Hujan di Ujung Bulan *


Cerpen Wawan Setiawan (Jawa Pos, 4 Mei 2014)

Hujan di Ujung Bulan ilustrasi Bagus

SEJAK siang perbukitan berhutan ini diguyur gerimis, pepohonannya menghablur. Kabutnya muncul di sana sini, tipis dan tebal, bergantian. Ada yang bisa ditembus, ada yang tak bisa ditembus. Tak seekor burung pun berkelebat. Agak jauh di utara masih terdengar deru kendaraan, setelah itu sayup. Lalu di bawah arah timur sana masih membentang separo tubuh danau, separonya lagi berselimut kabut, perahu-perahu membeku. Dan, dari salah satu tepiannya, kudengar lagu gamelan, kalau tak salah itu kreasi gong kebyar I Wayan Beratha, berjudul ”Hujan Teduh”. Nama itu kudapat dari teman semasa kuliah dulu, Ni Luh. ”Ya, sehabis hujan, teduh,“ katanya. 

Dan seperti sepuluh tahun lalu, bungalow tempatku berpijak ini tetap senyap. Ia saksi bisu dari sebuah peristiwa masa lalu penuh rindu. Ranjang tetap kayu jati. Kasur dan spreinya mungkin sudah ganti. Tetap dari ranjang jati coklat itu, masih mendesah napas menelusupi rajutan sprei dan sarung bantal lembut mewangi. Itulah desahan dunia temaram, dunia yang begitu dominan dalam kesendirianku.

Bungalow sebelah kanan juga seperti dulu, tegar menyepi. Jaraknya sepuluh meteran, tak mungkin penghuninya mendengar pesta desahan itu, apalagi saat angin menggesek daunan. Atau mungkin, saat itu, di bungalow sebelah itu ada peristiwa yang sama.

”Surti, bungalow yang kau sewa, suasana hatinya kuat. Aku suka. Dari mana kau dapat info lokasi ini?“ Suara suamiku biasa namun menjerat leher. Lidahku menebal. Telingaku mengental. Padahal lelaki ulet ini bertanya dalam nada ringan, sambil membuka-buka majalah wisata dwibahasa yang tersedia di meja kaca pojok kiri kamar. Kopi tiga rasa masih menghangat di atas meja kaca itu. Kuseduh kopi itu dari dispenser di sebelahnya. Kepulannya membentuk hantu-hantu putih menyeringai.

”Dulu kutemu semasa kuliah, bersama teman-teman pecinta alam. Ada beberapa bungalow yang juga disewa saat itu,“ jawabku sekenanya. Semoga suara tipuanku itu tak dirasakannya. Namun getar tipuan itu menyiksa meski tampaknya suamiku biasa-biasa saja mendengarnya. Semoga dugaanku benar: dia bangga punya istri yang begitu gandrung kepada alam yang cukup asli, asri, meskipun sepi.

”Nanti teman-teman kantor akan kuajak ke resort ini. Siapa tahu mereka cocok dan mengulang datang. Surti, kita sudah ketemu tempat yang nyaman.“ Dia berucap tanpa memikir dampak pada hatiku yang merunyam, pada hati yang mengering selama sepuluh tahunan.

***

Apakah suamiku mencium kegalauanku di kamar dingin ini. Galauku sudah muncul saat ide membawanya ke sini. Begitu bodohnya aku menambah soal. Sidik jari lelaki itu mungkin masih bertempelan di meja, kursi, ranjang jati, atau di tembok kayu yang bercerita dengan caranya masing-masing. Atau apakah suamiku dapat membaca semua itu di wajahku? Wajah yang memendam rindu di masa lalu, yang penuh gairah pemberontakan dan penyerahan?

Ya, sepuluh tahunan lalu, sebulan sebelum pernikahan, aku sudah berada di tempat ini, setelah menempuh jarak 500-an kilometer tanpa henti, seperti dikejar sesuatu, dan juga seperti akan menangkap sesuatu. Saat ini bungalow ini ibarat mahligai anugerah RA Kartini, sosok teduh yang uluran tangannya tanpa jeda membuka cakrawala wanita.

“Surti, apakah kau betah diburu rasa sesal seumur hidup?”

”Kelak penyesalan adalah karibku, pastilah akan menghibur. Tapi itu juga lebih menjadi urusanku. Kalau tak cinta, mana mungkin kita sampai di tempat senyap ini, yang sebelumnya hanya dalam mimpi?” Itulah kata panjang yang muncul dari mulutku yang tergagap, ekspresi pengorbananku yang merisaukan. Prajoto, kawan kuliahku, pujaanku itu, hanya tersenyum, senyum kemenangan yang datang tanpa diundang.

”Seumpama kawin lari, semuanya akan jelas, meski ayah ibu mungkin akan sakit. Tapi tidak apa, lama-lama beliau akan sembuh.”

”Jangan lakukan sesuatu yang risikonya melanggar yang pakem-pakem. Konon, ayah ibu itu makhluk dari sorga, wakil Tuhan, jangan kau sakiti. Jangka panjangnya tak baik untuk kita.”

”Kalau menyakiti calon suami tidak berdampak ya?”

”Konon juga, hubungan suami istri itu kurang kekal, hubungan orang tua anak lebih kekal, tak bisa dihapus.”

Aku masih ingat kata-kata Prajoto yang bernas itu, lelaki alam yang sekarang dinas di lembaga meteorologi di suatu gunung 1.000 kilometer dari tempatku berdiri ini. Ke barat dan terus ke barat. Kalimat itu pulalah yang makin meledakkan daya pemberontakanku kepada rumah, dan sekaligus gairah penyerahanku kepada Prajoto. ”Oh, maafkanlah ayah ibuku.”

Waktu itu aku dan Prajoto baru wisuda. Kagilangan wisuda sangat terasa, mengimbangi semangat keserimbitan berdua. Ya, arti kata ”diwisuda“ adalah ”disucikan“. Setelah digembleng di kampus, disucikan, kemudian dilepas di medan bakti. Namun menjelang dilepas itu, kesucianku, benda sesembahan itu, di-embat Prajoto.

”Bagaimana kalau suamimu nanti tanya, ‘Lho, kamu kok sudah tidak menyandang gelar sakral ini?‘ Apa jawabmu?“ tanya Prajoto biasa.

”Ah, masak nggak tahu kalau aku gemar olahraga? Iya kan, masuk akal kan? Sepeda gunung, lompat tinggi, lompat jauh, renang, basket bahkan sepakbola… pasti suamiku maklum….“

Lagi-lagi, Prajoto tersenyum, senyumnya khas lelaki yang peka cuaca. Senyumnya menahan sesuatu yang akan melompat dari mulutnya. Ya, sepuluh tahun lalu, udara gunung masih lebih dingin, meski yang sekarang tetap jauh lebih dingin daripada di kota besar. Wajah Prajoto tampak lebih mantap setelah aku berkata demikian, meskipun saat itu hatiku dibayangi kebimbangan besar karena malam pertamaku bulan depan.

***

Untuk sampai ke lokasi ini, dulu aku dan Prajoto naik kereta, kapal laut, bus, berangkat setelah ashar, sampai tujuan jam 9 pagi. Sekarang aku dan suamiku naik pesawat, tak lebih dari 40 menit.  Disusul kemudian naik taksi 30 menitan menuju lokasi. Namun perjalanan panjang dulu terasa nikmat dan meriangkan, daripada sekarang yang terasa membosankan.

”Maafkanlah suamiku, maafkan, bukan salah Bunda mengandung.“ Dan anehnya setelah sepuluh tahun menikah, anak belum juga dijatah. Begitu besarnya aku berasa salah kepada Yang Mahaberkah.

”Oh suamiku, maafkanlah aku. Kalau kumati, dia mati iseng sendiri**, sebab kudengar, dia sampai sekarang tetap membujang. Oh suamiku, kalau kumati terlebih dulu aku pasti bisa membaca semua isi hatimu. Dan di antara isi hati itu, pasti ada yang begini: ’Surti, kalau bukan karena kehendak orang tua, berakhirlah sudah serimbitan ini. Aku tahu, kau menyimpan rapi sesuatu di bilik hatimu.‘ Itulah antara lain prasasti yang tetap kau simpan di balik wajah kebapakanmu. Simpan-simpanlah sendiri, sampai nanti entah kapan, semua orang akan tahu.”

Setelah berpikir demikian itu tiba-tiba aku ingat wajah Prajoto yang baby face, baby face  yang pencuri. Ya, aku dicuri seorang bayi. Bayi kleptomani.

Sepanjang malam di ranjang bungalow itu aku sulit tidur, meski telah kuservis suamiku sepenuh daya. Tubuh suamiku menjelma tubuh Prajoto, dan tubuh Prajoto menjelma tubuh suamiku. Bergantian, keduanya saling silang. Atau ini, apakah tubuhku menjelma tubuh wanita lain di pembaringan ini? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kalau tubuhku menjelma tubuh wanita lain, yang tentu lebih padat seksi, akan kumaafkan suamiku, karena aku pun telah mengawalinya. Kalau tidak, betapa besar rasa salahku karena suamiku ternyata masih tipe orang setia. Ia tetap setia sampai suatu ketika bumi kembali meminta tubuhnya.

(Hatiku tiba-tiba bergetar setelah berpikir bumi akan meminta tubuhnya. Seolah-olah tubuhku kelak tak ikut diminta bumi, sehingga aku akan terus hidup dan menjalin cinta lagi dengan Prajoto. Tak kuasa aku memikirkan itu).

Di seputar bungalow, terdengar bunyi sentuhan gerimis pada daunan. Sekali-kali terdengar pula desah angin menambah dinginnya kamar. Namun aku tak merasakan kehangatan, meski di sampingku ada boneka mainan. Ya, selama ini, kehangatanku adalah kehangatan badan, sehingga rohku tetap gentayangan. Ada suasana dingin, gelap, dan muram, bergelantungan di dinding kamar. Dan suasana itu mencipta banyak gambar, dan semua gambar itu mendakwaku sebagai pencipta pencemaran.

Kulirik suamiku pulas. Tubuhnya tampak lelah. Sayang sekali, lelaki kebapakan ini menghidupi beberapa anggota dari pihak keluarganya. Aku sudah ikhlas, sudah legowo, karena milikku yang paling berharga, suamiku tak ikut memilikinya. Namun hati ini, meski sudah sepuluh tahunan senggama, tak kutemu kepuasan yang mengisi dada. Atau sebaiknya tak perlu aku memelihara asa. Dan kuserahkan semuanya pada hujan di ujung bulan, hujan yang senantiasa setia kepada dirinya, walau cuaca terus berubah tak bisa dipercaya. ***

 

 

Surabaya, 20/2/2014

 

Catatan:

*) Judul cerpen ini diambil dari sebuah lirik lagu berjudul Bicara pada Bintang yang dinyanyikan penyanyi Rossa.

**) ”Kalau kumati, dia mati iseng sendiri,“ adalah baris terakhir dari sajak Chairil Anwar berjudul Cintaku Jauh di Pulau.

 

One Response

  1. wow, jarang sekali tema romance dapat menembus antrian naskah di jawa pos.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: