Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 11 Mei 2014)

kabut-api-ilustrasi-rendra-purnama
Kabut Api ilustrasi Rendra Purnama

“KALAU kau masih nekat juga, akan kucacah-cacah, kubakar, dan kubuang ke laut!”

Seharusnya Mintarsih menyembunyikan baju yang baru selesai dijahit itu. Semestinya Yu Tami tak mengantarkannya ke rumah. Andai saja ia menyerahkannya ketika nelayan itu sedang miyang.

“Baju baru, beli baju baru lagi!” Kang Baidi marah-marah.

“Ini untuk kondangan kawinan Aminah, keponakanmu.”

“Bajumu yang lainnya masih bagus. Baru sepekan yang lalu kamu beli baju!”

“Bosan, Kang. Masak ke kondangan pake baju itu, itu lagi!”

Sebenarnya baju Min banyak. Tapi entahlah. Dibanding tetangganya, bajunya masih kurang. Lik Jonah memiliki baju brokat aneka warna. Semua warna sepertinya dia punya. Bajunya indah dan mahal. Suami Lik Jonah juragan kapal korsen sedangkan suami Min hanya pemilik perahu dongfeng.

Tapi, Kang Baidi sering along. Min sering menyisihkan secara diam-diam hasil jualan ikan. Uang itu untuk mendring baju. Harga mahal bukan masalah karena Min bisa memilikinya, bisa lebih dulu mengenakannya. Bayarnya nyicil belakangan. Selama utang masih tersisa, Min juga masih diperbolehkan mendring lagi. Yang penting setiap pekan cicilannya lancar.

Min juga ikut arisan. Uang arisan yang lumayan banyak pun dibelikan baju. Baju untuk Min, bukan untuk anaknya. Apalagi untuk Kang Baidi. Suaminya bahkan hanya memiliki beberapa baju bagus. Menurut Min, tak perlu lelaki memiliki baju berlebih. Toh suaminya jarang bepergian kondangan. Setiap hari ia melaut. Melaut tak perlu baju bagus, yang penting baju bisa dipakai untuk mengusir angin laut dan dinginnya malam. Untuk baju suaminya, semisal jaket, Min malah membelikannya di Pasar Pesisir. Setiap Jumat ada mobil bak terbuka jualan baju bekas. Baju bekas dari luar negeri itu masih bagus. Min juga membelikan beberapa untuk anaknya. Sementara untuk dirinya, Min ogah. Min antimemakai baju bekas.  Kalau bisa membeli baju baru, mengapa harus membeli baju bekas?

***

Sukaesih, perempuan, tukang mendring, asal Tasikmalaya itu menggelar dagangannya di teras rumah Haji Akrom. Ibu-ibu mengerumuninya. Mintarsih paling bingung memilih baju-baju yang semuanya tampak keren. Baju berwarna biru ini indah. Baju warna merah ini modis. Baju bermotif bunga itu juga menawan. Entah Min akan memilih yang mana. Seandainya dia memiliki uang banyak, dia akan memborong semua baju itu!

Min memakai baju-baju yang baru dibelinya. Min berdiri di depan cermin. Melenggak-lenggok. Berputar. Syarifah, anak sulungnya, memandang cerah.

“Baju baru lagi, Mak?”

“Iya. Bagaimana, mak cantik kan dengan baju ini?”

“Mak tambah cantik.”

“Bagaimana kalau baju yang ini, Fah?” Min mengepas baju satunya lagi. Mematut diri.

“Mmm … cocok, Mak. Mak kelihatan lebih muda.”

Masak sih?”

Bener, Mak. Mak kayak artis. Cantik. Apalagi kalau Mak pake sepatu high heels.”

“Sepatu… hek hels? Apa itu?”

“Sepatu berhak tinggi. Sehingga Mak kelihatan lebih tinggi.”

“Oh, begitu.”

Min bungah ati. Tersenyum memandangi dirinya di depan kaca rias. Bayang Syarifah ikut tersenyum bangga memiliki mak yang modis menguar dalam cermin.

“Mak … Ipah kapan dibeliin baju baru juga?”

“Iya. Nanti bulan depan kalau Mak dapat arisan.”

Bener, Mak?”

“Ya, asal kamu nurut pesan Mak. Kamu jangan bilang-bilang pada bapakmu Mak beli baju baru lagi, ya?” Min memandang baju-baju barunya dengan bangga.

“Mengapa sih Mak suka beli baju baru?” entah mengapa pertanyaan ini terlontar dari bibir mungil anak kelas satu SMP itu.

Min menghela napas panjang. Min tak hanya memandang baju baru, tapi angannya menerawang pada masa lalu. Terkekang masa kecil di desa tandus. Ia yang anak petani gurem. Penghasilan sedikit, anak banyak. Hasil ladang hanya cukup untuk makan. Hanya saat Lebaran mak membelikan baju baru. Tapi, hanya kakak sulungnya yang dibelikan. Sementara, ia sebagai anak bungsu hanya mendapat lungsuran. Setelah baju tak dipakai kakaknya, diberikan padanya. Selalu begitu. Selalu ia memakai baju bekas kakaknya. Kata mak …

“Mak belikan baju untuk mbakmu, Aisyah, karena dia punya adik-adik perempuan. Sementara adikmu lelaki. Mak belikan baju mbakmu supaya nanti bisa dilungsurkan pada Asih atau kau, Min.”

Min menurut. Walau tak suka pada keputusan mak. Tapi, mau apalagi. Min tak berani membantah. Sampai ia lulus SMP dan lima tahun bekerja sebagai buruh pabrik, kemudian suatu hari, saat naik bus, bertemu Kang Bandi. Dua bulan pacaran, kemudian menikah. Kang Baidi rajin bekerja. Penghasilan lumayan dan sering membelikan Min baju. Semula, Kang Bandi suka jika tahu Min beli baju baru. Tapi, sekarang mengapa lelaki yang sudah 14 tahun menjadi suaminya itu melarang kesukaan Min? Salahkah Min yang selalu ingin membeli baju baru?

***

Min sedang menjemur ikan di pinggir laut. Ikan yang dibeli dengan harga murah. Setelah menjadi gesek, harganya berlipat-lipat. Lumayan untung.

Min berotak cerdas, dengan mencari uang sendiri, ia bisa mengumpulkan uang untuk membeli baju baru. Sungguh Min ingin membeli baju sealmari penuh. Alangkah bahagianya setiap pergi mengaji atau kondangan ia memakai baju baru. Orang-orang akan memandangnya berdecak kagum. Penampilan Min akan lebih cantik, menarik. Aih….

Min sedang membolak-balik ikan ketika dari arah perkampungan nelayan tempat tinggalnya terdengar suara kentongan ditabuh. Berapa kali? Apakah ada maling siang bolong begini?

“Kebakaran-kebakaran! Kebakaran…!” terdengar teriakan orang-orang dan suara kentongan semakin riuh.

Min berlari pulang. Perasaannya tak enak. Di rumah sepi, hanya ada anak-anak. Sedang menonton televisi atau bermain. Sebagian besar lelaki melaut.

“Ada apa, Yu? Rumah siapa kebakaran?” tanya Min ketika berpapasan dengan Yu Jin.”

“Rumah Haji Akrom. Katanya….”

Rumah Haji Akrom kan berdekatan dengan rumahnya. Jarak tiga rumah. Jangan- jangan api merembet ke rumah lainnya. Semoga tidak. Tapi Min khawatir. Dugaan Min benar. Jarak 10 meter dari gang dia melihat api berkobar-kobar! Melalap rumah megah Haji Akrom, juga beberapa rumah di sebelahnya. Termasuk rumahnya. Rumah yang dibangun dengan keringat suaminya sebagai nelayan kecil.

“Aduh … rumahku? Bajuku?” Min histeris ingin menyelamatkan rumahnya. Tetangga, orang-orang, melarangnya. Api membumbung tinggi. Kebakaran semakin menghebat.

“Jangan, Yu. Jangan nekat!”

“Apinya semakin besar. Padahal mereka mencoba memadamkan.”

“Tapi anak-anakku? Anakku ada di rumah!”

“Anakmu sudah diamankan. Mereka ada di rumah Yu Biah.”

“Tapi bajuku …?!”

“Pembantu Haji Akrom masak. Teledor. Kompor meleduk. Rumah kebakaran. Merembet ke rumah lainnya!”

“Termasuk rumahku,” Min menangis. Terbayang di benak Min rumah yang dihuninya belasan tahun runtuh dilalap api. Rumah itu banyak menyimpan kenangan. Dia dan Kang Baidi yang membangunnya susah payah. Di rumah ini, anak-anaknya dilahirkan dan dibesarkan. Di rumah itu, dia menyimpan almari jati dan di sana tersimpan baju-bajunya yang dikumpulkannya satu demi satu!

Rumah tembok bata hangus dan runtuh. Apalagi, almari kayu tempatnya menyimpan baju? Semuanya hangus, hilang, percuma dia mengumpulkan baju jika pada akhirnya semuanya harus dimakan si Jago Merah!

Min merasa lemas, bersimpuh di tanah, ingin pingsan sambil menyusut air mata ketika anak-anaknya datang.

“Mak, rumah kita hancur.”

“Mak, kita tinggal di mana?”

Isah dan Lena menangis memeluk emaknya. Min seperti ayam memeluk erat anaknya. Tapi, sesaat mata belongnya mencari seseorang.

“Mak mencari siapa?”

“Mbakyumu di mana?”

“Mbak Ipah kan sekolah, Mak,” jawab Isah polos.

“Dia tak masuk sekolah, Isah. Tadi dia tak enak badan. Mak memberinya obat dan menyuruhnya istirahat, tidur!”

“Isah juga gak tahu, Mak. Isah tadi sepulang sekolah main di rumah Joko.”

Min melolong, mencoba menerobos rumahnya yang semakin memerah dilahap Jago Merah. Terbayang sosok anak perempuan sulungnya yang kemarin minta dibelikan baju baru, Min belum sempat membelikannya.

“Anakku … Ipah. Ipah, piye?!?”

“Min tabah, Min.”

“Oalah … Min jangan nekat! Kau bisa jadi korban!”

Min tak peduli. Tiba-tiba dia melepaskan semua bajunya. Telanjang menerobos rumahnya yang terbakar hebat…. (*)

 

 

Kota Pesisir, Kota Ukir, 1 April 2012-5 Mei 2014

 

Catatan: 
Miang: melaut, mencari ikan

Along: mendapat tangkapan ikan banyak

Tukang mendring: orang yang menjual barang secara kredit

Bungah ati: riang gembira

Lungsuran: bekas

Gesek: ikan asin

 

Kartika Catur Pelita, Jepara, 11 Januari 1971. Karya fiksi dan puisi dimuat di media cetak online lokal dan nasional.  Novel Perjaka (AKOER, 2011). Cerpennya berjudul “Bukan Robot” terpilih dalam 15 Cerpen Inspiratif “Membunuh Impian” (Annida Online, 2012).

Advertisements