slerok ilustrasi Rendra Purnama

Slerok ilustrasi Rendra Purnama

Undangan dari Taris kudekap. Wewangian menguap dari kertas itu. Sungguh tak asing, aroma parfum yang hilang dan tercium secara tiba-tiba. Lebih dari setahun aroma tersebut hilang, namun membekas seperti kerak di kaki dermaga. Bersugesti.

Parfum itu manifestasi keindahan! Koarnya ketika kukritik aroma parfum itu. Kepalaku pening karena menurut penciuman, Taris berlebihan memakainya.

Lebih dari itu, feeling berbicara lain. Taris membentuk kepribadian baru dalam diri seorang yang tak suka aroma parfum atau barangkali dia tak lebih hanya seorang penjual yang menawarkan barang? Ya, Taris memiliki toko, La Tansa de Parfum namanya. Ah, perasaan kadang berlebihan. (more…)

Lelaki Berpeci
June 22, 2014


Cerpen Yusri Fajar (Media Indonesia, 22 Juni 2014)

Lelaki Berpeci ilustrasi Pata Areadi

BELUM sampai aku menjejakkan kaki di tepian pantai, tiba-tiba aku terkenang dirimu. Padahal aku mengunjungi pantai ini untuk melunaskan kerinduan pada samudra biru. Dulu ketika tempat ini masih bernama pantai Tanjung Kodok, aku, kau, dan kawan-kawan santri yang rata-rata berumur belasan tahun, setiap Jumat berolahraga lari pagi ke sini sambil melihat keindahan karang mirip katak raksasa yang dihempas ombak bertubi-tubi.

Kini Tanjung Kodok telah menjadi resor mewah, dan hamparan tanah di sekitarnya menjelma arena hiburan, mulai dari adu ketangkasan hingga rumah sakit hantu. Kau, sebagaimana aku, tak pernah menyangka, jika area yang dulu kita kenal sebagai lokasi untuk melihat hilal menjelang Ramadhan dan Lebaran, kini bersanding dengan gegap gempita kesenangan.   (more…)

Keluar
June 22, 2014


 

Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 22 Juni 2014)

Keluar ilustrasi Munzir Fadly

 

NICELI keluar rumah pukul delapan pagi. Ia masih ingat bunyi mangkuk jatuh. Itu mangkuk kesayangannya. Mangkuk yang tidak boleh pecah. Tapi semua sudah terjadi. Pecahan-pecahan mangkuk itu bahkan masih berserakan di lantai saat ia meninggalkan rumah.

Dengan muram ia memandang jalan panjang sambil terus memikirkan apa yang akan dikatakan Norm jika tahu mangkuk itu sudah berakhir? Ia menapaki jalan; satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, dan entah nanti sampai berapa saat akhirnya ia berbalik lagi. Bunyi mangkuk jatuh tidak juga pergi dari kepalanya. Bunyi yang mendekam dalam kepala dan muncul berulang-ulang.  (more…)

Kelelawar di Atas Kepala Mama
June 22, 2014


Cerpen Erna Surya (Suara Merdeka, 22 Juni 2014)

Kelelawar di atas kepala mama ilustrasi hery purnomo

MAMA tak pernah marah padaku. Ia selalu muncul sebagai peri nan cantik. Rambut panjang mama tergerai indah, itu yang selalu kulihat. Selebihnya, suara lembut yang kudengar bila ia dekat-dekat denganku. Mama tak pernah meninggalkanku di malam hari. Pernah aku tersedak ketika tengah makan malam. Ia menepuk-nepuk punggungku seraya berkata, ’’Tak apa-apa.’’ Ah, mama yang baik.

’’Kau sudah besar.’’  (more…)

Firasat
June 22, 2014


Cerpen Fahdiant Uge (Republika, 22 Juni 2014)

Firasat ilustrasi Rendra Purnama

“BU, tapi ini sudah keempat kalinya. Berturut-turut!” kalimat Shafira bergetar. Ketakutan.  Air teh panas yang di tuangnya membuat gelas beling bening retak. Air teh memenuhi meja makan. Menetes ke lantai. Shafira mengempaskan teko. Ada embusan putus asa atas kepungan firasat buruk di benaknya.

“Kamu ini termakan sinetron. Gelas retak itu biasa. Kualitas pabrik sekarang menurun,” ibunya tidak menggubris. Konsentrasinya tertuju pada mangkuk berisi sayuran dan lauk yang dihidangkan di meja makan. Dalam hati, ibunya membenarkan hipotesis tersebut. Shafira berusia 30 tahun, tetapi kekanak-kanakan. Bagaimana jadi istri orang jika setiap kejadian diartikan firasat buruk? Bisa makan hati.  (more…)