NEKA


Cerpen Eep Saefulloh Fatah (Kompas, 18 Mei 2014)

Neka ilustrasi

 

Malam jatuh dengan ubun terluka
Hujan menombaki senja
Ombak bagai kelebat mandau (*)

AKU biarkan sekujur tubuhku dirundung kuyup. Ini senja kesepuluh aku teronggok di tubir pantai gelap itu. Tadi siang, dua bis kota bergantian mengangkutku. Sebuah angkot melanjutkannya hingga ke loket karcis. Lalu kusambangi pantai hingga malam mengubur terang. Kupeluk sepi di tengah keramaian. Rute sebaliknya kutempuh hingga kamar kos di pinggir kampus membekap tidurku dalam kelelahan. 

Sekujur diriku terluka. Bahkan setiap hujan di musim yang basah ini serasa menombaki ulu hatiku. Hasratku untuk pulang terhadang rasa takut di ubun-ubun. Peperangan hasrat melawan takutku tak juga usai. Dan aku tak bisa bicara pada sembarang orang. Teman sekamar kosku sekalipun.

Itulah rentetan kalimat yang kusua dalam catatan harian Neka. Di atasnya tertulis ”1 Desember 2000”. Beberapa buku catatan harian Neka kutemukan terselip di lapis paling bawah tumpukan baju-baju di dalam lemarinya. Sebagai teman satu kamar kosnya, aku tak pernah berani dan merasa punya hak untuk membuka lemari itu, apalagi mengambil dan membuka buku hariannya. Sampai kuterima sepucuk surat yang datang sebagai petir di tengah siang bolong itu.

***

1 Oktober 2000:

Ini bukan sekadar soal Ayah. Ini soal keselamatan diriku. Dan terlalu banyak pelajaran buruk mengerangkeng pikiranku sekarang.

Sebulan sudah kabar itu sampai. Di pinggiran Dilli, Ayahku terbujur dalam sakit parah. Surat yang dikirim Ibu hanya menyebutkan, ”Neka, Ayahmu terus menanyakan kapan kamu pulang. Keadaannya memang sungguh payah. Lebih dari sakit-sakit sebelumnya. Dalam suhu panasnya, Ia terus saja mengigaukanmu.”

Aku membayangkan lelaki itu. Seorang Ayah terbaik yang bisa dimiliki oleh anak mana pun di dunia. Terbaring layu di ambin kayu rumah kami. Tentu saja tanpa kemampuan untuk membawanya ke rumah sakit di pusat kota. Membawa Ayah ke rumah sakit merupakan kemewahan tak terkira untuk Ibu yang harus berjuang keras untuk membuat anak-anaknya bisa makan hari itu. Gambar Ayah yang tergolek lemah tak berdaya terus mengganggu di pelupuk mataku. Tapi, tabungan keberanianku belum juga cukup untuk pulang menemani Ayahku yang gering payah itu.

Keberanianku lenyap bukan tanpa sebab. Kemerdekaan Timor Leste membawa serta banyak kerumitan untuk hidupku. Tepatnya, untuk kami para aktivis prointegrasi Timor Timur di Jakarta. Ini tahun keempat aku kuliah di sebuah universitas besar Jakarta. Semua sudah tahu bahwa aku adalah salah seorang aktivis prointegrasi yang paling nyaring. Sekalipun tentu saja tak senyaring Lopez, sepupuku.

Tapi, itulah. Lopez mati dengan dada berlubang bekas tikaman selepas sebuah diskusi malam di Pasar Minggu. Mayatnya mengambang di kali Ciliwung yang keruh dua hari kemudian. Semua kawannya mengenang Lopez dengan mengutip kalimat terakhir yang ia ucapkan dalam diskusi yang mengantarnya ke pintu ajal itu.

”Aku bersaksi bahwa rakyat Timor Timur harus merdeka. Kemerdekaan ini adalah harga mati. Tapi, aku bersaksi bahwa bukan kemerdekaan dari Jakarta yang kami butuhkan tapi dari para begundal yang menyebut dirinya pejuang-pejuang kemerdekaan Timor Leste. Mereka adalah para begundal yang mengatasnamakan rakyat untuk kembali menjajah kami. Perjuangan mereka untuk kemerdekaan Timor Leste tak lebih dan kurang adalah topeng untuk menyembunyikan niat busuk mereka: memanjakan rakyat Timor Timur dalam kebodohan dan menguras habis kekayaan bumi yang mereka injak untuk memperkaya para begundal itu.”

Lima lubang bekas tikaman di dada Lopez adalah jawaban untuk pidatonya yang berapi-api itu.

Aku membaca catatan harian Neka dengan pikiran tersedak. Tak kusangka sahabat baikku ini menyimpan pergolakan batin yang begitu keras di balik diamnya. Sebagai teman satu jurusan di satu kampus, bahkan teman satu kamar kosnya, tak sekalipun kudengar ia bercerita tentang pergulatan hasrat pulang melawan takutnya itu.

Sesekali Neka memang bercerita tentang kerinduannya pada Ayah yang sangat ia agungkan. ”Lelaki ringkih yang menyerahkan seluruh hidup dan matinya untuk keluarga, tanpa menyisakan secuil pun untuk dirinya sendiri”. Begitulah Neka menggambarkan Ayahnya dalam sebuah obrolan ketika kami membunuh waktu di kamar kos kami senja itu.

Aku mengenal Neka sebagai perempuan cerdas yang pendiam dan tak suka bercerita tentang dirinya sendiri. Ia seperti menyimpan terlalu banyak luka dalam masa lalunya sehingga selalu enggan tiap kali harus mengembalikan ingatan ke belakang.

Tak perlu perdebatan panjang untuk bersepakat betapa cantiknya Neka. Kulit coklatnya, mata bundarnya, hidung portugisnya dan tinggi semampainya adalah perlengkapan yang lebih dari cukup untuk menaklukkan banyak lelaki. Tapi, setahuku, ia tak pernah bergaul dekat dengan satupun dari banyak lelaki yang mengejarnya. Selalu menjaga jarak aman. Tak pernah sekalipun ia mengiyakan ajakan kencan yang kerap diajukan mereka.

”Aku tak boleh sembarang memilih lelaki. Hanya seorang lelaki terhormat yang berhak merebut hatiku. Juga keperawananku,” katanya sore itu.

Neka bukan hanya cantik, namun juga membawa ke mana-mana senyum tipis yang berhenti permanen pada kedua bilah bibirnya yang sempurna. Senyum ini ternyata punya fungsi lain yang tak kuduga: Menyembunyikan pergolakan batin yang begitu dahsyat sebagaimana kusua dari yang ia tuliskan di buku catatan hariannya.

Kami memulai kuliah di penghujung kekuasaan Soeharto. Neka datang bersama beberapa orang temannya, penerima beasiswa pemerintah Jakarta untuk siswa-siswa berprestasi seantero Timor Timur. Di tengah banyak teman sekampusku yang cantik-cantik, logat bahasa Indonesia Neka yang canggung membuat Neka sangat berbeda dan dengan cepat menarik perhatianku. Hingga akhirnya dengan cepat kami berkawan dekat.

Neka juga menarik perhatian banyak orang karena saat itu diskusi soal masa depan Timor Timur menjadi salah satu topik yang paling menarik minat para aktivis mahasiswa di kampus. Indonesia dalam transisi dari rezim Orde Baru ke era Reformasi yang penuh harapan. Kami beruntung menjadi mahasiswa di tengah semangat perubahan yang begitu menderu-deru, ketika diskusi-diskusi politik tak dipandang sebagai kegenitan melainkan keharusan.

Dalam diskusi-diskusi soal masa depan Timor Timur dan kemudian kemerdekaan Timor Leste itu mau tak mau banyak mata memandang ke Neka setiap kali dibutuhkan ”pandangan dari dalam”. Dan Neka yang pendiam selalu saja menjadi mitra diskusi yang cekatan dan tak pernah menyembunyikan sikapnya.

Menurutku, Neka selalu menunjukkan sikap mendua di hadapan banyak mahasiswa Jakarta yang tak tahu banyak tentang Timor Timur. Di satu sisi, ia tunjukkan dengan tegas bahwa integrasi ke Indonesia adalah pilihan terbaik bagi Timor Timur. Tapi di sisi lain, Neka selalu menegaskan dengan keras bahwa Jakarta telah banyak membuat kebijakan tak adil bagi warga Timor Timur. Neka menyebut Timor Timur sebagai anak kandung yang diperlakukan seperti anak tiri yang tak diharapkan oleh Jakarta.

Neka adalah penuntut perbaikan Timor Timur yang sangat gigih. Tapi, ia percaya bahwa keadaan tak akan membaik di tangan para gerombolan pro-kemerdekaan. Bahkan sebaliknya, ia menganggap para gerombolan itu sebagai orang-orang yang akan merampok kebahagiaan dan kesejahteraan dari setiap orang di Timor Timur. Bagi Neka, mereka adalah para penari yang tak sungkan berpesta di atas irama gendang penderitaan rakyat Timor Timur.

Sikap mendua itu membuat Neka seperti seorang Timor Timur yang benci tapi rindu pada Indonesia. Ia pro-integrasi tapi juga pengeritik Jakarta yang keras dan pedas.

Itulah yang membuat Neka seperti tak punya tempat di dua sisi persoalan sekaligus. Bagi sejumlah mahasiswa Timor Timur yang diam-diam mencita-citakan kemerdekaan dari Jakarta, Neka adalah musuh dalam selimut. Sementara bagi banyak mahasiswa Jakarta yang tak suka kerewelan dan sikap kurang berterima kasih warga Timor Timur, Neka seperti kerikil dalam sepatu. Kecil tapi mengganggu.

Maka kemerdekaan Timor Timur bukan saja tak membuatnya bahagia tapi juga membuatnya canggung. Para mahasiswa Timor Timur di Jakarta yang pro-integrasi seperti Neka dilanda ketakutan ketika membayangkan pulang. Timor Leste bagi mereka seperti kampung halaman yang asing. Sebuah oksimoron.

Dengan ketakutan itulah Neka mesti bergulat ketika sakit Ayahnya mengundangnya pulang.

”Aku harus pulang,” kata Neka pada satu sore di beranda depan kamar kos kami.

”Harus. Aku tak punya pilihan lain. Ayahku sakit keras,” katanya lagi seperti bergumam.

Setelah berkelahi dengan ketakutannya sendiri, akhirnya Neka memang memutuskan pulang. Ia tak mau kehilangan kesempatan bertemu ayahnya sebelum maut menjemput lelaki tua yang amat dicintainya itu.

Lelaki tua yang digambarkan Neka dengan takzim sebagai orang yang berjasa mengajarinya tentang pentingnya makro dan mikro kosmos bagi orang Timor Timur. ”Tugas mulia setiap orang Timor Timur,” kata Neka mengutip Ayahnya, ”adalah menyambungkan makrokosmos, dunia di atas sana, dengan mikrokosmos, dunia tempat kita berdiri.”

Kerinduan itu menjelma dalam pilihan kata yang dibuat Neka untuk menggambarkan Ayahnya. ”Lelaki yang mendekatkanku pada gereja tua kampung kami dan membuat aku selalu dirundung rindu pada kayu-kayu dinding gereja yang lapuk itu.” Atau ”Lelaki yang menukarkan prinsip-prinsip hidupnya yang keras dengan kemiskinan tapi dengan tetap menunjukkan tanggung jawab penuh untuk keluarganya.”

***

Neka pun pergi meninggalkan kampus yang baru saja memulai semester baru. Aku sendiri kemudian dilanda cemas karena kehilangan kabar darinya nyaris satu semester. Sampai akhirnya pada sebuah siang bolong sepucuk surat mampir ke tempat kosku membawa jawaban untuk kecemasanku. Jawaban yang tak kuharapkan.

Dina yang baik,

Aku harap kabarmu baik-baik saja. Mohon jangan tanyakan balik bagaimana kabarku karena ”baik” dan ”buruk” sudah tak berarti apapun buatku sekarang.

Aku menulis ini untuk minta tolong agar kamu simpankan baik-baik beberapa buku catatan harian yang kusimpan di lemari pakaian. Waktu pulang tempo hari, mustahil buku-buku itu kubawa serta. Isinya akan membawaku ke tiang gantungan gerombolan pro-kemerdekaan yang sekarang sudah berganti rupa jadi penguasa.

Tanpa buku-buku harian itupun aku pulang seperti menyerahkan diri ke tiang gantungan mereka. Aku memang masih hidup sekarang tapi tinggal jasad saja. Jiwaku sudah benar-benar mereka gantung dan mati.

Sesampainya di Pelabuhan Dilli, seseorang yang tak kukenal, tapi mengaku utusan keluargaku, menjemputku. Aku tak dibawanya pulang ke rumah tapi ke dalam sebuah hutan.

Dengan mata tertutup, aku dibawa ke sebuah tempat dan dihadapkan pada sekelompok orang yang menginterogasiku dengan buas. Aku dipaksa mengaku sebagai agen intelijen yang dikirim Jakarta. Aku juga mereka tanyai berulang-ulang tentang hubunganku dengan Lopez. Menyangkut Lopez, mereka seperti membutuhkan setiap detail. Entah untuk apa dan kenapa.

Mereka menyiksaku tanpa ampun karena aku tak tak punya jawaban yang mereka harapkan. Selepas dua hari diinterogasi, pada sebuah malam, seorang lelaki menyergapku dan memperkosaku tanpa bersuara.

Tahukah kamu Dian, siapa lelaki itu? Di hari berikutnya aku tahu bahwa lelaki itu adalah pamanku sendiri!

Aku kemudian sedikit bernasib baik karena satu orang dari mereka jatuh kasihan padaku. Dia membuka jalan bagi pelarianku dari tempat jahanam itu. Aku sekarang hidup dalam sebuah tempat persembunyian dijaga sekelompok aktivis hak asasi dan gereja.

Dina,

Jika surat ini kamu terima, berarti kita harus berterima kasih pada seorang anak muda, seorang wali gereja. Berkat jasa baiknya aku bisa menyelundupkannya.

Sekali lagi, tolong simpan buku-buku catatan harianku. Kamu boleh membacanya untuk tahu apa yang terjadi di sini dan apa yang selalu aku risaukan sepanjang perkuliahanku di Jakarta.

Barang-barang yang lain boleh kau simpan atau buang. Terserah kamu saja.

Dina,

Aku menulis ini untuk mengabarimu bahwa aku tak akan kembali ke kampus, ke Jakarta. Aku kehabisan alasan untuk kembali seperti juga sebetulnya kehilangan alasan untuk bertahan hidup. Bukan hanya karena pemerkosaan biadab yang telah membunuh jiwaku tapi juga karena aku tak bisa memaafkan diriku sendiri yang tak bisa menemani mendiang Ayahku di hari-hari terakhir hidupnya.

 

 

Catatan:

(*) Cuplikan sajak Zen Hae dari kumpulan Paus Merah Jambu (Akar Indonesia, 2007).

2 Responses

  1. Saya terkagum-kagum dengan ‘sihir bahasa’ dari cerpen ini. 🙂

    Like

  2. Cerpen yang membuka rasa ingin tahu tentang timor leste yang sebenarnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: