Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 18 Mei 2014)

Penghuni Swan Yard ilustrasi Munzir Fadly

Welcome to our house!

It isn’t usually as messy as today.

 It’s worse!

 

KALIMAT itu tertera pada lempengan kayu cemara yang digantung di dinding dekat pintu utama rumah, bersebelahan dengan sebuah salib kayu. Makelar mempersilakan mereka masuk. Makelar itu mewakili sebuah agen perumahan yang tidak terkenal di Lancaster. Ia seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun, berwajah sangat muda dan polos, bulu matanya panjang-lentik dan matanya hijau. Ia terlihat seperti kanak-kanak. Ditambah dengan tubuhnya yang mungil, menurut Els, makelar itu serupa kurcaci. Els membisikkan hal ini pada San, suaminya, namun San lekas meletakkan jari telunjuk di bibirnya. 

Els dan San mengikuti makelar ke ruang duduk. Ruang itu terlihat seperti kapal pecah. Sepasang orang tua pemilik rumah duduk di sofa, di antara pakaian yang tersampir sembarangan dan bergunduk-gunduk. Lukisan dan buku-buku berserak di lantai, sementara beberapa patung-patung kristal berjajar di dekat kardus-kardus yang juga berantakan. Walau begitu, ruangan itu tidak meruapkan bau lembab, bau anjing basah, bau perpustakaan tua, atau bau susu basi, segala bau yang ada pada beberapa rumah lain yang sudah dikunjungi Els dan San. Udara di rumah itu terasa segar.

Rumah itu—sebuah maisonette apartemen tiga kamar, bercat cokelat, berlantai tiga (termasuk loteng), bernomor tiga belas dan berkode pos LA1 3EQ—adalah rumah ketiga belas yang San dan Els datangi. Dari rumah-rumah lain yang juga dijual di Swan Yard, Els paling suka posisi rumah itu: terletak tepat di tepi kanal dan berseberangan dengan katedral.

Ketika Els dan San naik ke lantai atas, dari kamar pertama mereka bisa melihat kanal dan dari kamar kedua, sebuah pohon beech, yang berdiri tegak di depan katedral dan sepertinya sudah berusia ratusan tahun, tampak dengan jelas. Sementara dari jendela loteng, menara jam balai kota mengintip dari celah dedaunan birch dan mapel.

Els suka dengan kanal dan pepohonan tua. Ia pun menggemari bangunan-bangunan kuno yang baginya sangat indah, memiliki karakter dan menyimpan banyak sejarah. Setidaknya, rumah-rumah tua yang ada di kota itu telah sanggup bertahan dari kejamnya Perang Dunia. Namun San sangat heran dengan kesukaan Els yang satu ini. Bagi San, rumah harus mampu melindungi dari dingin udara luar dan tidak menguras uang untuk biaya perawatan: dua hal yang tidak bisa diberikan oleh rumah-rumah tua.

“Kamu terlalu pragmatis, San. Kita juga harus hidup dalam keindahan,” Els berkata, lebih dari enam bulan yang lalu.

San menggelengkan kepala, “Aku tidak mau menghabiskan uang hanya untuk keindahan. Biaya gas untuk pemanas dan perawatan rumah tua sungguh tidak masuk akal bagiku.”

“Kamu tidak seperti orang Inggris, San. Sebagai orang yang lama tinggal di Inggris, seharusnya kamu juga mencintai bangunan-bangunan tua.”

San tertawa, “Kamu terlalu banyak membaca karya-karyanya Austen.”

Els menggeleng, “Bukan hanya itu, San. Rumah jaman Tudor atau Victoria memang indah sekali. Lihat saja ubin, dinding dan langit-langitnya. Keindahan seperti itu tidak bisa kita dapat dari rumah baru. Rumah baru, San, penuh dengan kepalsuan. Dinding palsu, lantai kayu palsu dan langit-langit yang membosankan.”

“Tapi, membayar mahal hanya untuk memandangi langit-langit rumah bukanlah tujuanku bekerja, Els.”

Mendapat jawaban seperti itu, Els terdiam. Selama ini San yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Els tidak pernah bekerja di luar rumah, dan ia tidak ingin bekerja. Els merasa ia tidak perlu bekerja. Toh San mampu memberikan apa pun yang ia inginkan, pikir Els. San tidak memerlukan bantuannya untuk menghasilkan uang. Terlebih lagi, bukankah Els sudah berbaik hati dengan membereskan pekerjaan rumahtangga, membersihkan rumah dan memasak? Bukankah di masa lampau, in the olden days, hanya orang-orang miskin saja yang bekerja? Perempuan-perempuan dari golongan atas tidak perlu membuat tangan mereka yang halus-bersih menjadi kasar dan kotor. Mereka bahkan memiliki puluhan pelayan.

Els ingin, seperti juga perempuan-perempuan bangsawan di jaman dahulu, ketika ia mati nanti, orang akan mengukir batu nisannya dengan kalimat serupa ini: ‘Els, istri yang sangat dicintai. Ia tidak perlu bekerja seumur hidupnya’. Ah, jika benar demikian, pikir Els, alangkah bangganya!

Hanya saja, untuk saat itu, Els mengalah dan sambil tersenyum ia berkata, “Mungkin karena selain Austen, sejak kecil di Indonesia dulu aku senang membaca Rowling, San. Mungkin karena itu juga.”

“Lalu karena itu kamu ingin tinggal di Hogwarts? Dengan suami bercambang atau kumis berujung lancip yang mengenakan topi tinggi, membawa tongkat atau payung sepanjang hari?”

Els dan San tertawa, seakan menyudahi diskusi mereka tentang membeli rumah tua atau baru. Tapi kenyataannya, walau pun San telah mengatakan “tidak” untuk rumah-rumah tua, selama enam bulan pencarian mereka, dari dua belas rumah yang mereka lihat, hanya dua yang merupakan bangunan baru. San berpikir, kecintaan Els pada sastra Inggris, imajinasinya terhadap negeri ini dan gambarannya akan bangunan tua jugalah yang membuat Els rela meninggalkan Indonesia untuk menemani dirinya merantau di negeri yang dingin, berangin dan suram ini.

Pun begitu, ketika pagi itu mereka membuka www.rightmove.co.uk, Els dan San melihat ada beberapa properti dijual di Swan Yard, tak jauh dari Victoria Memorial dan berada di area LA1, area paling tua di Lancaster. Dan sebuah berita gembira untuk San: rumah-rumah di Swan Yard baru dibangun dua puluh tahun yang lalu.

Lingkungan tua untuk Els dan bangunan baru untuk San! Swan Yard seolah jawaban bagi keinginan mereka berdua.

“Bagaimana?” tanya makelar pada San dan Els.

Els, dengan mata bulatnya yang berbinar dan pipi memerah, memandang mata sipit San dengan penuh harap. San terlihat ragu. Els paham sesungguhnya San masih tidak yakin untuk membeli rumah, seperti yang ia ungkapkan setengah tahun lalu. San tidak suka berhutang pada bank dan memilih untuk menyewa saja. Menurut San, menyewa rumah lebih praktis: tidak ada beban perawatan dan bisa pindah kapan saja. Terlebih lagi, membeli rumah di Inggris bukanlah investasi yang bagus: harga rumah belakangan ini tidak pernah naik atau bahkan turun.

Tapi bagi Els menyewa rumah sama saja dengan membuang uang percuma. Pour money down the drain, demikian kiasan Inggris yang selalu Els ingat. San, yang memang kerap mengalah dan mengikuti kemauan Els, akhirnya mengiyakan ajakan Els untuk “melihat-lihat” rumah. Dan akhirnya, hari itu, ketika Els meraih tangannya dan menggenggamnya erat, San pun tak kuasa untuk mengatakan tidak. Ia akhirnya mengangguk.

Anggukan San itu membuat si makelar tersenyum lebar, “Saya bisa merekomendasikan solicitor yang bagus.”

Sepasang orang tua pemilik rumah yang sedari tadi duduk di sofa, menggenggam rosari di satu tangan sementara tangan mereka yang lain bergenggaman, terlihat lega dan seolah ingin melompat karena gembira.

Di sudut ruang duduk, sebuah televisi layar cembung, yang sedari tadi memainkan film bisu hitam-putih, tiba-tiba mengeluarkan desis, berkedip beberapa kali, lalu mati.

 

TIGA bulankemudian, San dan Els pindah ke Swan Yard. Pindah ke bagian tertua dari kota Lancaster membawa imajinasi Els pada masa lampau. Setiap kali Els bangun dari tidur dan membuka tirai jendela, melihat angsa-angsa yang berenang di kanal, pagar batu dan jembatan tua, ia tersadar kalau ia tinggal di Inggris, di pulau kecil tempat para penulis kesukannya pernah hidup. Setiap kali ia melihat orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya, yang berambut pirang, berhidung ujung lancip, dengan bercak di kulit mereka yang pucat, Els merasa dekat dengan tokoh-tokoh di cerita-cerita yang pernah ia baca. Ketika ia mendengar orang-orang itu berbicara pelan dengan logat British yang kental dan hampir tanpa menggerakan bibir mereka yang tipis, dan saat mereka, tanpa ia minta, membukakan pintu untuknya di pertokoan dan perkantoran, mempersilakan ia menyebrang jalan, mengantri di depan mereka dan mengambilkan barang yang sulit ia raih karena tubuhnya yang kecil, Els merasa ia hidup di jaman yang baginya teramat menggetarkan. Kesopanan sedemikian rupa sungguh membuat Els jatuh kagum pada penduduk pulau berangin ini.

Tapi San selalu mengingatkannya, “Masa lampau itu tidak seindah imajinasi di benakmu, Els. Dan tidak semua orang sesopan yang kamu kira. Bahkan mungkin sebaliknya.”

San mengacungkan jempolnya, lalu memutar tangannya hingga jempol itu berada di bawah. Mendengar perkataan San ini, Els hanya tertawa dan lekas melupakannya. Els terlalu sibuk mengatur perabotan dan mengamati sekeliling rumah mereka: banyak pepohonan dan sudut-sudut yang seolah menyimpan cerita.

Els pun tertarik pada rumah yang terletak di sudut jembatan, Clayton Bridge House namanya. Rumah itu terlihat berbeda dengan rumah-rumah lainnya: berupa tumpukan batu berbentuk balok, berjendela sempit dan beratap rendah. Els mengira-ngira siapa yang tinggal di rumah itu. Ia kerap mengitari rumah itu tapi tidak melihat tanda kehidupan: kaca-kaca jendela yang berdebu, pipa air yang kering dan catnya terkelupas, sarang laba-laba di hampir setiap sudut. Di malam hari, sebelum menutup tirai jendela ruang tamu, Els sering mengintip ke arah rumah batu, namun ia tidak melihat cahaya lampu.

Satu waktu, Els sedang berjalan menyusuri tepi kanal ketika seorang perempuan berambut pendek keperakan, yang duduk di bangku kayu, menyapanya, “Penghuni baru di Swan Yard?”

Els mengangguk senang. “Apa kita bertetangga?”

“Ya,” perempuan itu menjawab pelan, “tapi aku harap tidak untuk waktu yang lama.”

Awalnya Els senang ketika tahu perempuan itu bertetangga dengannya dan ia berencana menanyakan tentang rumah batu. Tapi mendengar lanjutan perkataan perempuan itu, Els menaikkan alis. Perempuan itu menunjuk ke rumah di seberang rumah Els dan San.

“Itu rumahku.”

Sebuah plang kayu tertancap di tanah di depan rumah itu. Plang itu bertuliskan ‘For Sale’.

“Oh,” Els tersenyum, “Sepertinya ada banyak rumah yang dijual ya?”

“Ya,” perempuan itu berkata, “semua orang ingin secepatnya meninggalkan Swan Yard.”

“Mengapa?”

“Jika kita tidak beruntung, akan ada tanda silang merah di pintu rumah kita. Gereja yang menentukan.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Semua berawal dari Henry VIII, si Raja Tudor,” perempuan itu terbatuk, “1536. Kau ingatlah tahun itu. Itulah awal dari kutukan masa lampau yang menghantui hingga sekarang. Henry kawin enam kali, berseteru dengan Roma dan akhirnya mengharuskan rakyat membayar tanah glebe.”

“Apa ini mengenai chancel repair liability?” Els menduga-duga.

Perempuan berambut perak mengangguk.

“Oh,” Els tersenyum. Kemudian ia menjelaskan, “Sebelum menandatangani kontrak pembelian rumah, solicitor kami menyinggung tentang itu. Tapi dia bilang itu tidak masalah, kami hanya perlu membayar asuransi senilai 25 quid.”

Els teringat saat menjelaskan hal itu, solicitor mereka—di kantornya (yang sangat indah, bagi Els, dan sangat tua, bagi San) yang terletak di dekat Lancaster kastil—tersenyum ramah, matanya yang hijau dinaungi alis nan lentik seolah tersenyum lembut. Els merasa pernah melihat mata yang sama, tapi entah di mana.

Penjelasan solicitor tentang tanah glebe itu lewat seperti angin lalu: Els terlalu sibuk untuk ambil tahu lebih rinci. Els asik mengamati kabinet-kabinet kayu dan ubin lantai kantor yang berusia ratusan tahun. Sementara San, yang ingin selekasnya keluar dari kantor yang baginya pengap dan gelap itu, percaya begitu saja pada perkataan sang solicitor.

“Ha! Apa dia juga menjelaskan kalau asuransi tidak akan mau membayar sesuatu yang sudah pasti merugikan, seperti asuransi banjir untuk rumah yang sudah terendam air?”

Perempuan itu terbatuk, lalu ia melanjutkan, “Rumah-rumah di Swan Yard akan ditandai: Lay Rector. Tidak akan ada yang mau membeli rumah yang ditandai. Tidak akan ada asuransi yang mau membayari.”

Els mematung bingung.

“Kutukan masa lampau. Rumahmu tak akan laku dijual. Tidak ada nilai. Dan seumur hidup kau harus membayari perawatan katedral.”

“Tidak mungkin …”

“Ha! Kau tak percaya? Lalu menurutmu, mengapa semua orang memasang plang ‘For Sale’ di depan rumah mereka?” Perempuan itu tersenyum pahit dan melanjutkan, “Tapi mungkin sekarang sudah terlambat, kutukan segera jatuh. Hari ketiga belas di bulan ini adalah batas akhir untuk gereja menjatuhkan vonis. Hari ketiga belas! Mereka akan datang! Mereka akan datang!”

Perempuan itu bangkit dari bangku. Dia berjalan tertatih ke tepi kanal, dan dengan tongkat kayunya, dia mengusir angsa-angsa yang kemudian mengepakkan sayap terbang menjauh.

 

ELS merasa tidak mampu menyampaikan kabar buruk itu kepada San. Ia sungguh bingung. San telah menghabiskan semua uang tabungannya dan berhutang banyak kepada bank untuk membeli rumah itu. Tentu San akan sangat kecewa jika mengetahui bahwa rumah yang mereka beli terancam tidak ada harganya, dan mereka juga harus membayari perawatan katedral. Terlebih lagi, Els mengerti kalau San berencana untuk menjual rumah mereka dan pindah ke daerah selatan, beberapa tahun dari sekarang.

Els sungguh berpatah hati. Kemungkinan terburuk di hidupnya seolah berada di pelupuk mata: ia harus bekerja mencari uang. Baru sekali ini di dalam hidupnya, Els tidak menyukai hal yang berkaitan dengan the olden days.

Apa yang harus dia sampaikan pada San? Els mengira-ngira. Apakah dengan menyalahkan King Henry VIII, San akan sedikit terhibur? Atau sebaiknya, dia menyalahkan anggota parlemen yang tidak mau menghapus hukum kuno, walau sudah ratusan tahun dilupakan orang-orang, alih-alih mengukuhkannya tanggal tiga belas bulan ini? Atau lebih baik mereka menuntut solicitor dan makelar yang memfasilitasi mereka membeli rumah, sebelum semua terlambat? Sebelum pihak gereja datang dan menandai rumah mereka?

Bagi Els, kemungkinan terakhirlah yang masuk akal dan merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari perangkap Swan Yard. Mungkin saja mereka masih sempat membatalkan kontrak rumah dan kredit dari bank. Mungkin saja mereka masih sempat mengelak dari kutukan.

Malam harinya, Els hendak mengajak San berbicara ketika ia melihat kerlip cahaya lampu dari rumah batu. Dari balik tirai jendela ruang duduk, disinari lampu-lampu taman, Els melihat sosok gelap bertubuh mungil keluar. Sosok itu menjinjing sebuah kaleng dan kemudian berhenti di rumah seberang, mengguratkan tanda silang berwarna merah di pintu rumah itu. Els menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Sosok gelap itu berbalik, berjalan di antara bayang-bayang pepohonan mapel, menuju ke arah rumah mereka. Els mengendap-endap mendekati pintu. Ia berjinjit dan mendekatkan matanya ke lubang pengintip. Namun, anehnya, hanya pekat yang Els lihat. Sedetik kemudian, secercah cahaya berkelebat. Hanya sedetik, namun cukup membuat Els tersadar dan luar biasa terkejut. Ternyata bukan kegelapan yang ia lihat.

Tapi sebuah mata berwarna hijau! Dan mata itu seakan menyeringai jahat.

 

 

Lancaster, Oktober 2013

Rilda A.Oe. Taneko berasal dari Lampung dan sekarang menetap di Inggris. Kumpulan cerita pendeknya Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010)

Advertisements