Dua Kisah antara Bunga dan Cinta


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’

Ingatan John melayang pada masa ketika ia kecil dahulu, saat ia merawat tanaman hias di bungalow Bill Palmer di Tugu dekat Bogor, saat itu harum bau mawar memenuhi semua ruangan rumah karena selusin tanamannya memekarkan bunga bebarengan. Tuan Palmer yang sedang menyusun skenario film tentang Indonesia pada masa Soekarno dan dominasi PKI tersenyum penuh bahagia meremas rambut John karena terlalu senangnya menghirup harum dan segarnya mawar.

John tahu di balik bau mawar itu ada kisah gadis Jawa yang telah mengambil seluruh jiwa tuannya.

‘’Kau pandai merawat bungaku, heh…!’’

John hanya tersenyum malu, karena setelah itu ia mendapat hadiah piringan hitam bernada slendro nyanyian Jawa yang melarat-larat, menyentuh hatinya yang sunyi, karena andai siapapun tahu, ia hanya anak pungut dari Palmer. John adalah makhluk malang ciptaan kekejaman perang. Ayahnya mati terbunuh dalam perang di Mesir menjadi tentara Inggris melawan Hitler, sedang ibunya mati karena sakit kemaluan dipaksa melayani ratusan serdadu.

Kini John masih menyimpan piringan itu dengan cara yang sembunyi- sembunyi, ia sesungguhnya tak pernah takut pada siapapun namun ia hanya tak ingin menyusahkan tuannya dalam mengelola kedai ini. Piringan itu ia simpan rapat-rapat terselip di antara baju-baju dalam almari tuanya. Sesekali karena tak kuat menahan rindu, ia setel piringan itu, mendengarnya pelan-pelan sambil menangis. Paras gadis itu melayang memenuhi ingatannya.

‘’Genjer-genjer teng kelewer neng kedhokan….’’

Larat-larat nyanyian itu sedikit mengobati kerinduannya pada kebahagiaan masa lalunya yang direnggut tiba-tiba oleh sebuah aksi demontrasi yang mengobrak-abrik rumah tuannya pada tanggal 1 April 1965. Segalanya hilang segalanya musnah, kelopak-kelopak bunga mawar tercecer di tanah, di lantai, bersama bercak-bercak darah tuannya. Tiba-tiba ia merasa manusia lebih kejam daripada binatang.

(2) Riwayat Sukidi

YANG kali pertama bidan perhatikan tentang Sukidi ketika membantunya keluar dari rahim ibunya ke dunia ini adalah bahwa dia berbibir sumbing. Bibir itu melengkung seperti kaki siput, cuping hidung belah kirinya menganga. Sejenak bidan itu menyembunyikan bayi dari ibunya, membuka paksa ujung kecil mulut lembutnya, dan lega menyadari langit-langit mulutnya utuh.

Pada ibunya ia berkata, ‘’Bahagialah engkau, mereka membawa keberuntungan dalam rumah tanggamu.’’ Tapi sejak awal Sutini,  ibu Sukidi, benci pada mulut yang senantiasa terbuka itu dan pada bayi merah hidup yang diperlihatkan padanya. Ia bergidik memikirkan yang akan terjadi padanya pada bulan-bulan mendatang. Bayi itu gagal mengisap payudara dan menangis kelaparan. Ia mencoba menggunakan botol; bila sia-sia mengisap dari botol, dia menyuapinya dengan sendok teh. Dia resah dan gelisah saat bayi itu batuk, tersedak, dan menangis.

‘’Mulut ini akan tertutup seiring pertumbuhannya,’’ bidan itu berjanji. Bagaimanapun, bibir itu terus terbuka, atau tidak cukup untuk tertutup, bahkan hidungnya pun tak bisa muncul lurus.

Ia membawa bayinya saat bekerja, dan terus membawanya ketika ia bukan lagi seorang bayi. Karena seringai dan bisik-bisik orang yang menyakitinya, ia menjauhkan bayinya dari bayi lain. Tahun demi tahun, Sukidi menjalani masa kanak-kanaknya dengan duduk dalam selimut melihat ibunya mengepel lantai rumah orang lain, dia belajar diam.

Karena cacat dan kemampuan berpikirnya yang lamban, Sukidi diberi pelajaran sekolah setelah menjalani percobaan singkat dan dimasukkan dalam lindungan Panti Asuhan Kasih Tuhan. Ia menghabiskan seluruh masa kanak-kanak bersama anak-anak yang menderita pelbagai cacat dan kemalangan. Sukidi belajar membaca, menulis, menghitung, menyapu, menggosok, membereskan ranjang, mencuci, bertukang dan berkebun. Saat berusia lima belas ia meninggalkan panti asuhan itu dan bergabung dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota S sebagai tukang kebun honorer. Gaji Rp 300 ribu setiap bulan, untuk dirinya sendiri pada tahun 2002 baginya itu sudah cukup, buat makan dan sewa kamar bedeng.

Tiga tahun kemudian ia keluar dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan setelah sesaat menganggur yangdihabiskannya dengan berleha-leha diranjang sambil memperhatikan detak jam dan cicak-cicak di dinding, ia mengambil kerja sebagai penjaga malam toilet umum di Balai Makan di pusat kota. Dalam perjalanan pulang dari kerja pada suatu Jumat baru-baru ini, dia diserang dua orang laki-laki yang memukulnya saat mengayuh sepeda.

Mereka mengambil dompet, uang, jam tangan dan sepatu, meninggalkannya tergeletak pingsan dengan luka bacokan sepanjang lengan, ibu jari keseleo, dan dua tulang rusuk patah.

Setelah kecelakaan itu, ia meninggalkan kerja malam dan kembali bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan, tempat ia perlahan-lahan bangkit dalam kedinasan menjadi tukang kebun magang.

Karena wajahnya, Sukidi tidak punya teman perempuan. Dia memang lebih nyaman bila sendirian. Pekerjaan memberinya semacam kesendirian, menyabit rumput seorang diri, memangkas daun-daun, menyemai, memberi pupuk, menyiram, semua dilakukan dalam diam, dalam kesunyian yang merasukinya perlahan-lahan. Ia merasa tenteram melihat berbagai taman hasil rawatannya, dan saat bunga-bunga bermekaran, sering ia menangis diam-diam, perasaan haru menyentuh hatinya. Sementara di toilet umum dulu ia terimpit cahaya terang neon yang menyinari keramik putih dan menciptakan ruang tanpa bayangan.

Suatu saat pada Hari Sabtu tiba-tiba ia mendengar ledakan keras seperti petasan berbobot satu ton yang meledak, ia memilih berdiam di bawah pohon pinus tinggi, dan membiarkan petang merambah tanah yang dipijaknya. Malam beranjak turun, ia melangkah dengan takut-takut, bunyi ledakan dan api berkobar di mana-mana membakar banyak toko dan rumah-rumah besar. Kerusuhan menghancurkan kotanya.

Pagi harinya, di kota yang berasap itu, pada usia dua puluh satu, sebuah pesan disampaikan kepada Sukidi saat ia termangu ragu antara pergi kerja atau kembali tidur. Dari orang ketiga, pesan itu dari ibunya: ia sedang sakit menderita pembengkakan tak wajar di tangan dan lengan; kemudian perutnya mulai membengkak juga. Ia telah didiagnosis rumah sakit gagal berjalan dan hampir gagal bernapas. Ia telah lima hari berbaring di koridor bersama sejumlah korban kerusuhan, banyak tubuh terbakar, pemukulan, penusukan, luka tembakan yang terus membuatnya bangun karena mereka gaduh; diabaikan para suster perawat yang kehabisan waktu demi menghibur seorang wanita tua yang tak kuat melihat banyak pemuda sekarat hebat menghadapi maut.

Ia dipulihkan dengan oksigen ketika datang, disuntik dan diberi pil untuk mengurangi pembengkakan. Bila suster bertanya tentang pil, ia menjawab telah minum, tapi kerap ia berbohong. Kemudian, meski sesak napas berkurang, tubuhnya terasa kaku seperti robot. Sampai hari ketiga ia memohon pulang ke rumah, meskipun jelas tidak memohon pada orang yang benar. Maka air mata yang ditumpahkannya pada hari keenam, hari saat Sukidi datang, sebagian besar merupakan air mata kelegaan karena lepas dari penderitaan.

‘’Syukur kau selamat, Nak,’’ ujar ibunya dengan bibir sedikit mengerut memberi senyum yang tulus.

‘’Tentu karena doa ibu,’’ Sukidi menjawab sembari menahan rasa lelah di bahunya yang berkedut,

‘’Sungguh malam yang mengerikan, seharusnya mereka tahu itu mengganggu kenyamanan orang lain pula,’’ tambah Sukidi.

‘’Kau tahulah Sukidi, apapun demi kepentingan kelompok, tak peduli itu merugikan orang lain,’’ ibu mendesah panjang, karena Sukidi hanya diam saja, ibunya mengalihkan pembicaraan,

‘’Bagaimana dengan pekerjaanmu?’’ mata si ibu menatap anaknya dengan lembut, bagai sinar matahari saat fajar menyingsing.

‘’Asyik, masih seperti dulu.’’

‘’Kau memang suka menyendiri, ambil pekerjaan pun yang membuatmu sendiri. Apakah bunga-bunga itu lebih menarik ketimbang mata dan senyum perempuan? Tak punyakah kau teman perempuan?’’

‘’Ah, Ibu ini,’’ begitu jawab Sukidi untuk menangkis arah pembicaraan ibunya.

Ibunya tak tahu bahwa semenjak melihat kondisi sakitnya ini ia ingin beralih pekerjaan, dan keinginannya itu makin bulat saat semalam ia bermimpi tengah meracik anggur dalam gelas di suatu kedai dengan sejumlah orang asing di sana.(62)

 

Didedikasikan untuk JM Coetzee

Solo, April 2014

Han Gagas, merampungkan kuliah di Geodesi UGM Yogyakarta dan mengarang cerita pendek dan novel. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media massa. Bukunya yang telah terbit: Sang Penjelajah Dunia (2010), Tembang Tolak Bala (2011), dan kumpulan cerpen Ritual (2012). Pada 2011, ia meraih penghargaan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT).

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: