Rumah Air


Cerpen Anton Kurnia (Kompas, 27 April 2014)

 
Rumah Air ilustrasi

JIKA hujan singgah, Mamah akan gelisah. Hujan memang anugerah. Pohon-pohon yang kekeringan, daun-daun yang kehausan, dan rumput-rumput yang ranggas akan senang menerima guyuran air segar basah. Tapi hujan juga bisa jadi musibah. Air yang melimpah-ruah tapi tak lancar mengalir bakal menjadi banjir. Rumah kami yang mungil pun dipaksa menjadi rumah air.

Sejak Ibu pindah ke Jakarta untuk bekerja agar aku bisa tetap bersekolah tanpa kekurangan biaya, aku tinggal bersama Aki dan Mamah—orangtua almarhum Bapak. Rumah warisan Bapak yang terletak di batas kota—cukup jauh dari tempat tinggalku sekarang—disewakan kepada tetangga yang memerlukan rumah bagi anaknya yang baru menikah. 

Rumah Aki yang pensiunan guru sekolah dasar tidaklah luas. Bangunan sederhana itu hanya punya dua kamar mungil dan halaman depan kecil yang dipenuhi aneka tanaman. Ada pohon jambu air yang ditanam Aki persis bersamaan dengan hari aku dilahirkan dan kini sudah tumbuh tinggi dan rajin berbuah. Ada melati yang selalu subur; bunganya wangi dan aromanya selalu membuatku rindu kepada Ibu. Ada bunga cangkok wijayakusuma yang sesekali mekar saat fajar. Ada juga kuping gajah yang berdaun lebar.

Rumah itu terletak tak jauh dari sebatang sungai yang alirannya membelah kota kami hingga ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Jika hujan menderas dan air sungai meluap, pasti rumah kami menjadi rumah air. Itulah yang kerap membuat Mamah gelisah saat musim hujan tiba.

Seumur hidupku yang pendek, rumah Aki bisa jadi rumah termungil dan terburuk yang pernah kuhuni. Namun, kehidupanku di rumah itu adalah salah satu masa terindah dalam ingatanku. Kami mungkin hidup serba terbatas, tapi kami bahagia. Kami saling menyayangi. Aku menemukan kebebasan masa kecil yang membahagiakan dan hidup riang gembira apa adanya.

Jika semasa Bapak masih ada aku hidup nyaman di rumah yang bagus, segala keperluan dilayani pembantu, berangkat ke sekolah diantar sopir, kini aku harus belajar lebih mandiri: mandi sendiri pada waktunya tanpa harus disuruh, makan seadanya, pergi ke sekolah naik angkot. Tapi aku sungguh merasa bahagia di tengah segala keterbatasan ini.

Seperti sore-sore musim hujan yang lain, sore itu hujan turun dengan seenaknya. Kotaku yang dingin kian terasa dingin. Aku duduk memeluk lutut di atas kursi panjang. Masih kupakai celana merah bekas sekolah. Di kursi sebelah, Aki duduk menumpang kaki. Kakinya terbalut sarung kotak-kotak biru putih. Rambut putihnya tertutup kopiah hitam. Kami mendengarkan radio. RRI sedang mengudarakan siaran langsung pertandingan sepak bola. Persib tertinggal 0-1 dari PSMS.

Di dapur yang terletak persis di samping ruang tempat kami duduk, Mamah tengah menggoreng tempe tepung. Mamah pandai sekali membuat tempe tepung yang enak. Mungkin itu karena racikan bumbunya yang istimewa. Setiap hari Mamah selalu menyajikan tempe tepung. Lauk makan yang lain boleh berganti, tapi tempe tepung selalu ada. Dan kami tak pernah bosan melahapnya. Siapa pula yang akan bosan menikmati sesuatu yang menyenangkan?

Saat Adjat Sudradjat berkelit lincah menggiring bola di rusuk kiri pertahanan lawan melewati terkaman Sunardi Batubara dan melepaskan umpan manis ke arah Djadjang Nurdjaman, halilintar menggelegar mengejutkan kami bertiga. Hujan yang semula turun dengan seenaknya berubah deras. Bunyi hujan yang kian lebat ditingkahi deru angin membuat suara penyiar radio tak jelas terdengar. Tapi dari nadanya, naga-naganya tadi Djadjang gagal lagi mengoyak jala lawan.

Aku menatap ke luar jendela kaca. Hujan angin membuat pemandangan di luar seperti terhalang tirai air. Air turun dari langit susul-menyusul, berlapis-lapis, tak henti-henti. Udara sedingin es loli. Kurapatkan kaki.

Cukup lama hujan deras mendera. Suara air tumpah tak juga mereda. Sembilan detik setelah Adjat menanduk bola menjebol sudut kiri gawang Ponirin Meka, terdengar Mamah berseru dari kamar mandi terbuka yang hanya bersekat dinding tembok setinggi leher orang dewasa dan berbatasan langsung dengan dapur. ”Air! Air masuk dari kakus! Banjir!” teriak Mamah setengah panik.

Pertandingan masih bersisa dua puluh tujuh menit, tapi kami sudah tak peduli. Kami kalang kabut membereskan barang-barang berharga yang harus diselamatkan agar tak menjadi korban banjir, termasuk pesawat radio yang bergegas kami matikan, lalu ditaruh di atas lemari. Kami juga membereskan kursi, menumpuknya di atas meja agar alasnya tak terbasahi banjir. Mamah sigap membereskan perabotan dapur, termasuk kompor, dan menaruhnya di tempat yang agak tinggi. Tempe tepung yang baru sebagian selesai digoreng cepat-cepat ditaruh di atas piring dan disimpan di tempat yang aman.

Sementara itu, air terus menghambur masuk, makin meninggi. Tak bisa dicegah, tak mau berhenti. Menyerbu dari segala arah, tak hanya dari kamar mandi. Dan hujan terus mengguyur bumi. Rumah kami pun jadi rumah air, seperti kolam mini.

Saat air telah setinggi pinggangku dan sebagian barang-barang mengapung di tengah genangan air kecoklatan bercampur kotoran dan sampah di dalam rumah, Aki memutuskan agar kami mengungsi ke rumah tetangga yang letaknya lebih tinggi. Tertatih-tatih, dengan susah payah kami bertiga melangkah mengarungi banjir. Sebelum meninggalkan rumah, Mamah sempat membawa tas tangan kecil berisi sedikit barang berharga, termasuk buku tabungan untuk mengambil uang pensiun Aki dan sedikit simpanan perhiasan. Tapi kami tak sempat membawa radio dan tempe tepung.

Di rumah Bu Sugih, janda setengah baya yang rumahnya lapang dan letak permukaan halamannya lebih tinggi dari permukaan gang kecil kami, sudah ada beberapa tetangga yang juga tengah mengungsi. Bu Sugih menyambut kami yang basah kuyup oleh air hujan dan banjir dengan senyum hangat, lalu menyuguhi kami masing-masing segelas teh manis yang juga hangat.

Sambil duduk mencangkung di teras halaman rumah Bu Sugih, aku menyeruput teh pelan-pelan. Hangatnya sampai ke hati. Dari situ aku bisa melihat bagian samping rumah kami yang tergenang banjir. Seraya menatap hujan yang terus turun, aku melamun. Ada satu hal yang kusesalkan. Mengapa tadi kami tak membawa serta radio? Jika ada radio, tentu kami bisa melanjutkan menyimak pertandingan sepak bola. Menghibur hati di tengah tragedi. Bu Sugih memang baik budi, tapi aku tak yakin dia senang mendengarkan pertandingan sepak bola. Lagi pula, aku terlalu sungkan untuk memintanya menyalakan pesawat radionya.

Dalam hawa dingin menggigilkan, ditingkahi derai hujan, aku menatap nanar air banjir bercampur sampah yang kecoklatan. Kubayangkan diriku menjelma pemain jagoan, menggiring bola meliuk-liuk melewati pemain lawan, lalu mencetak gol kemenangan. Seluruh stadion bersorak kegirangan. Aku bahagia tak terkatakan. Setidaknya di dalam lamunan.

Namun, di luar air kotor tetap saja menggenang tinggi. Menghanyutkan segala sampah dari kali. Menelikung rumah kami yang hanya tampak bagian sampingnya dari sini. Dikepung banjir. Serupa rumah air.

 

2 Responses

  1. Datar, tidak menampilkan sesuatu yang lain dalam peristiwa banjir.

    Like

  2. Narasinya terasa seperti “aku” seorang perempuan …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: