Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 18 Mei 2014)

 

20140522_233238

Arak – arakan Pengantin Kecil 

TAK ADA yang lebih menyenangkan dari keriangan anak-anak. Bahkan bagi malaikat. Menyaksikan serombongan anak-anak menirukan bebunyian gamelan mengiringi sepasang pengantin kecil bermahkotakan untaian daun nangka di siang yang terik itu, saya melayang pelan dan merasakan kegembiraan mereka. Seolah mereka arak-arakan pengantin dari surga. 

Demi melengkapi kebahagiaan mereka saya pun meniupkan cahaya lembut hingga perlahan cahaya terik matahari siang itu terasa seperti kelambu pengantin yang putih bersih. Saya berbisik pada bunga-bunga agar memoles kelopaknya menjadi lebih penuh warna, dan membiarkan mereka dipetik dan disematkan ke telinga sepasang pengantin kecil itu. Lihatlah, kepompong yang tergantung di dahan murbai perlahan menggeletar terbuka, lalu seketika berkelepakan kupu-kupu bersayap jelita yang terbang berkitaran dan hinggap di kepala gadis pengantin kecil itu. Kawan-kawan yang mengiringnya seketika bertambah gembira.

”Lihat! Pengantinnya bermahkota kupu-kupu!”

”Horee! Horee…”

”Ayoo Thomas!”

”Ayoo Azizah!”

”Ayoo gandengan!”

Sepasang pengantin kecil itu pun bergandengan, diiringi tetabuhan riang mulut anak-anak yang mengiringinya. Pada saat itulah kurentangkan sayapku dan kurengkuh gumpalan awan agar memayungi sepasang pengantin kecil itu. Orang-orang tersenyum menyaksikan arak-arakan pengantin kecil itu. Keriangan anak-anak memang membuat dunia menjadi menyenangkan.

Surga tak lain adalah kegembiraan anak-anak.

 

Secangkir Kopi Senja 

Sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hitam kental selalu membuat senja menjadi terasa lebih harum. Itulah saat-saat yang menyenangkan Abah Abdullah tiap duduk di beranda rumahnya setelah seharian bekerja. Sebentar lagi ia pensiun, dan ia akan punya waktu lebih lama menikmati suasana seperti ini. Ia menyeruput kopinya pelan-pelan, ketika Azizah, anaknya yang keenam, paling bungsu, mendekat dan menggelendot manja.

”Ada apa, Nak?”

”Ehh, Abah tahu Thomas, kan?” bocah itu menatap serius.

”Tentu dong. Dia teman baikmu, kan?”

”Ya, saya dan Thomas selalu main bersama. Mengejar kupu-kupu, mencari biji-biji kenari. Kami juga belajar bersama, bernyanyi bersama. Kami satu kelas saat belajar menghitung dan membaca. Tapi kenapa ketika pelajaran agama, kelas kami berbeda?”

Tak menyangka akan pertanyaan seperti itu, Abah Abdullah tak bisa menutupi kekagetannya.

”Ya, karena memang begitulah peraturan sekolah…”

”Kenapa belajar agamanya nggak di kelas yang sama saja?”

”Kan beda…”

”Bedanya apa?”

Abah Abdullah menghela napas. Bagaimana menjawab pertanyaan anaknya yang belum genap 7 tahun itu? Ia memandang jauh ke arah senja yang dalam pandangannya menjadi begitu cepat menggelap. Entah kenapa ia merasa senja itu lebih pahit dari secangkir kopi hitam kental yang perlahan diseruputnya.

 

Lonceng di Pohon Natal 

Pohon Natal sudah berdiri di ruang tamu. Saatnya Thomas menghiasi dengan lonceng-lonceng kecil warna perak. Papa mamanya tahu, sejak saat anak tunggalnya itu bisa berdiri, dia memang paling suka dengan lonceng kecil yang diletakkan di pohon Natal dan selalu tertawa riang ketika lonceng itu berkelentingan bergoyang-goyang. Thomas sendiri suka membayangkan, ketika lonceng itu berbunyi ada tangan malaikat yang menyentuhnya. Bunyinya yang nyaring sering bergema dalam mimpinya.

”Lihat, Mama,” kata Thomas, menunjuk lonceng itu, ”Nanti kalau Thomas kawin dengan Azizah, Thomas ingin membawa lonceng itu.” Mamanya, yang baru saja muncul membawakan sepiring kue, tersenyum mendengar perkataan Thomas.

”Hus!” ujar papanya, ”Anak kecil kok sudah ngomong kawin segala. Pasti kamu kebanyakan nonton sinetron…”

”Kemarin Thomas dan temen-temen main manten-mantenan. Asyik deh, Pa. Thomas dan Azizah yang jadi pengantinnya.”

”Itu kan cuma mainan. Kok kamu jadi serius gitu…,” ujar mamanya.

”Tapi kata temen-temen, Thomas cocok lho kalau besok besar kawin sama Azizah.”

Mama papanya menghela napas panjang. Sementara bocah 7 tahun itu perlahan memejamkan mata ketika mendengar lonceng kecil di pohon Natal itu bergemerincing. Malaikat-malaikat itu telah datang, Thomas menangkupkan kedua tangannya, seolah berdoa di dekat pohon Natal.

Mama papanya saling pandang.

 

Dua Wajah Kekasih 

Di antara guru-guru SMP, Pak Hikmanto termasuk yang paling menyenangkan. Pelajaran sejarah menjadi tidak membosankan setiap kali Pak Hikmanto menjelaskan peristiwa di masa lalu. Sejarah bukan sekadar menghafal tahun-tahun dan mengingat sederet nama pahlawan. Thomas dan Azizah paling suka bila Pak Hikmanto menjelaskan sejarah kota kecil mereka. Pak Hikmanto sering mengajak murid-murid bersepeda keliling kota, mengunjungi bangunan-bangunan tua, kawasan kota lama, menceritakan riwayatnya. Yang tak terlupakan oleh Thomas dan Azizah ialah ketika Pak Hikmanto menjelaskan masjid dan gereja tertua di tepi teluk itu.

”Lebih 450 tahun lalu, orang-orang Eropa sampai ke teluk itu, lalu jatuh cinta pada keindahannya. Sebenarnya mereka tak sengaja merapat. Lebih tepatnya, tersesat. Karena mereka sesungguhnya sedang mencari pulau rempah-rempah. Tapi keindahan pulau kita membuat orang-orang Portugis itu ingin menetap. Kalian lihat bangunan gereja dan masjid itu? Keduanya dibangun nyaris pada kurun yang bersamaan, setelah orang-orang Eropa semakin banyak yang menetap.

Pada saat itu, penduduk yang mayoritas beragama Islam ikut bekerja membantu membangun gereja. Sementara ketika perdagangan makin maju, orang-orang Eropa yang beragama Kristen ikut menyumbang pembangunan masjid. Kalian pasti bisa merasakan bagaimana kedua rumah ibadah itu berhadap-hadapan, seperti bercakap-cakap. Kedamaian selalu dimulai dari saling pengertian. Atau bila kalian melihatnya dari atas bukit itu, kalian akan bisa menyaksikan bagaimana masjid dan gereja itu seperti dua wajah yang saling bertatapan. Seperti sepasang yang saling merindukan…”

”Seperti Thomas dan Azizah,”celetuk murid-murid.

Pak Hikmanto, yang sudah tahu kedekatan Thomas dan Azizah, tersenyum.

 

Elang Gunung dan Elang Laut 

Kisah ini diriwayatkan leluhur, jauh sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho – yang tilas tapak kakinya tergurat di sebuah batu yang tak jauh dari pantai. Sebagaimana yang ditamsilkan oleh mimpi, akan datang seorang pendekar dari seberang, yang disebut Elang Laut. Maka penduduk pun mendatangi Elang Gunung, pendekar yang mengusai perbukitan pulau. Bagaimanapun mereka tak tahu apa maksud kedatangan pendekar seberang itu. Berjaga lebih baik dan melawan adalah sebaik-baik martabat.

Perkelahian tak terhindarkan ketika kedua pendekar itu berhadapan. Elang Gunung dan Elang Laut, keduanya muda dan sakti, hingga gampang tergoda untuk berkelahi. Seribu purnama perkelahian itu berlangsung. Perkelahian yang membuat musim di pulau itu berubah menjadi begitu menakutkan. Angin menderu dan badai yang ditimbulkan pukulan-pukulan kedua pendekar itu menerbangkan pepohonan. Tebing-tebing runtuh menimbun perkampungan. Pertarungan tak akan pernah melahirkan pemenang, kecuali musim buruk yang berkepanjangan. Sampai dewa-dewa langit turun untuk menghentikan.

Buku takdir dibuka dan riwayat lama dibacakan para dewa. Hingga asal-usul kedua pendekar itu pun terjawab. Ketika jagat semesta tercipta dan segalanya masih gelap gulita, seekor burung gaib terbang membawa sebutir telur kehidupan. Ketika burung gaib itu mengarungi semesta, tiba-tiba telur yang dibawanya pecah. Putih telur itu terjatuh di tengah samudera dan menetas menjadi Elang Laut. Sementara kuning telurnya jatuh ke tengah pulau dan menjelma Elang Gunung. Keduanya tak lain bersasal dari telur yang sama. Bukti bahwa keduanya bausodara satu telur adalah kaloung di leher kedua pendekar itu, yang terbuat dari manik-manik yang sama dan serupa. Kaloung itulah yang kemudian mendamaikan keduanya.

Hari ketika kedua pendekar itu bertukar kaloung selalu dirayakan penduduk dengan penuh kegembiraan. Hari itu diperingati sebagai hari kaloung. Hari yang terus dirayakan hingga saat ini. Di hari itu orang-orang akan membuat kalung manik-manik dari rautan kayu, kemudian saling bertukar kalung itu, agar selalu rukun., tanda bersaudara. Para petani membuat kalung dari biji-bijian agar panen mereka melimpah sepanjang tahun. Para nelayan akan membuat untaian kalung dari kerang atau lokan agar selalu diberi keselamatan dan kedamaian. Ibu-ibu akan memakaikan kalung pada anak-anaknya, dan mereka yang sedang jatuh cinta menghadiahkan kalung yang dibuatnya sendiri untuk orang yang dicintai.

Di hari ketika seluruh penduduk begitu gembira itulah, Thomas memberi Azizah sebuah kalung. Terbuat dari kayu yang ia raut begitu halus.

 

Sebuah Kisah untuk Azizah 

Kisah ini diceritakan Thomas pada Azizah setelah ia memberikan kalung itu.

Suatu kali, seperti ada yang menahan gerak matahari hingga subuh terasa lebih lama. Saat itu, di masjid, Nabi sedang jamaah. Para sahabat merasa heran, kenapa Nabi melakukan ruku’ lebih lama, hingga waktu terasa bergeser lebih lambat dari biasanya. Usai sholat, Nabi ditanya seorang sahabat.

”Apa yang terjadi, ya Rasulullah, sehingga Tuan memperlama ruku’ tidak seperti biasanya?”

”Ketika aku ruku’ tadi, dan membaca subhana rabbial azhim, lalu hendak mengangkat kepalaku berdiri, tiba-tiba Jibril datang dan merentangkan sayapnya di atas punggungku hingga lama sekali. Sampai sayap itu diangkat, barulah aku bisa mengangkat badan.”

”Mengapa begitu?” tanya sahabat yang lain.

”Aku tidak tahu dan tidak bisa menanyakan kepada Jibril,” jawab Nabi.

Maka datanglah Jibril menghampiri Nabi dan menceritakan apa yang terjadi:

Ali ibn Abi Thalib tergesa-gesa menuju masjid agar tak ketinggalan berjamaah. Tapi di jalan yang tak lebar, ada seorang tua berjalan begitu pelan. Ali tak mengenal siapa orang tua itu. Dengan sabar Ali berjalan di belakangnya, tak berani menyalip, karena ia menghormatinya: memberi hak orang tua itu untuk berjalan tanpa perlu terganggu olehnya yang tergesa-gesa. Saat itulah Allah memerintahkan malaikat Mikail mengekang laju matahari dengan sayapnya agar waktu subuh menjadi panjang. Ketika akhirnya Ali sampai di masjid, ia masih bisa mengejar sholat Subuh berjamaah.

Azizah terdiam mendengar cerita itu.

”Kau tahu, Azizah, siapa laki-laki tua itu?”

Azizah menggeleng.

”Ali akhirnya tahu, laki-laki tua itu seorang Nasrani.”

Lama Azizah tersenyum. Lalu pelan-pelan digenggamnya tangan Thomas.

 

Perempuan yang Menampung Embun 

”Aku juga punya cerita untukmu, Thomas,” ujar Azizah.

Perempuan tua itu dianggap aneh di kampungnya. Ia hidup sederhana di gubuknya. Ia selalu bangun sebelum matahari terbit untuk menampung embun di daun-daun. Embun itu ditampungnya di sebuah cawan. Orang-orang sering menertawakan. Untuk apa menampung embun-embun itu? Sementara air berlimpah. Hanya orang gila kurang kerjaan yang mau repot melakukan itu sepanjang hidupnya. Kampung itu memang kampung yang terkenal akan keelokannya. Pohon-pohon tumbuh subur dan menghijau di lembah dan perbukitan. Tak perlu cemas kehabisan air.

Tapi, seperti nasib, musim memang tak bisa diduga. Malapetaka yang tak pernah disangka tiba: kemarau panjang yang meranggaskan apa saja. Semua kesegaran mengisut, daun-daun lanum, buah-buah kehilangan ranum, dan air mengering di kampung itu. Yang tersisa hanya embun yang disimpan perempuan itu. Maka orang-orang yang sudah haus kepayahan pun antre dan ribut berdesakan agar mendapatkan setetes embun yang bertahun-tahun ditampung perempuan itu. Setetes embun dari cawan perempuan itu mampu membebaskan mereka dari dahaga yang sudah tak mampu ditahannya. Tapi banyak di antara mereka yang mulai takut bila pada akhirnya embun di cawan itu habis. Maka beberapa di antara mereka berkata: Kau harus menghemat. Kau tak perlu memberi embun itu untuk semua orang. Cukuplah kau berikan pada mereka yang seiman! Kau tak perlu membantu mereka yang tak mempercayai Kristus…

”Kau tahu, Thomas, apa yang kemudian dilakukan perempuan itu? Ia tetap memberikan embun itu pada semua orang, seiman atau bukan. Dan embun dalam cawan itu tak pernah habis dibagikan…”

”Kebaikan memang tak akan pernah habis meski dibagikan.”

”Ya. Dan yang terus bertambah, meski dibagikan, ialah kebahagiaan.”

Thomas tersenyum. Pelan, dipeluknya Azizah.

 

Doa Api yang Berkobar 

Bila api ini berasal dari kemarahan Tuhan, janganlah ia membakar. Bila api ini bermula dari kebencian, janganlah ia menghanguskan. Jadikan kami api yang tak membakar Ibrahim. Jadikan kami api yang tak menghanguskan Sinta.

Tapi kami hanya api, yang bahkan tak bisa memadamkan panas sendiri. Ketika api itu membakar masjid, kami pun tahu, kota ini akan terbakar. Sebab kemarahan selalu membuat api menjadi lebih cepat menjalar. Kebencian membuat api menjadi lebih sulit dipadamkan. Kami tahu siapa yang menyalakan kami. Mula-mula perkelahian terjadi di lapangan seusai sholat id. Mungkin anak-anak muda yang mabuk. Mungkin kelompok yang saling olol-olok. Tapi mungkin juga ini dendam yang bertahun-tahun disimpan dalam sekam.

Sebelumnya memang sering terjadi perkelahian antarkampung. Perkelahian yang dari tahun ke tahun semakin kerap berulang. Kebencian, kau tahu, mirip hutang. Tak akan bisa dihapuskan bila tak diselesaikan. Api kian menjalar, api kian berkobar. Kami mendengar teriakan-teriakan marah. Kami mendengar orang-orang menangis. Kami melihat orang-orang yang berlarian ketakutan di tengah kerusuhan. Kenapa Tuhan kau biarkan kami menghanguskan kota kecil yang indah ini!

Kau mendengar banyak kisah setelah kejadian itu. Tapi akan kami ceritakan apa yang kami saksikan pada malam ketika api menghanguskan sebuah rumah. Kami melihat seorang pemuda yang berlari menerobos kerumunan, dan segera masuk ke dalam rumah yang berkobar.

”Thomas! Jangan masuk.”

Kami mendengar orang-orang berteriak mencoba menahannya.

”Azizah di dalam rumah!!”

Kami mendengar suaranya yang panik. Sementara api terus melahap rumah itu. Pada saat itulah kami berdoa: Jadikan kami api yang tak membakar Ibrahim. Jadikan kami api yang tak menghanguskan Sinta. Tuhan, adakah mukjizat hanya milik nabi-nabi dan orang suci?

Ketika api padam pada pagi hari, orang-orang menemukan dua tubuh mati terbakar di antara reruntuhan. Semuanya hangus. Hanya ada sepasang kalung yang ditemukan dalam keadaan utuh. Tak secuil pun api membakar kalung itu. Ketika orang-orang menemukan kalung itu, kau tahu, kalung itu seperti sepasang tangan yang saling berpelukan. *** 

 

Jogjakarta-Jakarta, 2014

(Cerita buat Butet Kartaredjasa) 

Advertisements