Archive for May, 2014

Balada Rindu Nek Padma
May 25, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Republika, 25 Mei 2014)

balada-rindu-nek-padma-ilustrasi-rendra-purnama

Balada Rindu Nek Padma ilustrasi Rendra Purnama

MATA cekung Padma mengerjap menatap senja yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa muram. Kerinduannya akan masa lalu seolah lindap pada semburat merah kekuningan itu. Hanya desir angin yang tak memberinya isyarat apa pun yang ia dengar. Atau, gemerisik daun-daun jambu yang tumbuh di pelataran yang sudah sangat akrab di telinganya.

Dulu, saat seperti ini, dari kursi beranda ia bisa saksikan bocah-bocah itu pulang. Dan, satu per satu mereka masuk ke dalam rumah dengan wajah masai usai bermain. Bocah-bocah itu kini telah dewasa, tapi tak bersamanya lagi sejak delapan tahun lalu. Pekerjaan telah membawa mereka meninggalkan rumah dan menyebar ke tempat yang jauh. Bahkan, ada yang di luar pulau. Dan, sejak itu pula, belum pernah mereka berkumpul bersama di rumah itu. Bahkan, saat Lebaran sekalipun.  (more…)

Seekor Capung Merah
May 25, 2014


Cerpen Rilda A. Oe. Taneko (Media Indonesia, 25 Mei 2014)

Seekor Capung Merah ilustrasi Pata Areadi

TIRAI bambu melindungiku dari hangat mentari yang mulai terbenam. Aku berdiri di beranda rumahnya Rumi,  tetangga sebelah rumahku, dan memanggil-manggil namanya. Di samping tirai bambu, sebuah lonceng angin berkelening.

Rumi muncul dari balik pintu kawat nyamuk. Wajahnya ditutupi bedak putih. Dia menyukai itu. Dia selalu menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak tebal setelah mandi sore.

“Datanglah ke lapangan denganku,” pintaku.  (more…)

Suara 3
May 25, 2014


Cerpen Taufik Ikram Jamil (Koran Tempo, 25 Mei 2014)

Suara 3 ilustrasi Munzir Fadly

KALAU hanya satu atau dua orang warga yang melaporkan kehilangan suara, kehilangan suara yang sesungguhnya, Abdul Wahab mungkin tidak begitu risau. Tetapi nyatanya, dalam satu hari ini saja, sudah tiga orang yang melaporkan hal ihwal serupa kepadanya. Tidak hanya karena sebagai Ketua Kampung, sebagai warga biasa pun, Wahab – demikian ia selalu disapa—pastilah merasakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah kejadian biasa, malahan sesuatu yang luar biasa.

Sambil menyeruput kopi petang itu, tiba-tiba saja ia begitu yakin bahwa pelapor dalam kasus yang sama akan terus bertambah, terus bertambah. Perasaan itu yang menyeret langkahnya menuju halaman rumah. Dibiarkannya kopi yang tinggal setengah dalam gelas batu tanpa tutup dengan panas yang masih menyengat. Lupa ia bahwa masa seperti itu, Biah yang dinikahinya 40 tahun lalu, segera menemaninya sambil berbincang tentang apa saja sebelum senja melipatkan jubah merah kesumbanya untuk malam.  (more…)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta
May 25, 2014


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’ (more…)

Kota Rawa
May 25, 2014


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 25 Mei 2014)

Kota Rawa ilustrasi Bagus

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga.  (more…)

Garong
May 25, 2014


Cerpen  Indra Tranggono (Kompas, 25 Mei 2014)

Garong ilustrasi -

DIA selalu datang membawa bola-bola api yang dibungkus dengan kertas kado abu-abu mengilat, yang anti panas dan tidak bisa terbakar.

Senyumnya selalu mengembang, setiap dia membuka bungkusan dan mengambil bola-bola api yang besarnya seukuran apel Amerika. Begitu satu bola api kuterima maka sontak tubuhku berubah menjadi semacam kristal bercahaya. Aku tertawa. Sangat senang. Bahkan bahagia. Aku pun berlari mencari kaca yang menempel di dinding rumahku. Aku tersentak. Wajahku tampak sangat cantik. Hidungku tambah mancung. Bibirku tampak indah merekah. Mataku tampak bercahaya. Gelambir lemak yang selama ini mengisi pipiku pun lenyap. Pipiku ramping. Puluhan ribu pori-pori di wajahku memancarkan cahaya. Oi, tubuhku juga makin sintal. Padat berisi. Aku seperti terlahir kembali menjadi perempuan paling cantik di dunia.  (more…)